
Plaaakkkk....
Bunyi tamparan keras memenuhi ruangan makan keluarga. Wajah ibu July tampak murka dan melayangkan tamparan ke wajah putri tunggalnya itu.
Ayah tiri July hanya duduk terdiam menatap ke tempat lain. Sepertinya dia sedang menahan kemarahannya.
July tersenyum karena tamparan itu. Tidak ada rasa sedih di hatinya sedikitpun. July memalingkan wajahnya kembali ke arah ibunya.
" Sudah selesai?", July malah semakin menjadi.
" Kau, tidak tahu terima kasih. Aku merawatmu dan ini balasannya setelah kau menjadi bintang besar? Apa susahnya menerima perjodohan itu? Cinta? Cinta itu akan datang dengan sendirinya saat kalian bersama", ayah July berbicara dari kursinya.
July tertawa kecil mendengar perkataan ayah tirinya itu. Saat ini dia seperti orang gila kalau di perhatikan.
" Apa itu lucu?", mamanya kesal.
" Tentu saja ma. Aku mencapai posisiku sekarang bukan karena bantuan kalian. Aku pergi audisi sendiri, berusaha dengan kekuatanku. Sponsor yang kalian berikan setelah aku terkenal bukan untuk membantuku, tapi untuk perusahaan kalian sendiri. Cinta? Apa kalian tidak jatuh cinta saat selingkuh di belakang ayahku?", July berteriak dengan penuh emosi di akhir kalimat.
" JULY !", ibunya berteriak marah dan hendak menampar lagi.
" Mama mau mukul aku lagi? Pukul, pukul....", July memajukan pipinya ke arah mamanya. Tangan mamanya membeku di udara.
" Setting hidup mama sendiri jangan bawa aku di dalamnya", kata July penuh penekanan setelah itu July berbalik hendak pergi tapi berhenti setelah berapa langkah.
" Ibukulah yang ingin di rawat olehmu pak. Sedangkan aku di paksa ke sini untuk mengikutinya", July berbalik menatap ibunya. " Seharusnya kau tinggalkan aku bersama ayahku dulu, aku lebih bahagia bersamanya walau hidup pas-pasan", kata July dengan air mata yang hampir jatuh di pelupuk matanya.
Setelah itu July pergi meninggalkan rumah besar itu dengan luka besar di hatinya.
July mengendarai mobil dengan air mata yang jatuh di pipinya. Rasa emosinya sungguh luar biasa teruji, setelah sekian tahun akhirnya dia bisa mengeluarkan semua kesedihannya.
July mengendarai jauh mobilnya ke pinggiran kota dan berhenti di sebuah perkebunan yang tidak terlalu luas tapi di penuhi dengan berbagai jenis tanaman.
Sebelum turun dari mobil, July menghapus air matanya dan memperbaiki makeupnya lalu mematikan ponsel. July mengganti sepatuya dengan sendal biasa lalu berjalan ke arah salah satu tenda strawberry.
July memperhatikan seorang pria paruh baya yang sedang membersihkan buah merah itu. Beberapa pekerja di dekatnya melakukan hal yang sama. Mereka bekerja sambil bercerita dengan serunya.
July terus memperhatikan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, sampai seorang pekerja melihat ke arahnya.
" Oh, Pak Beni putrimu datang", pekerja itu berseru dengan senyum lebar di wajahnya.
__ADS_1
Dengan cepat pria paruh baya yang di panggil pak Beni langsung menegok ke belakang dan menemukan July yang berdiri di depan pintu.
" Anakku, kapan datang", kata ayah July sambil berdiri dan sedikit berlari ke arah putrinya.
July tersenyum senang dan menyambut ke pelukan ayahnya dengan bahagia. Seketika sedihnya hilang saat itu juga.
" Asataga anakku, kenapa tidak bilang akan ke sini. Ayah tidak siapkan makanan enak apapun untukmu", ayahnya mengelus rambut July penuhs sayang.
" Tidak apa-apa ayah. Aku tiba-tiba ke sini karena merindukan ayah", kata July enggan melepas pelukan ayahnya.
" Ayah berkeringat, belum mandi nanti kamu ikut bau",kata ayahnya.
" emmm... Aku suka", kata July masih bergelayut manja.
