
Kalau aku beritahu tante Ellena bahwa kakek Robbie adalah pacarnya nenek Elis, mereka pasti akan menemui kakek dan menanyakan semuanya. Bagaimana kalau kakek ada kaitannya dengan pembunuhan ini? Itu artinya kakek Robbie pasti akan dipenjarakan. Tidak, sebaiknya aku tidak memberitahu bahwa kakek Robbie adalah pacarnya nenek Elis. Jika benar kakek ada sangkutpautnya dengan kematian ini dan mungkin adalah tersangkanya, mau tidak mau kakek harus menerima hukuman.
Aku tidak ingin kakek Robbie di penjara. Kakek sudah tua, kesehatannya kurang baik. Kakek harus istirahat dan tidak boleh banyak pikiran. Awalnya aku memiliki keinginan untuk menanyakan masalah ini kepada kakek langsung. Tapi setelah mendengar cerita ini aku jadi takut membahasnya bersama kakek. Aku takut setelah mendengar cerita ini kesehatan dan pikiran kakek akan terganggu.
"Zuri?"
Suara tante Ellena mengejutkanku.
"Ada apa? Apa yang kamu pikirkan?"
Aku tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya. Dengan ekspresi mengerut aku berkata kepada tante Ellena, "Aku tidak habis pikir dengan keputusan kakek buyut. Sebagai pihak dari korban seharusnya beliau mengusut masalah ini sampai tuntas."
"Aku, mama, papa dan Jacky juga sepemikiran denganmu. Keputusan kakek buyut tidak bisa dibantah, Sayang. Walaupun papa dan Jacky sudah memberikan penjelasan logis mengenai masalah ini, tetap saja kakek memilih untuk mengabaikannya."
Apa jangan-jangan kakek buyut yang menembak nenek Elis? Tapi mana mungkin seorang ayah tega menembak anaknya sendiri? Kalau pun tuduhan itu benar, lalu alasannya apa sampai kakek tega melakukannya? Sangat berdosa aku berpikiran seperti ini. Namun tidak masuk akal bukan kalau orang lain yang melakukannya, tapi kakek malah menyembunyikannya.
Ingin sekali kuutarakan pendapatku kepada tante Ellena, tapi aku tidak berani karena takut beliau akan tersinggung. Meskipun bukan darah daging keluarga Daniel, tante Ellena sudah hidup dan dibesarkan oleh keluarga ini. Tante Ellena pasti tidak akan suka jika ada orang yang menuduh kakek buyut. Walaupun sebenarnya mereka juga berpendapat yang sama denganku.
"Ellena?! Emelly?!"
Suara nyonya Lisa mengejutkanku.
"Itu nenek!" kata Emelly lalu melepaskan bonekanya. Anak itu berlari menemui nyonya Lisa, "Nenek, kakak Zuri sudah datang."
Aku dan tante Ellena saling melemparkan senyum.
"Zuri sudah datang. Di mana dia?"
__ADS_1
"Di sana bersama mama."
Tante Ellena berbisik. "Rahasiakan pembicaraan kita tadi, ya? Tante bukannya ingin mengekspose masalah keluarga kepada orang lain. Tante hanya ingin berbagi beban karena selama ini tante tidak punya teman untuk bicara."
"Mulai sekarang ada aku jika Tante ingin berbagi masalah. Aku siap menjadi pendengar yang baik."
"Terima kasih, Sayang."
"Zuri! Sayang!" nyonya Lisa masuk ke ruangan di mana ada aku dan tante Ellena. Dengan cepat aku segera berdiri kemudian menyapanya. Kupeluk nyonya Lisa seperti beliau memelukku saat ini, "Sejak kapan kamu tiba, Sayang? Maaf, nenek tadi sangat sibuk di restoran. Kalau bukan Billy yang mengingatkan mungkin nenek lupa kalau malam ini kita akan makan malam bersama."
"Tidak apa-apa, Nek. Aku juga belum lama tiba di sini."
"Ma," panggil tante Ellena, "Mama ingin minum sesuatu?"
"Oh Sayang, kamu paling mengerti mama. Mama ingin teh hangat, Sayang."
