
Cruz menatap Noa dengan seksama. "Jadi sampai di mana kita tadi?", tanya Cruz pada Noa memulai pembicaraan serius mereka.
Cruz dan Noa duduk berhadapan di mini bar milik Cruz. "Sampai di kau menawarkan makanan untukku", jawab Noa polos.
Cruz menahan senyumnya, ingin rasanya dia menjitak gemas kepala Noa. " ini soal perjanjian kita Noa ", Cruz menerangkan sok dingin.
" Oh maaf", jawab Noa malu-malu.
" Ini surat perjanjian dariku, bacalah", kata Cruz menyerahkan surat yang sudah berisi poin-poin dari Cruz. " kalau ada yang ingin kau tambahkan, silahkan isi di bagian bawah".
Cruz menatap Noa yang sedang membaca isi kertas itu dengan wajah yang begitu serius.
" Jadi aku tidak perlu membayar dengan uang? Hanya menjadi asisten bayanganmu?", Noa bertanya mengoreksi.
"Ya betul. Asisten bayangan", Cruz tersenyum penuh arti.
" Oke aku setuju. Tapi aku punya syarat", Noa menawarkan.
" Ya, apa syaratmu?", tanya Cruz.
" Aku hanya hanya mau 1 tahun. Sisanya akan ku bayar dengan uang", Kata Noa.
" Baiklah. Hitungannya adalah gaji per bulan sebagai asisten. Karena kau tidak berpengalaman maka aku akan menggajimu umr 5 juta per bulan. Jadi selama 12 bulan kamu bisa menghasilkan 60 juta. Bagaimana?", tawar Cruz.
" Ada lembur?", tanya Noa waspada takut terjebak.
" Ada, 100 ribu sekali lembur", kata Cruz pelit.
" Murah sekali", Noa protes.
" Kau tidak mau? oke kita batalkan saja perjan...", Cruz hendak menarik kertas itu.
"Oke aku setuju. aku ada buku stampel, jadi siapkan stampelmu karena itu akan menjadi bukti jika aku sudah bekerja", kata Noa buru-buru menandatangani kertas sepotong itu.
"Oke ", sahut Cruz ikut menandatangani kertas di sebelahnya.
Mereka lalu berjabat tangan, tepat saat itu bel pintu berbunyi. Makanan mereka datang.
***
Sepeninggalan Noa dari apartemennya, Cruz duduk dan menelpon manajernya Letu.
" Kak soal wanita yang ku ceritakan kemarin. Aku mempekerjakannya sebagai asisten pribadiku yang lain", kata Cruz di telpon.
"Tapi apa tidak merepotkan Cruz? Dia memang tidak terlalu di kenal publik karena baru sedikit karyanya yang terkenal. Tapi tetap saja jangan sampai menimbulkan masalah Cruz. Ingat itu", Letu memberi peringatan.
" Ya kak. Aku akan selalu berhati-hati ", Cruz mengambil stik PSnya.
" Ya. Cruz besok kamu ada jadwal pemotretan dengan majalah C. Sekitar jam 9 pagi. Aku akan menjemputmu secepatnya", kata Letu.
__ADS_1
" Ya.. Aku akan tidur lebih cepat", Cruz mengakhiri pembicaraannya.
Lalu mulai memainkan game sendirian. Beberapa menit kemudian dia merasa bosan dan meleparkan stik PSnya begitu saja ke atas sofa. Berjalan masuk ke dalam kamar sambil memainkan ponselnya. Cruz menelpon seseorang.
" Halo", Noa menjawab ketus dari sebrang telpon.
" Halo, besok adalah hari pertamamu bekerja. Jadi jam 9 kamu sudah harus ada di gedung majalah C, tolong bawakan kopi Americano tanpa gula dan jangan telat" perintah Cruz.
" Tapi aku tidak bisa, besok aku harus...", Noa menjelaskan.
" Terlambat 1 menit denda 1 %. Sudah ya. Selamat tidur", kata Cruz tidak ingin mendengar alasan apapun lalu memutuskan sambungan telpon.
Setelah memutuskan sambungan telpon Cruz menatap lukisan abstrak di dindingnya dan berpikir. Kenapa dia harus melakukan hal yang tidak perlu seperti ini, padahal kalau untuk urusan kecil begini Cruz tidak perlu repot-repot meminta Noa.
Tapi ada rasa yang menyenangkan bagi Cruz karena kehadiran Noa. Membuat Noa marah-marah dan kerepotan adalah satu aktivitas baru yang menyenangkan baginya. Cruz membuka laci mejanya dan melihat sebelah anting milik Noa di sana. Cruz mengamati anting itu dengan seksama lalu menutup kembali laci mejanya.
***
Letu menyerahkan segelas Americano kepada Cruz. Tetapi Cruz menolaknya.
" Untuk kakak saja", katanya.
