
#Sudut pandang Zuri.
Keesokan hari badanku terasa segar bugar. Pijatan bibi semalam membuatku terlelap dan sangat nyenyak.
Karena semalam aku libur dalam kegiatan masak-memasak, pagi ini aku bangun lebih awal untuk membuatkan sarapan yang sangat enak. Pagi ini aku ingin membuat nasi goreng spesial. Seperti biasa, sebelum memulai aku akan membeli bahan-bahannya terlebih dahulu di super market terdekat. Aku ke sana jalan kaki, apalagi dengan cuaca yang sangat mendukung. Namun ketika tubuhku belum jauh dari apartemen, tiba-tiba suara Billy terdengar dari kejauhan. Aku segera menoleh dan menyapanya.
"Selamat pagi, Tuan."
Pria itu terbahak. "Tuan raja? Kan sudah kubilang, jangan formal kepadaku jika bukan di dalam kantor."
"Maaf, aku lupa."
"Mau ke mana?"
Billy bertanya sambil berdiri di hadapanku. Tubuhnya berkeringat dan meruapkan aroma sabun yang segar. Sepertinya dia baru saja habis olahraga. Tapi jam berapa dia bangun, ya? Sekarang kan masih pukul enam pagi.
"Mau beli bahan nasi goreng. Pagi ini aku akan membuatkan kalian nasi goreng spesial."
"Benarkah? Kalau begitu ayo, nanti aku temani.
Kami berdua pun akhirnya memutuskan untuk jalan kaki bersama. Kebetulan super market itu bukanya 1x24 jam. Jadi walaupun masih pagi aku sudah bisa pergi ke sana untuk mencari kebutuhan.
"Bagaimana keadaanmu pagi ini? Apa sudah lebih baik dari kemarin?" tanya Billy sambil menatapku.
"Sangat segar. Pijatan bibi semalam membuatku terlelap."
"Tapi semalan kamu tidak makan. Aku pulang membawa makan makan malam untukmu, tapi kata bii kamu sudah tidur. Aku tidak enak membangunkanmu."
"Maaf merepotkanmu. Terima kasih untuk makan malamnya. Rasanya enak."
"Tidak masalah. Lagi pula aku sudah tahu, kamu pasti akan bangun tengah malam karena lapar. Itu sebabnya aku meletakkan makanan itu di atas nakas, biar di saat terjaga kamu bisa melihatnya."
Aku tertawa lalu berkata, "Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Tentu saja."
__ADS_1
"Pacar kamu di mana? Kenapa aku tidak pernah melihatmu bersamanya?" Aku sengaja melontarkan pertanyaan itu demi keingintahuanku terhadap Anggie.
"Aku tidak punya pacar. Kamu sendiri, apa pacarmu tidak marah jika berjauhan dengannya?"
Aku terbahak dan tepat di saat itu kami tiba di super market. Billy membukakan pintu untukku, mengambil troli lalu kami berjalan menuju tempat sayuran.
"Bukankah aku sudah pernah bilang, bahwa aku tidak pernah berpacaran," jawabku seraya menarik troli yang didorong Billy.
"Sama. Bukankah sudah pernah kubilang, bahwa aku tidak pernah berpacaran."
Aku terkekeh. Enggan rasanya ingin membahas soal perjodohannya dengan Anggie, tapi rasa penasaran membuatku akhirnya melontarkan pertanyaan itu. "Kudengar kamu telah dijodohkan oleh Anggie, ya?"
"Apa bibi yang menceritakannya padamu?"
"Itu bukan salah bibi. Aku yang memulai, sampai akhirnya bibi menceritakan soal hubunganmu dengan Anggie."
Kulihat Billy hanya tersenyum.
"Kenapa kamu menolaknya, bukankah dia cantik dan berbakat?"
"Tidak masalah. Selama kalian saling mencintai usia bukan halangan."
"Tapi aku tidak mencintainya. Aku mencintai ...."
"Mencintai siapa?"
"Lupakan saja. Ayo, bukankah kamu ingin membuat nasi goreng? Kalau bicara terus, yang ada kamu aka terlambat membuatkan sarapan untuk aku dan papa."
