
Cruz duduk di meja ruang meeting dengan wajah yang cukup tegang. Hari ini dia menerima jawaban dari agensi luar negri yang akan menaunginya.
CUBA Entertainment adalah agensi yang paling di impikan Cruz di sepanjang karirnya. CUBA menaungi banyak seniman yang berkarya di kanca internasional. Bukan hanya penyanyi dan aktris, CUBA bahkan memiliki pelukis kelas dunia
Cruz membaca jilid kertas tebal yang ada di hadapannya. Cruz membaca syarat kontrak dengan teliti.
Letu disampingnya juga ikut membaca sambil sesekali mendiskusikan beberapa poin dengan Cruz dan timnya.
" Jadi sekarang, aku akan berpindah dari agensi ini ke CUBE?", tanya Cruz hati-hati.
" Iya betul, tapi kamu tetap CEO dari CAIN", jawab Letu sambil tetap melihat ke arah kertas.
" Tidak menimbulkan skandal apapun", salah seorang TIM membaca sebuah poin di sana.
" Baiklah, aku rasa kita bisa menandatanganinya sekarang ",Cruz mengakhiri meeting itu. Kepalanya cenat-cenut membaca begitu banyak tulisan di atas kertas.
Biasanya yang mengurusi hal seperti ini adalah kak Letu. Tapi hari ini Cruz diminta hadir untuk ikut mendiskusikan terkait beberapa poin yang ada di kontrak itu.
Cruz mengambil pulpen dan membuat goresan yang indah di atas kertas itu. Lalu menghela nafas lega, akhirnya apa yang diharapkan datang juga.
***
July berdiri di ujung lorong ruang rekaman. Di hadapan July ada Cruz yang menatap July dengan raut wajah datar
" Ada apa?", tanya Cruz.
" Al, aku datang karena ingin menanyakan pendapatmu", kata July tanpa ragu.
July tau, berdiri di hadapan Cruz saat ini sama saja seperti melempar dirinya ke dalam api. Tatapan mata Cruz seperti api yang akan membakar July. Dari tatapannya seharusnya July sudah tau, tidak ada lagi harapan untuknya tapi July tetap nekat maju untuk berhadapan dengan Cruz.
" Apakah itu benar-benar memerlukan pendapatku?", Cruz bertanya.
" Ya, sangat diperlukan Al. Aku benar-benar memerlukannya", jawab July tidak ragu.
Cruz terdiam seolah berpikir sejenak lalu menunggu apa yang akan ditanyakan oleh July.
Seperti mendapatkan lampu hijau, July langsung menyunggingkan senyumnya.
" Aku mendapatkan tawaran kerja di paris. Apakah menurutmu aku harus pergi?", tanya July sambil menatap Cruz dalam.
Juky berharap jawaban Cruz akan sesuai dengan harapannya.
__ADS_1
Cruz balas menatap July dengan tatapan yang tidak bisa dibaca, lalu tanpa ragu Cruz menjawab.
"Pergi saja jika itu baik untuk karirmu. Kesempatan tidak akan datang dua kali", kata Cruz tegas.
Ada benih kekecewaan di wajah July begitu mendengar jawaban Cruz. Padahal July yakin ada sedikit harapan untuknya.
July masih berpikir bahwa sebagian hati Cruz adalah milikknya. July berharap Cruz menunjukkan perasaannya pada July dengan cara menahan kepergian July.
Tetapi ternyata harapan itu tidak ada, July harus menelan pil pahit patah hatinya.
" Begitukah? Aku harus pergi saja?", July sedikit menunduk kecewa.
Cruz diam saja tidak memberikan reaksi apapun. Lalu Cruz mengangguk.
" Hanya itu yang ingin kau tanyakan? Kalau begitu aku pergi ", Cruz berkata ringan.
July diam saja tidak menjawab perkataan Cruz. July sedang menahan sakit hatinya, jika dia menjawab perkataan Cruz maka dia pasti akan menangis saat itu juga.
Cruz lalu pergi meninggalkan July yang berdiri diam mematung, tidak menyadari Jay ikut mendengarkan dari balik ruang rekaman.
***
Pikiran Cruz kembali kepada July di beberapa jam yang lalu. Cruz tahu jawaban yang July inginkan.
July ingin memastikan perasaan Cruz terhadapnya. July ingin Cruz menahannya, tetapi perasaan Cruz terhadap July sudah hampa.
