
Tepat di saat itu pelayan wanita datang membawa nampan berisi satu gelas jus orange dan roti lapis. Kulihat dua pria yang memegang tanganku tadi berdiri di dekat jendela. Pria yang bernama Denis berdiri tak jauh dari tante Debora. Dari penampikan aku bisa menebak kalau Denis adalah ajudannya tante Debora.
"Zuri, silahkan diminum. Kamu belum sarapan, kan? Sebelum lanjut lebih baik kamu sarapan dulu."
Aku heran kenapa tante Debora bersikap jahat. Padahal dari caranya padaku saat ini, aku bisa mengambil kesimpulan bahwa sebenarnya tante Debora orang baik. Apa mungkin hasutan Anggie sampai tante Debora menjadi seperti ini? Bisa jadi, apalagi mamanya Anggie adalah temannya tante Debora. Dari situ aku bisa menilai, Anggie saja sudah jahat apalagi mamanya.
Aku menyesap sedikit jus orange itu kemudian meletakkannya kembali ke atas meja. Setelah menelan menarik napas aku menatap tante Debora lalu menjawab pertanyaan yang dilontarkannya tadi.
"Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan om Jacky dan Billy. Aku adalah asisten om Jacky."
"Asisten?"
"Iya, Tante," aku menceritakan pertemuanku bersama om Jacky, "Karena aku sedang mencari pekerjaan dan kebetulan om Jacky juga membuka lowongan, besoknya aku disuruh ke Daniel Corporation untuk wawancara."
"Apa benar suamiku membelikanmu apartemen dan mobil?"
Aku tidak akan bohong. "Benar, Tante. Hari itu juga sehabis wawancara aku langsung diajak Billy untuk melihat apartemen dan mobil. Tapi menurut informasi dari Billy, mobil itu sebenarnya milik om Jacky. Jadi daripada membelikanku mobil yang baru, beliau memberikan mobil itu kepadaku. Soal perkataan Anggie bahwa aku menggoda suami Anda itu tidak benar, Tante. Orientasiku bukan begitu. Jika tidak percaya, Tante bisa menanyakannya sendiri kepada Aaron atau Billy."
Kulihat tante Debora tersenyum sayang sambil menatapku. "Soal Billy dan Aaron, apa kau menyukai mereka?"
Zet!
Aku terkejut. Mataku membulat. "Tidak, Tante. Sumpah."
"Kata Anggie kau menggoda putraku, ya?"
"Tidak, Tante. Billy memang dekat denganku. Sejak awal Billy sudah menjadi sahabatku. Kami sudah seperti saudara."
"Kamu yakin?"
Apakah aku harus jujur soal hubunganku dengan Billy? Bagaimana kalau tante Debora marah dan mengamuk? Ya ampun, aku pasti akan dicekik sampai mati oleh Anggie.
__ADS_1
"Sayang," tante Debora berkata. Mimik wajahnya tulus dan ceria. Tidak seperti wajahnya saat menatap Anggie, "Begitu Anggie menceritakan semuanya, tante langsung menyuruh Denis untuk menyelidiki kalian. Awalnya tante terkejut waktu Denis memberikan informasi namamu. Tante merasa pasti tidak mungkin gadis yang tante temui bersama Aaron adalah gadis yang sama dengan orang yang bersama Billy dan suami tante. Tante merasa Anggie pasti salah memberikan informasi. Masa iya satu gadis bisa mengenal tiga orang yang paling dekat dengan tante. Saking penasarannya, tante menyuruh Anggie membawamu ke sini."
Oh, jadi itu semua rencana tante Debora. Kalau begitu apa hubungan tante Debora dengan Dave dan Deva? Aku akui, dua anak itu cukup profesional memainkan peran ini. Mereka pantas menjadi tokoh dalam sinetron.
"Jadi kalau kamu bilang tidak ada hubungan apa-apa dengan Billy tante tidak akan percaya. Denis, bawa buktinya ke sini."
Bukti? Apa itu artinya tante Debora sudah tahu hubunganku dengan Billy? Gawat, bakal habis aku. Anggie pasti akan menelanku hidup-hidup jika tahu aku berpacaran dengan Billy.
Denis muncul lalu memberikan amplop berwarna cokelat kepada tante Debora. Kulihat mimik di wajah tante Debora masih sama seperti tadi. Wanita itu tidak marah, tapi juga tidak senang. Ekpresinya sulit terbaca, tapi nada suaranya sangat pelan dan lembut.
"Ini kamu dan Billy, bukan?"
Aku meraih dua lembar foto yang diberikan tante Debora. Ya ampun, ini kan foto waktu aku dan Billy berciuman di depan apartemenku. Seketika wajahku terasa merah karena malu.
"Tidak masalah, aku tidak akan marah jika benar kamu menjalin hubungan dengan putraku. Selama ini aku terlalu memaksanya untuk menikahi Anggie. Ini juga salah satu alasan kenapa tante tidak ingin Anggie mendengar pembicaraan kita."
