My Annoying Superstar

My Annoying Superstar
Tanda Berdamai


__ADS_3

"Kenapa kalian bergelut?", Letu bertanya sambil menatap Cruz dan Noa yang duduk dihadapannya.


Mereka berdua sama-sama bungkam. Tidak ada satupun yang berbicara.


Letu menghela nafas memanjangkan sabarnya. " Baiklah jika kalian tidak mau menjawab", kata Letu. " Aku akan memberitahukan kalian satu hal, tema kalian mulai minggu depan adalah saling menyayangi. Kalian di harapkan melakuakn adegan romantis yaitu berpelukan", Letu menjelaskan persiapan variety show mereka.


" Apa?", Noa dan cruz sama-sama kaget.


" Tapi bukannya gandengan tangan cukup?", Noa protes.


" Tidak Noa. Waktu briefing awal sudah di jelaskan terkait adegan apa saja yang akan di sertakan. Jadi sekarang kalian berdua tinggal melaksanakan",Nina menerangkan dengan sabar.


Cruz diam saja, seperti enggan berdebat. Toh peraturan tidak akan berubah jadi ikuti saja.


"Aku mau kalian sekarang berdamai", Letu meminta.


Cruz dan Noa diam saja tidak memberi respon pada perkataan Letu.


Letu yang tau betapa keras kepalanya mereka berdua langsung memberikan ancaman.


" Jika kalian tidak ingin berdamai maka aku akan membuat kalian berdua bersama selama 24 jam", ancam Letu.


Mereka berdua tetap tidak bergeming.


" baiklah", Letu akhirnya berdiri dan menuju sebuah gudang, lalu kembali dengan sesuatu di tangannya. Letu memborgol tangan kiri Cruz dan tangan kanan Noa.


" Kakak kenapa begini?", aku hari ini banyak kegiatan Cruz protes.


"Aku juga banyak kegiatan kak Letu. Tolong buka borgolnya ", Noa mengomel.


Tan yang sedang membobgkar baju dari koper menatap Leru heran, belum pernah Letu serempong ini dengan urusan pribadi Cruz.


" Kalau begitu berdamailah?", Letu berkata.


Noa dan Cruz saling tatap seperti berat hati untuk mengulurkan tangan berdamai.


" Tidak mau? Baiklah. Hari ini kalian melakukan aktifitas bersama selama 24 jam", Letu berkata.


Setelah itu Letu pergi meninggalkan mereka berdu di sofa.


"Kaaak... Buka dong", Cruz protes.


" Kak Nina tolong buka", Noa merengek.


" Aku tidak bisa. Manajer Letu adalah seniorku. Dia yang memutuskan", Nina menggeleng lalu mengikuti langkah Letu keluar apartemen, Tan pun mengikuti dari belakang.


Cruz dan Noa duduk di sofa dalam diam, tangan mereka saling bertaut karena borgol.


5 menit... 10 menit... Mereka tidak kembali.

__ADS_1


Cruz berdiri, terpakasa Noa ikut berdiri. Cruz hendak ke kamarnya dan Noa juga akan masuk ke kamarnya tetapi tangan mereka menghentikan langkah masing-masing.


"Aku mau ke kamarku. Aku ada keperluan mendesak", Cruz memaksa.


" Tidak..aku mau ke kamarku", Noa bertahan pada kemauannya.


" Ke sini", Cruz menarik tangannya membuat Noa terpaksa mendekat dan mengikuti langkah Cruz.


Tangannya sakit di tarik seperti itu. Cruz masuk ke kamarnya dan Noa mengikuti dari belakang. Cruz lalu berbaring di atas tempat tidurnya dengan santai. Sedangkan Noa memandangnya dongkol dari pinggir tempat tidur.


"Jadi keperluan mendesakmu itu tidur?", Noa menatap Cruz tidak percaya.


" Hmm... aku masih ngantuk", Cruz cuek terus berbaring.


Noa berdiri cukup lama menunggu Cruz bangun tetapi pria didepannya itu tidak ada tanda-tanda akan bangun. Noa mulai tidak betah berdiri. Dengan berat hati Noa akhirnya duduk di pinggir tempat tidur Cruz. Cruz yang tidur membelakangi Noa tersenyum karena Noa akhirnya mengalah dan duduk di tempat tidurnya.


" Cruz..", Noa memanggil setelah berdiam cukup lama.


Cruz diam saja pura-pura tidur. Noa mencolek bahu Cruz tapi pria itu tidak memberikan respon.


" Cruz bangun", Noa menowel lebih keras.


" Ada apa?", tanya Cruz tanpa berbalik.


" Aku lapar", Noa mengeluh.


" Iiihhh.... Ayo makan", Noa berbicara lagi.


" Haaah... ini masih terlalu pagi untuk sarapan. Aku ngantuk", Cruz tetap pada posisinya.


