
Cruz mengemudikan mobilnya menuju ke rumah Noa. Dia terus berpikir tentang jawaban yang akan di berikan Noa padanya.
Apakah Noa sama menyukainya seperti dirinya menyukai Noa?
Ponsel Cruz berdering, Letu menelponnya. Cruz mengangkat telpon menggunakan headset.
"Halo kak ada apa?", Cruz bersemangat.
" Cruz kamu di mana?", tanya Letu.
"Di jalan, mau ke suatu tempat. Ada apa?", tanya Cruz karena mendengar suara Letu yang terdengar sangat hati-hati.
" Cruz, aku sebenarnya tidak ingin mengatakan ini padamu. Tapi manajer July terus memohon padaku", kata Letu pelan.
"Ada apa?", Cruz berkata datar.
"July sakit. Dia menolak makan. Dia mau minum obat dan makan jika sudah bertemu denganmu", kata Letu.
Cruz terdiam lalu berbicara " Katakan pada mereka aku menolak", jawab Cruz singkat.
" Ya, sudah ku duga. Tapi aku melihat kondisi July sangat lemah Cruz. Sepertinya kali ini hanya kau yang bisa membujuknya", kata Letu.
" Aku tidak bisa kak dan aku tidak ingin. Jangan paksa aku", kata Cruz tegas lalu menutup telepon.
Cruz sangat kesal, Cruz tau July tidak akan berhenti berusaha sampai mendapatkan apa yang dia inginkan. Itu adalah sifat July sejak dahulu.
Cruz membelokan mobilnya ke area perumahan Noa saat ponselnya berdering lagi. Nomor baru tertera di sana.
" Halo", Cruz mengangkat telpon sambil menepihkan mobilnya.
" Halo selamat malam nak Cruz. Maafkan saya karena menganggu malam-malam begini", suara di sebrang terdengar serak.
" Ya maaf, ini siapa ya?", tanya Cruz.
" Saya Lira, ibu July", jawbnya tidak enak.
Cruz terdiam lalu menjawab sopan. " Ya tante. Ada keperluan apa menelpon?", tanya Cruz.
" Cruz, maafkan tante sebelumnya. Tante tidak bermaksud buruk padamu. Tapi bolehkah tante minta tolong? July saa ini sedang sakit. Dan sudah 2 hari dia menolak makan dan minum obat. Kecuali setelah bertemu denganmu", jelasnya.
Cruz terdiam belum memberikan jawaban apapun.
" Tolong tante nak. Tolong sekali ini saja", katanya dengan sedih.
__ADS_1
Hati Cruz mencelos, dia goyah mendengar ibu July mengibah seperti itu.
"Ya tante, saya akan menolong tante", jawab Cruz.
" Terima kasih nak. Terima kasih banyak", jawab ibu July. Lalu sambungam telpon terputus.
Cruz memukul kemudi mobilnya dengan kesal. Dia menatap jalan masuk ke rumah Noa. Sekarang Noa pasti sedang menunggunya.
Cruz menelpon Noa, pada dering kedua Noa mengangkat. " Ya halo Cruz, kamu udah di mana?", tanya Noa.
" Noa maafkan aku, sepertinya aku belum bisa ke rumahmu. Aku harus pergi ke suatu tempat", kata Cruz lemah.
" Oh kamu ada pekerjaan? Yaa tidak apa-apa. 2 hari lagi kita akan bertemu saat syuting kan? ", jawab Noa tenang.
" Ya Noa. 2 hari lagi saat syuting kita akan bertemu", Cruz menjawab tidak bersangat. Cruz ingin bertemu Noa sekarang, bukan 2 hari lagi.
" Ya sudah kamu hati-hati di jalan ya. Byee", Noa lalu menutup telpon.
Cruz menatap ponselnya lalu menggerutu sendiri "Ah sial, aku tidak bisa mendengar jawabannya hari ini".
Cruz lalu menelpon Letu. Saat di angkat Cruz langusng bicara. "Kak aku akan pergi menemui July. Tapi bersamamu secara resmi", kata Cruz lalu dia menutup telponnya.
