My Annoying Superstar

My Annoying Superstar
Bertemu Lagi


__ADS_3

Pagi ini Noa terbangun didalam pelukan Cruz.


Cruz memeluk Noa dengan erat seperti Noa akan menghilang jika tidak dipeluk. Noa berusaha melepaskan pelukan Cruz dan melirik jam dinding. Sudah pukul 4 dini hari.


Noa kembali masuk ke dalam selimut dan pelukan Cruz, terlalu pagi untuk bangun dan beraktivitas. Tetapi Noa sudah tidak merasa ngantuk lagi, yang ada malah pikirannya melayang ke mana-mana.


Memikirkan siapa yang membuat berita tentangnya. Karena jika di pikirkan kembali, Noa bukanlah topik yang tepat untuk dibicarakan. Dia bukan artis, bukan model, hanya seorang penulis biasa.


Yang membuat berita ini menjadi heboh adalah kehadiran Cruz dan Christian. Seolah-olah Noa adalah wanita matre yang mengincar pria kaya raya. Itulah topik utama yang ingin di bahas wartawan itu.


Noa menempelkan wajahnya ke dada Cruz,menghirup wangi tubuh prianya itu. Entah sejak kapan mencium wangi tubuh Cruz, berlari masuk dalam pelukan Cruz menjadi kebiasaan barunya.


Dan Cruz selalu memanjakannya seperti itu, membuat Noa terbiasa dengan perilakunya yang baru ini.


Cruz memeluk Noa lagi dan bergumam “ Sudah jam berapa ini?”, tanya Cruz.


“ Jam 4 pagi”, jawab Noa dalam pelukan Cruz.


“ Kenapa bangun sepagi ini?”, tanya Cruz masih menutup matanya.


“ Entah, mungkin kamu tidak memelukku sepanjang malam. Makanya aku trebangun”, Noa menggoda Cruz.


Cruz tersenyum ringan. “ Lalu sepanjang malam apakah aku memeluk guling? Tanganku sampai kram, bagaimana kalau aku tidak bisa memegang mic lagi”, balas Cruz.


Bukannya menjauh, Noa maalah semakin masuk ke dalam peluka Cruz. “ Pakai tangan yang lain”, jawab Noa membuat Cruz tertawa kecil. “Aku tidak bisa hidup tanpa pelukanmu”, lanjut Noa lagi.


“ Baiklah aku akan memelukmu sampai matahari terbit”, jawab Cruz.


Noa sedikit mendorong pelukan Cruz. “ Hanya sampai matahari terbit?”, Noa sedikit kecewa.


Cruz memandang Noa dengan mata ngantuknya. “ Ya, matahari tebit di utara”, jawab Cruz lalu menarik Noa masuk dalam pelukannya lagi dan menarik selimut menutupi mereka berdua.


Detik berikutnya suasana kamar menjadi hening. Hanya ada helaan nafas ringan dan tenang.


Noa benar-benar bangun jam 7 pagi. Cruz sudah tidak berada di tempat tidur, Noa mencari bajunya yang di lepas Cruz subuh tadi. Tidak menemukan di bawah kasur, Noa akhirnya meraih kaus Cruz yang berada di dekatnya.


Noa keluar dengan tertatih-tatih, mencari keberadaan Cruz dan tidak menemukannya di mana-mana. Akhirnya dengan kecewa Noa berjalan ke arah dapur.


Noa mencuci tanganya dan mengambil sehelai roti, mengoleskan selai nanas di atasnya lalu menumpuk roti itu menjadi 2 bagian. Noa menjadi sangat lapar pagi ini, entah karena kegiatannya bersama Cruz di subuh tadi atau karena semalam dia tidak makan apa-apa.


Belum sampai setengah roti itu di makan Noa, Cruz masuk ke ruang tamu dengan baju olahraga lengkap. Noa memandangi Cruz heran, tumben Cruz pergi olahraga pagi di hari liburnya.

__ADS_1


“ Hai sayangku yang pemalas. Sudah bangun?”, Cruz menggoda Noa sambil membuka kulkas untuk mengambil air mineral.


Noa tersenyum “ aku sudah bangun dari jam 4 pagi, kamu yang membuatku tidur kembali”, kata Noa sedikit mengomel.


Cruz tertawa lalu mendekati Noa dan memeluk wanitanya itu.


“ Kamu berkeringat”, Noa sedikit mendorong Cruz menjauh.


“ Kenapa? Biasanya tidak apa-apa”, kata Cruz lagi.


Noa menggeleng menolak pelukan Cruz sambil terus mengunyah rotinya. Cruz menyipitkan mata sedikit tidak senang.


“ Baiklah kalau begitu mari kita mandi bersama, biar adil”, Cruz menggendong Noa dalam pelukannya membuat Noa tertawa tidak berhenti.


***


Noa menyerahkan selembar foto Cruz yang baru bangun tidur pada Dini beserta dengan tanda tangan eksklusif di sana.


Dengan sumringah Dini menerima foto itu, wajahnya tampak bahagia. Berdendang sepanjang hari karena foto yang di berikan oleh Noa.


