My Devilish Daddy

My Devilish Daddy
Penyelesaian.


__ADS_3

Zuri yang ternyata tidak menjauh dari mereka terkejut melihat pemandangan di depannya.


Walaupun ia tahu kesalahan apa yang dilakukan Gilbert terhadap Jacky dan Debora, sebentar lagi lelaki itu akan menjadi mertuanya.


"Kubilang turunkan senjatamu itu, Stella."


"Kau sudah mengkhianatiku, Gilbert. Kau jahat padaku!"


Zuri berkata pelan, "Wanita gila itu menyukai om Gilbert, lalu apa maksudnya mendekatkan tante Debora dengan om Gilbert? Oh, aku tahu ... mereka pasti ingin memeras tante Debora. Benar-benar teman yang jahat. Harusnya tante Debora mencobloskan mereka ke penjara."


"Katakan padaku, Gilbert! Kau pilih aku atau Debora?"


Merasa kondisi semakin kacau, Zuri segera merogoh ponsel dan menghubungi Debora.


"Halo, Tante! Om Gilbert, Tante."


"Om Gilbert kenapa, Nak?"


Zuri menceritakan kronologinya. "Sebaiknya Tante ke sini, sebelum tante Stella menembaki om Gilbert."


"Baik, Sayang. Kau harus menjauh dari sana, jangan sampai Stella melihatmu."


"Iya."


Setelah memutuskan panggilan Zuri kembali melihat mereka.


"Katakan, kau pilih aku atau Debora?!"


"Tentu saja aku pilih Debora."


Jawaban Gilbert membuat Stella marah. "Baiklah, berarti kau mau aku melakukannya. Selamat tinggal Gilbert."


Ketika Stella menarik pelatuk pistolnya, saat itulah Debora muncul.


"Hentikan!"


Dor! Dor!


"Tante!"


"Debora!"


Jacky yang juga ikut langsung menarik Zuri, agar gadis itu tidak mendekati mereka. "Jangan mendekat."


"Papa! Tante Debora, wanita gila itu menembaki tante Debora."


Abigail muncul.


"Sayang, bawa Zuri masuk. Bilang pada perawat di sini ada pasien yang tertembak."


"Ayo, Sayang."


Abigail menurut. Meski penasaran apa yang terjadi, ia membawa Zuri masuk ke dalam rumah sakit. Penerangan di parkiran cukup gelap, sehingga ia tak bisa melihat posisi Debora dan Gilbert.


Stella kabur.


Gilbert dan Jacky mendekati Debora yang kini tergeletak di aspal.


"Apa yang terjadi, Gilbert?"


"Stella menembaknya, Jack."


"Bawa dia masuk!"


***


"Apa yang terjadi, Sayang?" tanya Abigail begitu ia dan Zuri duduk.


Zuri menceritakan kronologinya. "Aku tidak tahu apa yang mereka inginkan. Sepertinya mereka ingin menghasutku, agar aku tidak jadi menikah dengan Billy."


Jacky muncul.


Abigail berdiri dan mengabaikan Zuri. "Bagaimana keadaannya?"


"Dokter sudah menanganinya. Gilbert ada di sana dan menemaninya."


Abigail melirik Zuri dan berbisik kepada Jack, "Ada yang harus kita bicarakan."


Jacky paham maksud intonasi Abigail. Ia pun menatap Zuri dan berkata, "Sebaiknya kamu masuk, Billy sudah menunggumu."


"Baik, Pa."


Setelah gadis itu pergi, saat itulah Jacky menatap Abigail. "Dia sangat penurut. Seandainya dia tahu aku papa kandungnya, menurutmu dia masih mau menuruti kata-kataku?"


"Itulah yang ingin kubahas denganmu. Saat Stella mengatakan itu padanya, Gilbert muncul dan menyuruhnya masuk."


Jacky terkejut.


"Dia tidak terprovokasi soal itu, dia menganggap Stella berbohong. Dia menganggap kata-kata itu sengaja dilontarkan, agar pernikahannya dengan Billy tidak terjadi."


"Cepat atau lambat kita harus memberitahukan kebenaran itu padanya."


