
Noa menatap sebuah bingkisan besar di hadapannya. Seorang pria yang Noa pernah bertemu sebelumnya, merupakan asisten dari Tian datang mengantarkan paket itu.
“ Uuh…. sepertinya tuan putri sudah menemukan pangeran tersayang”, Cleo menatap bingkisan di hadapan mereka.
Cleo datang dengan tergesa-gesa saat Noa menelponnya dan langsung terkesima melihat bingkisan itu.
“ Tidak Cle, ini tidak benar”, Noa mondar mandir di depan Cleo.
“ Apanya yang tidak benar?”, Cleo bingung mendengarkan perkataan Noa.
“ Kau tau kan aku tidak suka menerima hadiah Cle, ini berlebihan”, ujar Noa.
“ Dia hanya memberikanmu tas dan seperangkat hadiah lainnya”, kata Cleo.
“ Tidak, aku harus mengembalikan ini. AKu tidak bisa menerimanya”, ujar Noa lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi Tian.
“ Ah ck… gak asik”, Cleo kecewa.
Noa hanya mendengus pada reaksi Cleo yang penuh kekecewaan itu. Noa lalu menghubungi Tian.
“ Halo Tian”, Noa berbicara saat Tian mengangkat teleponnya.
“ Ya Noa ada apa? “, Tian bertanya dari seberang telepon.
“ Aku ingin bilang terima kasih karena sudah mengirimkan hadiah tapi aku tidak bisa menerimanya Tian. Maafkan aku”, Noa berkata hati-hati.
Tian tidak langsung memberikan respon dari seberang telepon, Noa sampai tidak enak hati.
“ Halo Tian, kamu marah?”, Noa bertanya hati-hati.
Tian tertawa kecil. “ Tidak, aku tidak marah padamu Noa. Aku hanya heran, ternyata kau tidak mudah tergugah karena barang mewah. Aku memang tidak salah pilih”, kata Tian senang karena wanita yang disukainya tetap sederhana seperti dulu.
“ Salah pilih apa?”, Noa bingung dengan perkataan Tian yang ambigu.
Bukannya menjawab Tian malah membicarakan hal yang lain. “ Kalau begitu besok antarlah barang itu ke tempatku. Aku akan meminta Daren untuk menjemputmu”, undang Tian.
“ Maaf Tian aku ada janji besok”, Kata Noa.
“ Kalau begitu semua hadiah itu menjadi milikmu”, jawab Tian.
“ Baiklah aku akan mengantarnya besok”, kata Noa tidak menyadari maksud hati Tian padanya.
“ Baiklah aku tunggu besok”, jawab Tian lalu sambungan telepon terputus.
Noa menghembuskan nafas panjang.
“ Jadi apa keputusanmu?”, tanya Cleo penasaran.
“ Cle, aku akan mengembalikannya tapi dia memintaku membawa semua barang ini padanya”, jelas Noa.
“ Uuuhh… wow… jebakan yang jenius”, kata Cleo.
“ Jebakan apa?”, Noa bingung.
“ Jebakan agar kau datang padanya dan dia memiliki kesempatan untuk bertemu denganmu”, jelas Cleo kepada sahabatnya yang tidak peka pada keadaan itu.
__ADS_1
Noa terdiam memahami ucapan Cleo.
“ Jadi kau dan Cruz bagaimana kabarnya? Apa ada kemajuan?”, tanya Cleo.
Noa menghembuskan nafasnya berat. “ Aku tidak tahu Cleo. apakah Cruz benar menyukaiku atau hanya sedang bermain. Aku rasa, saat ini aku sudah jatuh dalam cintanya”,aku curhat pada Cleo.
Cleo terdiam.” Jika Cruz benar menyukaimu dan ingin bersamamu, apa kau akan menerimanya?”, tanya Cleo.
Noa menatap Cleo sedih. “ Apa aku pantas berada di dunianya? Apa karirnya akan baik-baik saja saat bersamaku?”.
***
“ Kau mau ke mana?”, Cruz bertanya saat Noa terburu-buru pergi setelah syuting.
“ Aku ada urusan”, jawab Noa.
“ Urusan apa?”, Cruz mengekor Noa sampai ke dekat mobil Noa.
“ Aku harus bertemu temanku Tian”, terang Noa hendak membuka pintunya.
Tetapi Cruz langsung mendorong pintu mobil itu tertutup. “ Kau tidak boleh pergi”, kata Cruz.
“ Kenapa? Aku ada urusan dengannya”, kata Noa lagi.
