
Sudah pukul 2 dini hari saat Noa membopong Cruz masuk ke dalam apartemen. Kepala Noa sakit dan dia juga mulai kehilangan kesadarannya dan Cruz lebih teler lagi dari Noa. Entah minuman apa yang diberikan pada Cruz tadi.
“ Cruz ayo jalan, jangan tumpukan semua berat badanmu padaku”, ujar Noa yang mulai kepanasan karena seperti sedang berolahraga mengangkat beban.
“ Arkh… sialan …kenapa panas sekali”, Cruz mengoceh.
“ Berhenti memaki, aku juga kepanasan bodoh”, Noa berkata kacau.
Noa berusaha membuka pintu apartemen dengan Cruz terus bersandar padanya. Mata Noa sedikit kabur saat melihat angka di depannya.
“ satu…. kosong…”, Noa menekan nomor pintu satu-satu berusaha sadar.
Pintu terbuka dan Noa berteriak kegirangan. “ Yeaay….. aku hebat”, teriak Noa membuat Cruz kaget.
Dengan penuh semangat Noa menarik Cruz masuk ke dalam apartemen. Lalu dengan susah payah membaringkan Cruz di atas sofa.
“ wahhh… Gila… Gila… dasar pemabuk kau”, Noa menunjuk ke arah Cruz yang berbaring, tidak sadar dirinya juga sedang mabuk berat.
“ Noa… aku mau air”, kata Cruz sambil menutup mata.
“ Air ya? air itu di mana?”, Noa bertanya bego.
“ Di kulkas. Aku tidak bisa membuka mataku, kepalaku sakit ”, ujar Cruz yang ternyata kesadarannya lebih baik dari Noa, hanya saja sesuatu dalam minuman itu membuatnya sangat pusing.
Noa meletakan tasnya sembarangan di lantai, melepaskan sepatunya. Alkohol begitu terasa di dalam mulutnya dan rasanya alkohol itu seperti naik ke dalam kepalanya membuat kacau pikirannya.
Noa membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral, menegaknya sampai setengah. Lalu membawa botol itu kepada Cruz dengan berjalan sempoyongan.
Noa berlutut di samping Cruz dan memberikan air di botol itu kepada Cruz.
“ Ini minum cepat, rasanya aku juga pusing. Ah aku tidak mau minum-minum lagi”, kata Noa.
Karena tidak kunjung mengambil air dari tangannya, Noa bergerak mendekati Cruz dan menowel pipinya.
“ Cruz… Cruz… kau masih hidup kan?”, Noa memanggil Cruz.
Tidak ada jawaban sama sekali dari Cruz. Noa yang dari tadi menahan efek alkohol yang diminumnya berusaha keras bangun dari duduk dan menghampiri Cruz.
Noa memandang wajah Cruz yang terdiam tidak bergerak. Noa mengguncang tubuh Cruz pelan.
“ Cruz… Cruz… ayo bangun…”, Kata Noa membangunkan Cruz.
Tidak Ada respon dari Cruz. Karena memang dasarnya Noa juga sudah mabuk bukannya mengecek apakah Cruz masih bernafas, Noa malah mulai menangis keras.
“ Huaaaa… Cruz… jangan mati… jangan ninggalin aku sama Milli”, tangis Noa sambil menatap wajah Cruz.
__ADS_1
“ Cruz… ayo bangun… nanti utangnya aku bayar lunas deh… huaaaa”, Noa memegang wajah Cruz dengan kedua tangannya.
Cruz masih tidak merespon. Noa menangis kuat, semakin kuat karena Cruz tidak bangun saat Noa mengguncangnya.
“ Cruz jangan tinggalin aku”, Noa membaringkan kepalanya di dada Cruz. “ Aku benci di tinggal. Jangan mati… aku suka sama kamu kok. Suka banget”, Noa berkata di sela tangisnya.
Cruz membuka matanya karena Noa mendengar perkataan Noa, lalu dia tersenyum samar.
“ Cruz… bangun… ayo bangun.. jangan tinggalin aku”, Noa menangis sesegukan seperti Cruz benar-benar sudah mati.
“ Jadi kau benar-benar menyukaiku?”, tanya Cruz tiba-tiba.
Suara Cruz membuat Noa kaget dan mengangkat kepalanya dari dada Crux. Dengan sesegukan Noa menatap wajah Cruz.
“ Kau tidak mati? kau masih hidup?”, tanya Noa sesegukan.
“ Aku hanya tidur, kau sangat berisik menangis seperti itu membuatku terganggu”, kata Cruz.
Noa lalu mengambil posisi duduk sambil sesegukan, Cruz juga duduk lalu meraih botol air mineral dan menegaknya sampai habis.