"Kamu benar, Zuri sudah tahu apa yang menyebabkan kita terpisah. Dia juga sudah tahu apa yang menyebabkanmu menikahi Debora."


"Aku berharap dia tidak akan marah. Sekalipun bukan keinginanku untuk meninggalkanmu, aku tidak ingin dia membenciku."


***


Keesokan hari suasana hati Zuri secerah mentari pagi. Ia tak mau meninggalkan Billy, memutuskan menginap di rumah sakit untuk menjaga calon suaminya.


"Selamat pagi, Sayang," sapa Zuri saat Billy membuka matanya. Ia membuka tirai jendela, membiarkan cahaya masuk, membuat mata Billy sedikit menyipit karena silau.


"Sayang, kamu sudah bangun?"

__ADS_1


"Seperti yang kamu lihat. Aku bangun pagi sekali, kata dokter hari ini kamu sudah bisa pulang."


"Benarkah?"


"Tentu. Ayo, aku akan membantumu membersihkan diri. Setelah itu kita akan ke ruangan mama Debora dan Aaron untuk berpamitan."


Baru saja hendak menurunkan Billy dari brankar pasien, pintu ruangan itu terbuka. Billy dan Zuri menoleh.


"Selamat pagi."


Senyum di wajah Zuri melebar. "Kakek! Pagi. Aku senang Kakek ada di sini, aku merindukanmu."


Robbin berdiri di dekat pintu. "Ada yang ingin bertemu kalian."


"Siapa?" tanya Zuri penasaran. Ia menatap Billy sesaat sebelum akhirnya menatap sosok yang baru saja masuk.


"Aaron!" Zuri mendekatinya, "Bagaimana kabarmu, Aaron? Rencana setelah membersihkan diri, aku dan Billy akan ke ruanganmu."


Aaron hanya tersenyum. Ia menatap Billy. "Bagaimana kabarmu?"


Billy balas tersenyum. "Kata dokter hari ini aku sudah bisa pulang."


Awalnya Billy keberatan mendengar Aaron adalah saudaranya. Namun, sekarang ia bisa terima dan mau menerima pria itu sebagai kakaknya.


Begitu juga Aaron. Sejak Debora meninggalkan ayahnya, menelantarkan dia dan melahirkan anak dengan lelaki lain, ia berniat tak akan memaafkan Debora. Bahkan berjanji tidak akan melihat wanita itu di sisa umurnya.


Namun, sekarang semuanya berubah. Kebencian yang tertanam dalam diri Aaron hilang, bagaikan langit ditelan bumi.


"Aku senang mendengarnya."


Suasana menjadi hangat. Kebersamaan kakak beradik itu membuat Zuri dan Robbie tersenyum lebar.


Tok! Tok!


Bunyi pintu membuat mereka semua menoleh. Abigail dan Jacky masuk. Mereka cukup terkejut melihat suasana di dalam ruangan Billy.


"Apa kami mengganggu?" ledek Abigail.


Billy menyapanya. "Tidak, Mama. Ayo, masuk."


Abigail senang Billy memanggilnya dengan sebutan mama. Ia pun mendekati Billy. "Bagaimana kabarmu, Nak? Mama dengar hari ini kau bisa pulang."


"Iya, Ma."


Jacky mendekati Zuri. "Bagaimana tidurmu, Sayang?"


Spontan Zuri memeluk Jacky. Entah kenapa ia merasa rindu sekali dengan lelaki itu. "Tidurku nyenyak sekali, Papa. Oh, iya, bisakah mulai hari ini aku memelukmu seperti ini?"


"Tentu saja, Sayang. Kamu bisa memelukku sepuasmu setiap hari."


Semua orang terharu melihat moment itu. Seandainya Zuri tahu lelaki yang dalam pelukannya itu adalah papa kandungnya, apakah ia masih mau memeluk lelaki itu setiap hari?


Robbie yang juga memikirkan hal yang sama tampak menyesali perbuatannya di masa lalu. Ia telah membuat Zuri membenci ayahnya sendiri. Ia juga telah membuat tembok antara ayah dan anak itu. Mungkin sekarang lah waktu yang tepat untuk mengakui kesalahannya kepada Zuri.