Nyonya Lisa mengajakku duduk. Di depan kami ada Emelly yang kini melanjutkan permainannya. "Zuri, maaf ya sudah merepotkanmu. Kata Jacky ayam bakarmu enak. Kami penasaran dan ingin sekali mencobanya."
Aku tersenyum. "Tidak merepotkan, Nenek. Aku senang memasak."
"Mungkin karena hobi. Sama seperti nenek. Karena hobi nenek lebih suka memasak sendiri, padahal sudah ada pelayan yang sudah ditugaskan di rumah maupun di restoran. Nenek takut kualitas rasanya akan berbeda. Apalagi orang yang sudah biasa dengan resepnya nenek, mereka pasti akan ke restoran lain jika rasanya berbeda."
"Itu benar, Nek. Apalagi kalau perbedaannya sangat jelas. Pelanggan tidak akan berkomplain, tapi mereka akan ke tempat lain untuk mencari rasa yang lebih enak dari itu. Sama resep beda tangan pasti akan berbeda juga rasanya."
"Betul sekali. Bukan soal omset yang nenek takutkan, tapi soal kepercayaan. Selama ini restoran nenek sudah menjadi langganan banyak orang diwaktu ada perayaan seperti hari besar atau pernikahan. Merasa dipercayai itulah yang membuat nenek masih semangat sampai sekarang."
Aku senang ternyata nyonya Lisa memiliki hobi yang sama denganku. Seandainya aku memiliki nenek yang sama seperti beliau pasti setiap hari kami akan berkreasi di dapur bersama-sama, membuat timbangan semua orang di rumah ini akan naik. Badan mereka pasti akan gemuk seperti badut.
__ADS_1
"Oh iya," nyonya Lisa berkata, "bahan-bahan yang perlu disiapkan apa saja? Nenek tadi sudah menyuruh pelayan untuk membeli bahannya. Lebih baik kamu periksa lagi. Mungkin saja ada bumbu yang kurang, biar nanti nenek menyuruh pelayan untuk membelinya."
"Iya, Nek. Nanti saja setelah Nenek selesai minum teh."
Tepat di saat itu tante Ellena muncul dengan nampan berisi dua gelas teh hangat, serta satu gelas susu cokelat untuk Emelly. Aku juga mengambil minuman yang sudah dibuatkan tante Ellena. Aku baru sadar kalau minuman yang diberikan kepadaku adalah hot cokelat. Perasaan aku tidak memberitahu kepada tante Ellena bila mana aku menyukai hot cokelat. Kenapa tante Ellena bisa tahu, ya?
Dalam perbincangan kami aku baru sadar kalau selama ini aku tidak pernah melihat suami tante Ellena. Saking penasarannya aku pun melontarkan pertanyaan tak sopan itu. "Maaf, boleh aku bertanya?"
"Tentu saja, Sayang. Kamu ingin tanya apa?" tanya nyonya yang masih duduk di sampingku.
Aku menatap tante Ellena yang duduk di depan kami. "Suami Tante di mana?"
"Papanya Emelly ada di luar kota. Daniel's Mall membuka cabang di sana sejak tiga bulan lalu. Jadi sebagai kepala proyek dan calon GM, papanya Emelly harus standbye di sana dan pulang jika memang sudah mendesak."
"Pantas sejak awal aku tidak pernah melihat beliau."
Tepat di saat itu suara om Jacky dan Billy segera menyapa kami. Emelly yang begitu terkejut langsung menghambur ke pelukan om Jacky.
"Paman, ice creamku mana?"
Kami semua tertawa melihat tingkah lucu dan menggemaskan Emelly. Billy menatapku. Tatapannya benar-benar membuatku mabuk kepayang.
Zet!
Sejenak aku teringat pada situasi saat ini. Gawat, kalau Billy macam-macam, bisa-bisa semua orang di sini akan tahu soal hubungan asmara yang kami jalani. Karena semua orang terfokus pada Emelly dan om Jacky yang ternyata membawakan banyak ice cream untuk anak itu, aku mengambil ponsel untuk mengirim pesan kepada Billy. Aku akan memberitahu kalau untuk saat ini hubungan kami harus dirahasiakan dari mereka. Bukannya takut, aku belum siap dengan pertanyaan yang nanti akan terlontar jika mereka tahu aku berpacaran dengan Billy.
Bersambung___
__ADS_1