
Noa sakit, wajahnya tampak lelah dan pucat. Akhir-akhir ini dia terlalu banyak pikiran dan pekerjaan. Dia benar-benar mengerjakan deadline buku yang sedang ditulisnya dengan tepat waktu.
Energinya habis terkuras karena memikirkan jalan cerita kisah pasangan kekasih yang sedang ditulisnya. Noa bahkan tidak bisa memenuhi panggilan Cruz untuk bekerja melunaskan hutangnya. Cruz terus menghubunginya sepanjang waktu, membuat pikiran Noa semakin semrawut.
Puluhan chat dari Cruz memenuhi ponselnya. Noa hanya membalas sesekali. Entah apa yang membuat Noa menghindari Cruz. Karena July atau karena takut Cruz tidak benar-benar menyukainya. Takut menemukan fakta hanya Noa yang jatuh cinta sedangkan Cruz berpura-pura dalam pesonanya. Noa takut.
Hari ini tidak ada alasan untuk menghindari Cruz, Noa akhirnya pergi menemui Cruz yang sedang melakukan syuting iklan untuk salah satu perusahaan besar. Noa menyetir mobilnya dengan penuh konsentrasi, kepalanya sedikit sakit karena kurang tidur. Obat pereda nyeri hanya menolongnya sedikit, sepertinya dia memang harus benar-benar istirahat.
Noa memarkirkan mobilnya di depan sebuah studio besar tempat syuting iklan itu dilakukan. Noa memakai masker, untuk menutupi wajahnya yang terlihat pucat. Lalu keluar mencari mobil Cruz.
Noa menemukan mobil van hitam milik Cruz dan mengetuk pintunya tetapi tidak ada jawaban. ‘Mungkin mereka sudah masuk ke dalam’, Noa membatin. Tiba-tiba pintu mobil dibuka membuat Noa terkejut.
“ Kau terlambat 15 menit”, kata Cruz datar sambil memperhatikan penampilan Noa yang mengenakan masker.
“ Ya maafkan aku. Aku ada sedikit pekerjaan yang harus diselesaikan”,jawab Noa letih.
“ Kenapa kau memakai masker”, Cruz bertanya penasaran sambil menatap Noa tajam.
“ Aku sedang flu, takutnya kau tertular”, Jawab Noa menghindari tatapan mata Cruz. Dia takut terlena pada tatapan Cruz.
Tanpa peringatan Cruz langsung menempelkan telapak tangannya pada kening Noa.
“ Badanmu hangat, kalau begitu kau tidur saja di mobil. Kenapa datang jika sakit?”, Cruz berkata sambil menatap Noa lembut.
“ Tidak apa-apa. aku baik-baik saja, setelah minum obat aku akan sembuh”, jawab Noa yakin. “ Lebih baik kita masuk, nanti kau terlambat”, lanjut Noa.
Bukannya mengikuti yang di katakan Noa, Cruz malah menarik Noa masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya. Letu yang pengertian langsung turun dari mobil memberikan privasi kepada mereka.
“ Mau sampai kapan kau menghindariku?”, Cruz menatap mata Noa.
“ Aku tidak sedang menghindarimu”, Noa menjawab menolak menatap mata Cruz.
“ Jangan berbohong dan tatap mataku”, Cruz memegang dagu Noa gar menatap matanya.
__ADS_1
Mau tidak mau Noa menatap mata Cruz.
“ Kenapa kau mengabaikanku? Setelah malam itu kau selalu menghindariku”, kata Cruz. “ Apakah aku membuat sebuah kesalahan?”, tanya Cruz.
“ Tidak, kau tidak membuat kesalahan hanya saja aku merasa kita tidak seharusnya begini”, ujar Noa.
“ Jadi seharusnya bagaimana? membiarkanku terus mengejarmu tanpa kepastian? Semua orang tau aku tergila-gila padamu. Hanya kau yang tidak tahu. Apa kau akan terus menutup mata untuk perasaanku ?”, kata Cruz menggenggam tangan Noa kuat.
“ Lepaskan tanganku Cruz”, Noa mulai meringis kesakitan.
Cruz memajukan badannya agar lebih dekat pada Noa. “ Dengarkan aku, aku menyukaimu. sangat menyukaimu. Kau mengatakan menyukaiku tapi kau menghindariku. Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan? bermain dengan perasaanku?”, Cruz mencerca Noa.