***
Cruz berdiri di depan pintu kamar July. Dia di rawat di salah satu ruangan VVIP sebuah Rumah Sakit.
Melihat Cruz datang ibu July langsung berdiri dan menghampiri Cruz.
" Nak, terima kasih karena meluangkan waktumu untuk melihat July", katanya sambil memegang tangan Cruz.
" Ya tante. Sama-sama", jawab Cruz dengan suara baritonnya.
Mendengar suara Cruz July langsung membuka mata dan tersenyum.
" Al, kamu sudah datang?", July menyapa Cruz.
" Ya, aku datang", Jawab Cruz pelan.
" Tante tinggalkan kalian berdua ya. Berbincanglah", kata ibu Cruz.
Cruz mengangguk sopan kepada ibu July. Setelah ibunya keluar July masih terus menatap Cruz.
" Terima kasih karena kamu sudah datang Al", kata July bahagia. Wajahnya menjadi cerah saat melihat Cruz.
__ADS_1
Cruz menangguk, ada rasa iba di hatinya melihat July seperti itu. Tapi itu hanya sebatas iba seorang teman tidak pernah lebih. Cruz duduk di kursi dekat tempat tidur.
" Sekarang makanlah. Jangan menyiksa dirimu seperti itu", kata Cruz lalu mengambil makanan yang ada di atas meja.
" Ya aku akan makan", kata July.
Rasa lapar tiba-tiba menyerang July saat Cruz memperlakukannya dengan baik seperti itu. July minum obat dan akhirnya mau di berikan vitamin melalui cairan infus.
Cruz duduk diam tidak banyak berbicara pada gadis di hadapannya itu.
"Al, aku pasti akan cepat sembuh jika kamu bersamaku di sini. Aku kangen kamu ", kata July memeganh tangan Cruz.
" July... Bisakah kau berhenti melakukan ini?", Cruz bertanya sambil menatap mata July dalam.
July terdiam lalu tersenyum sok polos " Melakukan apa? Aku hanya ingin bersamamu", katanya.
" Menyiksa dirimu sendiri untuk bertemu denganku", jawab Cruz langsung pada intinya.
July terdiam, dia mengigit bibirnya. " Aku hanya ingin bersamamu Al. Aku hanya ingin kau memperlakukanku dnegan baik seperti dulu", kata July.
Cruz terdiam tidak menjawab.
" Lihat sekarang, kamu memperlakukanku dengan baik saat aku sakit kan? Apa aku harus sakit terus agar kamu melihatku?", July mulai terisak pelan.
Cruz menghela nafas. "Aku begini agar kamu tidak salah paham padaku. Perasaanku padamu hanya sebatas teman kerja July. Aku harap kau mengerti itu", Cruz menjelaskan.
Cruz lalu berdiri. " Makan tertur, istirahat dan minum obat. Jangan menyusahkan ibumu. Aku pergi", Cruz pamit.
" Al, apa kau menyukai Noa?", tanya July langsung.
Cruz berdiri terdiam di tempatnya. " Apa kau perlu tau itu?", tanya Cruz balik.
" Ya, aku harus tau Cruz", jawab July dengan suara berat.
Cruz berbalik dan melihat July. Tanpa ragu Cruz menjawab " Ya aku menyukai gadis itu. Aku sangat menyukainya. Bahkan sampai saat ini aku tidak tahu apakah dia menyukaiku atau tidak. Tapi aku akan mengejarnya, karena aku tahu jika aku melewatkannya maka aku akan menyesal seumur hidupku July", jawab cruz jujur.
July menangis mendnegar isi hati Cruz. Kesedihan dan patah hati menghantamnya. Tahu bahwa faktanya tidak ada lagi tempat di hati Cruz untuknya. Semua itu sudah berkahir, benar-benar berakhir.
" Lalu kenapa kamu datang ke sini Al", July terisak.
"Karena ibumu. Aku datang karena ibumu July", jawab Cruz lalu berjalan keluar pintu meninggalkan July sendirian menangis.
July menangis keras lalu melempar barang yang ada di atas meja di tempat tidur. Amarah bercampur patah hati menghantamnya seperti badai.
__ADS_1
" Noa..aku benci kamu", July berteriak penuh amarah.
****