My Devilish Daddy

My Devilish Daddy
Tangis Kakek Robbie.


__ADS_3

"Ada apa, Kakek? Kenapa ekspresi Kakek seperti itu."


Aku sedikit bingung melihat ekspresi kakek yang tiba-tiba berubah. Ada apa, ya? Kenapa setiap kali membahas soal keluarga Daniel raut wajah kakek sulit diartikan. Tempo hari saat aku mengatakan telah diterima oleh Daniel Corporation mimik wajah kakek juga seperti ini.


Kakek tersenyum paksa. "Boleh kakek tanya sesuatu padamu?"


"Tentu saja," jawabku tanpa melepaskan pandangan dari wajah kakek. Saat ini aku dan kakek duduk berdampingan.


"Apa yang kamu rasakan setelah bertemu om Jacky?"


Pertanyaan itu membuatku tersenyum lebar. "Bahagia, Kakek. Aku tidak tahu kenapa, yang jelas aku sangat nyaman berada di samping om Jacky."


"Kau tidak ingin merebut dia dari istrinya, kan?"


Aku tersentak. "Kakek ini bicara apa? Bukan itu maksudku, Kakek."


Kakek tertawa. "Kakek hanya bercanda, Sayang."


"Kakek pikir aku serendah itu."


Ingin sekali aku mengumumkan soal hubunganku dengan Billy. Tapi ada baiknya tidak untuk sekarang. Aku tidak ingin kakek berpikir macam-macam, apalagi sampai melaporkannya pada mama. Kalau mama sampai tahu soal hubungan itu aku pasti akan dimarahi dan disuruh kembali. Tidak, aku tidak mau. Aku tidak ingin berjauhan dengan Billy ataupun om Jacky.


"Ceritakan, bagaimana perasaanmu bersama mereka?"


Dengan antusias aku menceritakan semuanya kepada kakek. "Aku pikir mereka seperti keluarga-keluarga kaya lainnya, yang selalu meremehkan bawahan atau merendahkan orang yang derajatnya di bawah. Mereka sangat baik padaku, Kek. Semua keluarga Daniel menerimaku dengan baik. Bahkan mereka tidak menganggapku seperti pelayan. Aku merasa seperti ratu di sana. Bersama mereka aku merasa seperti menemukan keluarga. Keluarga lengkap seperti yang kuimpikan selama ini."


Kakek Robbie memelukku. "Maafkan kakek, Zuri. Maafkan kakek."


Aku terkejut mendengar suara tangis kakek. "Kenapa kakek menangis?"


Kakek melepaskan tubuhku. "Selama ini kakek tidak bisa memberikan kebahagiaan kepadamu dan mamamu. Sebagai tertua di keluarga Oliver, seharusnya kakeklah yang bertanggung jawab akan hal itu. Kakek egois. Kakek benar-benar egois karena membiarkan kalian hidup sendirian."


Kini giliranku yang memeluk kakek. "Kakek tidak perlu minta maaf, semua ini bukan salah Kakek. Lagi pula kata siapa Kakek egois? Kakek tidak egois, kok. Buktinya sampai sekarang Kakek masih memberiku uang jajan walaupun aku sudah punya penghasilan sendiri."


"Kamu benar, Sayang. Tapi sebagai orang tua harusnya kakek lah yang memberikan kalian kebahagian. Jujur, kakek iri kepada keluarga Daniel. Kakek iri kepada mereka, karena sudah membuatmu merasa seperti sekarang."

__ADS_1


Aku tersenyum menatap kakek. "Kalau Kakek bertemu mereka aku yakin Kakek pasti akan senang. Apalagi jika Kakek bertemu kakek buyut. Orangnya sangat baik dan perhatian."


Ekspresi sedih di wajah kakek lenyap. "Kakek senang mendengarnya. Suatu saat kakek berharap bisa bertemu mereka dan bertatap muka."


"Kakek tahu, aku berencana ingin mempertemukan mama dengan om Jacky."


Kakek tersentak. "Kenapa?"


"Sejak awal bertemu beliau aku sudah terobsesi kepadanya. Om Jacky adalah sosok yang baik dan perhatian. Beliau adalah papa yang baik dan bertanggung jawab."


"Dari mana kamu bisa beranggapan begitu?"


Aku meraih kedua tangan kakek. "Orang baik pasti akan kelihatan dari cara bicaranya saja. Om Jacky tidak hanya baik dalam berbicara, tindakan dan sikapnya kepadaku sama seperti yang dia berikan kepada putranya. Karena tahu aku tidak punya papa, beliau menyuruhku untuk memanggilnya dengan sebutan papa. Beliau juga menceritakan kepada keluarganya tentangku, sampai akhirnya mereka semua menyuruh aku menganggap mereka seperti keluarga sendiri. Bukankah dia sangat baik? Aku bisa membayangkan, seandainya aku memiliki papa seperti om Jacky pasti hidupku akan lebih bahagia."