" Astagaaa... Anakmu masihsl seperti saat SD dulu. Manja sekali ", komentar kelakar dari pekerja di situ yang merupakan tetangga mereka.
July tertawa mendengar itu. Ini adalag tempat di mana July bisa menemukan ketenangan. Tidak ada tuntutan menjadi ini dan itu. Di mata ayahnya July adalah putri manjanya yang selamanya akan manja pada dirinya.
July menyukai perkebunan ayahnya. Setelah berpisah dari ibunya karena masalah ekonomi. Ayah July berusaha mati-matian membangun perkebunan ini untuk berusaha menyekolahkan July walaupun uangnya tidak seberapa.
Pada awalnya July marah karena merasa ayahnya tidak memperjuangkan mereka saat itu. Tetapi saat SMA July kembali karena merindukan ayahnya dan menemukan fakta bahwa ayahnya sangat berjuang untuknya.
Saat itu July menangis terseduh-seduh dalam pelukan ayahnya dan selalu datang kembali setiap dia memiliki waktu kosong. Dia bahkan memiliki kamar sendiri di rumah ayahnya.
" July ganti bajumu dengan baju kerja, kita akan panen banyak buah-buahan hari ini", ajak seorang ibu-ibu pekerja yang sudah mengenal July.
" Jangan, kenapa kau menyuruh putriku bekerja? Nanti tangannya luka", ayahnya melarang.
" Ayah.. Aku ke sini karena tau akan panen buah. Aku suka perkebunan ini", kata July meminta ijin ayahnya.
Ayahnya menatap July dan pada akhirnya mengijinkan.
" Pak Beni jangan terlalu protektif, biarkan July menikmati harinya", kata ibu-ibu itu. " Sebelum bekerja ayo kita makan, makan siang ini lalapan yang enak",ajaknya.
" Baik... Aku akan berganti baju", July ceria melupakan kesedihannya lalu berlari ke arah rumah untuk berganti baju.
Pak Beni menatap punggung anaknya yang berlari seperti anak kecil ke arah rumah dengan senang.
" Jika sudah di sini dia tampak seperti bukan seorang bintang besar ya", kata pekerja itu.
__ADS_1
" Ya, dia hanya seorang gadis kecilku. Sampai kapanpun dia adalah anak gadisku", jawab ayah July sedih.
***
Noa keluar dari ruang meeting bersama tim dari kantornya. Salah satu Novel Noa akan di angkat menjadi film layar lebar. Noa harus menandatangani beberapa kontrak kerja dengan rumah produksi itu.
" Apa akan ada artis pendatang baru yang menjadi pemeran lainnya?", tanya Noa.
" Ya ada. Dia seorang penyanyi yang cukup terkenal di bawah agensi CAIN entsrtaiment", jawab Sella asisten Noa.
" Siapa? ", Noa bertanya lagi sambil masih sibuk mengetik sesuatu di ipadnya.
" Moon. Penyanyi muda sepertinya akan menjajaki dunia akting", jawab manjaer Noa.
Noa berhenti dari aktifitasnya mengetik begitu mendengar nama Moon di sebutkan.
" Kakak yakin itu Moon?", tanya Noa.
" Tentu saja. Aku sendiri yang menerima daftar nama calon kandidat itu. Rumah produksi menganjurkan dia ", jawab manajernya.
Noa mengangguk paham. " Kapan kita akan meeting bersama pemeran?", tanya Noa.
" Masih lama. Apa kau memerlukan sesuatu?", tanya Manajernya.
" Tidak. Aku hanya bertanya karena ingin melihat karakternya apa cocok dengan penggambaranku di buku", jawab Noa sambil tersenyum.
Ponsel Noa berdering, nama Christian muncul di sana. Sudah lama Noa tidak berkomunikasi dengan Tian. Tiba-tiba dia mincul lagi.
" Halo", jawab Noa pelan.
" Hai Noa. Apa kabar?", tanya Tian dari sebrang telepon.
" Baik. Apa kabarmu?", tanya Noa.
" Buruk. Apa kita bisa bertemu?", Tian langsung ke intinya.
" Sekarang?", tanya Noa.
"Ya, aku di bawah kantormu", jawab Tian.
__ADS_1
" Apa?", Noa kaget dan berlari ke arah jendela dan menemukan Tian berdiri di sana bersandar di mobilnya.
***