My Annoying Superstar

My Annoying Superstar
Bertemu Lagi


__ADS_3

Noa menghitung berapa banyak angka nol di akun rekening banknya. Wajahnya begitu sumringah karena baru saja uang dari acara variety shownya cair.


Tidak main-main, akun banknya langsung seperti akan meledak karena angka yang muncul di sana.


" Horeeeee... Milli kita kayaaaaaaaa.... Yeay....", Noa bersorak mengendong Milli. " Akan aku belikan kamu cemilan yang banyaaaaaakkk banget", Noa memeluk Milli yang meronta-ronta turun.


Noa membaringkan badannya di atas kasur sambil menatap langit-langit kamarnya. Waahh...ternyata begini rasanya punya uang yang banyak. Uang ini lebih banyak dari penjualan bukunya selama ini.


" Apa aku boleh sedikit bersenang-senang papa?", Noa berbicara dengan langit-langit kamarnya. Ada kesedihan di mata Noa.


Noa sedang dalam proses membayar utang rumah sakit ayahnya. Saat kecelakaan menimpah orang tuanya, ayahnya di rawat selama 1 bulan di rumah sakit dan akhirnya pergi meninggalkan Noa sendiri. Sedangkan Ibu Noa meninggal di lokasi kejadian.


Pelaku tabrakan itu memang sudah di tangkap, tapi bagi Noa itu tidak bisa membuat kedua orang tuanya hidup kembali. Noa tidak akan pernah memaafkan orang itu sampai kapanpun.


Noa mengambil ponselnya dan langsung membayar tagihan rumah sakit ayahnya. Tidak sampai lunas tapi cukup membuat hatinya sedikit legah. Noa harus mengambil kembali sertifikat rumah yang di jadikan jaminan di rumah sakit. Saat itu hanya ini yang Noa punya.


" Milli, ayo kita belanja", ajak Noa pada kucing gemuknya itu.


Sebelum pergi berbelanja, Noa membawa Milli ke salon hewan langganan mereka dan meninggalkan Milli di sana untuk melakukan perawatan.


Noa lalu berbelanja di salah satu supermarket yang cukup besar di daerah itu.


Seseorang menepuk pundaknya saat Noa sedang memilih makanan kering untuk Milli. Noa berbalik waspada lalu terkejut karena melihat Christian berdiri di belakangnya dengan menggunakan baju olahraga santai dan mendorong troli belanjaan.


" Hai", Sapa Noa dengan senyum di wajahnya.


"Hai cantik. Sendirian?", tanya Tian.


" Aku berdua bersama Milli", jawab Noa santai.


Tian mengangkat alisnya bingung, karena tidak tahu siapa Milli.


Noa tertawa karena sadar Tian belum pernah melihat Milli. " Milli kucingku tapi lagi di salon", Noa menjelaskan.


" Oohh... Aku kira pacarmu", Tian mengangguk senang.


" Kau olahraga?", tanya Noa kagum.


"Yaa... Aku baru pulang olahraga dan langsung berbelanja. Aku sudah memperhatikanmu sejak tadi", jawab Tian sambil menatap Noa.


Noa mengangguk. "Kau seperri bapak-bapak ideal hahaha".


" Apakah tampangku seperti bapak-bapak sekarang?", Tian cemas.


Noa tertawa kecil merasa lucu karena Tian takut di kira bapak-bapak

__ADS_1


" Emm... Tidak sih. Masih belum", Noa menjawab dengan bercanda.


Tian tertawa renyah " Syukurlah", katanya.


Tian dan Noa akhirnya berbelanja bersama. Mereka sering bercanda. Noa selalu tertawa saat Tian melemparkan beberapa candaan kepada Noa.


"Tian, kamu ini pengusaha atau pelawak sih?", Noa bertanya sambil mengusap air mata di sudut matanya.


" Aku, pelawak berkedok pengusaha", Jawab Tian sambil cengegesan.


Noa tersenyum mendengar jawaban Tian.


Tian menyenggol lengan Noa " belikan aku es krim itu", Tian menunjuk ke arah penjual es krim di dekat mereka.


Noa menyipitkan matanya. " Bapak pengusaha minta di traktir rakyat jelata?", Noa menyindir dengan bercanda.


Tian menghela nafas panjang. " Aku tidak punya uang untuk beli es krim", katanya.


Noa memonyongkan bibirnya lalu tertawa kecil. " baiklah pak pelawak, mau es krim berapa banyak?", Noa menawarkan.


