
Cruz melempar kertas ditangannya ke atas meja. Dengan menarik nafas panjang Cruz mengangkat wajahnya menatap ke luar jendela.
" Ini yang kau tulis selama berminggu-minggu?", Cruz menatap salah satu artis muda di hadapannya. Artis baru debut yang berada di bawah naungan CAIN.
" Aku sudah berusaha semaksimal mungkin. Maafkan aku", terangnya dengan mata berlinang.
" Jangan menangis, kamu sendiri yang mau berusaha menjadi seniman sesungguhnya. Kamu yang memintaku membimbingmu", kata Cruz menatap tajam.
Pemuda itu menahan tangisnya dengan menguatkan mentalnya sendiri mendengar perkataan Cruz.
" Aku sudah bilang, beberapa bagian harus kamu rubah. Tetapi kamu merubah hal lain yang tidak seharusnya kamu ubah. Kamu tau lagu yang hebat itu seperti apa?", tanya Cruz padanya.
berpikir sebentar pemuda itu lalu menjawab " lagu yang selalu di nyanyikan orang yang mendengarkan",jawabnya.
" Tidak. Mereka akan melupakannya jika ada lagu baru yang muncul. Lagu yang hebat adalah lagu yang tidak pernah di lupakan sepanjang masa, setiap di putar mereka selalu akan mengatakan 'oh ini adalah lagu si A, aku tau liriknya. Wah ini adalah lagu legend pada masanya. Ini lagu hebat. Jika mendengar lagu ini aku selalu teringat akan hal ini dan hal itu. Liriknya sangat menyentuh'. Seperti itu", Cruz menjelaskan.
" Kau menciptakan lagu bukan hanya untuk di nyanyikan sebentar, tetapi untuk di kenang sepanjang masa. Kau tau bagaimana lagu hebat itu bisa tercipta?", tanya Cruz lagi pada artis itu.
" Tercipta dengan hati dan di nyanyikan dengan penuh penjiwaan", jawab artis itu.
" Betul. Menyanyilah seolah-olah hari ini adalah hari terakhir kau hidup", jelas Cruz.
Pemuda itu terdiam mendengar pernyataan Cruz. Lalu mengangguk paham. Dia mengambil lembar di atas meja Cruz dan pamit keluar dari ruangan itu, seperti baru saja mendapatkan pencerahan.
Cruz menghela nafas lalu menatap lagi keluar ruangan. Ponselnya berdering, dengan malas Cruz melihat nama adiknya di layar ponsel.
Cruz mengangkat telpon dan langsung mengatakan sesuatu seperti bercanda. " Ada apa menelpon? Konser mana lagi yang mau kamu tonton?", kata Cruz tanpa salam pembuka.
" Kakak", panggil adiknya dengan suara tercekat.
Cruz menyadari perubahan suara itu. Biasanya Tiara akan langsung mengoceh jika Cruz mengangkat telpon.
" Ada apa Tiara?", tanya Cruz sedikit resah.
" Dia datang bertemu denganku. Hiks.... Ayah datang mencari ibu", Tiara menangis.
Cruz terdiam, badannya menjadi kaku. "Kamu di mana?", Cruz bertanya setelah tersadar dari syoknya.
" Aku ada di Cafe Z, aku takut pulang. Aku takut ayah mengikutiku dan menemukan ibu", Tiara menangis.
" Aku akan menjemputmu. Tetap diam di sana dan jangan menangis. Aku akan datang secepatnya", kata Cruz menenangkan.
Mendengar Cruz akan menjenputnya membuat Tiara menjadi lebih tenang. Lalu sambungan telpon terputus. Dengan cepat Cruz berdiri dan mengambil jaketnya.
__ADS_1
Ke mana aku harus membawa Tiara ? Apa ke kantor? Batin Cruz. Lalu terpikir oleh Cruz tentang Noa.
Sambil berjalam keluar lift, Cruz menelpon Noa. Pada deringan kesekian Noa mengangkat telpon Cruz.
" Halo cantik, kamu sedang apa?", tanya Cruz sambil masuk ke dalam mobil.
" Aku sedang menonton TV", jawab Noa. " Kamu masih sibuk?", tanya Noa.
" Ya aku sedikit sibuk. Aku ingin minta tolong apakah bisa?", Cruz mencoba meminta bantuan.
" Ya, ada apa?", tanya Noa.
" Aku akan segera kerumahmu bersama adikku. Ada hal mendesak yang harus aku selesaikan", jawab Cruz.
" Oke. Aku tunggu di rumah ya", jawab Noa tanpa bertanya lagi. Karena sepertinya Cruz sedang terburu-buru.
