My Devilish Daddy

My Devilish Daddy
Bertemu Anggie Lagi.


__ADS_3

Anggie yang tadinya sedang bicara dengan anak itu segera menatapku. Ekspresinya sangat sedih dan khawatir. "Aku tidak sengaja melihat anak ini. Sepertinya dia sakit, Zuri."


"Iya, kakaknya juga bilang begitu padaku."


Tanpa berpikir apa-apa lagi aku segera mendekati anak perempuan itu. "Dek, apa kamu lapar? Kamu ingin makan sesuatu?"


Anak itu mengangguk.


"Kalau begitu tunggu di sini. Jaga dia Anggie, aku akan kembali ke super market untuk membeli makan dan minum."


"Cepat kembali Zuri."


"Iya."


Dengan langkah sedikit berlari aku kembali ke super market. Aku mengambil beberapa roti isi dengan varian rasa, susu dan beberapa makanan ringan.


Drtt... Drtt...


Ponselku bergetar dan aku langsung meraihnya dari kantong celana yang kupakai. Kulihat nama Billy terpampang di sana. Tanpa berpikir lagi aku segera menggeser tombol hijau lalu menyapanya, "Halo, Billy?"


"Sayang, kamu di mana? Aku mencarimu di apartemen, tapi tidak ada."


Aku tersenyum sambil mendorong troli ke kasir. "Aku lagi jogging."


"Kenapa tidak mengajakku, hah? Mau tebar pesona, ya?"


Aku tertawa. "Aku tidak ingin mengganggu tidurmu. Tidurmu pasti sangat nyenyak."


"Jangan menggodaku. Sekarang kamu di mana, aku akan menyusulmu ke sana?"


Seandainya tidak ada Anggie, aku pasti akan menceritakan soal apa yang aku lakukan sekarang dan anak yang bertemu denganku tadi kepada Billy. "Tidak usah, Billy. Sebentar lagi aku selesai dan langsung kembali. Kamu tunggu di apartemen, ya?"


"Tidak, aku ingin menyusulmu."


"Aku sudah hampir sampai, kok. Tunggu aku, ya? Aku ingin kamu melakukan hal yang sama seperti semalam."


"Benarkah? Kamu suka?"


"Suka sekali. Mengingat itu membuat celanaku basah."


"Kalau begitu cepatlah, aku akan membuatmu semakin basah."


Tanpa berkata apa-apa lagi aku segera memutuskan panggilan. Tepat di saat itu antrian di kasir sudah giliranku. Untung saja tadi waktu bicara dengan Billy dia tidak mendengar suara berisik, kalau tidak pria itu pasti akan bertanya.


Aku tidak ingin Billy menyusulku ke sini. Aku tidak ingin Billy bertemu Anggie. Bukan karena cemburu, masalah perjodohan waktu itu membuat Billy sangat membenci Anggie. Belum lagi dengan masalah konspirasi antara tante Debora dan Anggie. Billy pasti akan salah paham jika melihat aku dan Anggie bersama.


Setelah pembayaran selesai aku langsung berlari ke lokasi tadi sambil membawa kantong plastik berisi makanan. "Ini minuman dan makanannya. Kau beri dia makan dulu dan lihat perubahannya. Aku rasa dia sakit karena belum makan. Kata Dave adiknya belum makan sejak kemarin."

__ADS_1


Anggie duduk di samping anak perempuan yang kini sedang terbaring lemas. "Iya, tapi ada baiknya kita bawa dia ke rumah sakit untuk diperiksa. Bisa kau bantu aku, Zuri? Aku tidak mungkin membawa anak ini sendirian."


Bagaimana ini? Billy pasti sudah menungguku. Mana sebentar lagi aku harus membuat sarapan.


Anggie melihat kekhawatiranku. "Kumohon, Zuri. Kau hanya mengantarku saja, setelah itu kau bisa kembali dan meninggalkanku di sana. Kalau ingin pulang kau juga bisa mengendarai mobilku, biar aku yang mengambilnya sendiri."


"Baiklah, tunggu sebentar. Aku harus menghubungi Billy atau om Jacky biar mereka tidak mencariku."


"Iya."


Sambil menempelkan ponsel di telinga aku menatap wajah Anggie yang terlihat sedih. Ternyata di balik sikapnya yang gila wanita ini memiliki hati yang lembut.


"Halo, Sayang. Kamu di mana, katanya kamu sudah dekat?"


Aku tidak menjauh agar Anggie bisa mendengar pembicaraanku. "Iya, dan baru saja aku bertemu dengan anak kecil yang membutuhkan bantuanku. Aku menghubungimu karena ingin memberitahukan hal ini."


