
Tian memandang bola golf yang melambung ke tengah lapangan. Pukulannya kali ini sedikit meleset dari perkiraan.
“ Waahh.. sepertinya CEO kita kurang konsentrasi hari ini”, kata James sahabat Tian.
“ Aku memang sedang banyak pikiran”, Tian mengakui sambil menyerahkan stik golfnya pada seorang candy berparas cantik yang berdiri di dekatnya.
“ Kau sedang memikirkan apa?”, James mengambil ancang-ancang untuk memukul bola, lalu dengan penuh keyakinan James memukul bola golf di hadapannya.
Bola itu melambung ke tengah lapangan dan masuk ke dalam sasaran yang ditargetkan oleh mereka berdua tadi.
“ Yeaaah… aku menang hari ini”, James tersenyum puas. Karena sangat jarang dia bisa menang dari Tian saat bermain golf. “ Jadi, kau sedang memikirkan apa?”, James bertanya lagi.
“ Aku diabaikan seorang wanita “, jawab Tian sambil meneguk minuman di tangannya.
James menatap Tian bingung. “ Kau serius?”, tanya James.
“ Ya aku serius James”, Tian kesal.
Mendengar itu James tertawa keras, bagaimana bisa pria tampan, menarik dan kaya raya seperti Tian bisa diabaikan oleh seorang perempuan.
“ Siapa? siapa wanita itu?”, James bertanya disela tawanya.
“ Noa, wanita yang ku tunjukan kemarin dulu”, ujar Tian.
“ What? hahaha…. Gila…gila … gila. Luar biasa. Ternyata hatinya sekuat baja tidak tergoda oleh pesonamu”, James tertawa bahagia karena penolakan yang diterima oleh Tian.
“ Kau senang?”, Tian bertanya datar.
“ Lumayan”, James menjawab jujur.
“ Aku tarik sahamku dari perusahaanmu”, kata Tian sambil berjalan masuk ke dalam Golf Cart.
Spontan tawa di wajah James menghilang. “ Maafkan aku yang mulia, aku khilaf”, James langsung pura-pura menyesal karena dia tau sahabatnya itu tidak mungkin melakukan itu padanya.
“ Sudah terlambat”, jawab Tian sambil berlalu pergi menggunakan mobil Golf Cart dan meninggalkan Tian di tengah lapangan.
James menghela nafas panjang. “ Dasar si pemarah”, maki James lalu berbalik menatap para Candy yang juga sudah bersiap pergi di dalam mobil mereka.
“ Nona-nona, apakah aku boleh menumpang di mobil kalian?”, James tersenyum manis dan disambut cekikikan dari gadis-gadis manis itu.
***
Noa menatap editor Ying dengan penuh harap. Setelah membaca cukup lama akhirnya editor Ying menutup lembaran jilidan itu.
“ Oke, kita akan merevisi setiap babnya. Memikirkan desain cover depannya. Usahamu sudah bagus. semoga akan menjadi best seller”, ucap editor Ying.
__ADS_1
Noa menautkan tangannya senang. “ Wah akhirnya. Terima kasih editor Ying, semoga perjuanganku tidak sia-sia”, doa Noa.
Editor Ying mengangguk. “ Noa, ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu”, Editor Ying menahan Noa yang hendak keluar dari ruangannya.
“ Ya editor Ying. Ada apa?”, tanya Noa berdebar. Takut tulisannya bermasalah.
“ Kau dan bocah selebriti itu. Apakah kalian bersama?”, tanya Editor Ying dengan raut wajah yang susah di tebak.
Noa terdiam tidak mengira dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh editor Ying. “ Kami untuk saat ini hanya berteman”, jawab Noa.
Editor Ying mengangguk tenang lalu berkata seperti menasehati. “ Jika kau menaruh hati padanya, cintai dia tapi jauhi dunianya Noa”.
Noa menatap editor Ying dengan ekspresi tidak mengerti. Tapi Noa tidak bertanya lagi tentang maksud dari perkataan ambigu itu.
“ Pulanglah dan istirahat. Di minggu mendatang kau akan sangat sibuk”, kata Editor Ying.
Noa tersenyum lalu meninggalkan ruangan editor Ying dengan wajah yang masih terheran-heran.
“ Heiiii….. “, Damar mengagetkan Noa dari belakang.
