My Devilish Daddy

My Devilish Daddy
Sosok yang Menyukai Billy.


__ADS_3

Tepat di saat itu dering ponsel om Jacky berbunyi. Beliau segera meraih benda tersebut dari saku jas kemudian menatap layar. Kulihat ekspresinya sangat serius. Ternyata yang menelepon itu adalah dokter keluarga Daniel. Om Jacky memerintahkan Billy untuk menjemput sang dokter.


"Seharusnya Papa tidak perlu melakukan ini. Aku tidak apa-apa dan pasti tidak apa-apa," kataku begitu tersisa om Jacky dan aku di ruangan tersebut, "Hal ini hanya membuang-buang waktu Papa saja. Papa kan banyak pekerjaan di kantor."


"Kesehatanmu lebih penting. Kalau tidak penting, untuk apa papa ke sini saat mendengarmu menangis."


Rasa bahagia dalam hatiku semakin meluap, mendengar perkataan hangat om Jacky. Orang yang sama sekali tidak memiliki hubungan darah denganku, tapi begitu peduli dan sangat menyayangiku. Pantas saja Billy lebih memilih tinggal bersama papanya di banding ibunya. Om Jacky adalah sosok papa yang bertanggung jawab. Beliau orang yang baik dan sangat berwibawa. Aku terharu melihat kepedulian om Jacky. Walaupun banyak pekerjaan yang harus dilakukan, beliau rela meninggalkan tanggungjawabnya demi melihatku. Bisa kubayangkan betapa bahagianya aku jika memiliki papa kandung seperti om Jacky.


***


Setelah pemeriksaan berakhir, om Jacky menyuruh bibi untuk datang menemaniku. "Malam ini kamu tidak usah masak. Nanti Billy akan memesan makanan di restoran langganan jika kalian ingin makan sesuatu."


"Pa, aku tidak apa-apa. Memasak itu tanggungjawabku. Aku harus memasak makan malam untuk Papa dan Billy."


Saat ini kami bertiga sedang duduk di ruang tengah. Saat memeriksa keadaanku om Jacky dan Billy menunggu di ruang tengah.


"Papa ada pertemuan dengan nenek malam ini. Billy dan bibi akan menjagamu di sini."


"Kamu dengar, kan?" tambah Billy, "Aku dan papa harus kembali ke kantor. Nanti kalau butuh sesuatu telepon saja aku."


Aku pun tak bisa berkata apa-apa. Sumpah, aku merasa seperti punya papa dan saudara. Ya Tuhan, apa sebahagia inikah memiliki keluarga yang lengkap? Sejak kecil aku hanya menyaksikan setiap kali ada interaksi antara papa dan anak. Aku iri setiap kali melihat teman-temanku di peluk dan di cium oleh papa mereka. Namun sekarang ... walaupun hanya perhatian kecil, tapi hal itu sangat membahagiakan bagiku. Hal yang tidak pernah kurasakan sebelumnya kini kudapatkan lewat lelaki yang tak lain adalah atasanku sendiri. Lelaki yang baru beberapa hari mengenaliku, tapi sudah berani mempercayai dan memberikanku kasih sayang. Terima kasih, Tuhan. Terima kasih Engkau telah membawaku ke kota ini hingga bertemu om Jacky. Terima kasih karena aku bisa merasakan kebahagiaan ini walau hanya sesaat. Seandainya tidak bertemu om Jacky, mungkin selamanya aku tidak akan pernah merasakan kasih sayang seperti ini.


"Non?"

__ADS_1


Suara bibi mengejutkanku. "Sejak kapan Bibi berdiri di sana?"


"Baru saja, Non. Bibi sempat bertemu tuan Jacky dan tuan Billy di depan. Kata mereka bibi harus mengawasi Nona Zuri agar tidak memasak malam ini."


Aku tersenyum lalu mengajak bibi duduk. "Tuan Jacky dan tuan Billy terlalu berlebihan. Aku tidak apa-apa, Bi. Sudah seharusnya juga aku melaksanakan tugasku."


"Tidak masalah, Non. Tuan Jacky dan tuan Billy benar, Nona harus istirahat sampai benar-benar sembuh. Ngomong-ngomong Nona Zuri tadi kan jatuh di kamar mandi. Bagaimana kalau bibi pijat seluruh tubuh Nona Zuri agar tidak terjadi sesuatu di masa mendatang? Takutnya di masa depan Non akan merasa sakit akibat kejadian tersebut."


"Aku memang ceroboh, Bi. Dan ini bukan pertama kalinya terjadi."