"Ya, Kakek?"


Robbie diam sesaat. "Ada yang ingin kakek sampaikan padamu."


Ekspresi Jacky, Abigail, Aaron dan Billy langsung berubah. Walaupun belum tahu hal apa yang ingin disampaikan Robbie, mereka yakin kalau lelaki tua itu akan menyampaikan apa yang belum pantas untuk dijabarkan.


"Kakek harap kamu bisa memaafkan kakek setelah mendengar penjelasan ini."


Semua orang terkejut, kecuali Zuri.


Tepat di saat itu Lisa dan Theo muncul.


Jacky, Abigail, Aaron dan Billy cukup senang melihat kedatangan mereka. Itu artinya keinginan Robbie untuk mengatakan apa yang belum pantas tidak akan terwujud.


"Sepertinya kedatangan kita mengganggu," ledek Lisa, melihat begitu banyak penghuni di kamar itu.


Abigail mendekatinya. "Itu tidak benar. Ayo, silahkan duduk."


Lisa mengambil posisi di sofa bersama Abigail dan Zuri. Theo berbaur ke posisi Jacky yang berdiri di dekat brankar pasien bersama Robbie dan Aaron.


Baru hendak memulai perbincangan, sosok yang mengetuk pintu mengejutkan mereka. Mereka membiarkan sosok itu masuk dan melihat siapa yang datang.


Zet!


Semua mata tertegun melihat sosok tuan Daniel muncul bersama pengawal yang mendorong kursi rodanya.


"Apa aku mengganggu."


Sontak semua merespon, kecuali Robbie. Ia tampak kesal melihat lelaki tua itu ada di ruangan yang sama. Walaupun cucu dari keluarga Daniel, Robbie tak pernah lupa apa yang pernah dilakukan tuan Daniel terhadapnya di masa lalu.


Robbie pun berdeham. "Aku keluar dulu. Di sini terlalu sesak, membuatku sulit bernapas."


Tuan Daniel mencegahnya. "Aku tahu kamu berbohong, Robbie."


Mereka yang sudah tahu pertikaian antara dua lelaki tua itu cukup tegang melihat pemandangan di depan mereka.


"Berdirilah di sini sebentar, aku ingin mendeklarasikan sesuatu."


Suasana hening.


Tuan Daniel memulai. Ia menatap Aaron dan menangis. "Aku minta maaf atas kejadian di masa lalu. Aku sungguh minta maaf padamu, Nak."


Suasana menjadi haru.


Aaron hanya diam.


"Aku orang jahat, yang sudah memisahkan dirimu dan ibumu. Seharusnya aku tidak meminta Jacky untuk menikahi ibumu. Aku benar-benar minta maaf, Aaron."


"Semua sudah terjadi, Kakek. Mungkin kalau tidak ada kejadian itu, kehidupanku tidak akan sebaik sekarang," kata Aaron sambil menatap Robbie.

__ADS_1


Hal yang sama juga dilakukan tuan Daniel. Ia mendekati Robbie dan minta maaf. "Aku ingin kau memaafkanku, Robbie. Sebentar lagi mungkin aku akan mati. Oleh karena itu aku tidak mau ada dendam di antara kita. Aku ingin meminta maaf kepada kalian semua."


Tangisan tuan Daniel membuat Robbie luluh. "Semua sudah terjadi, tidak perlu disesali."


"Aku sudah membuatmu kehilangan Elis. Aku sudah membuatmu kehilangan wanita yang kau cintai. Dan sekarang ...," mata tuan Daniel tertuju pada Abigail dan Zuri, "Bagaimana pun upayaku memisahkan kau dan Elis, sekarang Tuhan telah membalas dengan menyatuhkan kembali Abigail dan Jacky."


Suasana kembali hening.


"Zuri, kemarilah."


Gadis itu menurut. Ia berdiri, kemudian bertulut di depan tuan Daniel.


Air mata tuan Daniel terus mengalir. Diusapnya pipi kanan Zuri dengan tangannya yang keriput.


"Kakek buyut ingin bertanya padamu, Nak."


"Silahkan, Kakek buyut."