“ Jadi kau menyukaiku?”, tanya Cruz. “ Kau benar menyukaiku?”, Cruz maju mendekat ke arah Noa.
Noa terdiam menatap Cruz yang melihatnya dengan tatapan tidak biasa.
“ Aku… aku… menyukaimu”, jawab Noa tertunduk entah datang dari mana keberanian yang mampu membuat Noa mengakui perasaannya.
***
Darah Cruz berdesir karena mencium Noa. Gadis itu tidak melawan dan terus menerima ciumannya.
Rasa alkohol dan asin air mata bercampur di dalam mulut Cruz.
Yang jelas Cruz berusaha tetap sadar untuk terus bisa bersama Noa. Tangan Noa menyentuh dada Cruz seperti memberikan jarak untuk mereka.
Tetapi cruz menarik tangan Noa dan membawanya ke samping kepala Noa.
Noa terlena dalam ciuman Cruz, berusaha mengatur nafas untuk mengimbangi pria itu.
Cruz terus mengobrak abrik mulut Noa dan membawanya berbaring di sofa. Noa memberi gigitan kecil pada bibir Cruz membuat pria itu semakin bersemangat.
Entah mengapa malam ini Cruz menginginkan lebih dari Noa, pertahanannya jebol karena Noa menerima setiap sentuhan tangannya.
Kepala Cruz berdenyut lagi saat dia menjelajahi leher Noa.
' Sial, Lucas bangsat. Akan aku hajar dia kalau ketemu besok. Minumam sialan', Cruz memaki dalam hati.
__ADS_1
Cruz tau jika berhenti sekarang maka tidak ada kesempatan lagi yang akan datang padanya untuk memiliki Noa. Terdengar egois tapi Cruz menyukai Noa, sangat menyukai gadis itu sampai membhatnya pusing tuju keliling karena di tolak berkali-kali.
Malam ini dia menerima jawaban bahwa Noa menyukainya, walaupun perlu sedikit dorongan alkohol untuk mengakui itu.
Dengan kekuatah penuh Cruz mengendong Noa dan membawanya ke dalam kamar. Membaringkannya di atas kasur dan menatap matanya.
" Kau jadilah milikku", kata Cruz pada Noa.
Noa menelusuri wajah Cruz dengan jarinya dan menjawab dengan ciuman di bibir Cruz.
Cruz melepaskan bajunya dan mulai melucuti satu persatu baju Noa. Cruz mencium Noa dan membawanya dalam pelukan lengannya.
Menghirup aroma tubuh wanitanya ini dan menelusuri setiap lekuk tubuhnya. Jari Noa terus bermain di perut sixpacknya seperti memanggil Cruz untuk menyentuh Noa.
Cruz mengecup tulang belikat Noa dengan penuh hasrat dan menelusuri kedua keindahan Noa di balik bra hitamnya. Noa melenguh dalam belaian Cruz.
" Ah.... Cruz" Noa memanggil nama Cruz dengan ******* yang membangkitkan gairah. Belum pernah Cruz merasakan hasrat yang seperti ini sebelumnya. Bukan hanya sekedar hawa nafsu tapi ada rasa cinta di sini.
Cruz merengkuh Noa dalam pelukannya hendak melepaskan bra itu, tetapi terjadilah tragedi yang membuat Cruz merencanakan pembantaian pada Lucas.
Rasa pusing parah yang sedari tadi di tahan Cruz datang menyerangnya, rasanya gelap dan detik berikutnya Cruz ambruk di atas tubuh Noa.
***
Cruz terbangun dan membuka matanya. Kepalanya terasa sangat sakit.
"Apa kau sudah bangun?", tanya Letu.
" Apa yang terjadi? ", tanya Cruz bingung melihat infus di tangannya. Dia berusaha mengingat apakah saat bersama Noa adalah mimpi? Tapi terasa nyata dan nikmat.
" Kau pingsan", jawab Letu.
" Pingsan? Kapan? Di mana? Apa di Club? Ais ...Lucas sialan, dia pasti menaruh sesuatu di minumannya. Tapi mimpiku terlalu nyata", Cruz mengoceh marah-marah.
" Kau tidak bermimpi. Kau pingsan dan Noa yang menelponku di jam 4 pagi sambil menangis", kata Letu.
" Apa? Noa bersamaku?", kata Cruz.
" Ya, kau pingsan di atasnya Cruz.. Di atasnya", Letu menahan tawanya.
Cruz membaringkan badannya dengan kesal dan malu.
" sekarang Noa di mana?", tanya Cruz lagi.
" Pulang ", Letu masih tertawa.
__ADS_1
"Arkhhhh ...... Sial.... Lucas sialan", Cruz mengamuk dia tas tempat tidur dengan kesal di iringi suara tawa Letu. Suara tawa yang menertawakan tragedi naas itu.
***