
Cruz menatap Noa dari tempatnya berdiri bersama teman-temannya. Cruz saat ini sedang cemburu pada Tian. Tatapannya pada Tian seolah-olah ingin mencabik-baik pria itu.
“ Kau dan Noa bertengkar?”, Brook bertanya.
“ Hanya salah paham yang tidak perlu”, Cruz menenggak minumannya.
“Pria itu sepertinya sangat menyukai Noa”, Teddy menatap ke arah mereka.
“ Berhenti memanasiku”, Cruz kesal.
“ Aku tidak memanasi, lihat cara dia melihat Noa. Seperti Noa adalah dunianya”, Teddy terus memanasi.
Cruz makin kesal mendengar perkataan Teddy. Hatinya yang awalnya panas menjadi semakin terbakar karena perkataan Teddy. Terlebih Cruz baru tahu jika Noa menolak memperpanjang kontrak kerjanya untuk variety show itu.
Cruz tidak peduli pada rating acara itu, yang dia inginkan hanya bersama Noa setiap saat. Cruz tidak memiliki alasan lagi untuk mencari-cari Noa ataupun menahan wanita itu untuk terus berada di dekatnya.
Saat acara inti dimulai, Cruz melihat Noa pergi meninggalkan Tian ke toilet. Cruz tersenyum ini adalah kesempatan yang dia tunggu sejak tadi. Dengan diam-diam Cruz menghilang dari antara teman-temannya mengikuti Noa ke toilet wanita.
Lama Cruz menunggu di pojok lorong. Menunggu Noa keluar dari toilet, pesta ulang tahun private ini diadakan di sebuah hotel yang cukup megah.
Noa keluar dari toilet dan tepat saat itu Cruz menghampiri Noa,membuat gadis itu terkejut.
“ Ikut aku”, Cruz menarik tangan Noa dan berjalan masuk ke dalam lift menuju tempat parkiran.
Sedangkan di tempat party July sedang kesal karena Cruz menghilang. Pada saat pemotongan kue July ingin memberikan potongan spesial pada Cruz sekalian menunjukan bahwa dia dan Cruz telah bersama.
Tian hanya bisa tersenyum, dia kecolongan. Seharusnya dia tidak membiarkan Noa pergi sendiri.
***
“ Lepaskan Cruz”, Noa marah berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Cruz saat sudah cukup dekat dengan mobil.
“ Kita pulang”, kata Cruz memaksa. Cruz berusaha mencari tahu kenapa Noa begitu marah padanya. Apa salahnya.
“ Aku tidak mau. Aku ingin pulang sendiri”, Noa menolak genggaman tangan Cruz.
“ Kau harus pulang bersamaku, jangan begini. Apa yang menyebabkan kau mengabaikanku berhari-hari?”, Cruz memegang kedua bahu Noa tidak sabar.
“ Kerjasama kita sudah selesai Cruz. Tidak ada alasan bagiku untuk terus bersamamu”, jawab Noa.
“ Aku tahu, tapi aku ingin kau terus bersamamu”, teriak Cruz membuat Noa kaget.
Cekrek…cekrek… bunyi suara kamera mengagetkan mereka berdua. Noa tampak sangat terkejut, dengan cepat Cruz langsung memeluk Noa untuk menyembunyikan wajah Noa di balik lengannya.
__ADS_1
“ Cepat masuk mobil”, kata Cruz.
Noa menurut dan tetap menyembunyikan wajahnya lalu masuk ke dalam mobil di kursi penumpang dan menelungkup di sana. Cruz dengan cepat duduk di kursi pengemudi dan melajukan mobilnya meninggalkan parkiran itu.
“ Jangan bangun sampai aku bilang aman. Mereka pasti akan mengikuti kita”, kata Cruz.
“ Ya”, jawab Noa.
Setelah berkendara sekitar 30 menit akhirnya Cruz menghentikan mobilnya dan menatap di kursi belakang. Noa berbaring di sana dalam diam. Cruz menghela nafas.
“ Ayo kita sudah sampai”, kata Cruz.
Noa menurut dan mereka turun dari mobil lalu berjalan cepat masuk ke dalam apartemen Cruz. Di lift mereka mulai berdebat lagi.
“ Aku benar-benar ingin bersamamu Noa”, Cruz meraih lengan Noa.
“ Untuk apa? Mempermainkanku? Apa itu menyenangkan Cruz?”, Noa mulai terpancing dan menatap Cruz dengan marah. Wajahnya seperti ingin menangis.
“ Aku tidak mempermainkanmu Noa, aku menyukaimu aku jatuh cinta padamu. Semua orang tahu kecuali dirimu. Kau terus mengabaikanku”, balas Cruz.
Noa terdiam, dia tahu bahwa Cruz menyukainya tapi Cruz seperti mempermainkannya. Tidak memberi ketegasan pada Noa.
“ Setelah kita bersama malam itu, kau tidak pernah mengatakan apa-apa tentang hubungan kita. Kau hanya terdiam dan aku harus berharap apa? Aku bersama seorang idol? Jika aku mengatakan kau, seorang Cruz adalah pacarku, maka yang terjadi adalah dunia akan menertawakanku. Perempuan penghayal yang tidak tahu malu”, kata Noa mulai menangis membuat Cruz terdiam dan tersadar.