"Kamu di mana sekarang? Aku akan ke sana membantumu."


"Tidak perlu, Billy. Terima kasih. Aku dan salah satu wanita di sini sudah bersama anak ini. Kami berdua akan membawanya ke rumah sakit. Aku tidak akan lama, begitu kembali aku akan langsung membuatkan sarapan untuk kalian."


"Baiklah, hati-hati."


"Terima kasih, Billy."


Aku sengaja tidak menunjukkan kemesraan agar Anggie tidak cemburu. Biar bagaimana pun wanita ini memiliki rasa kepada Billy. Meskipun Billy tidak menyukainya, aku tidak ingin menyakitinya.


"Ayo, Anggie."


"Iya. Ayo, di mana mobilmu?"


"Di sana. Kamu peluk anak ini, biar aku yang mengemudi."


Aku setuju. "Dave, ayo ikut bersama kami."


Sambil membawa kantong plastik Anggie mengajakku ke area parkiran di mana mobilnya sudah terpakir. Anggie kemudian membukakan pintu samping agar aku bisa masuk. Dave duduk di belakang. Sedangkan aku di depan bersama Anggie sambil memangku anak perempuan yang tidak tahu namanya siapa.


"Dave, nama adikmu siapa?"


"Deva, Nona."


Aku menatap anak itu. "Deva, kamu belum makan, ya? Kak Zuri siapun roti mau?"


Deva memelukku erat-erat. "Kenapa, Deva?"


Anggie menyalahkan mesin mobil kemudian beranjak dari sana. "Tadi juga dia seperti itu padaku. Mungkin ada sesuatu yang membuatnya takut."


Aku menjadi kasihan. "Ada apa, Deva? Apa yang membuat Deva takut, hah? Ayo, bicara sama kakak."

__ADS_1


Deva tidak mau bicara sampai akhirnya Dave berkata, "Deva takut ke rumah sakit. Lebih baik antarkan kami saja ke rumah tante."


Aku menoleh. "Tantemu? Apa kamu tahu alamat rumah tantemu?"


"Iya."


"Anggie, kau dengar itu?"


Anggie melirik ke arah spion. "Di mana rumah tantemu, Dave?"


Dave menunjukkan jalannya. Sebagai orang yang sudah lama di kota ini Anggie jelas tahu tempat itu di mana. Sementara aku yang masih baru merasa tidak enak saat Anggie membelokkan mobil ke sebuah jalan sempit dan sangat sepi. Jalan itu jauh dari aktivitas kota dan keramaian.


"Dave, tantemu tinggal di daerah sini?" tanyaku penasaran.


"Iya."


Kulihat di sekeliling jalan itu terdapat banyak pohon dan tanaman liar serta semak belukar. "Apa kalian tidak takut tinggal di hutan seperti ini?"


Dave tidak menjawab. Mungkin itu sebabnya dia menjadi pengemis di pusat kota demi bertahan hidup. Aku jadi penasaran tentang wujud dan rupa tantenya Dave yang bisa hidup di tempat seperti ini.


"Zuri, jam berapa sekarang?"


"Jam tujuh," jawabku dengan hati gelisah. Seharusnya sekarang aku sudah di dapur untuk membuat sarapan.


"Bukankah kau juru masak om Jacky, apa dia tidak akan marah jika dia tahu kau tidak membuatkannya sarapan pagi ini?"


"Itu dia yang aku khawatirkan, Anggie. Aku tadi meminta ijin pada Billy untuk rumah sakit. Dia pasti sudah menungguku sekarang."


"Maafkan aku, Zuri. Seandainya tidak ada kau, betapa mengerikannya aku sendirian melewati jalan seperti ini."


"Mungkin sudah jalannya kau dipertemukan denganku pagi ini."


Anggie tersenyum lebar. "Sebaiknya kau telepon Billy biar dia tidak khawatir dan menunggumu. Beritahu dia bahwa kita tidak jadi ke rumah sakit."


"Kau benar. Dia pasti akan menyusulku ke rumah sakit jika berapa jam lagi aku belum kembali."


Saat menatap layar aku terkejut melihat tanda silang di pojok kanan ponsel. "Gawat, jaringannya tidak ada."


Anggie meraih ponselnya. "Benar, di sini tidak ada jaringan."


Bagaimana ini? Billy pasti akan mencariku ke rumah sakit jika tahu teleponku tidak aktif.


"Dave, apa rumah tantemu di sana?"


Aku terkejut mendengar pertanyaan Anggie.


"Iya."

__ADS_1


Kulihat rumah mewah yang di kelilingi berbagai macam tanaman hias. "Apa aku tidak salah lihat, di tengah hutan ada rumah semewah ini?"


Bersambung___


__ADS_2