
Billy terbahak-bahak. "Sudahlah, lupakan saja."
"Kenapa?" tanyaku semakin bingung.
"Aku takut ditolak, Zuri."
"Kamu kan belum mencobanya. Coba kamu berikan hadiah secara langsung atau melalui seseorang. Dia pasti akan senang jika dia juga menyukaimu. Kalaupun dia tidak menyukainya, dengan hadiah itu pasti perasaannya akan muncul."
"Masa, sih?"
"Iya, kan wanita lebih dominan perasaan daripada logika. Jadi kami akan sangat-sangat tersentuh jika ada sosok yang tiba-tiba datang memberi hadiah atau apa saja yang bisa mewakilkan perasaannya."
"Ah, kamu seperti sudah berpengalaman saja. Kamu sendiri belum pernah berpacaran, bukan?"
Aku tertawa. "Memang, tapi aku sering mengambil pengalaman hidup dari orang lain. Coba saja kalau kamu tidak percaya. Aku yakin, dengan cara itu dia pasti akan mulai jatuh cinta kepadamu."
Billy membalikkan badan membelakangiku. Sambil mengambil sesendok nasi goreng pria itu berkata dengan sangat pelan, "Aku tidak akan melakukan apa-apa untuk mengutarakan perasaanku. Aku terlalu takut untuk ditolak."
"Kamu kan belum mencobanya."
"Lebih baik tidak. Tapi aku punya cara sendiri untuk mendapatkannya."
"Cara apa?"
"Aku akan menyuruh papa untuk menemui keluarganya lalu melamarnya secara langsung. Dengan begitu aku yakin dia maupun keluarganya pasti tidak akan menolakku."
Aku cukup terkejut dengan perkataan Billy. Apa segampang itukah seorang pria mencari pasangan hidup? Tidak melalui proses pacaran apakah bisa mereka saling mengenal satu sama lain?
"Kamu yakin ingin menikahinya?"
"Sangat yakin. Walaupun baru mengenalnya, tapi aku yakin dia memiliki pribadi yang baik."
"Bagaimana setelah menikah ternyata dia jahat?"
__ADS_1
Billy terkekeh. "Itu risiko yang harus kuhadapi. Sejahat-jahatnya perempuan kalau berpasangan dengan laki-laki yang baik, dia pasti mau berubah."
"Kalau dia tetap tidak kau berubah, bagaimana?"
Billy menghadapku lalu tersenyum. "Aku yakin dia orang yang sangat baik."
Selesai berkata begitu Billy segera pergi meninggalkanku. Pria itu pergi ke ruang makan kemudian menikmati nasi goreng yang sudah diambilnya. Aku tak bisa berkata apa-apa selain tersenyum. Apa seperti inikah sulitnya hidup orang yang kaya raya? Walaupun hidup serba ada, tapi tidak semuanya bisa mereka lakukan. Contohnya Billy. Pria-pria muda seumuran dia pasti sudah memanfaatkan uang demi mendapatkan wanita. Tapi pria yang baru saja kukenal beberapa hari ini ternyata berbeda dengan pria-pria lain. Billy tidak sembarangan memilih wanita untuk dikencaninya. Bahkan bisa dibilang dia tidak pernah mengencani wanita. Namun begitu menemukan wanita yang berhasil menggerakan hatinya, tanpa berpacaran pun Billy ingin segera melamar wanita itu. Aku jadi penasaran dan ingin tahu tipe seperti apa wanita itu, yang telah berhasil merebut hati Billy walaupun tidak dengan sebuah ikatan.
***
Sudah seminggu berlalu aku menjadi juru masak untuk Billy dan papanya. Karena hari ini bahan makanan sudah habis, aku akan pergi ke pusat perbelanjaan membeli sayuran, buah untuk tiga hari ke depan.
"Kamu mau ke mana, Zuri? " tanya om Jacky begitu melihatku mendekati tangga.
Saat ini aku sudah siap pergi berbelanja. Celana panjang ketat berwarna hitam serta kaos hitam menjadi andalanku setiap kali ingin bepergian. Karena cuaca panas aku juga mengenakan topi hitam dan sepatu flat berwarna cokelat.
"Aku mau belanja bahan makanan, Pa."
Saat ini om Jacky baru saja turun dari tangga. Tubuh yang atletis dan wajah tampan sangat enak dipandang dengan balutan kemeja hitam dan celana jins biru.