" Baiklah. Aku tutup telponnya", kata Cruz lalu memutus sambungan telpon".
***
Cruz melihat adiknya berdiri di pinggir jalan, tidak menunggunya di dalam cafe. Cruz menghentikan mobilnya dan membiarkan adiknya masuk.
Cruz melihat wajah adiknya yang sembab karena baru saja menangis. Cruz tidak tau apa yang terjadi, jadi Cruz hanya menunggu adiknya berbicara.
Cruz menghentikan mobilnya di tempat sepi dan terdiam mendengarkan cerita Tiara.
" Ayah menanyakan kabar ibu dan kabar kakak. Ayah bilang dia minta maaf untuk semua kesalahan yang sudah dia lakukan dulu. Dia sangat menyesal", kata Tiara lagi.
" Aku takut padanya tapi aku sedih melihat keadaannya. Dia memberiku sebatang coklat. Dia terlihat sangat lusuh", Tiara berkata dengan sedih.
Cruz mencengkram stir mobilnya, dia tau ayahnya dengan licik bertemu Tiara karena hanya adiknyalah yang akan menerimanya dengan belas kasihan.
Tiara memiliki hati yang baik dan lembut jadi Tiara pasti akan kasihan melihat ayahnya yang tampak lusuh dan tidak terurus.
" Apa lagi yang dia katakan?", tanya Cruz.
" Ayah bilang, dia akan sering mengunjungiku", kata Tiara.
Cruz menghela nafas panjang. Melihat coklat di tangan Tiara dengan sigap Cruz langsung mengambilnya dan melemparkannya keluar jendela.
" Jangan terima barang apapun darinya, sudah berapa kali aku bilang jika bertemu dengan pria itu kau harus langsung lari", Cruz berkata marah.
Tiara mulai menangis. Adiknya itu tau pasti Cruz akan memarahinya.
__ADS_1
Melihat Tiara menangis, Cruz langsung meredam emosinya. " Sudah jangan menangis, aku akan membelikan coklat untukmu sekalian dengan pabriknya", Cruz mengelus kepala adiknya itu penuh sayang.
Tiara menangguk mendengar perkataan Cruz. " Apa aku harus memberitahukan ini pada ibu?", tanya Tiara.
" Jangan, ini rahasia kita. Jangan sampai ibu bertemu dengannya", kata Cruz.
Tiara menangguk paham, lalu mengambil tisue dan membersihkan mata dan hidungnya yang tersumbat.
" Aku akan mengantarmu ke Noa, malam nanti aku akan menjemputmu dan kita akan pulang ke rumah", kata Cruz.
***
Noa membuka pintu pagarnya membiarkan mobil Cruz masuk ke pekarangan.
Tiara turun dan langsung memeluk Noa dengan akrab. "Hai kakak, apa kabar? Wah rumah kk bagus ya, rumah seperti ini adalah idaman kak Cruz", Tiara mulai cerewet.
Noa tersenyum lalu mengajak mereka masuk ke dalam rumah. Tiara duduk di sofa ruang tamu, sedangkan Cruz dan Noa sedikit beebincang di dapur.
" Kenapa wajah Tiara sembab begitu?", tanya Noa sambil membuatkan teh.
Cruz cukup kaget karena Noa begitu teliti memperhatikan wajah Tiara.
" Ada beberapa hal baru saja terjadi, aku akan menceritakan padamu nanti. Tapi yang jelas aku kangen sama kamu," Cruz menatap Noa tanpa melepaskan pandangannya sedikitpun daei gadisnya itu.
Noa tersenyum " Jangan memandangku seperti itu, nanti orang mengira aku menggunakan pelet untuk mengikatmu", kata Noa.
Cruz tertawa " aku memang tersihir sejak awal", jawab Cruz sambil mengusap wajah Noa penuh sayang.
" Kau terlihat lelah Cruz. Apa pekerjaanmu sangat berat akhir-akhir ini?", Noa bertanya.
Cruz menyandarkan kepalanya di bahu Noa dengan manja. " Yaa, aku sangat lelah. Tapi aku merasa baik-baik saja ketika bersamamu",Cruz berbisik di bahu Noa.
" Apa bertemu denganku bisa membantumu menghilangkan lelah?", Noa bertanya.
" Ya sangat, semua beban hidupku terangkat", jawab Cruz.
" Kalau begitu mari bertemu lebih sering. Aku akan membuatmu terus merasa sehat", kata Noa serius.
Tanpa di duga Cruz mencium leher Noa dan menghirup aroma tubuh gadis itu dalam-dalam.
" Aku mencintaimu", kata Cruz
***
__ADS_1