My Devilish Daddy

My Devilish Daddy
Sikap Mencurigakan.


__ADS_3

Suara wanita yang sangat kukenali terdengar begitu keras. Mama, papa dan Ellena langsung terkejut melihat sosok wanita yang kini berdiri tak jauh dari kami.


"Debora?"


Kakek terlihat marah. Kakek menatap papa lalu berkata, "Mau apa si penipu ini kemari? Bukankah sudah kuperintahkan untuk tidak menginjakkan kaki di rumah ini lagi?"


Papa diam. Debora pun tidak terintimidasi dengan perkataan kakek. Debora bahkan tidak menatap kakek. Mama dan Ellena juga diam. Mereka tidak mengeluarkan sepata kata walaupun mereka sangat marah pada Debora. Sikap dingin Debora dan apa yang dilakukan Debora membuat mereka membenci Debora.


Melihat wajah Debora yang sama sekali tidak ada rasa takut membuatku penasaran. "Untuk apa kau ke sini?"


"Untuk apa?!" seru kakek, "Kenapa kau bertanya lagi? Sudah jelas alasan si penipu ini ke sini untuk membujukmu. Dia pasti tidak ingin bercerai denganmu."


"Aku ke sini bukan karena itu, Tuan Daniel. Aku ke sini untuk mengungkapkan kebenaran yang seharusnya mereka semua tahu."


Zet!


Intonasi dan raut wajah Debora membuat aku, papa, mama dan Ellena terkejut. Tidak biasanya Debora akan sebegitu emosi ketika berhadapan dengan kakek. Tapi tunggu ... kebenaran? Apa ada rahasia lagi yang kakek sembunyikan tanpa sepengetahuan kami?


"Jacky?" panggil Debora. Aku menatapnya, "Bukankah kau ingin Zuri dan Billy menikah?"


Ah, itu dia. Sejak tadi aku penasaran dengan itu. "Iya dan apa maksud dengan ucapanmu tadi?"


"Itu lah kebenaran yang seharusnya kalian semua tahu," Debora menatap wajah kami kecuali kakek, "Billy bukan anakmu, Jacky. Billy adalah anakku bersama Gilbert."


"Apa?!" suara Ellena dan mama terdengar bersamaan.


Aku dan papa saling bertatap heran dengan jantung berdetak cepat. Billy bukan anakku ... Kata-kata itu terus terngiang dalam benakku. Billy bukan anakku ... Billy bukan anakku.


Kakek semakin emosi. "Kau benar-benar penipu kelas kakap. Berani-beraninya kau menipu kami semua, hah?"


"Ini semua karena anda, Tuan Daniel!"


Aku terkejut menatap Debora yang kini berapi-api menatap kakek. Sementara kakek langsung diam di tempat duduknya dengan wajah pucat dan gemetar.


Aku menatap mama, papa dan Ellena. Mereka juga menatapku sesaat kemudian mengalihkan pandangan kepada Debora dan kakek.

__ADS_1


"Aku akan memberi Anda kesempatan untuk jujur kepada mereka. Jika tidak, aku sendiri yang membongkar kepada mereka semua tentang apa yang Anda lakukan terhadapku dan keluargaku."


Kakek melakukan sesuatu? Apa kakek melakukan kejahatan?


Kakek berdiri. "Kau memang manusia yang tidak tahu terima kasih!" Selepas berkata begitu kakek berlalu meninggalkan kami.


"Anda mau ke mana, Tuan Daniel? Apa Anda takut kebenarannya akan terbongkar?"


"Aku tidak takut! Aku yang akan melaporkanmu ke polisi! Dasar penipu!"


"Kalau tidak takut kenapa Anda pergi?"


Kakek tak menggubris lagi dan menghilang di balik tembok pembatas.


Papa berdeham. "Duduklah, Debora."


Debora terkejut dan menurut.


Penasaranku semakin memuncak. Sikap kakek yang menghindar begitu saja membuat rasa penasaran tentang Billy bukan anakku hilang begitu saja. Tidak hanya aku, mama juga menilai hal yang sama terhadap kakek.


"Kenapa papa pergi?" tanya mama kepada papa.


"Benar," tambah mama, "Kamu tidak bercanda, kan?"


"Jadi begini," Debora memulai sambil menatap aku, papa, mama dan Ellena secara bergantian, "Sebelumnya aku ingin minta maaf kepada kalian. Aku memang salah dan aku terpaksa melakukan ini. Tapi percayalah, aku melakukan ini bukan atas keinginanku sendiri. Aku melakukan ini karena terpaksa karena tuan Daniel mendesakku."


