My Devilish Daddy

My Devilish Daddy
Mengenal Mama.


__ADS_3

Tak mau ingin om Jacky dan Billy menunggu lama aku segera membawa nampan yang berisi segelas teh melati dan dua gelas hot cokelat untuk aku dan Billy. Sebenarya aku tidak tahu Billy ingin minum apa. Kebetulan aku membuat hot cokelat, sekalian saja aku buatkan juga untuk Billy.


Dengan senyum lebar aku memasuki ruang tamu di mana ada Billy sedang berbincang dengan om Jacky. Melihat kedua wajah laki-laki ini membuatku merasa bangga. Pertama mendapatkan pacar yang tampan. Kedua mendapatkan calon papa mertua yang tampan juga. Walaupun sebenarnya aku lebih senang jika om Jacky menjadi sambungku.


"Halo, Pa," sapaku ramah.


Om Jacky tersenyum lebar. "Halo, Sayang. Maaf sudah merepotkanmu."


"Tidak masalah, Pa," aku meletakkan cangkir teh di depan om Jacky. Aku juga meletakkan satu gelas hot cokelat di depan Billy, "Ini untukmu."


"Terima kasih."


Setelah mengambil posisi di samping Billy aku menatap om Jacky yang juga sedang menatapku. Ekspresinya terlihat serius.


"Papa ke sini karena ada satu hal yang ingin papa bicarakan denganmu, Zuri."


"Soal apa, Pa?"


"Bulan depan tanggal 15 kakek buyut ulang tahun. Jika tidak keberatan, kami dari pihak keluarga ingin mengundang mamamu untuk menghadiri acara itu."


Tanggal 15? ulangku dalam hati. Sekarang sudah tanggal 25, itu artinya tinggal 20 hari lagi. "Apa kehadiran mama penting sekali, Pa?" tanyaku skeptis, "Maaf, bukannya apa. Aku khawatir mama tidak bisa hadir karena sibuk. Biasanya tanggal 20 sampai tanggal 28 mama sangat sibuk."


"Papa mengerti, Sayang. Setiap pimpinan pasti akan sibuk di tanggal-tanggal seperti itu. Namun ini permintaan kakek buyut langsung. Kamu masih ingat kan tadi papa dipanggil menghadap kakek buyut? Itu karena kakek buyut ingin papa mengatakan ini kepadamu. Beliau ingin di hari spesialnya bisa bertemu dengan mamamu."


Seketika pikiranku merambat. Apa jangan-jangan kakek buyut sudah mau meninggal sampai beliau ingin bertemu mama? Bukannya menyumpahi. Tapi untuk apa kakek buyut ingin bertemu mamaku, sedangkan beliau belum mengenal mama.


"Boleh aku tahu kenapa kakek buyut ingin bertemu mama, Pa?"


"Kakek ingin mengenal mamamu lebih dekat. Tidak hanya kakek buyut, kami semua juga ingin mengenal mamamu secara langsung."


Alasan. Pasti ini ada sangkut pautnya dengan hubunganku bersama Billy. Kulirik pria di samping yang sedang menatapku dengan ekspresi menahan tawa. Tidak salah lagi, kakek buyut pasti ingin bertemu mama karena hubungan asmara kami. Aku tidak marah karena inilah yang kuinginkan.


"Oh iya, selama ini papa tidak pernah bertemu kakekmu. Kalau ada waktu besok atau lusa apa bisa papa bertemu kakekmu? Kakek ingin mengenal keluargamu lebih dekat."


"Tentu saja, Pa. Kapan Papa ada waktu katakan saja. Tapi kalau bisa sehari sebelumnya, biar aku akan memberitahukannya terlebih dulu kepada kakek. Takutnya kalau kita pergi mendadak kakek tidak ada di rumah."


"Memangnya kakekmu ke mana?"

__ADS_1


"Kakek biasa standbye di rumah sakit dari pagi sampai siang. Ada kalanya kakek di tempat prakteknya membuat obat."


"Kakekmu apoteker?"


"Iya, Pa."


Ekspresi om Jacky sedikit berubah. "Bisa papa tahu nama kakekmu siapa?"


"Namanya Robbie Oliver. Apa Papa mengenalnya? Kakek adalah pemilik rumah Oliver Hospital dan Apotik Oliver."


"Papa mengenal kakekmu. Tapi setahu papa beliau tidak punya anak. Eh, maksud papa beliau tidak pernah menikah. Kenapa beliau bisa punya cucu secantik kamu?"


Aku tersenyum. "Kakek Robbie pamannya mama. Aku sudah terbiasa memanggilnya dengan sebutan kakek sejak kecil."


Ekspresi om Jacky sangat terkejut. "Bisa kamu sebutkan nama mamamu siapa?"


