My Devilish Daddy

My Devilish Daddy
Pertemuan Besar.


__ADS_3

"Apa yang kau pikirkan, hah?"


Aku diam. Perlahan Billy mulai menjauhiku. Billy membelakangiku.


"Apa yang kau katakan tadi itu benar?" Billy berbalik menatapku, "Apa benar mamamu tidak akan merestui hubungan kita?"


Drtt... Drtt...


Getaran ponsel membuatku terkejut. Kulihat benda portable itu bergerak di atas nakas.


"Ponselmu berdering."


"Jawab pertanyaanku, Zuri. Apa benar mamamu tidak merestui hubungan kita?"


"Tidak seperti itu, Billy. Mamaku merestui hubungan kita. Sekarang, sebaiknya kau ambil ponselmu dan lihat siapa yang menelepon."


Meski ragu dengan jawabanku, Billy menurut kemudian meraih ponselnya dari atas nakas. Kulihat ekspresi di wajah Billy sedikit berubah saat matanya yang indah menatap layar. Aku penasaran dan bertanya.


"Siapa?"


"Papa."


Om Jack menelepon. Ada apa, ya. Jantungku berdebar tak karuan. Apa mungkin mama sudah bicara dengan om Jacky soal pernikahan itu? Kira-kira om Jacky setuju gak ya pernikahan aku dan Billy dibatalkan?


"Halo, Pa?"


Kutatap wajah Billy yang tampak serius berbicara dengan om Jacky. Matanya menatapku.


"Pernikahan ... Pernikahan siapa?"


Billy menatapku dengan senyum melebar.


"Baik, kami akan segera ke sana."


Kulihat Billy memutuskan panggilan dengan cepat.


"Sayang, kita akan segera menikah. Kita akan menjadi suami istri yang bahagia."


Aku tersenyum dengan pikiran yang melayang. Pernikahan aku dan Billy ... Apa itu artinya om Jacky dan mama tidak jadi menikah?


"Sayang?"


"Ya?"

__ADS_1


"Ada apa? Ayo, kita di suruh papa ke rumah besar. Mereka semua sedang menunggu kita berdua."


"Se-sekarang?"


"Iya, sekarang. Kenapa, kamu ingin kita di sini dulu?"


Aku tersenyum paksa. "Bu-bukan begitu. Tapi untuk apa mereka menunggu kita?"


Billy melingkarkan tangannya ke perutku. "Kata papa mamamu ada di semua. Semua orang ada di sana membicarakan pernikahan kita. Sekarang, mereka menunggu kita di sana. Mereka ingin kita yang memutuskan kapan tanggalnya berlangsung."


Tanggal pernikahan ... Itu berarti mama dan om Jacky tidak jadi menikah. Ya Tuhan, kenapa semua ini terjadi tidak seperti yang kuinginkan? Kenapa mama dan om Jacky tidak jadi menikah. Apa yang sebenarnya terjadi kepada mereka?


"Sayang, mereka sedang menunggu kita. Ayo, kita kembali."


Dengan hati yang membingungkan aku pun bergegas bersama Billy. Mama dan om Jacky tidak jadi menikah ... Ya Tuhan, kenapa ini harus terjadi. Kalau pernikahanku dan Billy berlangsung lebih dulu kemudian om Jacky tahu bahwa Billy bukan anak kandungnya ... aku tak bisa bayangkan apa yang terjadi nanti. Om Jacky pasti akan murka dan aku akan kehilangan om Jacky. Aku akan kehilangan figur seorang ayah.


***


"Kau siap?"


Saat ini aku dan Billy duduk diam di dalam mobil. Billy dan aku sudah tiba di depan rumah keluarga Daniel sudah dua menit yang lalu. Sejak menerima panggilan dari om Jacky tadi antusiasme Billy tak memudar. Setiap detik senyumnya melebar. Setiap detik pula Billy tak melepaskan pandangannya dariku.


"Kalau mereka bertanya, kapan kau ingin pernikahan kita dilaksanakan?"


"Bagaimana kalau akhir bulan?"


"Terserah kamu saja, Sayang. Tapi kalau keluarga tidak setuju, bagaimana?"


"Kita ikuti saja, dan yang penting pernikahan kita cepat terlaksanakan."


Aku bahagia melihat antusias Billy. Billy sangat ingin menikahiku dan aku sangat mencintai Billy. Namun, membayangkan kehilangan sosok ayah seperti om Jacky membuatku sedih. Seandainya om Jacky bisa menerima kenyataan itu dan terus menganggap Billy seperti putranya, besar kemungkinan aku tidak akan kehilangan om Jacky.


