
Noa memarkirkan mobilnya di basment apartemen Cruz. Wajahnya tampak lelah dan ngantuk. Seandainya dia tidak memikirkan uang mungkin Noa akan lebih memilih untuk tidur bersama kucing kesayangannya.
Setelah menyelesaikan sebuah bab dan berkonsultasi dengan editor Ying, Noa tetap tidak bisa istirahat. Masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan oleh Noa yaitu mrmbayar utang kepada Cruz si iblis.
Noa melangkah masuk ke dalam lift, tapi Noa berbalik dan melihat ke belakang. Rasanya seperti ada orang lain di basment itu. Tapi ini adalah basment apartemen, jadi bukan masalah jika ada orang lain di sana.
Saat keluar dari lift Noa berjalan cepat dan memencet bel sambil melihat ke kiri dan ke kanan. Memastikan tidak ada yang mengikutinya. Cruz membuka pintu dan Noa menyeruak masuk tanpa ucapan salam seperti minggu lalu.
Noa tersenyum pada Cruz yang menatapnya heran. " Selamat siang", kata Noa memaksakan diri ceria.
" Siang. Duduklah", kata Cruz.
Noa melangkah masuk ke dalam ruang tamu dan duduk di sofa. Mata Noa langsung tertuju pada boneka beruang di atas rak buku.
" Cruz, boneka ini milikmu?", Noa bertanya saat Cruz menyerahkan sekaleng Cola padanya.
"Bukan, sepertinya pemberian fans. Mungkin kak Letu yang meletakannya di sana", Cruz acuh tak acuh.
Noa mengangguk paham.
" Kenapa? Kau suka pada boneka itu?", Cruz bertanya lalu mengambil boneka ukuran sedang itu dan menatapnya.
"Tidak, aku hanya merasa dia seperti hidup", kata Noa lagi.
" Kau takut? Ya sudah aku akan buat dia tengkurap", Cruz membalikan boneka itu ke arah bawah.
" Terima kasih", kata Noa. "Jadi apa pekerjaanku hari ini?", Noa lalu menutup mulutnya karena menguap.
Cruz meletakkan sebuah kertas print yang sudah di jilid di depan wajah Noa.
" Karena kau adalah seorang penulis aku yakin kau bisa membantuku membaca skrip ini?. Ini stabilonya. Tolong tandai hal-hal penting yang harus aku perhatikan nanti", kata Cruz santai.
Noa bengong. Dia sedang nagntuk dan di suruh berurusan dengan buku. Tentu saja dia nanti akan tertidur, ini sama saja dengan meninabobokan dirinya sendiri.
" Tapi kau yang akan bermain dalam film ini. Seharusnya kau baca sendiri", Noa protes.
"Ah, aku lelah dan ingin istirahat. Jadi lakukanlah untukku. Aku tinggal membacanya nanti", Kata Cruz cuek.
Noa menatap Cruz kesal. Rasanya dia ingin melakukan salah satu gerakan taekwondonya pada Cruz. Noa tersenyum membayangkan bagaimana jika dia bisa menendang bokong Cruz dengan keras.
__ADS_1
Noa kaget karena Cruz menepuk tangannya di depan wajah Noa yang sedang melamum membayangkan perlawanannya pada Cruz.
" Untuk mendukung pekerjaanmu aku sudah menyiapkan banyak cemilan, minuman, bantal pijat dan lilin aroma terapi", Cruz meletakan semua barang itu di atas meja di depan Noa. " Selamat bekerja assistenku", Cruz berkata ringan lalu meninggalkan Noa sendiri di ruang tamu. Sedangkan Cruz masuk ke dalam satu ruangan.
Noa tertunduk lesu, rasanya dia ingin menangis saja. " Duh nagntuk banget, mana mata dah sepet banget lagi. Boleh gak ya, tidur 2 jam aja", Noa berbicara sendiri.
Noa mulai membaca script itu dan menandai yang di perlukan. Beberapa kali Noa merenggangkan badannya dan terus mengunyah agar tidak ngantuk, tetapi setelah 20 menit berjuang dengan kantuknya akhirnya Noa tertidur di sofa dengan lelap.
***
Noa merenggangkan badannya, tidurnya sangat nyenyak.
'Aku harus memberi makan Mili', Noa membatin.
" Mili... Mili...", Noa memanggil sambil tetap berbaring di sofa tanpa membuka mata.
" Kau mengigau apa? Mili siapa? Pacarmu?", Suara seorang laki-laki sangat dekat di telinga Noa.
