My Devilish Daddy

My Devilish Daddy
Suara Wanita Lain.


__ADS_3

Suara kakek Theo memenuhi ruangan. "Kami sengaja memanggil kalian mendadak karena ini kabar penting yang harus disampaikan. Lusa mamanya Zuri akan balik ke luar kota, sedangkan Debora besok harus ke luar negeri karena ada urusan mendadak. Jadi, hari ini waktu yang tepat untuk membahas tentang pernikahan kalian."


Lusa mama pulang? Kenapa mama mendadak seperti ini, kataku dalam hati. Kulirik wajah Billy juga tampak terkejut menatap mamanya. Mungkin dia juga terkejut mendengar kabar kepergian mamanya.


"Setelah bicara panjang lebar dengan ke dua belah pihak, baik dari keluarga Zuri maupun keluarga Billy, kami memutuskan untuk melangsungkan pernikahan kalian bulan depan minggu pertama."


Minggu pertama, itu kan tinggal lima belas hari lagi. Apa ini tidak terlalu cepat? Lagi-lagi pikiranku kacau. Ya Tuhan, impianku menjodohkan mama dengan om Jacky ternyata gagal. Ya ampun, bagaimana kalau Billy sampai tahu kalau sebenarnya dia bukan anak kandungnya om Jacky?


"Soal pakaian, makanan, dekorasi dan lain sebagainya kalian tidak usah khawatir," tambah nenek Lisa, "Kami semua yang akan mengaturnya. Nenek punya kenala desaigner yang hebat. Besok dia akan ke sini untuk menunjukkan gaun dan jas yang kalian inginkan."


"Cincin bagaimana, Ma?" Suara tante Ellena membuatku menatapnya.


"Kamu tenang saja. Besok toko langganan perhiasan kita akan datang. Mereka akan membawa cincin yang cocok untuk Billy dan Zuri.


Aku terkejut. Ya ampun, apa semua orang di sini sudah gila? Mereka mengatur pernikahan tanpa bertanya lebih dulu padaku atau Billy.


Kutatap wajah Billy sangat bahagia. Apakah dia akan sebahagia ini jika tahu om Jacky bukan papanya?


"Bagaimana Zuri, Billy," Suara kakek Theo mengejutkanku, "apa kalian setuju?"


"Aku sangat setuju, Kakek. Tapi, lebih baik kita tanyakan pendapat Zuri. Aku tidak akan menikah kalau Zuri tidak menginginkannya."


"Apa yang kau bicarakan Billy, hah?" ketus nenek Lisa.


Aku tahu Billy hanya bercanda. Perlahan aku menatap wajah mama. Mama menatapku dengan senyum lebar dan anggukan kepala.


Sebenarnya apa yang mama rencanakan? Mama memprioritaskan hubunganku dengan Billy lantas hubungan mama dan om Jacky, bagaimana?


"Zuri?"


Suara nenek Lisa membuatku sadar.


"Bagaimana, Sayang? Apa kamu setuju dengan putusan kami?"


Lagi-lagi aku menatap mama. Mama lagi-lagi tersenyum dan menggangguk. Baiklah, aku akan mengikuti skenario mama. Tapi mama harus beri aku penjelasan soal ini.


"Iya, aku setuju. Apa yang sudah diatur oleh kalian sudah pasti yang terbaik untuk aku dan Billy. Iya kan, Bill?"


Billy mengangguk. Sementara semua orang langsung bersorak bahagia. Nenek Lisa langsung memelukku. Tante Ellena langsung mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang. Sedangkan mamaku dan tante Debora saling berpelukan.


Tunggu, kenapa tante Debora menangis di depan mama? Aku jadi sedih melihatnya. Ekspresi tante Debora begitu sedih. Apa sebenarnya yang terjadi.


Kulihat om Jacky mendekati mereka. Kemudian berbisik di tengah-tengah mereka. Entah apa yang dikatakan om Jacky, mama dan tante Debora tiba-tiba berdiri.


"Ma, Pa, aku akan mengantarkan Debora dan Abigail. Billy, kau antar pulang Zuri, ya?"


"Iya, Pa."


Aneh, kenapa mereka bertiga langsung akrab? Bukankah om Jacky sama sekali tidak saling bicara dengan tante Debora?


Nenek Lisa, kakek Theo dan tante Ellena sibuk mencari foto dekorasi lewat ponsel.


Billy mendekatinya. Billy duduk di sampingku kemudian menggenggam tanganku. "Kamu lihat, tadi?"

__ADS_1


"Lihat apa?"


"Mama dan papaku. Tidak biasanya mereka sedekat itu. Ini semua berkat dirimu. Kalau bukan karena menikahimu, aku tidak akan pernah melihat orangtuaku akur seperti tadi."


Jujur aku ikut senang melihat itu. Meski sebenarnya aku sendiri masih penasaran apa yang terjadi, sehingga situasi menjadi seperti tadi.


***


Karena sudah larut Billy mengantarku pulang. "Hati-hati di jalan, ya. Kalau sudah tiba kabari aku."


