
" Ada apa?", tanya Cruz pada Noa saat mereka sudah duduk di dalam mobil.
Noa menghela nafas panjang. " Aku tidak tahu. Mungkin tadi aku memang salah. Tapi aku yakin aku hanya membersihkan gelas kopimu di meja dan tiba-tiba dia datang menyenggol tanganku. Sisa kopimu tumpah ke peralatannya", Noa menjelaskan.
Cruz menatap Noa dengan seksama, ada kejujuran dan kebingungan di mata Noa. Sepertinya dia tidak pernah mengalami hal seperti ini di dunia entertain.
"Tapi kenapa dia marah kepadaku? Aku sudah meminta maaf tapi kemarahannya meledak seperti itu. Aku bingung harus bilang apa padanya ", Noa melanjutkan.
" Apa kau terluka?", Cruz sedikit cemas.
" Tidak, aku merasa tidak enak pada manajermu karena sudah membuat kekacauan. Oh ya, tugasku sudah selesai kan hari ini? Aku sedang ada urusan. Tolong cap di sini", Noa menyondorkan sebuah buku kecil yang sudah di garis kotak-kotak.
Dengan berta hati Cruz mengeluarkan stempel kecil lalu menekennya di salah satu kotak.
" Terima kasih ", Noa melihat stampel itu lalu berkata sewot. " Stampel apa ini, masa tulisannya seperti ini?", Noa protes.
Bagaimana tidak, stampel itu bergambar bintang dan bertuliskan ' The Legend Cruz ♡'.
" Terserah aku dong. Kalau tidak mau sini kembalikan", Cruz menarik buku itu.
" Oke .. Oke... Ck", Noa cepat-cepat memasukan buku itu ke tas kecilnya.
Lalu mereka sama-sama terdiam selama beberapa menit. Cruz menatap Noa yang masih duduk di kursi sebelahnya.
" Kenapa belum pergi?", usir Cruz jahat.
Noa menatap sewot ke arah Cruz "Iya ini mau pergi. Iss. Jangan pernah telpon aku lagi sampai hari berganti", Kata Noa galak.
" Kenapa? Kau kan terikat kontrak denganku", Cruz protes.
Noa menjentikkan jarinya didepan wajah Cruz " Bro, kau sudah memberi stampel pelunasan hari pertama padaku. Jadi tugasku hari ini sudah selesai", Jawab Noa enteng.
Cruz tidak bisa membantah. Ternyata Noa lebih cerdik dari pikirannya.
" Ingat ya. Jangan menelepon sampai hari berganti", Noa memberi peringatan galak lalu dia membuka pintu dan turun dari mobil Cruz.
Cruz menatap Noa yang meninggalkan parkiran menggunakan mobilnya sendiri. Cruz tersenyum, setidaknya hari ini dia bisa memperhatikan Noa dalam jarak dekat
__ADS_1
Beberapa menit berikutnya Letu, Tan dan 2 orang anggota Tan datang bersama. Letu duduk di kursi mengemudi tanpa berkata apa-apa, dia pandai menyembunyikan emosinya. Sedangkan Tan, wajahnya terlihat tegang dan tidak bisa menyembunyikan emosinya. Wajah anggota timnya juga terlihat sangat tegang.
" Ada apa?", Aku bertanya saat kami sudah meninggalkan parkiran.
" Aku sudah menyelesaikannya Cruz. Tenang saja, hanya kesalapahaman", Terang Letu tidak ingin membuat Cruz marah.
"Aku ingin tau kenapa dia hampir memukul asisten pribadiku?", Cruz ngotot bertanya.
Tan yang tidak sabaran langsung membuka mulutnya.
" Wanita itu dari bagian tim makeup. Sepertinya anak baru. Benarkan Jes? ", Tan melempar pertanyaan kepada salah satu timnya.
" Ya, dia baru bekerja 3 bulan. Tapi tadi dia bilang Asisten Cruz yang menyenggolnya padahal dia sedang bekerja. semua brush itu harus di ganti. Liat betapa kesalnya kak Cici padanya. Padahal tadi pagi dia baru di omeli", Cerita Jes.
"Dari awal aku merasa dia memang aneh. Menurutku dia adalah penggemar fanatikmu kak Cruz. Dia pernah memarahiku habis-habisan karena aku mengatakan mata kakak sedikit bengkak. Padahal memang benar malamnya kakak kan makan mie bersama teman-teman kakak. Waah dia memarahiku sampai aku lupa kalau aku lebih senior darinya", Mery menggelengkan kepalanya.
