
"Oke, kakek percayakan semua padamu. Kakek yakin kamu tidak akan mengecewakan kakek. Kamu adalah cucu satu-satunya yang selalu membuat kakek bangga, Jack."
"Itu sudah kewajiban sebagai penerus keluarga Daniel, Kakek."
Setelah pembicaraan selesai aku segera pamit dan kembali bergabung bersama mereka. Setengah jam berbincang-bincang bersama keluarga akhirnya larutpun datang. Aku, Billy dan Zuri kembali ke apartemen. Kedua anak itu mengendarai mobil masing-masing, sedangkan aku bersama Mike.
Entah kenapa sejak Zuri muncul aku merasa gadis itu memiliki kedekatan dalam diriku. Profesinya saat ini bahkan sama sekali tidak membuatku menjaga jarak. Semakin menjauh dari Zuri justru rasa rinduku semakik mencuat. Berbeda dengan Billy, bersama Zuri justru membuatku merasa seperti bersama anak kandungku sendiri.
Aku sangat heran dengan perasaanku ini. Billy memang putraku. Anak yang kuciptakan bersama Debora demi keluargaku. Seandainya kakek tidak menikahkan dan mengingin cucu dari perempuan ****** itu, aku sama sekali tidak akan mau mengkonsumsi obat laknat itu agar bisa meniduri Debora.
Sungguh sangat terpaksa aku mengkonsumsi obat perangsang itu demi generasi penerus keluarga Daniel. Begitu generasi itu tercipta dan lahir ke dunia aku merasa tugasku selesai dan tak pernah lagi menyentuh Debora. Walaupun sudah tidur bersama tetap saja Debora tidak bisa menggantikan posisi Abigail dalam hatiku.
Sebenarnya aku tahu apa yang menyebabkan Debora selingkuh. Sejak wanita hamil aku sama sekali tidak pernah lagi menyentuh Debora. Anggap saja sejak Billy lahir sampai sekarang aku tidak pernah memberikan nafkah batin kepada Debora. Jadi, sudah samgat pantas jika Debora mencari lelaki lain untuk melampiaskan nafsu birahinya.
Tak memakan waktu lama aku akhirnya tiba di apartemen. Mobil Billy dan Zuri sudah terparkir, tapi putraku itu tidak ada di apartemen. Billy pasti bersama Zuri di apartemennya. Membayangkan kemesraan anak-anak itu membuatku teringat kepada Abigail. Tingkah saat ini sama persis dengan tingkahku dulu saat mendekati Abigail.
Meski tidak mungkin, aku berharap suatu saat Tuhan akan mempertemukanku dengan Abigail dan mengungkapkan, bahwa selamanya aku akan selalu mencintainya walaupun statusku sudah menjadi suami orang lain.
Sebenarnya aku ingin bicara dengan Billy soal permintaan kakek tadi di ruangannya. Karena anak itu tidak ada, jadi aku masuk ke kamar mandi untuk berbaring sesaat. Pekerjaan tadi membuat diriku lelah.
Karena masih punya tujuan malam ini aku segera beranjak ke kamar mandi, sekaligus menghilangkan rasa lelahku. Hanya memakan waktu dua puluh menit akhirnya selesai. Aku pun keluar karena ingin menemui Zuri dan bicara soal undangan kakek kepada mamanya.
"Halo, Pa."
Suara Billy mengejutkanku. "Papa pikir kamu bersama Zuri."
Saat ini aku dan Billy berada di ruang tamu, berdiri dengan penampilan sederhana, serta wangi aroma sabun yang berbeda. Aku lebih suka menggunkan sabun yang aromanya fresh seperti lemon. Sedangkan Billy sangat menyukai aroma mint.
"Aku baru saja ingin menemuinya."
"Kebetulan papa ingin bicara dengannya. Pergilah dan bilang, sebentar lagi papa akan menyusul ke sana."
Billy mengangguk kemudian berlalu. Tahu kedua anak itu pasti membutuhkan privasi untuk berduaan, aku menghabiskan waktu tiga puluh menit nonton acara berita di televisi sebelum akhirnya aku menemui Zuri. Tiga puluh menit aku rasa cukup bagi Zuri dan Billy untuk bermesraan.
Kupencet bel apartemen sebanyak dua kali sebelum akhirnya Billy muncul dan membukakan pintu. "Papa. Aku sudah mengatakannya pada Zuri. Dia ada di dapur membuatkan minuman."
"Tidak usah repot-repot."
Aku dan Billy masuk. "Aku akan melihatnya dulu."
Aku duduk di ruang tamu, sedangkan Billy sudah ke dapur untuk memanggil Zuri.
__ADS_1
""Halo, Pa," sapa Zuri ramah.
Aku tersenyum lebar. "Halo, Sayang. Maaf sudah merepotkanmu."
"Tidak masalah, Pa," kutatap Zuri yang sedang meletakkan gelas minuman di depanku dan Billy, "Ini untukmu."
"Terima kasih."
Aku senang melihat tingkah malu-malu Zuri dan Billy. Hal itu mengingatkanku pada masa-masa muda dulu. Ingin sekali kumeledek mereka, tapi aku sudah berjanji agar tidak melakukannya di depan Zuri. Billy tidak ingin Zuri tahu, bahwa hubungan mereka sudah diketahui olehku. Tidak tahu alasannya apa, yang jelas aku harus menuruti kata-kata Billy.
Aku menarik napas lalu memulai, "Papa ke sini karena ada satu hal yang ingin papa bicarakan denganmu, Zuri."
