My Devilish Daddy

My Devilish Daddy
Ke rumah Ibu Kandung.


__ADS_3

Hari sudah semakin larut. Kulihat jam tangan sudah menunjukkan pukul satu malam. Aku tidak mungkin pulang ke apartemen, aku tidak ingin bertemu papa. Papa sudah melukaiku. Mana mungkin aku menerima ibu sambung yang akan menjadi mertuaku.


Aku yakin papa pasti berbohong. Mana mungkin Zuri mau menerima papa sebagai mertua dan papa sambung. Itu hanya alasan papa saja agar aku tidak marah. Aku yakin Zuri juga pasti akan marah jika tahu soal ini.


Aku harus tidur di mana malam ini? Aku tidak mungkin pulang ke apartemen.


Mama ... aku akan pulang ke rumah mama saja. Dengan cepat aku meraih ponsel dan mencari kontak mamaku.


"Semoga saja mama belum tidur."


Sambil mengemudi aku menempelkan ponsel di telinga, menunggu panggilanku direspon mama.


"Halo?"


Suara mamaku terdengar parau. "Maaf, apa Mama sudah tidur?"


"Billy? Tidak Nak, mama belum tidur. Mama masih di ruang kerja. Mama pikir siapa yang menghubungi, ternyata kamu."


Intonasi mamaku seperti berpura-pura. Walaupun tidak begitu dekat dengan mama, aku bisa merasakan nada suara mama yang dibuat-buat maupun tidak. Sepertinya sedang terjadi sesuatu pada mama. Entalah, aku tidak mau tahu dan tak ingin tahu.


"Ini kontak baruku, Ma. Maaf tidak memberitahu Mama. Kontak yang lama masih ada, hanya saja jarang kugunakan."


"Tidak masalah, Nak. Hmmm, jam berapa sekarang? Tumben kamu menelepon mama?"


Mustahil jika aku menyembunyikannya. Selama ini aku tidak dekat dengan mama. Menghubunginya saja hampir tidak pernah. Jadi kondisi sekarang dengan tiba-tiba aku menghubunginya pasti membuatnya bertanya-tanya.


"Aku kesal dengan papa. Aku tidak ingin pulang ke apartemen. Aku juga tidak mau menginap di hotel, aku ingin ke rumah Mama."


"Ada apa, Nak? Perasaan semuanya tadi baik-baik saja."


"Nanti aku ceritakan. Sekarang kirim lokasinya, aku akan ke sana."


"Baiklah."


Mamaku memutuskan panggilan. Lucu, bukan? Aku sebagai anak sama sekali tidak tahu tempat tinggal wanita yang melahirkanku.


#Sudut Pandang Penulis.


Di kediaman Debora yang besar dan sepi, wanita itu baru saja memutuskan panggilan dari putra kandungnya. Sambil duduk, mata bengkak dan pikiran bingung ia menatap ponsel.


"Billy ingin datang ke sini ... dia kesal pada Jacky ... Apa yang terjadi pada mereka?"


Setelah pikirannya buyar ia segera bangkit dari kursi. Dengan langkah cepat ia keluar ruangan, mencari seseorang.


Pria yang merupakan orang kepercayaannya dan selalu stand bye langsung mendekat.


"Di mana Gilbert?"


"Di kamarnya, Nyonya."


"Bangunkan dia. Suruh dia pergi dari sini, Billy akan datang."


"Baik, Nyonya."


"Pastikan kau mengantarnya sebelum Billy tiba di sini."


"Siap, Nyonya."


Debora kembali ke ruang kerjanya. Dengan cepat ia menutup pintu kemudian mengotak-atik ponsel. Ia mengirim lokasi kepada Billy.

__ADS_1


"Semoga saja Billy tidak melihat Gilbert di sini. Aku tidak mau Billy beranggapan kalau aku hanya berpura-pura."


Di sisi lain.


Di dalam kamar yang besar sosok lelaki bertelanjang dada sedang berusaha mengumpulkan nyawa. Suara ketukan pintu membuatnya terbangun.


Tok! Tok!


"Masuk saja, Debora," jawabnya kesal.


Pintu kamar terbuka. Pria itu berdiri sejajar pintu kemudian menyapa Gilbert seperti yang diperintahkan Debora.


"Maaf Tuan, nyonya Debora ingin Anda pergi sekarang, tuan muda Billy akan datang ke sini sekarang."


Awalnya bermalas-malasan, Gilbert akhirnya bangkit kemudian duduk di ranjang. "Billy akan ke sini, untuk apa?"


"Saya tidak tahu, Tuan. Saya hanya menyampaikan apa yang perlu saya sampaikan."


Penasaran, Gilbert bangkit dari ranjang. "Debora di mana?"


"Di ruang kerja, Tuan."


Tanpa mengenakan busana atas Gilbert keluar kamar meninggalkan pria yang masih berdiri di sana.


Clek!


Dibukanya pintu ruang kerja membuat Debora yang yang sedang duduk langsung berdiri karena kaget.


"Apa benar Billy akan ke sini?"