“ Tidak. Kau harus bekerja denganku hari ini “, Cruz menarik Noa menjauh dari mobil.
“ Aku sudah selesai bekerja kan? Apalagi tugasku?”, Noa menarik tangannya.
“ Banyaak.. sangat banyak”, dengan tidak sabar Cruz menggendong Noa di pundaknya dan membawa Noa masuk ke dalam mobilnya.
Saat mobil Cruz sudah melaju Noa masih mengomel. “ Tadi kalau ada paparazi gimana? nanti crew bilang apa kalau lihat kita begitu”, Noa ngedumel.
“ Aku tidak peduli”, Cruz menjawab cuek.
Noa hanya bisa menghela nafas dengan pasrah. Noa sudah terbiasa dengan kelakuan Cruz yang seperti ini. Harus panjang sabar menghadapi keinginan superstar satu ini.
“ Sekarang kita ke mana?”, tanya Noa.
“ Makan kepiting”, Cruz menjawab santai.
Noa tercengang mendengar jawaban Cruz yang nyeleneh itu. Dan lebih tercengang lagi karena mereka benar-benar makan kepiting dan makanan laut lainnya.
" Ini adalah tempat usaha dari orang tua kak Tan. Jadi aku ingin datang dan memberi selamat padaa keluarganya", kata Cruz.
Noa mengangguk. "Jadi aku boleh pesan udang kan?", tanya Noa.
" Boleh ", Cruz tersenyum. Tepat saat itu kakak dari Tan keluar untuk menyambut Cruz.
"Terima kasih karena sudah datang", kata kakak Tan.
" Ya. Semoga usahanya lancar ya kak", kata Cruz.
" Ya, amin", jawabnya lalu melihat ke arahku dan kembali menatap Cruz.
Cruz hanya tersenyum dan kami di persilahkan masuk oleh kakak Tan.
__ADS_1
"Aku yakin setelah kedatanganmu tokoku pasti akan sangat ramai", katanya membuat Cruz tertawa.
***
" Waah aku kenyang sekali", kata Noa.
" Masakannya enak kan? aku sangat suka semua restorannya", kata Cruz.
" Apa kak Tan juga bisa masak?", tanya Noa.
" Tidak. Jangan pernah mencoba masakannya, nanti kau bisa masuk UGD", kata Cruz.
" Masa sih?", Noa tidak percaya pada perkataan Cruz.
" Coba saja sendiri nanti", Cruz meyakinkan.
" Eh.. Aku kan hari ini ada janji. Mana sudah sore lagi", kata Noa mencari ponselnya.
" Jangan pergi ", Cruz berkata pelan.
" Sorry, kamu bilang apa?", Noa mengoreksi pendengarannya.
" Aku bilang, Kamu jangan pergi menemui Christian. Tetaplah bersamaku seharian ini", kata Cruz dengan nada sedih.
Noa terdiam seperti memikirkan sejenak, lalu menjawab "Baiklah aku tidak akan pergi", kata Noa lalu mengambil ponselnya dan menelpon Tian.
"Halo Tian", Noa mulao bebicara.
" Ya Noa ada apa? Kamu jadi bertemu denganku kan?", Tian memastikan.
"Tian maafkan aku, sepertinya aku tidka bisa mengantar barang-barang ini sendiri. Aku akan meminta jasa kirim untuk membawanya ke tempatmu", Noa menjelaskan.
" Kenapa? Kamu ada pekerjaan? ",Tian penasaran.
" Ya, Cruz memintaku menemaninya hari ini. Ini juga bagian dari pekerjaanku. Maafkan aku Tian dan terima kasih karena mengirimkan hadiah", kata Noa.
" Baiklah. Lain kali aku sendiri yang akan menjemputmu", kata Tian hangat.
Noa lalu memutuskan sambungan teleponnya dan menatap Cruz yang tersenyum senang.
" Jadi pekerjaan apa lagi yang anda mau saya lakukan tuan superstar?".
***
Tian mengetuk meja pelan, Noa membatalkan janji mereka karena harus menemani Cruz.
Tian tersenyum, hatinya semakin panas karena persaingannya bersama Cruz untuk mendapatkan Noa.
" Jika ini tidak menggugah hatimu. Maka aku akan menggunakan cara lain Noa. Cara yang lebih halus untuk mendapatkanmu", Tian berbicara degan dirinya sendiri.
Daren masuk dan berjalan mendekati meja Tian.
" Tuan, nona July sudah tiba", lapor Daren.
Tian mengangguk, lalu berdiri dan berjalan keluar ruang kantornya diikuti Daren di belakang.
__ADS_1
***