" Aku sudah ada satu. Ini untukmu, tumben tidak mau. Ada apa?", tanya Letu heran.
" Aku menunggu asistenku membawakan kopi. Jangan masuk sampai dia datang", kata Cruz memejamkan matanya.
" 5 menit asistenmu tidak muncul, kau harus tetap masuk ke dalam. Oke", kata Letu tegas.
Sebuah mobil berwarna merah masuk ke parkiran, beberapa menit kemudian Noa turun dan terburu-buru mencari Cruz di parkiran. Cruz menatapnya dari dalam mobil, setelah itu Cruz membuka pintu mobil dan memanggil Noa.
" Hei wanita bulan", Cruz memanggil.
Melihat Cruz Noa tersenyum senang seperti mendapatkan mainan baru. " Aku kira kamu sudah masuk ke dalam untuk pemotretan. Syukurlah kamu ada di sini", kata Noa seperti anak kecil yang takut di tinggal.
Cruz tersenyum mendengar perkataan Noa itu. Gadis ini mampu membuatnya tersenyum karena hanya karena setiap perkataannya terdengar apa adanya tanpa di buat-buat.
" Ini Americano tanpa gula", Noa menyondorkan kopi itu ke bawah wajah Cruz.
" Pegang. Kau asisten jadi harus pegang itu. Jangan lupa sedotannya", perintah Cruz.
"Tapi aku...", Noa ingin protes tetapi Cruz memotong.
" Perkenalkan ini adalah manajerku Kak Letu dan Kak Letu ini adalah asisten baruku Noa si wanita bulan", Cruz memperkenalkan mereka.
Noa tersenyum ramah yang di balas juga dengan senyum ramah dari Letu. "Semoga kamu betah ya", kata Letu ramah.
Noa tersenyum lebar penuh arti, mengira Letu tidak tahu masalahnya bersama Cruz.
Cruz turun dari mobil dan berjalan masuk ke gedung di ikuti Letu dan Noa di belakangnya. Noa memegang coffe cup dan botol minum Cruz. Dia benar-benar sudah seperti asisten sungguhan.
__ADS_1
Cruz memberi salam dengan ramah ke para staff di situ lalu duduk di meja rias.
" Kopi", kata Cruz.
Noa yang sedang di buat bengong dengan keadaan set sekitar tidak mendengar panggilan Cruz.
Cruz menatap Noa lalu memanggil lagi. " Hei bulan, kopi", kata Cruz.
" Oh maaf", Noa buru-buru memberi kopi kepada Cruz.
Tan datang menghampiri dan memperhatikan interaksi antara Cruz dan Noa. Tan menyenggol lengan Letu penasaran.
" Siapa?", Tan bertanya.
" Wanita itu. Yang di carinya selama berminggu-minggu", terang Letu sambil berbisik.
" Kok bisa?", Tan bertanya penasaran.
" Kau kenal anak asuhmu kan? Jadi berhentilah bertanya", jawab Letu malas.
Tan mengangguk setuju. Tan terus memperhatikan mereka. Setiap membutuhkan sesuatu Cruz tidak memangil Letu tetapi memanggil wanita itu.
Sampai terjadilah sebuah kejadian tidak enak yang di alami Noa. Salah satu anggota tim Tan dari bagian makeup memarahi Noa di depan staf yang lain saat Cruz sedang melakukan pemotretan.
" Kau tahu ini harganya mahal, bagaimana bisa kau menumpahkan kopimu di sini !", marahnya pada Noa.
" Tapi.. Tadi kan kamu yang...", Noa berusaha membela diri.
" Apa? Kau sudah salah ingin membela diri?", teriaknya marah.
Noa terdiam menatap wanita itu heran. "Tapi kau yang menyenggol aku. Kau yang fokus pada ponselmu", bantah Noa berusaha sabar.
" Kau...", wanita itu ingin menampar Noa, tepat saat itu Letu berdiri di hadapan Noa dan menerima tamparan itu.
Semua orang terkejut, termasuk Cruz dan Tan yang baru masuk bersama Letu tadi.
Wanita yang menampar Letu kaget. " maafkan saya pak Letu. Saya tidak bermaksud memukul anda", katanya takut.
Noa terdiam di belakang Letu seolah tidak percaya dengan apa yang terjadi.
" Nona, kamu dari tim mana?", tanya Letu sabar.
" Tim ... Make.. Up", jawabnya takut.
Cruz dan Tan menghampiri Noa dan Letu. " Ada apa?", tanya Cruz pada Letu.
" Tidak apa-apa Cruz. Noa tolong urus Cruz", kata Letu pada Noa.
Noa mengangguk paham. Noa lalu mengekor di belakang Cruz menuju mobil mereka. Cruz tau tatapan Letu menunjukan kemarahannya. Jadi lebih baik Cruz berada di mobil bersama Noa, itu lebih baik.
__ADS_1
***