My Annoying Superstar

My Annoying Superstar
Ayah yang Kembali


__ADS_3

" Aku ingin mengisi dayaku", kata Cruz di leher Noa.


Noa tersenyum lalu mencubit gemas pipi Cruz. " Kan udah tadi. Kamu gak ketemu sama teman-teman kamu?", tanya Noa penasaran.


" Nanti saja. Aku pusing melihat mereka, aku lebih suka melihat kamu", kata Cruz lagi sambil bermanja-manja.


" Emmm.. mulai suka gombal ya sekarang", kata Noa menuduh.


" Ya, aku terlalu banyak bergaul dengan Loco makanya jadi begini", kata Cruz lalu menarik Noa dan hendak menciumnya saat bel rumah berbunyi.


Cruz dan Noa sama-sama terdiam. Tidak biasanya ada tami yang datang ke apartemeb Cruz selain pengantar paket dan orederan makanan.


" Kamu pesan makan?", tanya Cruz.


" Tidak, aku tidak pesan apa-apa. Kita kan sudah makan malam sayang", jawab Noa sambil merapihkan duduknya.


" Ah... Mungkin Teddy. Tadi dia katanya mau mampir. Sebentar ya", Cruz dengan malas turun dari sofa dan berjalan ke arah pintu.


Cruz melihat ke layar interkom rumahnya dan langsung terpaku. Seorang pria dengan usia pertengahan 50an berdiri di depan pintu rumahnya.


Tangan Cruz terpaku sisi badannya. Terlalu syok untuk bergerak.

__ADS_1


" Cruz, itu siapa? Kok pintunya gak di bukain", teriak Noa.


Cruz kaget dan langsung kembali ke dalam apartemen. Wajahnya terlihat sedikit berbeda, Noa menangkap gelagat aneh Cruz.


" Siapa? Kenapa wajahmu pucat sekali?", Noa menghampiri Cruz.


" Tidak bukan siapa-siapa. Sepertinya fans. Biarkan saja", kata Cruz lagi.


Noa hendak melihat ke arah intercom saat Cruz menariknya dan berkata dengan suara berat dan penuh tekanan. " Jangan lihat. Nanti juga pergi", kata Cruz tegas.


Noa yang kaget mendengar perubahan suara Cruz langsung menurut dan mengikuti Cruz berjalan ke arah ruang tamu.


***


Cruz teringat pria tua di depan pintu rumahnya. Rambutnya yang memutih tidak membuat Cruz lupa akan wajahnya. Ayahnya datang tanpa di duga ke rumahnya.


Bagaimana dia bisa tahu apartemen Cruz? Itu menjadi peetanyaan yang bolak-balik di pikirkan Cruz tapi tetap tidak menemukan jawabannya.


Cruz menelpon adiknya dan mengetahui bahwa ayahnya juga mengikuti adiknya selama beberapa hari ini. Walaupun Cruz sudah mempekerjakan supir yang mengantar dan menjemput adiknya.


Rasa teror yang sudah hilang selama bertahun-tahun datang lagi. Apa yang di inginkan pria tua itu? Uang? Atau sesuatu yang lain?.

__ADS_1


Tangan Cruz mulai bergetar karena rasa cemas. Cruz tidak ingin bercerita kepada Noa, Cruz tidak mau wanitanya itu cemas karena hal seperti ini.


Noa tidak tahu bahwa Cruz belum bisa mengatasi gangguan kecemasannya sepenuhnya. Sudah lama Cruz tidak mengalami serangan cemas ini, setelah hari ayahnya muncul di depan pintu barulah Cruz mulai merasakannya lagi.


Cruz mengambil botol obat di dalam laci dan menegak 2 butir obat di dalamnya. Lalu tertidur dalam pikirannya sendiri.


***


Christian menutup sambungan telpon lalu memandang keluar jendela kaca kantornya. Banyak gedung bertingkat dengan lampu yang menyala yang menerangi gelapnya malam.


Sudah bertahun-tahun Tian memimpin perusahaan-perusahaan miliknya. Banyak wanita lalu lalang di hidupnya, bahkan wanita yang tanpa malu menyerahkan dirinya pada Tian. Tetapi tidak ada satupun yang menarik perhatiannya.


Tian benar-benar menyukai Noa sejak lama. Tidak bisa begitu saja melupakan rasa cintanya yang bertepuk sebelah tangan.


Tian berpikir bahwa ini adalah keaempatan kesekiannya setela di tolak oleh Noa.


Apa yang harus Tian lakukan agar Noa datang kepadanya dan jatuh cinta terhadapnya. Saingannya sangat berat. Tian bisa melihat bahwa Noa benar-benar mencintai Cruz.


July yang awalnya di harapkan Tian untuk menjadi orang ketiga di antara mereka, malah tidka berguna sama sekali. Sekarang July membuat masalah dengan menolak pertunangan yang sudah di siapkan oleh ibunya sendiri.


Tian menghela nafas panjang. " Bagaimanapun aku akan berusaha agar kau menjadi milikku Noa", Tian berbicara ke arah gelapnya malam yang di terangi lampu dari gedung lain di sekitarnya.

__ADS_1


***


__ADS_2