
Ekspresi Debora menegang. Tubuhnya terpaku.
"Aaron ....?"
"Aku akan menceritakannya di sini. Sebaiknya kamu cepat datang."
"Iya, aku akan segera ke sana."
Dengan cepat Debora memutuskan panggilan. Ia berdiri melewati Gilbert.
"Mau ke mana kau? Tadi kamu menyebutkan nama Aaron, Aaron kenapa?"
"Mereka berdua kecelakaan. David, antar aku ke Oliver Hospital sekarang."
"Baik, Nyonya."
Debora melangkah laju diikuti David di belakangnya yang tak kalah cepat.
Tanpa bertanya lagi Gilbert pun segera mengikuti mereka. "Bagaimana keadaan Billy?!" terlihat ekspresi di wajahnya sangat khawatir, "Aku ikut denganmu, aku ingin tahu keadaan mereka."
Debora terdiam. "Kau jangan menambah masalah, Gilbert. Kau tunggu di sini saja, aku akan mengabarimu."
"Aku ingin melihat Billy, Debora."
"Sebaiknya kau dengarkan aku."
Tanpa menunggu jawaban Gilbert, Debora bergegas menuju garasi mobil.
Gilbert yang hanya bisa menurut, mau tidak mau diam dan melihat mobil Debora melaju melewati halaman besar.
"Ya Tuhan, jaga putraku. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya."
Ucapan Gilbert terdengar tulus, bahkan matanya berkaca-kaca saat mengucapkan itu.
"Ada apa, Om?"
Suara wanita mengejutkan Gilbert. Lelaki itu berbalik menatap sosok yang ternyata adalah Anggie.
"Billy ... Billy dan Aaron kecelakaan, Anggie."
"Apa?! Bagaimana keadaan Billy, Om? lalu ... Kenapa mereka sampai celaka? Apa yang terjadi?"
Gilbert tahu Anggie sangat mencintai Billy. Tak peduli ibunya bersahabat dengannya, Gilbert tak pernah merestui hubungan Anggie dengan Billy. Gilbert dan Stella selalu bekerja sama untuk memeras Debora, sebab itu Gilbert tidak akan pernah mau putra semata wayangnya memiliki keturunan dari wanita seperti Stella.
Seandainya bukan ide Stella menghancurkan rumah tangga Debora dengan suami pertamanya, keluarga itu pasti tidak akan berantakan seperti ini.
__ADS_1
Gilbert merasa beruntung bisa berkonspirasi dengan Stella, dia bisa menikmati kekayaan tanpa harus bekerja keras dan memiliki putra tampan dari wanita yang dicintainya. Namun, ini lah yang terjadi, hidupnya tidak aman, hubungannya dengan Billy pun seperti orang asing.
"Aku juga belum tahu, Debora belum menceritakannya. Menurut informasi Billy tidak apa-apa. Ayo, sebaiknya kita bicara di dalam saja."
Anggie menurut. Mereka mengambil ruang tamu sebagai tempat berbagi. Meskipun tidak ingin Anggie menjadi istri dari putranya, Gilbert tidak pernah merahasiakan segala sesuatu pada gadis itu maupun ibunya. Bagi Gilbert mereka seperti keluarga.
Meskipun menjerumuskan ke hal yang tidak baik, Gilbert merasa berhutang budi pada Stella, wanita itu sudah memperkenalkan dirinya dengan Debora.
"Semalam Billy menginap di sini, ada masalah yang membawanya dan mengharuskan dia tidur di sini."
"Billy menemui tante Debora?" Anggie tersenyum heran, "Apa aku tidak salah dengar? Masalah apa yang membawanya ke sini, Om?"
Gilbert duduk di depannya. "Dia melihat Jack dan calon mertuanya di apartemen. Yang membuatnya frustasi, Jack bilang padanya, calon mertuanya itu adalah calon ibu sambungnya."
Anggie bingung. "Calon mertua Billy, maksud Om Gilbert mamanya Zuri?"
Gilbert menganguk. "Billy mengetahui hubungan mereka. Itulah alasan membawa Billy sampai ke sini."
"Calon mertua ... apa mereka akan menikah? Apa tante Debora tahu soal ini?" terlihat wajah Anggie sangat tidak enak.
Dalam hal lain Gilbert dan Debora tidak pernah merahasiakan apa pun pada Stella dan Anggie. Namun, kali ini ada pengecualian soal hubungan Billy dan Zuri.
Bagi Gilbert Debora benar, dia tidak ingin hidup mereka terus-terusan di manfaatkan oleh Stella. Layaknya mobil yang selalu dikendalikan oleh driver-nya. Jadi, diam-diam Debora dan Gilbert menyetujui ide Jacky untuk menikahkan Billy dengan Zuri.
