
Noa duduk disebelah Cruz dan berbicara dengan sedikit ragu. “ Aku tidak tahu Cruz harus bicara apa padamu, tapi yang pasti aku tidak memiliki perasaan pada Tian. Dia menyatakan perasaannya padaku tetapi aku menolaknya. kau tahu itu, tidak ada yang kusembunyikan darimu Cruz”, kata Noa menatap Cruz.
“ Aku tahu Noa. Aku hanya cemas kau kaget karena komentar-komentar jahat itu”, Cruz membelai pipi Noa.
Noa tersenyum “ aku memang sedikit syok Cruz, hanya saja aku pikir semua komentar itu akan berlalu. Aku hanya memikirkan reaksimu”, kata Noa jujur.
“ Lalu kenapa kau tidak menjawab teleponku?”, tanya Cruz.
“ Aku tidak tahu harus berkata apa Cruz, aku takut kita bertengkar di telepon dan membuat salah paham”, kata Noa.
Cruz mengangguk. “ Tapi aku malah menjadi cemas. Aku sedikit kesal karena artikel itu Noa”, kata Cruz memajukan badannya ke arah Noa.
Noa menatap Cruz seperti menyesal “ Maafkan aku”, suara Noa terdengar lirih.
Cruz tersenyum lalu mengangkat mencium gadis itu hangat dan dalam. “ Aku menyukaimu lebih dari apapun Noa, jangan lukai hatiku”, kata Cruz lalu mencium lagi gadisnya itu.
***
July duduk di ruang tamu bersama orang tuanya. Wajahnya terlihat tidak senang, pikirannya berkecamuk.
“ Pikirkan lagi tentang perjodohan ini July. Ayah harap kau bisa menyikapinya dengan bijak”, kata ayahnya kepada July
July diam saja tidak memberikan komentar apapun. Tetapi saat Julyada di kamarnya, ibu July mengikuti dari belakang untuk memberikan pengertian kepada anaknya itu.
“ Sayang, perjodohan ini juga bisa membahagiakanmu. Dia pria yang baik, pengusaha yang sukses, kamu tidak perlu bersusah payah bekerja. Ibu hanya ingin kamu bahagia”, kata ibu July.
July tersenyum sinis. “ Ibu apakah aku pernah mengeluh tentang pekerjaanku? apa aku pernah menyusahkan ibu tentang keuanganku? perjodohan ini bukan untuk kebahagiaanku tetapi untuk ayah dan ibu kan?”, kata July ketus.
“ July, orang tua mana yang memberikan penderitaan? ini semua untuk kebaikanmu”, tegas ibunya.
“ Berhenti bicara tentang kebaikanku ibu. Sejak ibu membawa aku masuk ke rumah ini aku sudah tidak bahagia, menjauhkanku dari ayah sampai hari kematiannya, di sekolah aku di cap anak si tukang selingkuh, aku dijauhi temanku. Apa ibu pikir aku bahagia? yang bahagia itu ibu bukan aku. Semua ini adalah neraka”, teriak July.
Plaak….
__ADS_1
Untuk pertama kalinya July mendapatkan tamparan dari ibunya. “ Kamu jangan kurang ajar July. Ibu sampai ke posisi ini semua demi kamu. Kamu kira kita bisa hidup dengan pekerjaan ayahmu yang seperti itu? Kamu tidak akan bisa bersinar seperti sekarang jika kota tidak keluar dari rumah itu”, kata ibunya marah.
July menatap ibunya dengan wajah datar, pipinya tampak merah karena tamparan ibunya.
“ Seharusnya aku tinggal bersama ayah saja, setidaknya hariku akan normal seperti gadis lainnya”, kata July lalu mengambil tasnya dan berjalan ke arah pintu.
Sebelum keluar dari pintu July berhenti dan berbicara lagi “ karirku yang seperti sekarang adalah karena usahaku sendiri ibu. Camkan baik-baik, hanya Jay yang mendukungku bukan ibu atau uang ibu”.
Setelah berkata begitu July pergi meninggalkan rumah itu. Bertekad tidak akan kembali lagi ke sana, bukan karena tamparan ibunya tetapi melihat ibunya yang berubah karena harta. Dengan air mata menderai, July mengendarai mobilnya menuju apartemen Jay.
***
July duduk di ruang tamu Jay dengan mata sembab dan pipi yang merah. Jay datang dengan membawa sebuah kompres es di tangannya. Tanpa bertanya ada apa, Jay membantu mengompres pipi July yang merah. July hanya terdiam menatap kosong ke arah TV yang tidak menyala.