"Abigail Oliver."


Om Jacky terdiam sangat lama. Hal itu tentu saja membuatku dan Billy merasa bingung.


"Ada apa, Pa? Apa Papa mengenal mamanya Zuri?"


Om Jacky meraih gelas berisi teh kemudian menyesapnya. Setelah meletakkan kembali gelas itu om Jacky menjawab pertanyaanku, "Iya, papa mengenal mamamu."


Hatiku rasanya bahagia. Ternyata om Jacky mengenal mamaku. "Apa mama juga mengenal Papa?"


"Tentu saja. Tapi ada baiknya kamu jangan menceritakan soal papa kepadanya."


"Kenapa?" tanyaku dengan bingung.


Billy juga sama bingungnya denganku. "Memangnya kenapa, Pa?"


"Papa takut mamamu tidak akan ke sini jika tahu papa dan keluarga papa yang mengundangnya. Apa mamamu tahu kamu bekerja di perusahan papa?"


"Iya mama tahu. Tapi aku tidak pernah bilang kalau selama ini aku bekerja di Daniel Corporation."


Billy terkejut. "Kenapa?"

__ADS_1


"Mama tidak pernah bertanya. Jadi aku juga tidak pernah bilang."


Om Jacky tersenyum sayang. "Papa tak menyangka jika kamu ini adalah anaknya Abigail. Lalu, bagaimana keadaan mamamu sekarang? Bisa kamu berbagi kontak mamamu dengan papa? Papa ingin bicara dengannya. Sudah lama papa tidak pernah tahu tentangnya sejak mamamu lulus kuliah."


Aku semakin senang mendengarnya. Itu artinya aku dan keluarga Daniel tidak akan pernah terpisahkan sampai selamanya. Aku berharap om Jacky bisa bertemu mama dan membicaraan soal hubunganku dengan Billy. Kalau tidak, aku ingin om Jacky mendekati mama untuk menggantikan posisi tante Debora.


Dalam hati aku tertawa. Ya Tuhan, jahat egois sekali aku ini. Di satu sisi aku ingin om Jacky pisah dengan tante Debora agar bisa menjadi papa sambungku tanpa memperdulikan perasaan Billy terhadapku. Walaupun bisa bersama suatu saat nanti, tapi belum tentu sikap Billy akan sedekat ini padaku jika status kami menjadi kakak-beradik.


"Aku akan memberikannya, tapi kumohon Papa jangan beritahu mama kalau aku yang memberikannya."


"Tenang saja. Papa mengerti, Sayang. Seperti yang papa bilang tadi, takutnya jika papa memberitahu soal keterikatan kita berdua mamamu akan marah dan tidak jadi ke sini. Jadi ada baiknya kita sembunyikan hal ini darinya, biar pas ke sini dia akan dikejutkan dengan kabar itu."


"Marah?" tanya Billy, "Memangnya alasan apa sampai mamanya Zuri harus marah kepada Papa?"


Pertanyaan Billy mewakilkanku. Kutatap ekspresi om Jacky yang sejak tadi terlihat sangat bahagia. Padahal sebelum itu mimik wajah om Jacky sangat terkejut ketika aku menyebutkan nama mama.


"Kalian anak kecil tidak perlu tahu. Zuri, berikan kontak mamamu kepada papa, malam ini papa ingin menghubungi mamamu dan bicara panjang lebar."


Tanpa menunggu lama aku segera menyebutkan dua belas angka itu kepada om Jacky.


"Baiklah. Kalian di sini saja, papa akan kembali ke apartemen. Papa akan menghubungi mama kalian dan ingin bicara panjang lebar bersamanya."


Tanpa berkata apa-apa lagi om Jacky segera berlalu meninggalkan kami. Aku dan Billy saling bertatap dengan ekspresi masing-masing.


"Papaku jadi aneh begitu setelah mendapatkan kontak mamamu kenapa, ya?


Aku terkekeh. "Mungkin mereka bersahabat waktu kuliah. Biarkan saja, bukankah kamu senang itu terjadi?"


Billy menarikku ke atas pangkuannya. "Tentu saja aku senang. Semoga saja mamamu akan merespon panggilan papa malam ini. Aku berharap papa segera mengutarakan keinginananya untuk melamarmu menjadi menantu keluarga Daniel."


Aku terkejut. "Memangnya papa tahu soal hubungan kita?"


"Jangankan papa, nenek Lisa, kakek Theo, kakek buyut, bibi dan tante Ellena juga tahu soal itu."


Lagi-lagi aku terkejut. "Sejak kapan?"


"Itu tidak penting. Yang terpenting sekarang kamu akan segera menjadi milikku sepenuhnya."

__ADS_1


Bersambung___


__ADS_2