
Noa menatap Cruz yang sedang mengemasi barang untuk keperluan berkemah mereka. Hari ini mereka bertemu di saat syuting ke sekian mereka.
" Kita harus bawa mie instan", kata Noa.
" Ya, aku sudah masukan ke dalam tas Noa", jawab Cruz yakin.
" Hmmm apalagi ya. Kamu sudah bawa kaos kakimu kan?", tanya Noa memeriksa tasnya sendiri.
" Sudah cantik. Kita hanya berkemah 1 hari 1 malam Noa bukan seminggu", jelas Cruz yang pada dasarnya kalau berkemah tidak suka ribet.
Noa mengangguk paham. " Sebentar, aku harus ambil lotion anti nyamuk", kata Noa berlari kecil masuk ke kamarnya.
Cruz terduduk lalu menatap kamera dan mengajak kameramen berbicara. " Apakah semua wanita begini jika di ajak berkemah ?", tanya Cruz membuat para crew tertawa.
Noa kembali dengan beberapa barang di tangannya. Lotion pengusir nyamuk, tabir surya, pelembab wajah.
"Kenapa banyak sekali bawaanmu?", Cruz protes keras.
" Sepertinya kita butuh ini semua", jawab Noa cuek sambil memasukan barang-barang itu ke dalam tasnya.
"Terserah deh", Cruz pasrah. " Kamu temani aku kerja dulu sebentar, setelah itu kita berangkat", kata Cruz.
" Oke baik", Noa menjawab patuh.
***
Noa duduk di sofa studio Cruz sambil menguap. setelah sarapan pagi Cruz melanjutkan pekerjaannya. Dia sibuk di depan komputer dan peralatan perangnya yang Noa tidak tau apa itu. Cruz duduk selama berjam-jam.
Beat lagu beberapa kali di putar berulang-ulang. Noa sampai hafal di bagian mana Cruz akan mengetuk tangannya ke meja. Sang kameramen yang mulai terkantuk-kantuk, sampai menguap berulang kali menunggu Cruz selesai bekerja.
Noa mulai mengantuk. Matanya sayup-sayup seperti akan terbang ke awan ketujuh. Lalu dia mulai tertidur di sofa. Rasa kenyang di dukung suhu ruangan yang dingin dan senyap membuat Noa langsung bisa mengistirahatkan pikirannya. Noa tidur siang di studio Cruz.
1 jam.... 2 jam.... Noa masih tertidur.
Cruz merenggangkan badannya dan saat berbalik ke arah sofa, dia melihat Noa tertidur di atas sofa dengan antengnya.
Cruz mematikan peralatannya dan mendekati Noa lalu mencolek pipi Noa dengan jarinya.
"Ayo bangun, kita berangkat", ajak Cruz.
Noa membuka matanya dan langsung terduduk. " Kamu sudah selesai?", tanya Noa.
" Ya baru saja. Kamu lama menugguku ? Maaf ya", Cruz berjongkok di depan Noa agar wajahnya bisa sejajar degan gadis cantik ini.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Di sini menyenangkan untuk tidur siang", kata Noa ceria.
" Syukurlah kalau begitu. Bagaimana jika kita berangkat sekarang ?", Cruz berdiri lalu megulurkan tangannya ke arah Noa.
Noa menyambut uluran tangan itu dan mereka berjalan bersama keluar ruangan. Kameramen mmemberi tanda shoot siang itu berakhir.
Noa mengangguk hendak melepaskan tangannya dari Cruz. Tapi Cruz terus mengenggam tangan Noa tanpa menoleh ke arah Noa.
" Kak Cruz dan kak Noa, shoot sesi ini sudah selesai. Selanjutnya kita akan syuting di area kemah. Karena kalian menggunakan van kemping jadi aku rasa tidak terlalu sulit nantinya", terang kameramen.
"Baiklah. Kita bertemu di sana. Terima kasih", ucap Cruz.
" Terima kasih kak", Noa ikut mengucapkan terima kasih dengan sopan. Tapi jantungnya berdebar tidak karuan. Tangan Cruz yang hangay mengenggam erat tangannya.
Pikiran Noa campur aduk. Apakah Cruz akan menagih jawabannya hari ini? Selama Cruz pergi keluar negri, Noa terus berpikir apakah Cruz benar menyukainya atau hanya sedang bermain-main.
" Aku tidak akan menagih sekarang", Cruz menatap Noa yang terlihat tegang di sampingnya.
" Oh... Begitu ya. Tapi kenapa kita bergandengan tangan?", tanya Noa kaku.
