
July duduk di hadapan ibunya yang sedang memotong tangkai bunga miliknya di dalam pot. Beberapa pot berjejer di hadapan mereka, bunganya indah merekah dan sangat cantik. Jauh berbeda dengan wajah July yang saat ini sangat masam dan terlihat lelah.
"Ada apa?", tanya ibunya. "Tumben kamu datang menegok ibu", lanjut ibunya.
Noa menghela nafas pelan. " Aku tidak ingin di jodohkan", kata July tanpa basa basi.
Tangan ibunya sedikit berhenti di salah satu ranting pohon mendengar perkataan anaknya. Lalu lanjut memotong lagi setelah beberapa detik.
" Kau sudah tau? Apakah Tian yang memberitahu padamu?", tanya ibunya.
" Pokoknya aku tidak ingin di jodohkan. Katakan pada ayah aku tidak ingin di jodohkan dengan siapapun, biarkan aku sendiri yang menentukan hidupku bu", kata July mulainpenuh emosi.
Ibu July meletak gunting ranting di atas meja dengan anggun. " Benar kamulah yang berhak menentukan hidupmu July, tapi untuk saat ini ibu akan sedikit ikut campur dalam hidupmu. Kami ingin yang terbaik untukmu", kata ibu July.
" Terbaik untukku atau untuk perusahaan ? Aku tidak ingin di jodohkan dengan alasan apapun", kata July lagi.
" Tapi ini sudah menjadi keputusan ayah. Kau harus menerimanya July, pria itu anak yang baik. Datang dari keluarga yang baik dan...", ibunya tidak sempat menyelesaikan kata-katanya.
" Tidak mau. Kalian membuat keputusan tanpa melibatkan aku. Aku menolak perjodohan ini, aku yang akan menjalani hidup pernikahan ini nantinya bukan ibu atau ayah. Jangan ikut campur dalam hidupku", kata July tegas.
Ibunya berusaha tenang. "July mungkin saat ini kamu menolak tapi ibu yakin kedepannya kamu akan menerima perjodohan ini. Ingatlah untuk tidak membuat skandal apapun dan dengan pria manapun". Ibu July memberi peringatan pada anak perempuannya itu dengan keras.
July kesal karena ibunya tetap kekeh pada keputusan yang mereka ambil secara sepihak. July lalu berbalik dan pergi setelah sebelumnya dengan sengaja menyengol salah satu vas ibunya yang ada di pintu masuk dan membuat vas itu jatuh pecah berkeping-keping.
***
Noa menatap buku di hadapannya. Buku tulisannya sudah terbit, dengan cover berwarna biru laut dan beberapa design yang menurut Noa masih oke di banding pilihan editornya.
Noa tersenyum menatap judul buku itu " Tiba-tiba Cinta". Novel romansa pertamanya yang entah bagaimana nanti sambutan pembaca untuk bukunya itu.
" Jadi, Mari kita lihat pembeliannya dalam 1 minggu ke depan", kata editor Ying.
" Editor aku takut tulisanku tidak di sukai pembaca", kata Noa.
Editor Ying tersenyum kecil. " Tidak masalah jika kau gagal di buku pertama. Biasanya orang akan berhasil di buku kedua dan seterusnya. Jadi jangan cemas Noa, aku sudah melihat hal seperti itu selama bertahun-tahun", editor Ying menenangkan.
Noa mengangguk sambil tersenyum. Noa menaruh buku itu di dalam tasnya untuk di berikan kepada Cruz.
" Baiklah editor Ying, terima kasih", Noa tersenyum riang.
Di mobil Noa mengambil ponselnya dan menelpon Cruz. Tidak menunggu waktu lama, Cruz langsung mengangkat telpon.
__ADS_1
" Hai cantik, ada apa?", tanya Cruz.
"Apa kau sibuk? Aku ingin bertemu denganmu", kata Noa penuh harap.
" Sedikit. Aku akan menjemputmu. Kau di mana sekarang?", tanya Cruz.
"Tidak .. Tidak perlu menjemputku. Aku takut paparazi menangkapmu, aku akan pergi ke CAIN", kata Noa.
" Baiklah, aku setuju", Cruz mengakhiri pembicaraan mereka di telpon.
***
Noa memasuki CAIN entertaiment. Dia berjalan cepat menuju lift berharap dengan begitu sibuknya orang-orang di sana, mereka tidak akan memperhatikannya.