Sepanjang pagi Noa dengan penuh perjuangan merayu Cruz untuk di foto dengan muka bantalnya. Cruz tidak mau bukan karena takut menimbulkan gosip, tapi takut citranya sebagai lelaki tertampan di era ini runtuh karena ada sebuah belek di matanya. Begitulah kira-kira alasan Cruz pada Noa.


Tapi dengan segala upaya Noa merayu dan memuji Cruz adalah yang tertampan, sampai akhirnya Cruz setuju setelah lebih dulu Noa berjanji memakai gaun hadiah Cruz di hari jadi mereka nanti.


“ Iye… iye gampang. Tenang saja”, jawab Dini santai.


Noa mengangguk puas, lalu menatap ke arah mejanya seperti berpikir. “ Dini, jika pasangan merayakan hari jadi. Kado apa yang bagus di berika wanita ke pacarnya?”, tanya Noa polos.


Dini menatap Noa tidak percaya lalu tertawa terbahak-bahak. “ Gila ya hari gini masih merayakan hari jadi”.


“ Ck…. Iss”, Noa jengkel.


“ Oke.. sorry.. sorry..”, Dini meminta maf di sela tawanya.


“Ehem… sebaiknya kamu membelikan sesuatu yang dia tidak punya”, kata Dini.


Noa berpikir sejenak, apa yang Cruz tidak punya di dunia ini? Semua dia punya dan bisa di beli. Noa menggaruk pelan kepalanya yang tidak gatal, berpikir apa yang harus dia berikan pada Cruz.


" Kalau kamu bingung, sore ini kita pergi jalan-jalan ke mall. Siapa tau ide akan muncul di sana", ajak Dini.


Noa mengangguk menyetujui. Tetapi Noa cukup menyesal menyetujui acara jalan-jalan itu karena bertemu Tian yang sedang melakukan kunjungan ke tempat-tempat bisnisnya. Salah satunya Mall yang di datangi Noa.

__ADS_1


Saat Noa dan Dini turun dari lift mata Noa langsung tertumbuk pada Tian yang sedang berdiri dan berbincang dengan beberapa orang di sana. Di belakang Tian berjejer tim dan orang-orang penting mall itu.


Noa ingin balik badan tapi kepalang tanggung, Christian sudah melihatnya dan memasang senyum ceria untuk Noa. Dengan berat hati Noa tersenyum pada Tian, kakinya tidak bisa bergerak ke mana-mana. Dini ikut berdiri mematung, saking terpesonanya melihat Tian yang berjalan ke arah mereka.


" Gila... Cakep banget....", Dini bergumam di sampingku.


Tian semakin dekat dan senyum manis di wajahnya semakin merekah.


" Hai Noa, lama tidak bertemu", sapa Tian yang di jawab dengan senyum kikuk oleh Noa.


"Hai Tian. Ya.. Lama tidak bertemu", jawab Noa sedikit kaku.


Dini di samping Noa tersenyum berusaha ikut bersikap ramah dan Tian tersenyum padanya ramah.


" Hai, aku temannya Noa. Namaku Dini", Dini memperkenalkan diri sok akrab.


"Halo, aku Tian teman Noa. Kalian sedang jalan-jalan ke sini?", tanya Tian.


"Ya, kami sedang melepas stres. Benarkan Noa?", Dini menyenggol Noa yang sejak tadi hanya diam.


Noa mengangguk kikuk, masih ingat dengan jelas kejadian apa yang terjadi di antara mereka di pantai kemarin. Pernyataan cinta dari Tian yang di tolak oleh Noa.


Dan hari ini adalah pertama kalinya Noa bertemu Tian setelah pernyataan itu. Noa sangat kikuk tetapi Tian terlihat biasa saja. Malah seperti sudah lupa dengan hal itu.


Apa mungkin aku yang terlalu berlebihan menanggapi? Pikir Noa.


" Pak, masih ada beberpa tempat lagi yang harus kita kunjungi", Sekretaris Tian mengingatkan.


Sedikit kecewa Tian mengangguk paham lalu kembali menatap Noa dan Dini.


" Aku harus pergi karena masih ada pekerjaan yang harus ku selesaikan. Bisakah kita bertemu nanti Noa?", tanya Tian pada Noa.


Dini menatap Noa dengan antusias seolah berharap Noa mengatakan ya.


Noa menatap bingung ke arah Tian lalu mengangguk.


" Baiklah, aku akan menghubungimu nanti", lalu Tian bebricara lada sekretarisnya untuk memberikan kartu anggota VIP kepada Noa dan Dini.


Betapa bahagianya Dini menerima kartu itu. Seperti ketiban rejeki, hari ini mendapat foto Cruz dan kartu pelanggan VIP.


Tetapi sebaliknya Noa menatap cemas ke arah rombongan Tian yang berlalu pergi meninggalkan mereka.

__ADS_1


Dini memegang pundak Noa lalu berkata mantap. " Di lihat dari sudut manapun, aku langsung tau Si CEO itu cinta mati padamu".


***


__ADS_2