" Karena aku suka tanganmu hangat. Seperti hatiku saat melihatmu", kata Cruz menggombal.
Wajah Noa bersemu merah. " Kamu sedang menjahiliku ya?", Kata Noa sambil menunduk.
Cruz terus mengenggam tangan Noa saat mobil hitam yang di sopiri Letu tiba.
"Lepaskan tanganku Cruz. Nanti kak Letu berpikir macam-macam", kata Noa menarik tangannya.
Cruz melepaskan genggamannya dari Noa dan beralih merangkul pundak Noa.
Sedikit terkejut Noa melihat ke arah Cruz yang menatapnya dengan tatapan penuh sayang.
" Biarkan saja dia melihat. Dia adalah bapak-bapak pengertian", jawan Cruz acuh tak acuh.
Noa berdiri kaku di samping Cruz tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi. Semua perkataannya tidak akan membuat Cruz berhenti melakukan apa yang dia mau.
Letu menatap Cruz dan Noa dengan menaikan sebelah alisnya , seperti bertanya dengan telepati kepada Cruz karena Cruz langsung berbicara kepada Letu.
" Aku sedang usaha", kata Cruz yang di jawab dengan anggukan oleh Letu.
Cruz membuka pintu mobil meminta Noa untuk masuk.
" Usaha apa?", tanya Noa penasaran sambil masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
" Merebut hatimu", Jawab Cruz santai lalu menutup pintu mobil.
Noa tersipu malu tidak siap dengan jawaban Cruz.
Cruz mengambil tempat di sebelah Letu. "Di mana Nina?", tanya Cruz.
" Dia sedang mengurus Loco. Loco akan mengadakan jumpa fansnya besok", jawab Letu.
" Apakah dia dan Kim tinggal bersama sekarang?", tanya Cruz langsung ke intinya.
" Ya aku rasa begitu. Loco sangat menyukainya, tapi aku tidak tahu tanggapan penggemarnya nanti seperti apa", jawab Letu sambil fokus mengemudi.
" Kenapa dengan penggemarnya? Bukannya itu hak Loco?", Noa ikut nimbrung.
Letu tersenyum. "Seorang superstar bahkan tidak bisa pacaran Noa. Jika penggemar tidak menyukai kekasih idolanya mereka bisa memboikot semua yang di lakukan idolnya. Mereka cemburu", jawab Letu jujur.
Cruz yang mendengar itu hanya terdiam, tidak memberikan komentar apapun.
" Apakah sampai segitunya?", Noa bertanya serius.
" Ya. Jika seorang superstar mengencani seseorang dan menikah maka dia harus menerima konsekuensi. Di terima oleh penggemar atau mereka akan di buang", Letu menjawab serius.
" Jangan bercanda seperti itu kak. Itu terlalu berlebihan", Cruz sedikit tidak senang.
Letu tertawa mendengar itu. " Baiklah, maaf... maaf. Aku hanya terbawa suasana untuk berakting", kata Letu tapi menatap Noa dari kaca spion tengah dengan penuh arti.
Noa menatap Letu dalam diam. Pikirannya bimbang antara percaya dan tidak. Apakah segitu berpengaruhnya seorang pasangan di kehidupan superstar?. Noa berpikir keras, keningnya sampai berkerut.
" Tidak usah di pikirkan Noa. Hidup superstar adalah milik diri mereka sendiri. Mereka berhak untuk memutuskan keinginan mereka sendiri", kata Cruz karena melihat wajah Noa yang tampak berpikir keras. Entah apa yang di pikirkannya.
Noa tersenyum dan menatap Cruz penuh arti. " Ya aku hanya sedang memikirkan, betapa mendebarkannya jika punya pacar seorang superstar. Berdebar karena takut ketahuan fans", jawab Noa asal.
Letu dan Cruz tertawa mendengar perkataan Noa.
" Oh ya Cruz, ibumu kemarin menelpon. Menanyakan kapan kau bisa pulang ke rumah", kata Letu.
" Bisa-bisanya ibu bertanya kepada kakak. Padahal dia sering menelponku", Cruz berkata sambil tertawa kecil.
Letu tersenyum, lalu suasana menjadi hening. Letu menatap Noa dari kaca spion tengah. Noa sedang memejamkan matanya. Apa yang Letu bicarakan tadi adalah kenyataan, Letu sedang mengingatkan Cruz tentang apa yang harus di hadapinya jika benar anak asuhnya itu berpacaran dengan Noa.
' Semoga mereka menjadi baik-baik saja nantinya' ,batin Cruz.
***
__ADS_1