"Iya. Pergilah, aku tidak mau dia melihatmu."


"Apa aku mimpi? Billy ingin menemuimu," Gilbert menatap jam dinding, "Ini sudah larut malam, Debora."


"Aku tahu, tapi ini tidak biasanya."


Debora kembali duduk. "Dia bertengkar dengan Jacky."


"Bertengkar dengan Jacky? Bukankah mereka sangat dekat?"


"Entalah, Gilbert. Sebaiknya sekarang kau pakai baju dan pergi dari sini. Orangku akan mengantarkanmu. Aku tidak mau dia melihatmu ada di sini, sebentar lagi dia pasti akan tiba."


"Kenapa, aku kan ayahnya?"


Debora menatap marah. "Kuminta kau pergi dari sini sekarang juga, Gilbert."


Tanpa membantah Gilbert berlalu meninggalkan ruangan.


Debora mengodekan mata pada anak buahnya, kemudian duduk bersandar.


"Ya Tuhan, sampai kapan aku akan merahasiakan hubungan mereka? Sampai kapan aku akan melarang Gilbert bertemu anaknya?"


Pusing memikirkan hal itu selama hampir setengah jam, Debora bangkit kemudian berdiri di dekat jendela. Ia menatap halaman luas di mana lampu taman berkedap kedip begitu indah.


"Maafkan aku, Gilbert. Aku belum siap memberitahu Billy kalau kau adalah ayahnya."


Tok! Tok!


Bunyi ketukan pintu membuatnya terkejut. Dengan cepat ia berbalik dan kembali duduk di kursinya.

__ADS_1


"Masuk!"


Sosok pria lebih muda menyapa. "Nyonya, tuan muda Billy sudah tiba."


"Apa Gilbert sudah pergi?"


"Sudah, Nyonya. David yang mengantarkan tuan Gilbert pulang."


"Suruh Billy masuk dan tolong buatkan hot cokelat untuknya, pelayan dapur sudah tidur."


"Siap, apa Nyonya ingin minum sesuatu?"


"Tidak, terima kasih."


Pria muda itu pamit kemudian menutup pintu dari luar.


Debora kembali duduk, menatap wajahnya di cermin kemudian menyalahkan laptop. Ia ingin terlihat sibuk di saat Billy masuk ke ruangan itu.


Tok! Tok!


"Masuk!"


Tahu yang mengetuk pintu itu adalah Billy, Debora segera bersandar dengan senyum yang sangat lebar.


Clek!


Billy masuk. "Selamat malam, Ma."


"Malam, Nak. Ayo, silahkan duduk."


Billy menarik kursi di depan Debora. Dilihatnya laptop di depan ibunya sedang menyala.


"Maaf sudah mengganggu Mama. Aku tidak tahu harus ke mana lagi. Diam di sini adalah cara terbaik."


Debora menatap sedih. "Apa yang terjadi? Hari bahagiamu sudah dekat. Besok kalian akan bertemu designer," Debora menatap Billy yang sedang menunduk, "Kau tidak memutuskan hubunganmu dengan Clare, kan?"


Saat itulah Billy mendongak menatap ibunya. Pandangan berbeda pun muncul.


Debora yang selama ini tidak pernah dekat dengan Billy merasa ada sesuatu yang beda dari pandangan itu. Pandangan kecewa dari seorang anak yang membutuhkan pembelaan.


"Hubunganku dan Clare baik-baik saja, tapi aku tidak tahu ke depannya akan seperti apa."


Debora yang sudah tahu semuanya hanya sedikit terkejut. "Kenapa?"


"Tadi aku melihat papa bersama wanita di apartemen. Aku bahkan melihat mereka bercinta di sana."


Sedikit sesak dalam hati Debora mendengar itu. Namun, mengingat kesalahan yang ia buat dan menyebabkan hubungannya dan Jacky berantakan, membuatnya sadar diri. Ia pun hanya diam dan menyimak setiap kata yang keluar dari mulut Billy.


"Awalnya aku pikir itu pacarnya papa. Begitu aku kembali dan menunggu mereka keluar, aku melihat mamanya Zuri keluar dari apartemen itu bersama papa. Wanita yang bercinta dengan papa di dalam sana adalah mamanya Zuri."


Debora terkejut. "Maksud kamu tante Abigail?"


"Iya, Ma. Kata papa, tante Abigail akan menjadi ibu sambungku."


Ekspresi Debora benar-benar terkejut. Yang mengejutkannya bukan soal hubungan antara Abigail dan Jacky, melainkan situasi dan kondisinya.


Kenapa dua orang itu ceroboh sekali, kenapa mereka melakukannya di saat anak-anak ini belum menikah?


Gawat, bagaimana kalau Billy membatalkan pernikahannya dengan Clare hanya karena masalah itu? Tidak mungkin kan kalau aku mengatakan pada Billy, bahwa Clare adalah anak kandungnya Jacky.

__ADS_1


Ya Tuhan, masalah apa lagi ini? Masalah lain belum saja selesai, sekarang sudah timbul masalah baru.


Bersambung____


__ADS_2