Saat pintu lift terbuka, wajah Letu muncul dari dalam lift dan tersenyum saat melihat Noa.
" Aku baru akan menjemputmu. Ayo", ajak Letu ke arah Noa.
Noa dengan cepat masuk ke dalam lift untuk bergabung dengan Letu.
" Di mana Cruz?", tanya Noa
" Di ruang latihan. Kita akan ke sana", kata Letu pada Noa. "Jadi kalian sudah akur sekarang?", tanya Letu.
" Aku suka hanya saja terkadang aku tidak memiliki waktu sama sekali untuk membaca", jawab Letu.
" Bacalah jika manajer ada waktu", kata Noa.
" Baiklah", Letu menyanggupi.
Mereka tiba di lantai yang di maksud oleh Letu. Saat masuk ke ruangan latihan, di sana ada ada beberapa orang yang bersama Cruz.
Pada akhirnya Noa menunggu Cruz di kursi luar ruangan. Sekitar 30 menit, Cruz baru keluar dari ruangan itu di ikuti oleh orang-orang tadi.
Cruz tersenyum pada Noa. " Kau menungguku dari tadi?", tanya Cruz.
Noa mengangguk senang. Senang karena bisa bertemu dengan pacarnya itu. Noa cukup terpesona pada Cruz saat ini, bahkan dengan keringat membasahi wajahnya. Dia tetap terlihat tampan.
Seorang wanita yang cantik dan cukup tinggi keluar dari ruang latihan itu. Dia menegur Cruz dengan sangat akrab, membuat telinga Noa memerah.
" Cruz, honey.... Nanti kita latihan lagi ya ", ucap wanita itu sambil mencolek dagu Cruz.
__ADS_1
Cruz tersenyum. " Iya, thank you ya ",Cruz membalas perkataan temannya itu.
"Bye sweety....", Gadis itu mengedipkan matanya pada Cruz.
Noa menatap wanita itu datar. Ada rasa tidak suka di dalam hatinya. Tapi Noa tidak ingin menjadi pacara yang posesif, jadi Noa tidak bertanya pada Cruz tentang wanita itu. Noa hanya diam.
" Kalau begitu ayo, kita makan siang. Aku harus mandi dulu", kata Cruz.
Noa mengangguk. Mereka bersama-sama naik lift dan turun di depan ruangan milik Cruz.
Noa duduk menunggu Cruz di sofa. Cruz sedang mandi saat ini. Bayangan wanita itu memanggil Cruz dengan mesra masih tergiang di benak Noa.
" Honey?. . . Hah. . . Sweety?....Hah... perempuan gila", Noa mulai ngedumel sendiri. " Lihat wajah Cruz tadi, bahagia sekali dia di panggil begitu. Honey... Honey kepalamu peang", maki Noa lalu mendengus kesal.
Tidak lama Cruz keluar dengan baju rapih. " Ayo sayang, kamu mau makan apa?", tanya Cruz duduk di sebelah Noa.
" Terserah HONEY saja", jawab Noa sambil tersenyum hambar.
Cruz menatap Noa, menyadari perubahan sikap Noa.
"Bagaimana kalau kita makan sushi dan beberapa makanan jepang?", tanya Cruz lagi.
"Terserah SWEETY saja", jawab Noa lagi lebih sinis dari yang tadi.
Cruz terdiam dengan ponsel di tangannya. " Kamu sedang kesal padaku?", tanya Cruz.
" Tidak ", Noa menjawab ketus.
Cruz semakin yakin Noa sedang kesal padanya. " Apa aku melakukan kesalahan?", tanya Cruz.
"Tidak HONEY.... kamu tidak salah...Aku hanya sedang kesal SWEETY", lanjut Noa.
Cruz terdiam seperti berpikir, lalu tersadar apa penyebab Noa marah padanya.
" Kau sedang cemburu?", tanya Cruz menatap wajah Noa.
" Siapa? Aku? Tidak... Kenapa aku harus cemburu?", elak Noa.
Cruz tersenyum lalu menarik Noa mendekat padanya dan meraih wajah Noa dalam rengkuhan tangannya.
" Kau sedang cemburu kan? aku tahu", kata Cruz sambil menatap mata Noa membuat gadis itu tidak berkutik.
__ADS_1
***