Kakek menatapku lama sekali dengan ekspresi sulit terbaca.


"Ada apa, Kakek? Kenapa Kakek menatapku seperti itu?"


"Tidak apa-apa, Nak. Kakek senang kamu bisa bertemu orang baik seperti mereka."


Kakek Robbie memelukku erat-erat. "Boleh kakek bertanya lagi?"


"Tentu."


"Seandainya suatu saat nanti papa kandungmu datang dan menemuimu, apa kamu mau menemuinya?"


Dengan cepat aku melepaskan pelukan kakek. Kutatap wajah kakek dengan marah. "Tidak, Kakek. Sejak kecil aku sudah bersumpah pada diriku sendiri, bahwa sampai matipun aku tidak akan pernah mau melihat wajah papaku. Papa jahat, Kakek! Papaku jahat! Dia meninggalkan aku dan mama demi wanita lain. Aku tidak akan pernah memaafkannya, Kakek. Tidak akan."


Kakek menarik tubuku lalu memeluknya. Kakek kembali menangis sambil mengusap punggungku. "Kakek yakin suatu saat kamu pasti akan mendapatkan kebahagiaan yang tidak pernah kamu rasakan. Kakek yakin kebahagiaan yang kamu impikan selama ini pasti akan kamu dapat di masa depan."


Aku yakin kakek menangis karena merasa bersalah. Aku mendapatkan kebahagiaan dari orang lain. Orang yang tidak ada hubungan darah denganku. Seperti yang dikatakan kakek tadi, beliau iri karena aku mendapatkan kebahagiaan itu dari orang lain bukan dari dirinya atau keluarganya.


***


Tidak terasa waktu sudah sore. Kakek memutuskan untuk tidak ke rumah sakit hari ini karena ada aku. Saat ini kakek sedang beristirahat. Hari ini aku dan kakek menghabiskan waktu bermain ludo, makan dan baca buku.

__ADS_1


Setelah hampir seharian menghabiskan waktu di rumah kakek aku akhirnya bersiap-siap untuk pergi ke rumah keluarga Daniel. Aku tidak lupa perkataan om Jacky tadi pagi. Billy juga berkali-kali menghubungiku untuk mengingatkanku. Walaupun aku tahu itu hanya alasannya saja karena ingin mendengar suaraku.


"Aaron, kamu masih berhutang padaku. Suatu saat aku akan ke sini lagi untuk menagih hutang itu."


Aaron tidak menjawab. Pria itu hanya menunduk kemudian mengantarkanku ke mobil. Sebagai orang luar sebenarnya aku tidak pantas mencampuri urusan pribadi orang lain. Tapi rasa penasaran terus mendorongku untuk mencaritahu soal keterikatan antara Aaron dan tante Debora. Terlebih sekarang Billy sudah menjadi pacarku. Jadi sudah keharusan bagiku untuk mencaritahu ada hubungan antara mama pacarku dengan ajudanan kakekku.


Saat ini aku sudah tiba di rumah keluarga Daniel. Penjaga keamanan yang sudah tahu siapa aku langsung menyapa dengan ramah saat dirinya membukakan pintu gerbang untukku.


"Selamat sore, Nona."


"Sore juga, Pak. Terima kasih, ya."


"Sama-sama, Nona."


Ketika mobilku memasuki halaman luas yang dipenuhi rumput gajah mini, sosok gadis kecil, lucu dan cantik tiba-tiba muncul dari dalam. Aku tersenyum melihat Emelly yang kini berdiri, menungguku keluar dari mobil.


"Halo, Kakak cantik."


Aku tersenyum dan langsung memeluknya. "Halo juga, Adik cantik."


Emelly melingkarkan kedua tangannya di leherku. "Aku sangat merindukanmu."


"Aku juga."


Entah kenapa rasanya aku ingin menangis. Mendengar kata-kata Emelly membuatku terharu. Selama ini aku tidak pernah tahu rasanya memiliki adik, kakak ataupun sepupu. Bersama keluarga ini aku bisa merasakan semuanya. Bersama Emelly aku merasa seperti punya adik sekaligus sepupu.


"Ngomong-ngomong kamu tahu dari mana aku datang?"


"Kata mama Kakak akan datang. Jadi setiap jam aku keluar untuk mengecek apakah mobil Kakak sudah tiba. Begitu aku keluar, ternyata Kakak sudah datang. Aku senang sekali Kakak akhirnya datang."


"Uhh Sayang, kakak juga senang akhirnya bisa bertemu denganmu lagi."


"Zuri sayang! Sejak kapan kamu datang, Nak?"


Bersambung____

__ADS_1


__ADS_2