"Seandainya kau tidak bertemu Billy, apakah kau mau memaafkan kakek karena kesalahan di masa lalu?"


Zuri bingung. "Kesalahan apa? Kakek buyut tidak berbuat salah. Jadi, Kakek buyut tidak perlu minta maaf."


Tangis tuan Daniel pecah.


Tak hanya tuan Daniel, Lisa dan Abigail juga menangis. Debora yang juga sudah sejak tadi muncul bersama Gilbert hanya bisa diam di dekat pintu dengan mata yang berair.


"Kakek buyut, kenapa Kakek menangis? Kakek tidak usah menangis."


"Kakek sudah melakukan kesalahan besar padamu, Zuri. Kesalahan yang tidak pantas kau maafkan."


"Kakek jangan berkata begitu. Bukan berarti mama dan om Jacky terpisah, Kakek merasa itu adalah kesalahan. Itu bukan kesalahan Kakek."


"Kakek sudah membuat Elis dan Robbie terpisah. Karena hal itu, Robbie memisahkan Abigail dengan Jacky."


Zuri menggeleng. "Itu bukan masalah, Kakek. Mungkin saja kalau mama dan om Jacky jadi menikah waktu itu, aku mungkin tidak akan ada di dunia ini."


Robbie mendekati Zuri. "Berdirilah."


Zuri menurut.


"Kakek juga ingin minta maaf padamu."


Perkataan Robbie membuat Zuri semakin bingung.


Jacky, Abigail, Lisa dan Theo pasrah jika Zuri akan tahu yang sebenarnya.


"Kakek yang menyuruh orang waktu itu untuk menculik mamamu. Kakek juga yang menyuruh mamamu untuk meninggalkan kota ini. Kau tahu kesalahan kakek apa?"


Zuri diam dan bingung.


"Kakek sudah memisahkanmu dengan Jacky. Jacky adalah papa kandungmu, Zuri."


Zuri ternganga.


"Mamamu takut kau akan mencari siapa papa kandungmu, sebab itu dia menanamkan kebencian dalan dirimu terhadap figur seorang ayah. Jacky tidak meninggalkan ibumu, tapi kakek dan tuan Daniel lah yang memisahkan mamamu dengan Jacky."


Zuri menatap Jacky.


Jacky tersenyum dan membuka lengannya.


Zuri mendekat dan memeluknya. "Apa itu benar?! Apa benar kau papa kandungku?"


Semua orang menangis haru.


"Maafkan papa, Sayang. Maafkan papa."


Abigail berdiri, mendekati tuan Daniel dan Robbie. Ia merangkul mereka dan berkata, "Aku akan sangat bahagia jika memiliki ayah seperti kalian berdua."


"Oh, Sayang, maafkan kami. Maafkan kami, sudah membuatmu menderita bertahun-tahun."


Lisa, Theo, Aaron dan Billy bernapas lega. Mereka ikut bahagia, merasakan suasana hangat di ruangan itu.


"Debora?" tuan Daniel memanggilnya.


Gilbert mendorong kursi roda Debora mendekati tuan Daniel.


"Kakek benar-benar minta maaf. Bagaimana kalau kita impas saja?"


"Impas?"


"Aku tidak akan melaporkanmu ke polisi atas kesalahan yang kau lakukan padaku. Begitu juga denganmu, tidak akan melaporkanku ke polisi, karena kesalahanku terhadap keluargamu."


Semua orang tertawa.


Gilbert mendekati Billy dan memeluknya.


Billy menangis. "Papa."


"Kau anak yang hebat, Nak."


Setelah mengatakan itu Gilbert mendekati Aaron.


Aaron hanya tersenyum. "Semua sudah terjadi. Jadi, tidak perlu minta maaf."


Gilbert memeluknya. Matanya berkaca-kaca. "Kau dan Billy adalah putra terhebatku. Kalian andalanku."


Sosok mungil berlari masuk ke ruangan, membuat suasana cerah menjadi menegangkan.


"Hei, aku Emelly!!"


Semua orang terkejut dan menatapnya penasaran.


"Kalian tidak ingin memelukku? Aku juga ingin dipeluk kalian."

__ADS_1


____Tamat____


__ADS_2