Lagi pula Gilbert yang paling tahu atas apa yang sudah dialami Debora saat ini. Awalnya belum ada cinta yang timbul dalam diri Gilbert terhadap Debora, begitu Billy lahir semuanya berubah. Namun, ia harus bersikap seolah-olah perubahan itu tidak ada demi menarik perhatian Stella. Ia tidak ingin wanita itu membongkar semuanya.
"Iya, Anggie, Billy dan Zuri akan menikah. Hari ini mereka akan bertemu designer, tapi sesuatu terjadi pada Billy."
Anggie marah. "Aku tak menyangka tante Debora jahat padaku, Om Gilbert. Dia sudah berjanji akan menjodohkan Billy denganku. Sekarang ...," dada Anggie naik turun, "Kecelakan ini adalah akibat dari perbuatan tante Debora sendiri, dia sudah mengkhianatiku dan lihat ... apa yang terjadi pada putra-putranya."
Gilbert diam, seolah-olah membenarkan apa yang diucapkan Anggie. Dia juga membenarkan argumen pengkhianatan yang dilakukan Debora, tapi ia tidak mau wanita dan putranya ditindas oleh wanita busuk seperti Anggie.
"Pernikahan ini keinginan Jacky, dia ingin Billy menikahi Zuri."
"Gadis itu ... Aku jadi penasaran, apa yang dia pakai sampai semua keluarga Daniel menyukainya? Ibu dan anak sama saja. Anaknya menggoda Billy, ibunya menggoda om Jacky."
Gilbert tersenyum meremehkan. "Kamu tidak boleh berkata begitu, Zuri dan ibunya bukan wanita sembarangan."
"Mereka jahat, Om. Buktinya mereka berdua memikat orang yang seharusnya menjadi suami dan mertuaku."
"Kau tahu kenapa Jacky menginginkan Zuri menjadi menantunya? Kau ingin tahu kenapa ibunya Zuri memiliki hubungan dengan Jacky?"
Anggie terdiam.
Gilbert tertawa. "Kuharap setelah mendengar ini kau tidak akan bunuh diri, Anggie."
__ADS_1
Alis wanita itu berkerut.
Gilbert merasa menang. Dengan bangga ia berkata pada Anggie, "Karena Zuri anak kandungnya Jacky Daniel dengan Abigail."
"Apa?"
"Ya, wanita yang kau bilang jahat itu lah yang telah melahirkan putri untuk Jacky. Itu sebabnya keluarga Daniel sangat setuju Billy menikah dengannya."
"Apa Billy tahu soal ini?"
Gilbert kembali menunduk. "Hal itu yang menyebabkan Billy kecelakaan, dia mendengar pembicaraan Debora dan Jacky lewat telepon, bila mana Zuri adalah anak kandungnya Jacky. Seandainya dia tahu kalau dia putraku, mungkin kecelakaan ini tidak akan terjadi."
Dengan kesal Anggie berdiri meninggalkan Gilbert.
Lelaki itu menatapnya. "Mau ke mana kau?"
"Pulang," jawabnya tanpa menoleh.
"Kau tidak ingin menjenguk Billy?"
Langkah Anggie terhenti.
Gilbert tersenyum samar. "Sebaiknya kau besuk dia, anggap saja itu pertemuan terakhir sebelum dia menjadi suami Zuri."
Tanpa menoleh dan berkata Anggie pergi meninggalkan kediaman itu.
Pelayan muncul. "Tuan, apa Anda ingin sesuatu?Maaf, saya tidak tahu Anda ada di sini."
"Tidak apa-apa. Aku tidak ingin apa-apa, aku sedang menunggu kabar dari Debora. Billy dan Aaron kecelakakan."
"Ya, Tuhan. Bagaimana keadaan mereka, Tuan?"
"Billy tidak apa-apa. Kemungkinan Aaron yang parah, karena Debora tadi langsung pucat saat menyebutkan namanya."
"Tuhan, sembuhkan mereka. Semoga tuan muda Aaron dan Billy tidak apa-apa."
Gilbert tersenyum. "Terima kasih, Bi. Aku minta doanya."
"Tentu saja, Tuan."
"Oh iya, aku tidak ingin Anggie maupun Stella menginjakkan kaki di rumah ini lagi. Aku tidak mau mereka mengganggu keluargaku."
"Baik, Tuan."
"Sampaikan juga kepada pelayan dan pengawal yang lain."
__ADS_1
"Siap, Tuan."
Bersambung____