
“ Bagaimana keadaannya?”, tanya Tian pada dokter yang baru saja memeriksa Noa.
“ Nona butuh istirahat dan vitamin. Nona hanya kelelahan dan kurang tidur”, Jawab dokter itu. “ Saya sudah memberikan cairan vitamin melalui infus. Jika nanti nona sudah bangun saya sarankan agar nona banyak istirahat dulu selama 2 hari kedepan”, lanjut dokter lagi.
Tian mengangguk paham. “ Baik dokter, terima kasih banyak”, ujar Tian
“ Kalau begitu saya pamit tuan Christian. Jika membutuhkan sesuatu silahkan hubungi saya”, dokter tersenyum ramah.
Tian membalas senyuman dokter itu dengan ramah. “ Daren, antar dokter keluar”, ujar Tian pada asistennya.
“ Baik pak”, jawab Daren.
Sepeninggalan dokter, Tian mendekati tempat tidurnya dan memperhatikan Noa yang sedang tertidur lelap.
Tian membawa Noa ke rumahnya karena Noa terus menolak ke rumah sakit dan minta diantar pulang. Tetapi Noa tidur sepanjang jalan dan Tian tidak tau di mana rumah Noa. Jadi Tian memutuskan untuk merawat Noa di rumahnya. Semoga saat bangun nanti, Noa tidak marah padanya.
Tian duduk di kursi sebelah tempat tidur dan memandang wajah Noa. “ Sudah lama ya Noa. Dulu aku tidak memiliki keberanian untuk mendekatimu, tapi sekarang aku sangat yakin bisa bersamamu”, Tian berkata pelan. “ Semoga kau bisa merasakan perasaan yang akan kutunjukkan padamu”, lanjut Tian lalu mengganti kompres Noa.
Ponsel Noa terus bergetar membuat perhatian Tian teralihkan. Nama Cruz tertera di layar ponsel. Tian mengangkat telepon di ponsel Noa tanpa ragu.
“ Halo, Noa. Kau dimana? apa kau sakit? aku akan menjemputmu”, Cruz memberondong pertanyaan.
“ Ini aku Tian. Noa di rumahku. Aku yang merawatnya. Kau tidak perlu menjemputnya, dia aman bersamaku”, jawab Tian dingin.
Hening sebentar di seberang telepon lalu Cruz membalas dengan suara yang tidak kalah dingin. “ Kenapa kau membawa wanitaku ke rumahmu? Bagaimana bisa kau membawa wanita yang sedang sakit tidak berdaya ke rumahmu”.
“ Sejak kapan Noa adalah wanitamu? Dan lagi aku tidak kejam seperti seseorang yang menyuruhnya bekerja di saat sakit”, Tian membalas kejam.
“ Aku akan menjemputnya sekarang’, Cruz berkata datar.
“ Dia sedang sakit, biarkan dia istirahat. Turunkan egomu, ini bukan hanya tentang keinginanmu Cruz tapi ini tentang kesehatan Noa”, Setelah berkata begitu Tian langsung memutuskan sambungan.
Tian lalu meletakan ponsel dan menatap Noa lagi dalam diam. “ Cepatlah sembuh, aku ingin menunjukan perasaanku padamu”, Tian berkata sambil mengelus kepala Noa penuh sayang.
***
Noa membuka matanya dan sedikit menggeliatkan badannya, lalu memandang ke arah langit-langit ruangan itu. Desain yang artistik dan mewah, tentu saja bukan kamarnya. Lalu Noa menatap selimut yang dipakainya. Selimut berwarna maroon senada dengan spreinya dan aroma maskulin terhirup hidung Noa.
Noa langsung sadar pada keadaan dan terduduk, pikiran pertamanya adalah Cruz. Tapi kamar Cruz tidak seperti ini. Noa melihat ke arah kanan dan menemukan Tian sedang menatapnya membuat Noa semakin terkejut.
Noa menyentuh dadanya yang berdebar karena terkejut setelah melihat Tian dan bertanya polos “ Apa yang kau lakukan di sini?”, Noa bertanya.
__ADS_1
Tian sedikit menelengkan kepalanya karena heran melihat Noa yang linglung.
“ Aku sedang bermimpi kan?”, Noa menatap Tian.
Tian tertawa cukup keras, merasa lucu dengan Noa yang tampak bingung.
“ Apa ini reaksi orang yang tidur selama 3 hari?”, Tian menatap Noa heran.