Billy keluar dari mobil. Aku juga keluar kemudian berjalan bersama Billy. Sejenak aku berhenti, membuat Billy terkejut dan menatapku lembut.


"Kenapa?"


"Aku gugup," pembohong! Aku terpaksa berkata begitu agar Billy tidak curiga. Aku masih tak percaya kalau benar om Jacky menyuruh kami pulang untuk memnahas pernikahan aku dan Billy. Ini sama sekali tidak seperti yang kuinginkan.


"Mmuach."


Kecupan intens di bibir membuatku terkejut. Billy tersenyum lalu berkata, "Tenang saja, aku akan selalu di sisimu selama pembahasan berlangsung."


Tak peduli seberapa pedulinya Billy padaku, perasaan gundah terus menghantuiku. Aku merasa tak terima Jacky Daniel menolak Abigail Oliver dan memilih menikahkan putranya dengan putri dari Abigail Oliver. Aku ingin om Jacky menikahi mamaku, bukan aku menikahi putranya. Aku lebih membutuhkan papa dibanding suami. Aku merindukan kasih sayang seorang ayah. Kasih sayang yang mungkin bisa kudapatkan dari sosok lelaki bernama om Jacky Daniel.

__ADS_1


"Sayang?"


Aku tak mengabaikan panggilan Billy. Pikiranku terus berputar dengan apa yang terjadi hari ini. Aku tidak menyangka rencanaku gagal.


"Sayang, kau baik-baik saja?"


Aku masih berdiri dalam diam.


"Zuri sayang? Kau baik-baik saja, kan?"


Saat itulah aku menatap Billy. "Aku baik-baik saja."


"Kau tidak perlu takut, okey?" Billy memelukku, "aku akan berada di sisimu selama mungkin."


Tak mau semua orang menunggu lama, aku dan Billy akhirnya masuk ke dalam rumah mewah itu. Para pelayan menyambut kedatanganku dan Billy dengan begitu ramah. Ada yang tersenyum lebar karena senang melihat kami. Ada juga yang langsung memuji dengan alasan aku dan Billy sangatlah cocok.


"Ini dia! Calon menantu keluarga Daniel sudah tiba."


Suara bariton milik kakek Theo membuatku terkejut begitu aku dan Billy tiba di ruang tengah. Sebelum tiba di tempat itu salah satu pelayan rumah sudah mengatakan terlebih dahulu kepada kami, bahwa semua orang sudah menunggu. Aku dan Billy pun bergegas dan langsung menuju tempat tujuan.


Tunggu! Teriakku dalam hati. Kenapa ada mamanya Billy? Kutatap tante Debora yang sedang duduk bersama mamaku. Apa aku tidak salah melihat ... mama dan tante Debora duduk bersebelahan dan saling bertukar senyum? Apa jangan-jangan mama tidak mengutarakan alasan itu kepada om Jacky. Apa mungkin mama sengana dan membiarkan mereka menikahkan aku dengan Billy?


"Halo, Sayangku. Ayo, sini," nenek Lisa berdiri, menghampiri kemudian memelukku, "Kamu cucu kesayangan nenek, Sayang. Nenek sayang sekali padamu."


Aku mendekat, membalas pelukan nenek. Mataku yang tak sabaran menatap satu persatu wajah-wajah yang ada di ruang keluarga. Semua orang terlihat bahagia.


Ketika mataku tertuju pada mama dan tante Debora, ke dua wanita itu saling melirik kemudian tersenyum haru. Mereka berpelukan. Ada apa ini sebenarnya ... kenapa mereka membahas pernikahan yang seharusnya belum waktunya?


"Ayo, duduk. Sudah saatnya kita umumkan kabar baik ini."


Suara kakek Theo membuatku menatapnya. Lelaki tua yang wajahnya tak jauh berbeda dengan om Jacky menatap ke arahku dan berkata, "Kamu dan Billy akan menikah. Billy akan menjadi suamimu, Nak."


"Benar, Sayang. Kamu sudah siap kan menjadi istrinya Billy?"


Mataku yang tadinya biasa menatap nenek Lisa kini dengan lantang berpindah ke wajah mama. Mamaku hanya tersenyum sambil mengangguk.


Apa mama masih waras? Mama menolak om Jacky dan merestui hubunganku dengan Billy?


Aku pun segera menatap Billy yang sedang duduk di seberangku. Senyumnya sangat lebar dengan pipi merah merona. Billy terlihat bahagia, sedangkan aku ... aku seharusnya demikian. Namun, entah kenapa pikiran dan tubuhku bertolak belakang saat mendengar kabar baik ini.


"Jadi, begini,"


Bersambung___

__ADS_1


__ADS_2