Feelingku tidak salah. Di balik sikap jahat tante Debora pasti ada sesuatu yang memicunya.
Alisku berkerut. "Bukannya Tante sudah menjodohkan Anggie dengan Billy?"
"Benar, tapi itu bukan kemauanku. Itu semua kemauan Anggie dan mamanya," tante Debora menunduk sedih, "Seandainya aku jujur padamu tentang semuanya, pasti kamu akan membenciku. Kamu pasti akan menjauhi Billy karena aku."
Secepat kilat aku berdiri dan duduk di samping tante Debora. Kegenggam kedua tangannya. Sambil menatap tante Debora aku berkata, "Itu tidak akan terjadi, Tante. Aku dan Billy saling mencintai. Bagaimanapun cara yang akan dilakukan untuk memisahkan kami berdua pasti tidak akan berhasil. Kecuali dari pihak Tante atau om Jacky tidak setuju. Aku pasti akan mundur meskipun cintaku besar kepada Billy."
Tante Debora membalas genggamanku. "Tidak, Sayang. Tante tidak akan melarang kalian. Tante justru merestui hubunganmu dengan Billy. Selama ini tante terlalu egois terhadap mereka. Demi membahagiakan orang lain tante sampai lupa keluarga sendiri. Sekarang nasib tante di ambang kematian dan semua itu gara-gara orang itu, Anggie dan ibunya.
Aku tahu siapa yang dimaksud tante Debora. Orang itu pasti om Gilbert, selingkuhannya tante Debora. Aku juga tahu penyebab sampai nasib tante Debora seperti ini. Tapi kenapa tante Debora harus menyahkan Anggie dan mamamya? Apa mungkin mereka memeras tante Debora?
"Tante ingin tahu dan ingin kamu menjawab jujur."
Aku mengangguk.
__ADS_1
"Seandainya di suruh memilih, kamu akan memilih Billy atau Aaron?"
Aaron lagi. Kenapa setiap kali berbicara tante Debora selalu menyebutkan nama Aaron. Apa sebenarnya yang terjadi di antara mereka sampai-sampai tante Debora setiap menit menyebutkan nama pria itu.
"Aku akan memilih Billy, karena aku sangat mencintainya. Billy juga mencintaiku. Jadi, aku tidak mungkin menduakannya."
Tante Debora tersenyum sayang. "Seandainya kamu putus dengan Billy kemudian Aaron mengutarakan perasaannya ... apa kamu akan menerima Aaron?"
Aku tertawa. "Tante, aku tidak mungkin menjalin hubungan dengan Aaron sekalipun hubunganku dengan Billy retak."
"Kenapa? Bukankah waktu itu kalian sangat dekat. Tante melihat dia menemanimu belanja, kan?"
"Waktu itu aku diganggu sama Anggie. Wanita gila itu menghancurkan belanjaanku. Kebetulan Aaron lewat dan melihat kejadian itu. Jadi dia turun dan membantuku berbelanja. Seandainya waktu itu tidak ada Aaron, aku pasti sudah mati ketakutan karena Anggie."
Tante Debora mengusap pipiku. "Maafkan tante sudah membiarkan Anggie menyakitimu. Seandainya tante tahu kamu temannya Aaron, tante pasti tidak akan membiarkan Anggie melakukan itu terhadapmu."
"Tidak apa-apa, Tante. Lagi pula aku dan Aaron saling dekat belum lama ini. Aku kenal Aaron sudah lama, tapi interaksi secara langsung terjadi baru beberapa bulan ini. Itupun terjadi di saat Aaron mengantarkanku ke Daniel Corporation untuk wawancara. Jadi, sejak itulah aku dan Aaron menjadi dekat, walaupun Aaron selalu menjaga jarak dariku. Ada waktu-waktu tertentu Aaron bisa berbicara denganku layaknya seorang sahabat."
"Kenapa begitu?"
"Karena Aaron yang mau. Dia akan bersikap formal padaku di waktu-waktu tertentu."
"Tunggu, tante tidak mengerti. Aaron itu sahabatmu, kan? Kenapa dia harus bersikap formal padamu?"
"Itu karena Aaron ajudannya kakekku, Tante. Jadi kalau di rumah Aaron akan bersikap formal padaku. Kalau di luar rumah, aku dan Aaron seperti sepasang sahabat. Jadi kalau seperti yang Tante bilang tadi, bahwa aku dan Aaron menjalin hubungan ... aku rasa itu tidak mungkin, karena aku tidak akan tertarik kepada orang yang sudah lama kukenal."
Ekspresi tante Debora berubah serius. "Kakekmu? Apa kakekmu bernama Robbie Oliver?"
"Iya, Tante."
Secepat kilat tante Debora memelukku dan menangis. "Ya Tuhan, akhirnya Engkau mengabulkan doaku. Terima kasih, Tuhan. Terima kasih."
__ADS_1
Bersambung____