Kakek ... Kakek telah memaksa Debora? Apa kakek memaksa Debora menyembunyikan identitas Billy? Berarti selama ini kakek tahu kalau Billy bukan anakku? Aku dan papa saling bertatap. Debora duduk di kursi yang diduduki kakek tadi.


"Pertama aku minta maaf padamu, Jacky. Aku tidak bermaksud membohongimu. Seandainya waktu itu aku tidak butuh uang, aku pasti tidak akan menerima tawaran kakekmu."


"Apa kakek tahu Billy bukan anakku?"


Debora menggeleng. "Tidak, kakekmu tidak tahu soal itu. Tapi kakekmu tahu kalau aku sudah bersuami dan punya anak sebelum menikah denganmu."


Zet!

__ADS_1


Kata-kata Debora bagaikan palu yang menghantam keras dan membuat kami terkejut.


"Kamu sudah punya suami dan anak? Apa kamu seorang janda?" tanya mamaku.


"Bukan janda, Ma. Aku masih berstatus istri orang waktu kakek memintaku menikahi Jacky."


Lagi-lagi ucapan Debora bagaikan petir yang menghantam.


"Suamiku lumpuh akibat kecelakaan. Anakku masih kecil. Sementara gajiku hanya cukup untuk makan kebutuhan sehari-hari. Aku butuh uang untuk biaya sekolah anakku. Aku butuh uang untuk pengobatan suamiku. Kakek lah yang menawarkan semua itu asalkan aku ingin menikahi Jacky."


Mama dan Ellena saling bertatap heran. Aku dan papa juga melakukan hal yang sama.


"Aku sudah jujur kepada kakek soal statusku. Aku juga sudah menolak permintaan kakek. Namun penawaran kakek membuatku berubah pikiran. Aku tidak punya cara lain lagi. Kebahagiaan anak dan suamiku yang utama. Aku rasa jika kalian berada di posisiku waktu itu, kalian pasti juga akan melakukan hal yang sama."


"Lalu di mana suami dan anakmu sekarang?" tanya mamaku. Suaranya terdengar pelan. Sebagai sama-sama perempuan, mama pasti bisa merasakan apa yang dirasakan Debora.


Ellena bertanya, "Apa suamimu adalah Gilbert?"


"Bukan, Gilbert adalah mantan pacarku. Sebelum menikah dengan Jacky aku pernah menjalin kasih dengan Gilbert."


"Tunggu," kata papa pelan, "Gilbert adalah mantan kekasihmu sebelum menikah dengan Jacky. Berarti sebelum itu kamu juga menduakan suamimu dan main gila dengan Gilbert, begitu?"


Debora menggeleng. "Aku menjalin hubungan dengan Gilbert jauh sebelum aku dikenalkan Stella dengan suamiku. Suamiku bernama Alex. Alex adalah atasan Stella. Karena jengkel Gilbert sering menyakitiku, Stella mengenalkanku kepada Alex."


"Stella?" tanyaku heran, "Bukankah dia adalah mamanya Anggie."


"Benar, Jack. Stella adalah mamanya Anggie. Karena Stella dan Gilbert juga aku ditinggalkan oleh suami dan anakku."


Aku semakin bingung. Mama, papa dan Ellena juga sama.


"Coba kamu ceritakan secara jelas biar kami semua tidak bingung."


Debora menunduk sesaat sebelum memulai. "Karena menginginkan uang, Stella dan Gilbert menyuruhku untuk menyetujui permintaan kakek. Waktu itu kakek hanya ingin aku menikah dengan Jacky agar aku bisa memberikan keturunan. Setelah itu aku ingin kembali kepada Alex dan anakku tidak masalah, asalkan aku sudah melahirkan keturunan untuk penerus keluar Daniel. Namun, belum sempat itu terjadi Stella dan Gilbert membongkar perjanjian itu kepada suami dan anakku. Anakku kabur, sedangkan suamiku meninggal dengan cara bunuh diri."


Mama lah yang paling syok mendengar itu. "Suamimu meninggal? Mama turut berduka cita, Debora."

__ADS_1


Debora mulai menangis. "Seandainya waktu itu Alex dan Aaron tidak meninggalkanku, aku pasti tidak akan melakukan ini kepada kalian. Aku tidak akan dimanfaatkan oleh Stella dan Gillbert. Aku tidak akan mencuri di perusahan kalian dan tidak akan merugikan kalian."


Bersambung____


__ADS_2