" Dia memang aneh.. dia mendelik padaku waktu aku tertawa bersamamu Cruz. Aku yakin dia mendelik saat itu ", Tan menambahkan penuh curiga.
" Sudahlah. Aku sudah memberi peringatan kepadanya. Jika dia tidak berubah maka biarkan Cici yang akan mengganti timnya", Letu berkata bijak membuat suasana hening.
Cruz memutar -mutar cicin di jarinya dan melihat keluar jendela mobil. Perkataan wanita itu berbeda dari pengakuan Noa. Cruz yakin Noa tidak mungkin berbohong padanya.
Setelah tampil di sebuah acara, Cruz duduk di ruang ganti dan mengambil ponselnya. Dia melihat jam di tangannya. Tepat pukul 00.00 Cruz menekan tombol panggilan pada nama kontak Noa.
" Halo ", Noa menjawab pelan.
" Halo, kau sedang tidur?", Cruz bertanya.
" Tidak. Aku sedang ada pekerjaan. Ada apa menelpon malam-malam. Kan tadi sudah ku bilang tugasku sudah selesai", Noa mengomel.
" Loh, ini kan sudah ganti hari. Kau bilang aku boleh menelponmu jika sudah berganti hari", Cruz berkata santai.
Noa terdengar menghela nafas. " Tapi tidak tengah malam buta begini. Apa maumu?", Kata Noa kesal.
" Hari ini datanglah ke apartemenku jam 11 siang. Ada pekerjaan yang harus kau lakukan", Perintah Cruz di tengah malam buta.
" Ya... Sudah ya. Bye", Noa langsung memutuskan sambungan telponnya.
__ADS_1
Cruz menatap ponselnya sewot. " Wah berani sekali dia menutup telpon duluan. Awas saja", Cruz berbicara pada ponselnya.
" Cruz.. ", Letu memanggil.
" Ya. Di mana Lucas?", Cruz berdiri dari kursinya dan mencari sahabatnya yang juga tampil di acara yang sama.
" Sedang turun dari atas. Kau yakin akan langsung ke studio", tanya Letu.
"Ya. Antar saja aku ke studio", Cruz berkata.
" Hei Cruz", Lucas menegurnya.
" Yo.. Kalian akan pergi minum?", Cruz bertanya.
" Ya.. Kau tidak ikut? Kau mau ke studio?", Lucas tidak percaya.
Cruz mengangguk mengiyakan. " Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan", kata Cruz.
" Jangan terlalu gila bekerja, nikmati uangmu", Lucas menepuk pundak Cruz.
Mereka lalu berjalan keluar ruangan sambil mengobrol tentang banyak hal.
***
Cruz duduk di studionya sibuk menyelesaikan projectnya. Project Album baru yang siapkannya selama hampir setahun, akhirnya hampir di selesaikannya. Karena project ini Cruz jadi jarang tidur dan selalu menghabiskan waktunya di studio.
" Lagu ini akan ku nyanyikan dengan siapa ya?", Cruz mengetuk pelan spidolnya di atas meja. " Moon atau Joy?", Cruz terus berpikir.
Dia terus mengulang-ulang lagu yang hampir selesai itu. Memikirkan siapa yang pas menyanyikan bagian Reffnya. Tapi sampai menjelang subuh Cruz tetap tidak bisa memutuskan.
Dia lalu menghela nafas dan mematikan semua peralatannya. Sudah pukul setengah 5 pagi, Cruz merenggangkan badannya. Dia mengambil selimut dan bantal di salah satu lemari kecil di sudut ruangan itu. Dan berbaring di sofa studionya.
Cruz menatap layar ponselnya sebentar dan menemukan banyak chat masuk dari teman-temannya. Chat yang dia tunggu tidak ada sama sekali, Noa mengabaikannya. Benar-benar menunjukkan bahwa dia tidak tertarik sama sekali pada Cruz. Cruz menutup lagi ponselnya dan membiarkan tergeletak di lantai.
Rasanya Cruz sangat lelah, waktu tidurnya hanya 2 jam dari sekarang. Pagi ini dia harus menghadiri sebuah acara radio.
Cruz berusaha menutup matanya dan mulai terlelap dalam studio dingin itu. Walaupun tidak nyenyak setidaknya dia tetap berusaha untuk menutup matanya dan menenangkan pikirannya.
__ADS_1
***