"Soal apa, Pa?"
"Bulan depan tanggal 15 kakek buyut ulang tahun. Jika tidak keberatan, kami dari pihak keluarga ingin mengundang mamamu."
Kulihat Zuri sedang berpikir. "Apa kehadiran mama penting sekali, Pa? Maaf, bukannya apa. Aku khawatir mama tidak bisa hadir karena sibuk. Biasanya tanggal 20 sampai tanggal 28 mama sangat sibuk dengan pekerjaannya."
"Papa mengerti, Sayang. Setiap pimpinan pasti akan sibuk di tanggal-tanggal seperti itu. Ini permintaan kakek buyut langsung. Kamu masih ingat kan tadi papa dipanggil menghadap kakek buyut? Itu karena kakek buyut ingin papa mengatakan ini kepadamu. Beliau ingin di hari spesialnya bisa bertemu dengan mamamu."
"Boleh aku tahu kenapa kakek buyut ingin bertemu mama, Pa?"
"Tentu saja, Pa. Kapan Papa ada waktu katakan saja. Tapi kalau bisa sehari sebelumnya, biar aku akan memberitahukannya terlebih dulu kepada kakek. Takutnya kalau kita pergi mendadak kakek tidak ada di rumah."
Alisku berkerut. "Memangnya kakekmu ke mana?"
"Kakek biasa standbye di rumah sakit dari pagi sampai siang. Ada kalanya kakek di tempat prakteknya membuat obat."
"Kakekmu apoteker?"
"Iya, Pa."
Seketika jantungku berdetak cepat. "Bisa papa tahu nama kakekmu siapa?"
"Namanya Robbie Oliver. Apa Papa mengenalnya? Kakek adalah pemilik rumah Oliver Hospital dan Apotik Oliver."
Ingin rasanya aku keluar dan berteriak. Robbie Oliver? Itu kan pamannya Abigail. Tapi tunggu, bukankah paman Robbie tidak pernah menikah? Kenapa paman Robbie bisa mendapatkan cucu secantik Zuri, sedangkan beliau hanya hidup berdua bersama Abigail.
"Papa mengenal kakekmu. Setahu papa beliau tidak punya anak. Eh, maksud papa beliau tidak pernah menikah. Kenapa beliau bisa punya cucu secantik kamu, hah?"
Zuri tersenyum. "Kakek Robbie pamannya mama. Aku sudah terbiasa memanggilnya dengan sebutan kakek sejak kecil."
__ADS_1
Aku sangat terkejut. Pamannya mama? Apa anak ini ... "Bisa kamu sebutkan nama mamamu siapa?"
"Abigail Oliver."
Entah harus diam, berteriak atau menangis. Zuri anaknya Abigail? Ya Tuhan, sudah berapa bulan Zuri di sini aku tidak tahu kalau gadis ini anaknya mantan kekasihku? Petanda apa ini, Tuhan? Wanita yang sudah lama kucari ternyata sudah memiliki anak seusia putraku.
Seketika amarah dalam diriku meluap membayangkan sosok lelaki yang tak lain adalah papanya Zuri. Laki-laki brengsek! Berani-beraninya dia meninggalkan Abigail dengan Zuri demi wanita lain.
Tunggu ... kenapa waktu aku bertanya paman Robbie tidak bilang padaku kalau Abigail masih hidup? Kalau Zuri mengenal paman Robbie, itu artinya beliau tahu di mana Abigail berada. Lantas kenapa waktu aku bertanya beliau bilang Abigail tidak pernah kembali sejak kejadian malam itu?
"Ada apa, Pa? Apa Papa mengenal mamanya Zuri?"
"Benar, apa Papa mengenal mamaku?"
Aku meraih gelas berisi teh kemudian menyesapnya. Hal itu kulakukan agar Billy dan Zuri tidak curiga kepadaku. Pasti sesuatu yang disembunyikan paman Robbie dariku. Aku harus mencaritahunya sendiri.
"Iya, papa mengenal mamamu."
Kulihat Zuri tersenyum lebar. "Apa mama juga mengenal Papa?"
"Tentu saja. Tapi ada baiknya kamu jangan menceritakan soal papa kepadanya."
Aku tidak ingin Abigail tahu soal keterikatanku dengan putrinya sebelum aku tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa selama ini paman Robbie menyembunyikan Abigail dariku, ya?
"Memangnya kenapa, Pa?"
Billy juga ikut bertanya, "Memangnya kenapa, Pa?"
"Papa takut mamamu tidak akan ke sini jika tahu papa dan keluarga papa yang mengundangnya. Apa mamamu tahu kamu bekerja di perusahan papa?"
"Iya mama tahu. Tapi aku tidak pernah bilang kalau selama ini aku bekerja di Daniel Corporation."
Kulihat ekspresi Billy sangat terkejut. "Kenapa?"
"Mama tidak pernah bertanya. Jadi aku juga tidak pernah bilang."
Aku sedikit tenang meski sebenarnya sangat gelisah. Aku memaksa tersenyum lalu berkata, "Papa tidak pernah menyangka kalau kamu ini adalah anaknya Abigail. Bagaimana keadaan mamamu sekarang? Bisa kamu berbagi kontak mamamu dengan papa? Papa ingin bicara dengannya. Sudah lama papa tidak pernah tahu tentangnya sejak mamamu lulus kuliah."
Aku harus mendengar dari Abigail sendiri, kenapa selama ini dia bersembunyi dan tidak mau lagi bertemu denganku.
Bersambung___
__ADS_1