"Apa Non Zuri sudah pernah dipijat sebelumnya?"


"Belum, Bi. Karena tidak sakit aku tidak meminta mama untuk mencarikan tukang pijat."


Jujur aku memang merasakan sakit yang luar biasa di bagian bokong. Hanya saja aku tidak enak mengatakan hal itu kepada om Jacky karena takut beliau khawatir. Bersikap baik-baik saja sudah membuat beliau panik, apalagi jika aku jujur bahwa tubuhku terasa sakit. Aku tidak mau merepotkan mereka, apalagi sampai membuat om Jacky dan Billy khawatir. Meski tidak masuk akal, tapi aku yakin mereka bersikap seperti itu karena aku telah membuatkan bubur dan ayam bakar yang enak untuk mereka. Aku harus tahu diri. Aku hanya orang lain yang kebetulan menumpang profesi demi sesuap nasi. Jadi aku tidak boleh manja apalagi berharap untuk bergabung bersama mereka. Aku hanya asisten. Asisten atau juru masak untuk om Jacky dan Billy. Aku ke sini untuk mencari uang dan pengalaman, bukan mencari lelaki untuk dijadikan papa ataupun calon suami.


"Non, bagaimana soal puding itu? Apa tuan Jacky memakannya?" tanya bibi sambil memijat kakiku dengan almond oil. Aku sengaja memberikan oil itu kepada bibi agar tubuhku tidak terlalu berminyak. Di samping itu almond oil adalah salah satu prodak yang membuat tubuhku menjadi halus dan lembut. Saat ini aku dan bibi berada di kamarku, di atas ranjang, menghadap langit-langit kamar dengan kaki ditengkuk dan sedikit mengangkang. Karena bibi ingin memijat seluruh badan, aku terpaksa mengenakan kain untuk menutupi sebagian tubuhku.


"Bibi pasti tidak akan percaya kalau tuan Jacky memakan puding itu. Bahkan hampir habis lho, Bi."


"Serius, Non?"


"Iya, Bi. Kan rencana aku tidak ingin makan siang bersama mereka. Ternyata om Jacky tidak setuju dan menyuruh tuan Billy memanggilku. Begitu kami tiba di ruang makan, aku dan tuan Billy memerkogi tuan Jacky sedang asik memakan puding itu. Karena ketahuan tuan malah tertawa dan menawarkannya kepada kami berdua."

__ADS_1


Bibi tertawa.


"Aku rasa penilaian soal tuan Jacky trauma dengan puding tersebut mungkin tidak benar. Buktinya tuan memakan puding buatanku, hampir tak tersisa malah."


"Aneh sih, Non. Kalau memang tidak, lantas kenapa puding buatan nyonya Lisa tidak pernah disentuh sama sekali?"


"Iya juga, sih. Tapi kita berpikir positif saja, mungkin di saat itu tuan Jacky memang tidak ingin memakannya."


Si bibi tersenyum kemudian mengalihkan pembicaraan. "Non, seandainya Nona Zuri berjodoh dengan tuan Billy, bagaimana? Apa Non mau menjadi anggota keluarga Daniel?"


Aku terkejut tapi juga merasa lucu. "Bibi ini bicara apa? Mana mungkin aku bisa menjadi anggota keluarga terkaya di kota ini. Lagi pula tuan Billy sudah seperti adikku, mana mungkin pria seperti tuan Billy mau kepada gadis lebih tua dan hanya juru masak seperti aku."


"Tapi kan jodoh kita tidak tahu, Non. Siapa tahu karena menjadi juru masak Nona Zuri akhirnya berjodoh dengan tuan Billy."


Aku tertawa mendengar itu. "Kenapa Bibi bisa berpikir seperti itu? Apa karena perhatian tuan Jacky dan tuan Billy kepadaku Bibi berkesimpulan seperti itu?"


"Salah satunya karena itu. Kedua karena tuan Billy tidak seperhatian ini kepada lawan jenis. Selama ini tuan Billy sangat menjaga jarak dengan lawan jenis. Tidak tahu kenapa, yang jelas Nona Zuri gadis pertama yang sangat dekat dengan tuan Billy. Bahkan nona Anggie berkali-kali melakukan sesuatu untuk mendekati tuan Billy, tapi sering ditolak."


"Nona Anggie? Maksud Bibi nona Anggie sekertarisnya tuan Jacky?"


"Iya, Non. Nona Anggie itu sangat menyukai tuan Billy, tapi beliau sama sekali tidak mau kepadanya."


Bersambung_____

__ADS_1


__ADS_2