
" Aku... sepertinya.... selama ini sedang terlena padamu Cruz", Noa menjawab Cruz.
Cruz memandang Noa dengan tatapan yang tidak biasa. Menunggu kata-kata selanjutnya yang akan keluar dari mulut Noa.
" Terkadang jantungku berdebar karenamu, terkadang darahku berdesir karena sentuhanmu dan terkadang pipiku memanas karena perkataanmu", kata Noa pada Cruz.
" Tapi aku tidak tahu, apakah aku menyukaimu atau aku terlena karena pesonamu. Lalu aku melihat duniamu Cruz. Dunia yang berbeda dari duniaku, saat itu aku sadar bahwa aku terlena pada pesonamu".
" Aku jatuh dalam pesonamu. Aku merasa kau terlalu jauh untuk di gapai Cruz. Menjadi temanmu saja aku sudha merasa beruntung. Jadi aku .... berusaha untuk tidak menginginkan lebih terhadapmu", kata Noa.
Cruz tidak menjawab perkataan Noa. Dia tau apa yang di maksud Noa. Ceuz benci hal seperti itu keluar dari mulut Noa.
" Mungkin kau hanya menginginkanku sebagai sahabat Cruz. Jika program ini selesai aku yakin kau akan melupakanku", Noa berkata lirih.
***
Cruz menatap langit-langit kamarnya. Setelah Noa mengutarakan isi hatinya suasana menjadi canggung. Cruz tidak menyangka Noa akan menolaknya seperti itu.
Cruz yakin Noa tidak benar-benar menyadari perasaannya terhadap Cruz.
Cruz lalu bangun dari tidurnya dan mengambil kunci mobil. Pergi ke bar milik Ran. Dia harus menenangkan pikirannya di sana karena penolakan Noa ini.
Sampai di bar Cruz duduk terdiam tidka banyak bicara. Terus meneguk minumannya dalam diam.
Ran menghampiri Cruz sembari menyodorkan sepiring kecil kacang mete pada Cruz.
" Ada apa?", tanya Ran.
" Noa menolakku", jawab Cruz meneguk minumannya.
" Lagi?", Ran terkejut.
" Ya. . Lagi. Dia mengatakan aku susah untuk di gapai, dunia kami berbeda dan banyak. Aku sampai pusing karena di perkataannya", kata Cruz.
Ran tersenyum mendengar kekecewaan sahabatnya itu. " Sudah aku katakan dari awal. Noa bukan gadis yang mudah untuk kau miliki Cruz. Kau harus mendekatinya dengan cara yang berbeda. Bukan dengan ketenaranmu tapi dengan hatimu", nasihat Ran.
Cruz menegak minumannya sampai tandas. " Apa aku kurang menggunakan hati?", tanya Cruz.
" Ya sepertinya begitu. Gunakan cara terbaikmu Cruz, aku yakin kau bisa. Tapi ingat, jangan patahkan hatinya. Karena aku tidak akan senang jika sahabatku menangis", Ran menepuk pundak Cruz pelan.
__ADS_1
Bagi Cruz ini adalah peringatan dari seorang kakak untuk menjaga adiknya. “ Aku tidak akan membiarkannya menangis Ran”, jawab Cruz penuh tekad.
***
“ Jadi Kau yakin tidak jatuh hati padanya?”, Cleo bertanya pada Noa.
Noa sedang bertandang ke rumah Cleo dengan tujuan untuk mencurahkan isi hatinya pada sahabatnya itu. Setelah pulang dari apartemen Cruz, sepanjang malam Noa terus memikirkan tentang perasaannya pada Cruz.
“ Aku tidak tahu Cle. Awalnya aku kira seperti itu. Aku merasa jatuh hati padanya, tetapi setelah aku pikirkan lagi sepertinya aku hanya terpesona padanya”, jawab Noa sambil menatap anak Cleo yang sedang bermain di depannya.
“ Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?”, tanya Cleo menatap sahabatnya itu.
“ Aku… sebenarnya aku… merasa dia terlalu jauh untuk diraih Cle. Aku berpikir jika dia bersamaku mungkin itu akan menghancurkan karirnya dan aku belum yakin dia benar-benar menyukaiku. Mungkin kehadiranku yang tiba-tiba di kehidupannya, membuat dia bingung dengan perasaannya. Perbedaan antara rasa bersahabat dan menyukai, aku kira dia belum bisa membedakannya saat ini ”, kata Noa lagi
Cleo mengusap pundak Noa lembut. “ Noa, apakah kau takut jatuh cinta lagi?”, tanya Cleo hati-hati.
