
July menatap ke arah kamera.
“Bagus, pertahankan”, teriak fotografer. “ Oke kita selesai”, dia berkata lagi setelah berapa shoot.
July menghela nafas lelah dan berdiri dibantu oleh asisten dan manajernya. Setelah berganti baju July berjalan keluar ruangan pemotretan itu sambil menyeruput kopi dingin miliknya.
“ Selanjutnya kamu ada syuting iklan July. Kamu punya waktu akan siang hanya 15 menit, jadi kita makan di mobil saja”, terang alfa manajer July.
“ Aku ingin kentang goreng”, kata July.
“ Sudah kami belikan. Ayo cepat”, kata Alfa pada July.
July berjalan cepat tetapi tiba-tiba berhenti saat melihat Cruz di ujung lorong bersama manajernya. Mereka sedang berbincang di depan ruang latihan yang berseberangan dengan ruang pemotretan.
Rasanya july ingin pergi menyapa Cruz, tetapi dia mengurungkan niatnya. Dia teringat pada perkataan Jay tentang Cruz yang tidak mencintainya lagi, rasanya saat ini ada luka menganga di hatinya.
Perkataan Jay itu seperti sebuah tamparan untuknya. Menyadarkannya tentang situasinya sekarang bersama Cruz. Sekeras apapun dia berteriak, Cruz tidak akan mendengarnya. Sekeras apapun July berusaha, Cruz sudah tidak akan menatapnya lagi.
“ Ayo July. Kita tidak ada waktu”, kata Alfa sembari mendorong July pelan masuk ke dalam lift.
July berdiri di dalam lift sambil menyeruput kopi dinginnya. Memikirkan perjodohan bodoh yang akan segera dihadapinya. Memikirkan cara memisahkan Cruz dan Noa. Apa yang harus dilakukannya.
“ Kak Alfa, mana ponselku”, July meminta ponselnya.
Alfa menyerahkan ponsel July dan mereka pun bergegas meninggalkan parkiran CAIN Entertainment.
Pesan masuk berbunyi di ponsel July.
Jay: Bagaimana? apakah kau sudah memikirkan tawaranku untuk keluar negeri?
July: Aku sedang memikirkannya. Aku belum bisa memutuskan apapun.
Jay: Aku harap kau memutuskan yang terbaik.
July menatap isi pesan Jay lalu dia menghela nafas frustasi. Jika July benar-benar akan di jodohkan, maka jalan satu-satunya adalah dia harus lari keluar negeri. Tapi keinginannya untuk kembali bersama Cruz masih memenuhi dirinya. July masih memikirkan sebuah harapan yang mungkin bisa terjadi.
***
__ADS_1
Tian memarkirkan mobilnya di depan rumah Noa, berapa saat kemudian Noa keluar dari rumah. Dia tampak cantik dan tersenyum ceria ke arah Tian.
“ Hai, lama menunggu ya?”, tanya Noa.
“ Tidak. Aku tidak bosan menunggumu”, kata Tian dengan maksud berbeda.
Noa tersenyum tidak sadar maksud perkataan dari Tian.
“ Ayo kita berangkat”, kata Noa sambil masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Tian.
Mereka lalu berkendara menuju ke arah pinggir kota. Sepanjang jalan Tian dan Noa terus mengobrol. Membicarakan hal yang membuat mereka terkadang sama-sama tertawa.
Setelah perjalanan yang cukup panjang akhirnya mereka tiba di sebuah pantai. Noa turun dan menyambut wangi air laut dengan ceria. Sudah lama dia tidak menginjakkan kakinya di atas pasir putih.
Noa melepas sepatunya dan berjalan mendekati air laut, meninggalkan Tian yang tersenyum melihatnya dari belakang.
Pantai ini tidak terlalu ramai, beberapa anak kecil sedang bermain bersama kedua orang tua mereka. Membuat istana pasir dan berlari-lari. Noa memperhatikan mereka dan tersenyum.
“ Kau sering ke pantai?”, Noa bertanya pada Tian yang berdiri di sampingnya.
“ Ya, dulu. Dulu aku sering ke pantai bersama ibuku. Tapi setelah ibuku meninggal, aku belum pernah ke sini sampai hari ini”, kata Tian dengan senyum di wajahnya.