Tian tertawa keras. " Belikan aku yang rasa vanila", jawabnya.


Noa mengangkat jempolnya, lalu memesan es krim dan menunggu.


Tian memperhatikan Noa dari belakang. Tian menyukai Noa sejak mereka SMA. Tian selalu memperhatikan Noa saat doa sedang latihan ekstrakulikuler. Noa dengan baju taekwondonya.


Tian masih ingat bagimana Noa saat kehilangam ibunya. Dia dengan tatapan kosongnya terus memegang peti jenazah ibunya itu tanpa melihat siapapun yang datang untuk menyemangatinya. Tidak mendengar saat di panggil, bukan hanya kesedihan yang ada di matanya saat itu tapi rasa kehancuran yang mendalam.


Tian berpikir, mungkin saat itu Noa kehilangan dunianya. Seandainya boleh saat itu Tian ingin memeluk Noa dan mengatakan ' tidak apa-apa Noa, masih banyak orang yang menyanyangimu'.


Tian tersenyum saat Noa berlari kecil kepadanya sambil membawa es krim vanila di tangan kanan dan es krim matcha di tangan kiri.


" Jangan lari nanti jatuh", kata Tian pelan menyambut Noa.


" Ini untukmu", kata Noa.


" Terima kasih traktirannya. Aku anggap ini melunasi utangmu saat menyiramku dengan es cendol", kata Tian mulai menjahili Noa.


Noa memukul lengan Tian pelan " Jangn di ungkin Tian", Noa melotot ke arah Tian.


" Oke baik maaf... Tidak akan aku ungkit. Tapi boleh tau kenpa saat itu.. ", Tian belum menyelesaikan pertanyaannya tapi Noa sudah mencubit pelan lengan Noa.


Noa tahu ke arah mana pembicaraan ini akan berlanjut. Tian tertawa keras.


" Oke baik tidak akan aku bahas lagi soal cendol itu", kata Tian.

__ADS_1


" Terima kasih", Noa tersenyum manis.


Tian tersenyum kecil, dia sedang berusaha menahan tangannya. Ingin rasanya meraih wajah gadis di hadapannya ini dan mengelus pelan pipi itu dengan rasa sayang.


"Sekarang bagaimana kalau kau kenalkan aku pada Millimu itu", tawar Tian.


" Boleh. Milli anak baik dan dia suka pria tampan", kata Noa lagi.


" Jadi aku tampan kan?", tanya Tian senang.


" Emm... Ya sedikit", Noa tertawa kecil.


Tian menatap Noa sambil menyipitkan mata. " kau ini tidak niat memuji ya", sindir Tian.


Noa tertawa renyah " Ya ... Yaa kau tampan seperti Tom Cruise", jawab Noa lagi.


Mereka lalu tertawa bersama. " Terima kasih pujiannya nona" Tian tertawa.


***


Cruz memasuki apartemen dengan semangat dan menemukan Noa sudah pindah ke rumahnya sendiri. Betapa kecewa hati Cruz.


Cruz duduk di sofa ruang tamu lalu menatap langit-langit apartemennya.


" Aaaaahhhhh.... Aaaaahhhhh.... ", Cruz bersuara agar memecah keheningan didalam apartemennya.


Tetapi suaranya seperti memantul di langit atap apartemennya saking sepinya apartemen itu.


Cruz lalu menghela nafas. Memang benar Noa harus kembali ke rumahnya sendiri, tidak mungkin berlama-lama di sini. Ceuz langsung bisa merasakan perbedaan saat Noa ada bersamanya.


Cruz melihat sesuatu berkilau di bawah meja. Cruz memungut dan menemukan mainan Millli terjatuh di sana.


Seperti mendapatkan ilham, Cruz langsung mengambil kunci mobilnya dan bergegas keluar dari apartemen.


" Halo Noa", Cruz menelpon Noa.


" Hai Cruz, kamu sudah kembali?", Noa bertanya di telpon.


"Ya, kamu sekarang ada di mana?", Tanya Cruz.


"Di rumah. Ada apa?", tanya Noa.


" Mainan Milli ketinggalan dan aku bawa oleh-oleh untukmu. Aku akan ke rumahmu sekarang ", kata Cruz.


" Oh ya... Oke...aku tunggu ya", jawab Noa mengiyakan.

__ADS_1


***


__ADS_2