Noa terdiam, tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Cleo terus menunggu Noa berbicara.
“Cle, aku mencintai kedua orang tuaku dan mereka pergi. Aku pernah mencintai Sam, dia membuatku bersandar padanya tapi dia juga pergi meninggalkanku. Aku… takut, jika aku benar-benar jatuh cinta pada Cruz dan ternyata dia meninggalkanku. Apa yang harus aku lakukan Cle? apakah aku harus kembali meratap”, Noa berbicara sambil menatap kosong ke depan.
Cleo terdiam, entah kata-kata apa yang harus dia katakan pada Noa. Mereka tumbuh bersama dan Cleo tau bagaimana perjalanan hidup Noa.
Noa berpaling dan menatap Cleo sambil tersenyum lembut. “ Jadi aku belum berani untuk melangkah ke sana Cle. Aku belum bisa”, Noa berkata lirih.
Noa mengangguk paham “ Jika saatnya tiba. Aku akan melakukannya Cle”, kata Noa.
“ Baiklah, bagaimana kalau kau melepaskan stresmu dengan bersenang-senang di bar milik Ran”, kata Cleo.
“Aku memang berencana pergi kesana”, jawab Noa dengan tawa pelan.
***
Noa memarkirkan mobilnya di depan bar milik Ran. Tidak terlalu ramai seperti hari-hari biasanya.
Noa berjalan pelan ke dalam bar, melihat ke arah meja bartender dan tidak menemukan Jim di sana.
“ Jim ada di mana?”, tanya Noa pada bartender muda yang sedang sibuk meracik minuman.
“ Kak Jim sedang libur. Ada yang bisa saya bantu?”, tanya bartender muda itu.
__ADS_1
“ Berikan aku sebotol bir”, pintah Noa.
“ Baik”, jawab bartender itu.
Noa minum sendirian malam itu. Menumpahkan semua pikirannya pada minuman alkohol di depannya.
Semakin malam dia mulai kehilangan kesadarannya. ' aku harus pulang', batin Noa.
Noa lalu turun dari kursi sedikit sempoyongan. Dia berjalan ke luar bar, Noa tidak tahu seseorang memperhatikan pergerakannya.
Noa mengambil kunci mobilnya saat sudah berdiri di salah satu mobil. Noa berdiri cukup lama di depan mobil itu sambil menutup matanya. Rasanya efek minuman mulai naik ke otaknya. Tapi dia berusaha sadar, Jim dan Ran selalu menolongnya di saat seperti ini. Tapi hari ini dia harus bisa sendiri.
Noa berusaha membuka mobil di depannya tapi tidak bisa. Dia mulai kesal karena mobilnya tidak terbuka. Mobil itu malah terus mengeluarkan alarm dengan berisik.
" Aduh kenapa mobilnya tidak terbuka sih. Aku kan mau pulang", Noa mengomel.
Alarm berhenti berbunyi. Seseorang datang dan menarik lengan Noa dari belakang. "Noa, apakah kau sendirian?", suara berat seorang pria.
Noa berbalik dan menemukan Brook berdiri di belakangnya. Noa menatap Brook dengan seksama.
" Hai... Kau temannya temanku kan... Cruz", kata Noa kacau.
" Apa yang kau lakukan di depan mobilku?", tanya Brook sambil mematikan lagi alarm yang mulai berbunyi karena Noa masih berusaha membuka pintunya.
" Apa ini mobilmu? Lalu mobilku yang mana?", tanya Noa linglung.
Brook tersenyum heran pada Noa yang mulai kehilangan kesadarannya. " Rumahmu di mana? Biar ku antar", kata Brook.
"Rumah? Aku tidak punya rumah hiks... Hiks... Aku numpang di rumah Milli", kata Noa mabuk lalu berjongkok di samping mobil Brook.
Brook menghela nafas panjang. Dia paham wanita temannya ini mulai mabuk.
Brook mengambil ponsel dan menelpon Cruz.
" Halo, Bro ... Sepertinya seseorang butuh di jemput", kata Brook langsung.
"siapa? Aku sedang sibuk sekarang", kata Cruz lagi.
" Aku tahu, tapi lebih baik kau datang ke bar milik Ran. Karena Noamu ini mabuk dan mulai menangis di dekat mobilku", kata Brook lagi.
__ADS_1
" Aku ke sana sekarang", kata Cruz.
***