Melihat Cruz yang tidak meiliki niat untuk bangun aama sekali membuat Noa akhirnya hanya duduk menunggu Cruz.


Lama-lama Noa merasa ngantuk juga, Noa menowel bahu Cruz tetapi tidak ada respon sepertinya Cruz sudah nyenyak.


Dengan berat hati Noa mengambil posisi tidur di belakang Cruz menghadap ke punggung Cruz. Lalu dia tertidur tanpa beban.


***


Cruz terbangun dari tidur, dia menarik tangannya dan sadar kalau tangannya dan Noa sedang di borgol.


"Ck... Noa... Noa", Cruz memanggil Noa dengan suara sedikit serak.


Tidak ada jawaban. Cruz berbalik dan menemukan Noa sedang tidur nyenyak. Cruz tersenyum memandang wajah Noa.


" Katanya tidak suka padaku, tapi berani tidur di dekatku. Kau kira aku bukan laki-laki?", Cruz berbicara pada dirinya sendiri.


Cruz mengigit bibirnya saat memperhatikan wajah Noa. Ada rasa di dalam dirinya untuk mencium Noa. Cruz mendekat pada Noa, semakin dekat dan tepat saat itu Noa membuka matanya.


Wajah Cruz sangat dekat dengannya, hidung mereka hampir bersentuhan. Noa yang kaget dengan sigap langsung mebenturkan keningnya pada kening Cruz cukup keras.

__ADS_1


" Ouuchhh....akh...", Cruz membaringkan badannya terlentang sambil memang keningnya yang kemerahan.


" Apa yang mau kau lakukan?", Noa menuding ke arah Cruz.


" Sakit Noa... Tidak bisakah kau lebih lembut?", Cruz mengomel sambil memegang keningnya.


" Sangat sakit? Sini-sini coba ku lihat", Noa mengambil posisi duduk dan berusaha melihat kening cruz.


" Ah... Ck... Sudahlah", Cruz sedikit menepis tangan Noa. Pada dasarnya Cruz merasa malu dan sakit sekaligus. Malu karena Noa menangkap basah dirinya yang memiliki niat untuk mencium Noa.


" Sini ku lihat.. ", Noa memaksa menggeser tangan Cruz. " wah.. Maafkan aku.. Aku kaget tadi...", Noa lalu meniup pelam kening Cruz yang merah.


" Di perlakukan begitu membuat Cruz terdiam. Noa terus meniup keninh Cruz tanpa menyadari atmosfer yang berubah.


Cruz menarik sebelah tangan Noa, membuat Noa jatuh ke atas Cruz. Dengan cepat Cruz membalik badan Noa merubah posisi mereka.


" Kau, sedang menggodaku?", Cruz menuduh Noa sambil tersenyum jahil.


" Kapan ? aku tidak melakukannya", Noa mengelak berusaha keluar dari kekangan Cruz.


" Barusan. Kau meniup keningku dengan sengaja kan?", Cruz menuduh.


Noa kaget " Tidak... Aku hanya membantu mengurangi sakitmu", Noa membantah.


" Aku tidak percaya padamu. Aku sangat yakin kau sedsng menggodaku kan", Cruz tetap bersikukuh.


" Lepaskan aku Cruz", Noa memberontak berusaha melepaskan dirinya. Tenaga Cruz lebih kuat dari Noa, membuat Noa kelehan dan tangannya sakit karena Cruz menekannya di kedua sisi kepalanya.


" Apa maumu ", Mata No menantang Cruz tanpa takut.


" Apa mauku?", Cruz menatap Noa. Jantungnya berdebar sangat cepat, Cruz saat ini entah bagaimana menginginkan Noa sebagai wanita. Awalnya Cruz hanya tertarik pada wanita ini, tetapi melihat betapa sering Noa menolaknya membuat cruz menginginkan Noa lebih.


" Kau selalu menolakku dan mengatakna bahwa aku bukan tipemu. Itu sedikit merusak harga diriku", Cruz melanjutkan.


" Kau memang bukan tipeku. Pemaksa dan sombong", Noa mejawab Cruz.


"Kalu begitu ubahlah tipemu. Jadikan aku sebagai standar tipemu. Ini bukan permintaan tapi perintah dari si pemaksa", Cruz tersenyum.


Noa menatap cruz tajam. Cruz menunduk mendekati wajah Noa.


" Mari kita berdamai? Mulai sekarang aku ingin dekat denganmu sebagai seorang laki-laki", Cruz berkata serius.


Noa terdiam memandang Cruz. Wajah Cruz semakin dekat dengannya, Noa sedikit memalingkan wajahnya dan menutup mata.


Melihat itu Cruz tersenyum, darah berdesir di dalam pembulu darah cruz karena melihat leher Noa.


Cruz lalu mengecup leher Noa pelan dan berbisik. " ini adalah tanda kita berdamai.


****

__ADS_1


__ADS_2