Noa berjalan keluar dari lift sambil mengusap air matanya dengan jari, dia tidak peduli pada make up nya yang mungkin berantakan.
Cruz berlari mengikuti Noa dari belakang, Noa sepertinya akan berlari pulang jika Cruz tidak meraih tangannya dan membawanya masuk ke dalam apartemen.
Klek, suara pintu menutup. Cruz menyandarkan Noa di dinding dekat pintu. “ Kau bukan perempuan penghayal, aku benar-benar menyukaimu. Aku jatuh cinta padamu, aku terus memikirkanmu berhari-hari. Aku ingin bersamamu. Apa aku tampak seperti pria egois?”, Cruz meluapkan emosinya.
“Aku menyukaimu Cruz, sangat menyukaimu. Aku merasa dunia kita berbeda. KIta terlalu jauh’, kata Noa.
“ Apa artis bukan manusia? apa aku tidak pantas untukmu?”, Cruz menatap mata Noa dengan sedih.
“ Bukan. Kau terlalu tinggi untuk digapai”, ujar Noa membalas menatap Cruz.
Cruz menghela nafas memhami maksud perkataan Noa.
“ Kalau begitu tetap tenang di tempatmu, aku yang akan datang untuk meraihmu”, kata Cruz menatap tepat ke manik mata Noa.
***
July menarik lengan Christian yang hendak berjalan masuk ke dalam mobilnya. Perasaan marah dan kesal bercampur di hati Tian.
__ADS_1
“ Kenapa kau tidak bisa menjaga wanitamu? Aku memintamu melakukan tugasmu kan”, kata July dengan kesal.
Tian berbalik dan menghentakan lengannya dari tangan July. “ Hah… Kau kira aku ke sini karena keinginanmu? Aku kesini untuk memenangkan hati wanitaku. Tapi sepertinya ini tempat yang salah. Seharusnya aku tidak datang”, kata Tian dengan menahan amarah.
July tertawa kecil tidak percaya dengan perkataan Tian. “ Apakah itu balasanmu untuk seorang kakak yang berniat menolongmu?”, kata July.
“ Tutup mulutmu. Kau bukan kakakku. Kau hanya benalu di dalam keluargamu. Gunakan mulutmu yang manis itu untuk merayu Cruz. Mungkin dia akan luluh padamu atau dia akan meninggalkanmu”, balas Tian kejam tidak bisa menahan rasa kesalnya.
Nafas July memburu menahan amarahnya kepada Tian. Mereka memang tidak pernah akur bahkan di hadapan ayah mereka, Tian tidak menutupi kebenciannya pada July dan ibunya.
Sebelum masuk ke dalam mobil Tian sempat berkata “ Kau jangan pernah datang ke kantorku dan jangan pernah menegurku saat di tempat umum. Aku tidak mengenalmu”, ucap Tian lalu melajukan mobilnya meninggalkan July yang menggigit bibirnya kesal.
Manajer July datang menjemputnya. Melihat Mood July yang kurang baik, manajernya langsung menyuruh July masuk ke dalam mobil.
Tidak bisa menahan kemarahannya, di dalam mobil July memukul-mukul jok mobil seperti orang gila. Amarahnya meledak.
“ Perempuan sinting, kotor… ****** tidak tahu diri… aku akan membalasmu. Beraninya kau mencuri milikku. Perempuan sialan”, July memaki-maki seperti orang kesetanan.
Manajernya hanya terdiam di kursi depan. Sedangkan asisten July menatapnya tidak percaya, baru melihat sisi lain dari July yang seperti ini.
Merasa ditatap July langsung menampar wajah asistennya itu dengan keras. Plaaak…
“ Kenapa kau melihatku seperti itu? kau mau bilang aku gila?”, July meraih rambut asistennya itu untuk menjambak.
Dengan cepat manajernya meraih tangan July dan melompat ke kursi belakang. Asisten July berteriak kesakitan dan menangis.
“ Pecat dia besok … pecat dia.. manusia tidak berguna”, teriak July.
“ July tenang… redakan amarahmu…”, manajernya mengguncang abdan July yang mengamuk.
Seperti tidak mendengar July terus berteriak seperti orang gila.
“ Diaaamm….!!”, manajernya berteriak membuat July langsung terdiam.
Suasana menjadi senyap dan hawa dingin terasa di dalam mobil itu. Manajer menatap mata July dalam. July diam tidak bergerak, kedua lengannya ditahan oleh manajer.
“ Tenangkan dirimu July. Aku akan menemanimu”, kata manajer July lebih lembut.
Mendengar itu July langsung jatuh pingsan di dalam pelukan manajernya. Manajernya Alfa menghela nafas panjang memeluk artisnya itu. Emosi July tidak stabil, jika seperti itu dia selalu pingsan karena rasa stres yang dideritanya.
Alfa menatap ke arah asisten July. “ Hubungi dokter pribadi July. Katakan padanya July butuh pertolongan”.
Dengan gugup asisten July mengangguk dan melakukan apa yang diperintahkan Alfa padanya.
__ADS_1
***