Perkataan Noa membuat Tian tertegun. Benar apa yang dikatakan Noa, semua kenangan bersama ibunya adalah hal paling membahagiakan dalam hidupnya. Kenapa dia menolak ke pantai ini? bukan karena kenangan ini menyakitkan tetapi karena ketakutan hatinya akan kesedihan yang mendalam karena mengenang ibunya.
Membawa Noa bersamanya ke pantai ini adalah keputusan yang tepat. Dia tidak akan takut merasakan sepi dan sedih.
“ Ada satu kedai makanan laut yang enak di sini. Kau mau mencoba?”, tanya Tian.
“ Aku mau. Di sebelah mana?”, tanya Noa.
“ Di sana. Itu adalah tempat favoritku dan ibuku dulu, semoga masih buka”, Tian menunjuk ke arah seberang jalan.
“ Ayo kita pergi”, ajak Noa.
“ Noa, tapi apa kau punya alergi makanan laut?”, tanya Tian.
“ Tidak. Aku hanya alergi jika tidak mempunyai uang”, kata Noa sambil tersenyum penuh canda.
__ADS_1
Tian tertawa mendengar jawaban Noa. “ Baiklah Nona realistis, mari kita makan “, ajak Tian pada Noa.
Mereka berjalan kaki menyusuri pantai menuju kedai yang dimaksud Tian. Kedai itu tidak sebesar yang lain, pemiliknya adalah seorang wanita setengah baya bersama seorang anak laki-laki usia remaja.
Dindingnya yang mulai usang sepertinya baru di cat ulang beberapa hari lalu karena bau cat masih sedikit terasa di hidung Noa. Wanita itu menyambut Tian dan Noa, kedai ini cukup memiliki banyak pelanggan.
Noa dan Tian duduk di dekat jendela. Pelayan datang memberikan buku menu. Tian memesan ikan bakar dengan sedangkan Noa memesan udang saos padang.
" Aku yakin kau akan menyukai makanan di sini", kata Tian dengan sangat yakin.
" Aku jadi penasaran. Apakah makanan di sini seenak itu?", kata Noa. "Bagaimana kamu bisa menemukan kedai ini?", tanya Noa.
" Aku bersama ibuku yang menemukannya kedai ini. Menurur ibuku, biasanya tempat makan yang paling banyak di datangi orang itu belum tentu enak. Jadi kami mencoba makan di kedai ini dan ternyata sangat enak", kata Tian. "Tapi itu dulu, semoga sekarang masih seenak itu", Tian tertawa.
Noa ikut tertawa mendengar perkataan Tian.
Saat pesanan datang, mereka makan dan mengobrol santai. Tidak ada pembicaraan berat yang membuat Noa merasa terbebani sampai saat mereka akan pulang.
Mereka berdiri sekali lagi di pantai yang sama. Tian menatap punggung Noa dengan harap-harap cemas. Tian berjalan mendekati Noa dan berdiri di samping gadis itu.
" Noa ", panggil Tian sambil merubah posisinya menghadap ke arah Noa.
" Ya?", jawab Noa.
" Aku ingin menagih jawabanmu terkait perasaanku", kata Tian.
Noa terdiam, dia tidak menyangka Tian benar-benar menagih jawaban tentang perasaannya terhadap Noa. Tian menatap Noa dengan penuh harap.
" Aku benar-benar menyukaimu. Aku selalu memikirkanmu setiap hari", Tian menggengam tangan Noa. " Jadilah pacarku, aku akan membuatmu bahagia", kata Tian.
Noa terdiam tidak menjawab pernyataan Tian selama beberapa saat.
" Tian, maafkan aku. Aku selalu menganggap kita berteman. Aku tidak bisa menerima perasaanmu", kata Noa.
Tian tersenyum. " Aku tahu kau memiliki kekasih sekarang, aku tidak akan memaksamu karena aku tau kamu adalah gadis yang baik. Tapi aku akan menunggu, sampai kamu menyadari bahwa aku benar-benar mencintaimu", ujar Tian masih menggengam tangan Noa.
Noa hanya bisa diam tertegun.
__ADS_1
****