Billy mencium bibirku. "Pasti. Kamu cepat tidur, ya. Besok kita akan sibuk seharian."


"Oh, iya. Aku boleh minta tolong tidak?"


"Apa pun untukmu."


Aku membalas senyum Billy. "Besok aku ingin mengenakan gaun kesayanganku. Gaun itu ada di apartemen. Bisa kamu mengambilnya untukku?"


"Jangankan gaun, aku rela mati demi dirimu, Zuri."


"Jangan bicara begitu," aku mengusap pipi Billy, "Kalau kamu mati aku, bagaimana?"


"Aku bercanda, Sayang. Aku tidak bisa hidup tanpamu."


"Aku juga."


Setelah berciuman aku dan Billy akhirnya berpisah. Aku masuk ke dalam rumah untuk mencari mama. Aku harus menuntut penjelasan dari mama.


"Selamat malam, Nona."


"Nyonya belum pulang, Non."


Langkahku seketika terhenti. Kilirik jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Mungkin mama masih bersama tante Debora dan om Jacky.


"Terima kasih, Aaron. Oh, iya, apa kakek sudah tidur?"


"Sudah, Non."


"Baiklah. Kalau mama pulang, bilang aku sudah tidur."


"Baik, Non."


#Sudut pandang Billy.


Dalam perjalanan pulang aku terus terbayang soal kejadian di rumah nenek. Selama hidup, itu pertama kali aku melihat mama dan papaku saling bicara. Ekspresi mereka bahkan sangat bahagia.


Bicara soal mama aku jadi teringat perkataan kakek. Dengan cepat aku meraih ponsel dan mencari nama mama.


"Halo, Nak?"


Aku senang mama cepat merespon panggilanku. "Mama sudah tidur?"


"Belum, Sayang. Mama belum mengantuk. Mama sedang memilih hadiah apa yang akan mama berikan untukmu dan Zuri."

__ADS_1


Aku tersenyum. "Apa itu artinya Mama merestui hubunganku dengannya?"


"Tentu saja, Sayang. Bahkan kalau kamu tidak mau, mama akan memaksamu menikahinya."


"Anggie, bagaimana? Bukankah dia menantu idaman Mama?"


"Dulu, sekarang tidak lagi."


Aku terkekeh. "Oh, ya, apa benar Mama akan ke luar negeri?"


"Iya, Sayang. Mama ada urusan mendadak. Kenapa?"


"Apa Mama akan lama di sana?"


"Tidak, Sayang. Yang jelas saat pernikahan kalian mama sudah kembali."


Aku terdiam sesaat lalu berkata, "Apa Mama dan papa jadi bercerai? Aku senang melihat Mama dan papa akur seperti tadi."


Mamaku terdiam. Aku tahu ini sangat sulit baginya. Mamaku pasti belum bisa melupakan om Gilbert. Bicara soal lelaki sialan itu perasaanku jadi tak nyaman.


"Oh iya, apa Mama akan ke luar negeri bersama om Gilbert?"


"Tidak, Nak. Mama akan pergi sendiri. Kenapa kamu bertanya begitu?"


"Aku tidak senang Mama dekat dengannya. Kalau aku sudah menikah, aku tidak ingin Mama masih mendekatinya."


"Kalau mama menikah dengannya, apa kamu tidak akan setuju?"


Aku terkejut. "Mama serius ingin bercerai? Bukankah kalian tadi sudah akur?"


"Mama dan papa sudah memutuskan, Billy. Itu adalah jalan terbaik buat kami."


Mengingat kesalahan yang mama lakukan memang sangat besar. "Tapi kan nenek, kakek dan papa sudah memaafkan Mama. Harusnya Mama kembali lagi dan memperbaiki semuanya."


"Tidak, Nak. Bercerai dengan papamu adalah hal terbaik untuk kita semua."


Aku tak menjawab.


"Mama tutup dulu, ya. Kamu di mana sekarang, di mana Zuri? Mama tidak mendengar suaranya?"


"Aku sudah mengantarnya pulang. Aku baru saja tiba di apartemen."


"Ya, sudah. Sampai nanti, Sayang. Kalau ada apa-apa jangan sungkan hubungi mama."


"Iya."


Aku pun memutuskan panggilan. Dengan cepat aku masuk ke dalam apartemen untuk mengambil gaun calon istriku. Meski tidak tahu emosi Zuri kalau sedang marah seperti apa, aku tidak ingin dia marah hanya karena aku lupa mengambil gaun itu.


Dengan cepat aku menekan tombol kode lalu masuk ke dalam. Suara music instrumen pun terdengar di telingaku. Apa Zuri lupa mematikan musiknya? Tapi kan tadi dia bersamaku di vila.


Penasaran dengan musik yang mengalun, aku langsung masuk ke ruang tamu.


"Ahh, Jack enak sekali. Punyamu besar sekali aku ... Ahhh."

__ADS_1


Bersambung____


__ADS_2