Noa menghela nafas kesal dan mulai mengeluarkan unek-uneknya. “ Aku menyukaimu Cruz. Itu benar, aku sangat menyukaimu. Tapi, Kau dan July membuatku tidak nyaman. Apakah kau sedang menjadikanku pelarian agar bisa kembali kepada July. Dia sangat mencintaimu, dia memohon padaku agar membuat kau kembali padanya. Itu beban untukku Cruz. Aku seperti mencuri sesuatu yang berharga dari orang lain”, kata-kata Noa mengalir begitu saja dari mulutnya.
Cruz terpaku, benar dugaan Loco. July memanipulasi Noa dengan dalih pertemanan, wanita itu tidak pernah berubah.
“ Aku lelah bermain drama di antara kalian Cruz. Selesaikan masalah kalian sendiri, kembali saja padanya jangan jadikan aku mainan di antara kalian. Biarkan aku menelan patah hatiku sendiri. Tolong Cruz, lepaskan aku. Tanganku sakit”, Noa menatap mata Cruz marah.
Cruz melepas tangan Noa, tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kesalahpahaman sepertinya sudah semakinmenjadi buruk. July memainkan perannya dengan baik.
Mereka berjalan dalam diam saat masuk ke dalam gedung. Cruz tidak serusuh biasanya dan Noa tidak banyak bicara. Noa membawa botol minum dan beberapa barang Cruz, tidak berusaha bertanya apakah Cruz membutuhkan salah satu barang itu. Noa benar-benar lelah dan Cruz hanya memikirkan dirinya sendiri.
Saat cruz tengah melakukan syuting video Noa duduk di kursi ruang ganti menelungkupkan badannya. Dia sakit, kepalanya sangat pusing rasanya seperti dunia berputar.
“ Noa kau tidak apa? kau pucat sekali. Lebih baik kau pulang saja”, Tan memeriksa Noa.
“ Ya tidak apa. Apakah syutingnya masih lama?”, tanya Noa.
“ Iya, masih lama. CEOnya baru datang sepertinya ingin melihat langsung proses pembuatan iklan ini”, Tan berbicara sambil melihat ke arah pria yang berdiri di dekat sutradara.
“ Tian “, Noa menyipitkan matanya melihat ke arah CEO itu.
“ Kamu kenal?”, tanya Tan.
__ADS_1
“ Iya kak. Dia teman SMAku dulu”, jawab Noa lalu kembali membaringkan kepalanya di meja.
Tan mengangguk lalu kembali fokus kepada Noa. “ Istirahatlah di sini. Aku akan mengatakan pada Letu bahwa kau harus pulang untuk istirahat”, Tan berkata pada Noa.
“ Terima kasih kak”, Noa menjawab.
Beberapa menit kemudian Letu datang bersama Tian. Entah bagaimana sampai Tian bisa tahu Noa sedang sakit.
“ Noa, kau baik-baiks aja?”, Letu membangunkan Noa yang sedang membaringkan kepalanya.
Noa mengangkat wajahnya yang memerah seperti kepiting rebus. “ Tidak kak Letu, aku tidak baik-baik saja”, Noa lalu membaringkan kepalanya lagi di atas meja.
“ Tan salah satu di antara kita harus mengantarnya”, kata Letu.
“ Biar aku saja. Aku mengenalnya dengan baik”, Tian memotong pembicaraan Letu dan Tan.
Letu menatap Tian sedikit tidak percaya. “ Aku teman SMA Noa”, Tian tersenyum.
“ Betul, tadi Noa mengatakan hal yang sama. Mereka adalah teman SMA”, Tan membenarkan.
Tian tersenyum lagi dengan ramah. “ Jadi biarkan aku mengurus temanku. Anda silahkan lanjutkan saja pekerjaan anda”, kata Tian ramah.
Letu mengangguk. “ Syukurlah kalau begitu. Maaf merepotkanmu pak CEO”, kata Letu.
“ Tidak masalah”, Tian menjawab.
Tian lalu mencoba membangunkan Noa dan menyampirkan jas yang dipakainya ke bahu Noa, lalu menuntun Noa keluar dari gedung itu.
Cruz yang sedang melakukan pemotretan untuk iklan, menatap tajam ke arah Noa yang dipeluk dengan sebelah tangan oleh Tian. Wajah Cruz berubah datar dan tatapannya tidak lepas dari mereka.
“ Cruz tolong raut wajahnya”, tegur fotografer.
Cruz tersadar kalau dia sedang ada di tengah pekerjaan.
__ADS_1
“ Maafkan aku”, kata Cruz.