Noa terbengong lalu menutup mulutnya dengan kedua tangan. “ Oh my God. Aku tidur 3 hari?”, Noa tidak percaya.
“ Iya, 3 hari”, jawab Tian.
Noa menatap infus di tangannya lalu menatap Tian sedih. “ Apakah ada lowongan kerja di kantormu?”, Noa tiba-tiba bertanya random.
“ Untuk apa?”, Tian bingung.
“ Aku pasti dipecat dari kantor ku karena tidak hadir selama 3 hari”, kata Noa takut.
Tian tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Noa. Gadis ini masih sama lucunya seperti saat SMA.
“Baiklah, ada lowongan sebagai asisten pribadiku”, kata Tian setelah tawanya mereda.
Tian mengangguk “ aku akan memberikan gaji dan kebahagiaan untukmu”, jawab Tian pelan.
“ Hm.. kau bilang apa? ", Noa bertanya ulang karena tidak mendengar apa yang Tian katakan. " Sekarang aku ada di mana? apa ini rumah sakit?”, tanya Noa pada Tian.
" Kau ada di rumahku. Aku ingin membawamu ke rumah sakit tapi kau terus mengatakan tidak mau. Jadi aku membawamu ke sini", jawab Tian hati-hati.
Noa menatap Tian seolah-olah sedang mendeteksi kebohongan di setiap perkataan Tian.
" Aku tidak tahu rumahmu Noa. Jadi mmebawamu ke sini adalah pilihan satu-satunya yang ku punya ", lanjut Tian.
Noa mengangguk, menatap ke arah bajunya sendiri lalu ke arah Tian lagi. Seolah meminta penjelasan kenapa bajunya sudah di ganti.
" Emmm.... cukup menawan", Tian mulai menggoda Noa, yang langsung di jawab dengan pelototan mata.
Tian tertawa gemas sambil mengusap kepala Noa. " Tenang saja bukan aku, pelayanku yang mengganti bajumu", jawab Tian menenangkan.
Noa menghembuskan nafas panjang merasa legah mendengar jawaban Tian.
"Bangunlah, aku akan meminta perawat mencabut infusmu. Setelah itu kita sarapan", kata Tian lembut.
__ADS_1
***
Noa dan Tian duduk di meja makan, sarapan pagi yang di hadirkan terbilang cukup mewah.
“Silahkan”, kata Tian mempersilahkan Noa untuk sarapan. Noa tersenyum lalu mulai makan dalam diam.
Setelah mandi tadi Noa kaget karena pelayan menunggunya di luar pintu kamar mandi untuk memberikan dress yang sudah disiapkan oleh Tian. Dress santai berwarna kuning dengan banyak bordiran bunga, yang tampak cantik saat dipakai oleh Noa.
“ Apakah kau sudah merasa lebih sehat?”, tanya Tian pada Noa yang sedang menyendok puding ke mulutnya.
“ Sudah, aku sangat sehat. Terima kasih karena sudah merawatku”, Noa berkata tulus.
“ Ya sama-sama. Aku senang kau sudah sembuh ”, jawab Tian.
Noa tersenyum mendengar perkataan Tian.
“ Hari ini apakah kau harus pergi bekerja?”, tanya Tian.
“ Ya, aku harus bekerja. Aku harus menemui editor karena ada sesuatu yang harus dibahas”,ujar Noa.
“ Baiklah, aku akan mengantarmu ke kantor”, kata Tian.
“ Tidak perlu Tian, kamu ke kantor saja. Biarkan aku naik taxi online”, kata Noa menolak halus. Merasa tidak enak karena sudah merepotkan Tian sejak kemarin.
“ Tidak apa, aku akan mengantarmu. Bersiaplah”, kata Tian.
Noa tidak bisa menolak lagi. Noa berganti baju dengan bajunya yang kemarin dan meletakan baju pemberian Tian di atas tempat tidur.
“ Kenapa kau berganti baju?”, tanya Tian.
“ Ah. . . baju itu terlalu bagus dan lagi tidak cocok untuk pergi ke kantor. Terima kasih karena kau sudah menyiapkannya”, ujar Noa.
“ Kalau begitu simpanlah, aku membelikannya untukmu”, kata Tian berharap.
“ Tapi …”, Noa hendak menolak.
“ Sebagai tanda pertemanan kita”, potong Tian mengatasnamakan pertemanan.
“ Baiklah. Akan ku simpan. Terima kasih Tian ”, Noa menerima tas yang diserahkan oleh pelayan kepadanya.
***
__ADS_1