"Pa, boleh tidak jika aku di sini saja? Aku belum malu bertemu keluarga Daniel yang lain. Biar bagaimanapun aku hanya bawahan di sini."
"Nenek sendiri yang mengundangmu. Ini kesempatanmu untuk mengenal semua anggota keluarga Daniel."
"Apa istri Papa juga ada? Aku takut bertemu dengannya."
"Kenapa harus takut? Santai saja. Lagi pula bukan urusannya mencaritahu siapa dan apa tugasmu sebagai asisten papa."
Aku hanya berdiri dan tak menjawab.
"Pokoknya pukul tujuh malam nanti kamu akan dijemput Billy. Oh iya, uang belanjanya sudah ditransfer oleh Billy, kan?"
"Sudah, Pa."
__ADS_1
Walaupun jumlah saldo dalam kartu tersebut masih banyak tapi kemarin tambahan saldo yang totalnya lima bulan uang jajanku sudah masuk melalui notifikasi pesan di ponselku. Karena aku yang memegang kendali atas kartu tersebut, Billy membuat sms banking menggunakan kontak teleponku. Jadi tanpa harus menunggu pemberitahuan dari Billy aku sudah bisa tahu jumlah yang masuk karena pesan dari sms banking.
"Papa pergi dulu, kalau butuh sesuatu hubungi saja papa."
Selepas mengatakan itu om Jacky segera berlalu. Ya Tuhan, betapa senangnya aku memiliki papa seperti om Jacky. Seandainya papaku ada bersama kami, aku ingin sikap papa seperti om Jacky yang selalu memberikan perhatian kepada keluarganya. Namun sayangnya itu tidak mungkin. Seandainya papaku seperti om Jacky dia pasti tidak akan meninggalkan mama dan aku.
Tak berapa lama om Jacky pergi aku juga segera pergi menuju tempat tujuanku. Karena sudah lama tidak mengunjungi kakek aku juga berencana ingin berkunjung ke sana. Aku ingin memberi kakek kejutan. Sebelum berbelanja aku mengemudikan mobil ke rumah kakek. Di sana aku bertemu dengan para pelayan yang selalu ramah serta pria dingin yang selalu tampak cuek. Siapa lagi kalau bukan Aaron.
"Kakek mana? Aku ingin bertemu kakek."
Seperti biasa Aaron menjawabnya dengan ciri khas seorang ajudan. "Tuan sedang tidur dan tidak bisa diganggu."
Ingin marah tapi itu sudah tugasnya. "Apa aku tidak boleh mengganggunya?"
"Maaf, Nona. Tapi beliau baru lima belas menit yang lalu masuk ke kamar. Jika Anda menemui tuan sekarang, itu sama saja Anda mengganggu istirahat beliau."
Dengan kesal akupun menjawab, "Baiklah, Pak Dokter. Kalau begitu aku akan kembali. Begitu kakek bangun sampaikan, bahwa aku ingin menemuinya."
Tak menunggu jawaban Aaron aku segera keluar dan mengendarai mobil menuju pusat perbelanjaan. Di sana semua sayuran dan buah sudah tersedia dan masih sangat segar. Walaupun tahu om Jacky sangat menyukai sayuran, aku membeli hanya sedikit saja. Apalagi hari ini aku tidak akan memasak. Kalau tersimpan lebih lama segarnya nanti hilang walaupun sudah disimpan di dalam lemari es. Tidak masalah setiap hari aku harus turun dari lantai paling atas untuk membeli sayuran segar. Yang penting kualitas masakanku tetap terjaga dan membuat om Jacky dan Billy berselera.
Setelah semuanya selesai baik dari sayuran, buahan, gading, ayam dan ikan, aku pun segera kembali ke mobil untuk menaruh semua barang belanjaanku. Namun saat aku hendak memasukan kantong terakhir ke dalam bagasi mobil, tiba-tiba seseorang datang dan membuang semua belanjaanku. Aku sangat terkejut melihat semua sayuran, buah dan daging yang kubeli taru berhamburan di atas jalan.
"Hei! Apa-apaan kamu, hah? Kenapa kau membuang semua ini? Kau tidak takut jika kuadukan perbuatanmu kepada tuan Jacky, hah?"
"Aku tidak takut. Lagi pula dia sudah bukan bosku lagi."
Zet!
Apa maksud Anggie berkata begitu?
"Ini akibatnya jika kau berurusan denganku, Wanita nakal!"
Bersambung___
__ADS_1