Alasan Billy sangat masuk akal. Tapi aku semakin penasaran dengan kelanjutan kata-kata yang sempat dilontarkan oleh Billy. Dia mencintai ... Siapa wanita yang Billy cintai? Apa Billy punya wanita idaman yang sengaja tidak dikatakan agar tidak diketahui oleh keluarganya? Bisa jadi. Billy pasti ingin merahasiakan itu agar tidak diketahui oleh mamanya. Apalagi kalau sampai diketahui oleh Anggie. Wanita gila itu pasti akan mencelakai gadis incaran Billy jika tahu pria yang dia sukai ternyata memilih gadis lain daripada dirinya.
"Oh iya, kamu kan punya kakek yang tinggal di kota ini. Kapan kamu akan mengunjunginya?" tanya Billy sambil mengambil beberapa buah lalu meletakkannya di dalam troli.
"Aku akan mencari waktu. Kemungkinan aku akan berkunjung di saat luang atau tidak bertabrakan dengan jam makan kalian."
"Jika kamu butuh waktu, biar aku bicara pada papa. Papa pasti akan memberikanmu ijin sehari untuk mengunjungi keluargamu."
__ADS_1
Aku tersenyum. Billy tidak hanya tampan, tapi dia juga sangat baik. "Tidak perlu, terima kasih. Kakekku juga cukup sibuk. Jadi aku hanya bisa mengunjunginya di waktu-waktu tertentu."
"Memangnya kakekmu sibuk apa?"
"Kakekku berprofesi sebagai apoteker. Setiap hari beliau menghabiskan waktu untuk meracik obat. Kakekku sudah sangat tua. Jadi asistennya mengijinkan beliau bersantai dan bekerja di jam-jam tertentu. Sisanya dihabiskan untuk istirahat. Sekalipun aku sebagai cucunya, tidak boleh bicara lama-lama dengan kakek kalau sudah waktunya istirahat. Jadi, ada waktu-waktu tertentu di mana aku bisa bertemu kakek untuk melampiaskan rindu."
"Tegas juga ya asisten kakekmu itu. Tapi dia ada benarnya juga, agar supaya waktu istirahat kakekmu tidak terganggu."
"Benar. Mamaku juga mengatakan demikian. Mama menyarankan agar aku tinggal terpisah dengan kakek kalau sudah mendapatkan pekerjaan. Mama tidak ingin kesehatan kakek terganggu kalau ada aku. Walaupun banyak pelayan, kakekku itu orang yang selalu aktif dan mau melakukan apa saja yang dia suka. Kalau aku tinggal bersama beliau, setiap saat kakek akan melakukan hal-hal yang bisa membuatku senang. Itu yang mama khawatirkan, sementara kakek tidak boleh lelah."
"Kebanyakan kakek seperti itu. Mereka akan sangat bahagia jika bersama cucu kesayangan. Namun sayangnya kakekku tidak seperti itu. Setiap kali bertemu denganku kakek akan membahas soal bisnis, bisnis dan bisnis."
"Aku rasa jika kakekku demikian, beliau juga pasti akan membahas hal yang sama. Sayangnya kakek tidak suka dengan bisnis. Itu sebabnya kakek membiarkan mama mengelola perusahan."
Sudah hampir setengah jam aku dan Billy mengelilingi super market, kami berdua akhirnya selesai mengambil apa yang dibutuhkan.
"Sudah tidak ada lagi yang kamu butuhkan, Zuri? Jangan sampai ada yang terlupakan."
Aku memeriksa semua barang di dalam troli. "Sudah semuanya. Ayo, kita ke kasir."
Saat Billy hendak mendorong troli ke arah kasir, mataku tiba-tiba menangkap deretan yogurt kesukaanku.
"Kamu duluan saja, aku akan ke sana untuk mengambil itu."
"Ya sudah, aku tunggu di kasir. Ambil yang banyak."
"Kamu juga mau?"
"Iya."
Tidak kusangka ternyata pria seperti Billy sangat suka dengan yogurt. Setelah dipikir-pikir ternyata aku dan Billy memiliki banyak kesamaan. Baik dari makanan, minuman dan kebiasaan yang suka membaca buku. Semalam bibi menceritakan padaku, bahwa pria tampan itu juga memiliki hobi membaca. Itu artinya kami memiliki hobi yang sama.
Setelah mengambil beberapa yogurt dengan pilihan rasa yang berbeda-beda aku segera berbalik untuk menemui Billy, aku tidak mau pria itu menunggu lama. Namun saat kakiku baru melangkah dua kali, tanganku ditarik hingga tubuhku tersentak.
Zet!
__ADS_1
Bersambung____