“ Ck…”, Noa memukul pelan pundak Damar. “ Tumben kau ada di sini, sana pulang ke divisimu”, usir Noa.
“ Aku disini untuk bertemu pacarku dong. Kau pacaran ya sama Cruz?”, Damar bertanya tanpa basa basi.
“ Tidak”, Noa menjawab singkat sambil duduk di kursi meja kerjanya.
“ Apa? siapa yang gendong-gendongan?”, Noa kaget.
“ Kau dan Cruz lah masa aku dan kau”, Damar berkata sewot.
Noa membuka ponselnya dan menemukan berita tentang mereka bertebaran di internet. Foto cruz menggendong Noa di pundak minggu lalu, terlihat sedikit buram tapi Noa sangat yakin itu adalah mereka. Damar saja bisa langsung mengenali mereka berdua.
“ Ooohhh… Shit”, Noa memaki pelan.
***
Cruz menatap seorang artis baru di hadapannya. Artis yang berhasil di rekrut oleh Jay untuk agensinya.
" Nyanyikan lagu yang lain", pintah Cruz dingin.
Peserta remaja itu dengan sedikit takut lalu mulai menyanyikan lagu yang lain.
Cruz terdiam mendengarkan, Loco di samping Cruz juga ikut berkonsentrasi penuh mendengarkan.
Setelah selesai menyanyikan lagu itu Crz melihat ke arah Loco.
__ADS_1
" Dia belum bisa debut dalam waktu dekat, dia harus latihan vocal lagi. Promokan saja melalui iklan dan lainnya", kata Cruz pada Loco.
" Ya, aku setuju padamu", jawab Loco.
Setelah itu Loco berbicara pada anak baru itu dan menyuruh manajernya Kim mencarikan manajer untuk anak itu.
" Kau dan Kim, bagaimana hubungan kalian?", Cruz bertanya penasaran.
"Aku dan dia sekarang tinggal bersama. Kami sudsh bersama", kata Loco.
" Wow.... akhirnya bro. Kapan kau akan menikahinya?", tanya Cruz.
" Secepatnya. Aku tidak tahu apakah dengan menikahinya, aku jadi membunuh karirku sendiri. Tapi jika itu terjadi maka aku kan memilih menjadi penulis dan produser lagu", Cruz tertawa.
Cruz tersenyum. " Hal seperti itu tidak akan mematikan karirmu. Walaupun kau menikah dan mempunyai anak tapi kau tetap menciptakan karya yang bagus, aku rasa karirmu akan semakin menyala. Dan ciptakanlah image bapak ideal, jangan pergi clubing bersama kami lagi", Cruz sok menasihati.
Loco menyambut nasihat itu dengan penuh tawa.
" Jadi kau, apakah berhasil bersama Noa?", tanya Loco.
" Hampir sedikit lagi, tapi ada seseorang di antara kami", kata Cruz sedikit menunduk.
"Siapa? July?", Loco bertanya penasaran.
" Bukan, seorang pria pengusaha. Mungkin kau tau, namanya Christian", kata Cruz.
Loco berpikir sejenak lalu mengerutkan keningnya. " Aku tidak pernah tahu", akhirnya dia menjawab.
Cruz lalu berdiri di ikuti oleh Loco, mereka berkemas dan siap keluar ruangan.
" Dia sangat gencar mengatakan menyukai Noa. Sepertinya mereka teman SMA ", kata Cruz.
Loco mengangguk dan tersenyum saat Kim masuk kembali ke ruangan itu.
Saat tiba di depan Cruz, Kim langsung menyondorkan jarinya di depan wajah Cruz.
Cruz kaget lalu melihat sebuah cicin bermata batu ruby kecil tersemat di sana.
" Kau sedang pamer padaku?", Cruz berkata sambil tersenyum pada Kim.
Kim tertawa kecil lalu mengandeng tangan Loco. " Ya aku sedang pamer kekayaan pacarku", kata Kim membuat Loco tertawa.
" Kim, dia lebih kaya dari kita. Nanti jika kita menikah kamu jangan lupa membuat proposal dan ajukan padanya", kelakar Loco.
Cruz tersenyum. "Teman macam apa yang memeras temannya sendiri?", Cruz sewot.
__ADS_1
" Teman macam kami", Kim menjawab lalu mereka tertawa bersama. " Kamu sudah memberitahu Cruz?", tanya Kim.
***