“ Aku dijodohkan dengan seorang pengusaha”, perkataan July membuat tangan Jay berhenti sejenak dari aktivitasnya mengompres, setelah beberapa detik Jay kembali mengompres pipi July.
Jay tidak berkata apa-apa, tidak memberikan komentar apapun terkait perkataan July. Tiba-tiba July menangis, air matanya membasahi pipinya. Dengan suara sesegukan July terus menangis di hadapan Jay.
Jay meletakan kompres dan meraih July dalam pelukannya. Hanya itu yang bisa dilakukan Jay selama bertahun-tahun jika July menangis, termasuk saat July memutuskan meninggalkan Cruz.
Jay menggendong July lalu membawa gadis itu ke dalam kamar dan meletakkannya di atas tempat tidur. Jay menatap wajah gadis yang dicintainya itu. Selama bertahun-tahun Jay mencintai July dalam diam.
Jay membelai pipi July dan berkata lirih “ Apa kau tau aku mencintaimu? apa itu tidak terlihat di matamu? aku harus bagaimana untuk bisa bersamamu?”.
Setelah berkata begitu Jay berdiri dan meninggalkan July di dalam kamarnya. Ketika pintu sudah tertutup July membuka matanya. July memang tertidur, tapi sempat terbangun karena Jay meletakannya di atas tempat tidur dan July tidak membuka matanya. Ternyata itu adalah pilihan yang tepat.
Sekarang jantungnya berdebar dengan cepat, dia mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Jay. Wajah July memanas, persahabatannya dengan Jay ternyata memiliki arti yang lain bagi Jay.
July tidak siap dengan apa yang didengarnya. Seharusnya jantungnya biasa saja, karena dia tahu Cruz adalah orang yang dicintainya. Seharusnya dia berdebar karena Cruz bukan Jay.
Tetapi kenapa dia berdebar karena perkataan Jay?
July memperbaiki posisi tidurnya. Sial, apa aku terlalu lama jomblo sampai berdebar karena sebuah perkataan manis? July memaki di dalam hatinya.
__ADS_1
Pada akhirnya July tidak bisa tidur nyenyak, dia terus memikirkan perkataan Jay untuknya. Apa yang harus aku lakukan? pura-pura tidak tahu saja, itu pilihan yang baik.
****
July terbangun di pagi hari dengan wajah kusut. Bukannya segar, dia malah kepikiran tentang perkataan Jay.
Suasana pasti akan menjadi canggung untuk July. Seharusnya dia semalam pulang saja. Dengan begitu dia tidak perlu mendengarkan pengakuan Jay dan menjadi canggung seperti ini.
July keluar dari kamar Jay, setelah sebelumnya celingaj celinguk seperti maling profesional. Berharap Jay sudah berangkat kerja dan dia bisa pulang tanpa menegur pria itu.
Jay tidak muncul di sudut ruangan manapun dan dengan langkah pasti July berlari kecil ke arah sofa lalu memungut tasnya yang ada di lantai.
"Kau kenapa mengendap-endap seperti itu?", suara Jay membuat July terlonjak kaget.
July berbalik dan menemukan Jay berdiri di belakangnya memakai pakaian rumah dan memegang segelas air putih di tangannya.
" Kau tidak ke kantor?", tanya July berusaha terlihat tenang.
Jay menatap July heran. " Ini hari minggu, untuk apa aku ke kantor", jawab Jay santai.
July terdiam, benar juga kemarin kan sabtu ya.
" Jadi kau kenapa mengendap-endap seperti begitu?", Jay mengulangi pertanyaannya.
July tergagap "Itu, aku hanya malu karena mataku bengkak", kata July sedikit berbohong. Tentu saja saat ini July tidak mau Jay menatap dirinya yang sedang berantakan.
Jay menatap heran ke arah July, sejak kapan July menjadi malu-malu kucing seperti itu. Dulu bahkan July pernah muntah di hadapannya saat mabuk, sekarang malah merasa malu hanya karena matanya yang sembab.
Jay mengangguk. "Basuh wajahmu dan kita sarapan. Kau tau kan letak sikat gigi baru ? sabun wajahmu masih tersimpan di rak paling atas. Aku tunggu di meja makan", pintah Jay tanpa di bantah oleh July.
July berjalan ke kamar mandi seperti robot dan menyadari satu hal. Selama ini dia terlalu seenaknya keluar masuk rumah Jay tanpa tau perasaan Jay padanya.
Bahkan sabun wajahnya ada di rumah Jay. Betapa bodohnya July karena masih berpikir mereka adalah sahabat.
__ADS_1
Ah, mati aku batin July.
***