Yang Cruz inginkan saat ini adalah pertemanan. Cruz hanya ingin mereka berteman, tidak lebih.
Lamunan Cruz di buyarkan dengan ketukan di jendela mobilnya, Noa berdiri di sana menunggu Cruz membuka pintu.
Cruz tersenyum saat Noa duduk di sampingnya.
" Kau selalu jalan-jalan. Apakah artis besar tidak sibuk?", tanya Noa.
Cruz tertawa ringan mendengar ocehan Noa. " Aku sangat sibuk, bahkan tidak memiliki waktu untuk tidur. Tapi untuk bertemu denganmu aku selalu memiliki waktu", jawab Cruz.
" Baiklah orang sibuk. Aku percaya", jawab Noa menggoda Cruz.
Noa memasang sabuk pengamannya " Jadi kita mau ke mana?", tanya Noa lagi.
" Kamu mau ke mana? ", Cruz balik bertanya.
__ADS_1
" Aku tidak tau kita harus ke mana. Di mana-mana akan ada kamera yang memotretmu. Aku tidak ingin ada skandal tentangmu di minggu ini", Noa menjawab jujur lalu menghela nafas.
Cruz terdiam mendengar perkataan Noa. Apa yang Noa katakan adalah benar, seandainya Cruz adalah pekerja biasa mungkin mereka tidak akan sembunyi-sembunyi seperti ini.
Lalu tiba-tiba Cruz bertanya tentang sesuatu yang dia takutkan " Noa apa kau lelah ?", tanya Cruz.
Noa yang sedang sibuk membongkar isi tasnya langsung berhenti dan menatap Cruz. "Lelah karena apa?", Noa balik bertanya.
"Lelah karena kita harus sembunyi-sembunyi", kata Cruz.
Noa terdiam menyadari perkataannya membuat Cruz merasa sedih.
" Tidak, aku tidak lelah sama sekali. Aku hanya takut semua berita tenyang kita akan membuatmu terbebani dan menganggu pekerjaanmu", kata Noa lagi.
Cruz tersenyum lalu menatap Noa. " Tidak, aku tidak pernah terbebani jika itu adalah cerita tentang kita. Karena aku mencintaimu", jawab Cruz sepenuh hati.
Noa mengulurkan tangannya dan mengelus kepala Cruz penuh sayang. " Emmm... aku juga mencintaimu", balas Noa.
Cruz tersenyum lalu terlintas di benaknya untuk tidak memberitahu Noa tentang kabar baik itu. Jika Noa tau, mungkin Noa akan semakin menutup-nutupi hubungan mereka dari publik. Noa akan berpikir bahwa semua berita tentang mereka akan menjadi skandal untuk pekerjaan Cruz.
Padahal yang Cruz inginkan bukan seperti itu. Cruz tidak peduli jika berita tentang hubungannya bersama sang pacar berseliweran di mana-mana. Selagi wanita yang bersamanya adalah Noa semua bukan masalah untuk Cruz.
Jadi Cruz menahan hatinya untuk tidak memberitahukan Noa tentang kabar bahagia itu. Padahal Cruz ingin merayakan kebahagiaannya hari ini bersama Noa.
"Jadi, tadi di telepon kamu ingin berbagi kabar apa ke aku?", tanya Noa melihat Cruz.
Cruz sedikit kaget lalu tersenyum " Aku mau bilang, sepertinya semakin hari aku semakin jatuh hati padamu. Dan aku mencintaimu setiap saat", Cruz sedikit condong ke arah Noa.
Cruz tidak jujur soal 'kabar' itu, tapi apa yang di katakan Cruz sekarang adalah sebuah kebenaran.
Noa menatap Cruz tidak berkedip. Wajah Noa bersemu merah. " Kamu sedang menggodaku ya?", kata Noa.
Cruz tersenyum melihat reaksi Noa. " Aku sedang berkata jujur dan ini adalah hal mendesak yang harus aku sampaikan padamu sekarang", jawab Cruz serius
Noa tersenyum lalu menutup wajahnya dengan tangan. " Aku mali tau", Noa msnjawab pelan.
Cruz tertawa lalu mengusap kepala Noa penuh sayang. " Ayo kita pergi ke rumah ibuku", ajak Cruz.
Lalu mereka pergi meninggalkan parkiran kantor Noa.
***
__ADS_1