Noa langsung membuka matanya dan terduduk. Kesadaran menghantamnya, saat ini dia berada di rumah seorang laki-laki dan dia tertidur dengan nyenyaknya. Tidur nyenyak menggunakan selimut dan tanpa beban.
Noa berdiri dan melihat berkeliling. Cruz sedang berdiri di balik minibarnya memperhatikan Noa.
"Jam berapa sekarang?",tanya Noa pada Cruz.
" Setengah 7 malam", jawb Cruz.
" Apa? Aku tidur selama 7 jam. Gila ... Gila... kenapa kau tidak membangunkanku?", tanya Noa cepat-cepat.
" Aku kira kau pingsan ", jawab Cruz cuek.
" Laik kali bangunkan aku ", kata Noa ke arah Cruz. "Ini scriptmu", Noa meletakan jilidan itu di atas mini bar.
" Kau mau ke mana?", Cruz bertanya heran melihat Noa mengobrak-abrik tasnya mencari buku stempel.
" Pulang dong Masa aku tidur di sini", jawab Noa jutek.
"Tadi kamu tidur kan", jawab Cruz enteng membuat Noa mendelik sewot padanya. " Makan dulu baru pulang", Cruz membuka bungkusan makanan yanga tadi di pesannya.
Noa menghentakkan kakinya kesal karena Cruz menolak memberi cap di bukunya. Akhirnya dengan berat hati dia duduk di kursi mini bar.
__ADS_1
Matanya berbinar saat melihat cruz meletakan box bertulisakan nasi bebek.
"Kau makan nasi bebek? Bukannya kau diet?", Noa bertanya heran.
" Nasi bebek untukmu. Aku makan salad", Cruz tersenyum sedih.
Sebenarnya Noa tidak enak hati tapi itu sudah bagian dari aktivitas diet Cruz, jadi tidak masalah. Noa menunggu sampai Cruz meletakan semua makanan dan minuman di atas meja. Lalu mereka makan bersama.
Cruz memperhatikan Noa yang makan dengan bahagia. " apa itu enak?", tanya Cruz.
" Ya tentu saja enak. Nasi bebek adalah makanan terenak sepanjang masa setelah nasi padang", jawab Noa.
Cruz tertawa sinis " Semua makanan itu penuh kolsterol dan tidak..", Cruz belum selesai berceramahan Noa sudah meletakan sepotong daging kecil di dalam mulutnya.
Cruz mengunyah daging itu sambil menatap Noa kaget. "Karena aku baik, aku bagi sedikit saja. Jangan bilang sama manajermu", kata Noa berbisik.
Cruz menutup mulutnya seolah-olah menolak makanan itu tapi sebenarny Cruz menahan tawanya yang hampir meledak karena perkataan Noa.
" Jika kau melakukan ini lagi, aku akan menambah bunga di utangmu", Cruz berkata sok galak.
Noa mingkem, lalu melanjutkan makannya. ' Dasar galak, padahal kan aku baik hati berbagai makanan', batin Noa.
Noa melirik Cruz yang hanya mengunyah sayur-sayuran. Jika di lihat dari dekat, Cruz memang tampan dan sangat tinggi. Terkadang Noa sedikit terpesona pada senyumnya.
" Kenapa lihat-lihat ? Kau suka padaku?", Cruz membuyarkan lamunan Noa.
" Tidak.. Tidak akan dan tidak pernah ", Noa menjawab galak.
' Ku tarik lagi pikiranku. Tampan sih tampan tapi kelakuannya seperti raja Iblis. Galak, egois, sombong dan suka memerintah. Setelah filmku di bayar, aku akan melunasi utangku dan tidak akan berurusan dengan Dajal ini. Hah', batin Noa.
" Kenapa melotot padaku ?", Cruz menegur Noa lagi membuat lamunan Noa buyar.
" hmmm... Tidak... Tolong berikan cap di sini. Aku mau pulang", Noa cepat-cepat memberikan bukunya.
Cruz mengeluarkan cap dari saku jaketnya dan menatap buku itu. Noa berharap cemas menunggu Cruz meneken stempel itu.
Setelah Cruz meneken stempel di buku kecil itu, Noa dengan cepat menarik bukunya dan memberi salam.
" Terima kasih banyak makanannya. Sampai ketemua nanti. Bye", lalu Noa ngibrit keluar apartemen tanpa melihat ke arah Cruz lagi, Noa takut Cruz akan menahannya untuk pekerjaan yang lain.
__ADS_1
***