My Devilish Daddy

My Devilish Daddy
Mengejar Waktu.


__ADS_3

"Sayang?"


Suara Billy mengejutkanku. Kutatap mata yang sangat persis dengan om Jacky dan aku. Pandanganku sayu. "Kenapa?"


"Aku yang harusnya bertanya. Kamu kenapa? Apa yang kamu pikirkan?"


Aku tersenyum. Dengan lembut aku mengusap pipi Billy. "Seandainya mamaku tidak merestui hubungan kita, bagaimana?"


Kulihat ekspresi Billy berubah. "Apa mamamu tidak menyukaiku?"


"Bukan begitu, Sayang. Aku hanya takut mama tidak merestui hubungan kita. Kamu tahu kan mama masih membutuhkanku untuk menggantikan posisi mama di perusahan."


Billy meraup kedua pipiku. "Kamu jangan khawatir soal itu. Aku sudah membicarakan hal itu dengan papa. Jika kamu ingin menggantikan posisi mamamu di perusahan tidak masalah, aku akan ikut bersamamu dan membantumu di sana."


"Kalau kamu ikut bersamaku, bagaimana dengan posisimu di kantor? Siapa yang akan menggantikanmu?"


"Mike. Lelaki itu tidak hanya supirnya papa. Selain orang kepercayaan, Mike juga bisa menjadi CCTV berjalan."


"CCTV berjalan?" aku tertawa, "Kamu ini ada-ada saja, Sayang."


Billy memelukku sambil terkekeh. "Aku serius. Mike itu di tugaskan mengawasi orang-orang di kantor jika tidak ada aku dan papa. Karena ada beberapa orang yang memang harus di awasi."


"Di perusahan mama juga begitu. Di depan mama saja mereka terlihat manis. Begitu mama pergi, sikap asli mereka kelihatan."


Billy mengusap rambutku. "Semua perusahan begitu, Sayang. Itu sebabnya kita harus menyuruh satu orang untuk menjadi CCTV berjalan."


Aku dan Billy sama-sama tertawa. "Aku akan mengusulkan hal itu kepada mama, supaya mama akan menyuruh tante Tanisa untuk menjadi CCTV berjalan."


"Itu harus."


Selepas mengatakan itu aku dan Billy berciuman. Tanganku mengalung di tengkuk Billy, sedangkan tangan Billy memeluk pinggangku.


"Bagaimana kalau pindah ke kamar?" goda Billy padaku.


Tanpa menolak aku langsung tersenyum lebar.


"Aku akan membuatmu gemetar dan minta ampun."

__ADS_1


Aku tidak marah. Aku justru senang karena aku sangat menyukainya. Aku dan Billy sama-sama menikmati. Walaupun sama-sama saling menginginkan, Billy tidak ingin merebut kesucianku. Aku sudah menggodanya. Namun, Billy tetap tidak mau karena pria ini sangat mencintaiku. Billy menganganggap aku sangat berharga. Jadi Billy tidak ingin merusak sesuatu yang berharga miliknya.


***


Pagi ini aku bangun pagi sekali. Aku berolahraga di dalam apartemen saja karena om Jacky dan Billy melarangku keluar.


Semalam aku tidur lebih awal karena semua badanku terasa lemas. Aku berkali-kali mencapai puncak. Billy menepati janjinya membuatku gemetar dan minta ampun. Karena pertempuran kemarin yang tak henti-hentinya aku cepat terlelap dan cepat terjaga.


Drtt... Drtt...


Getaran ponsel membuat musik yang kuputar berhenti. Karena tidak bisa jogging akhirnya aku melakukan senam zumba saja.


Drtt... Drtt...


Aku menarik handuk, mengeringkan wajah berkeringat lalu melihat layar yang ternyata panggilan dari mama.


"Selamat pagi, Ma?"


"Pagi, Sayang. Tumben kamu sudah bangun."


Aku duduk di sofa panjang. Setelah menenggak air dari botol mineral aku menjawab, "Aku tidur awal, Ma. Mama di mana sekarang? Jam berapa Mama takeoff?"


Kulirik jam dinding menunjukkan pukul enam pagi. Aku tidak punya waktu banyak. Jarak bandara dengan apartemenku cukup jauh. Belum lagi aku harus mandi, membuatkan sarapan untuk Billy dan om Jacky. Papa dan anak itu sarapan pukul delapan pagi. Berarti sambil menunggu mama takeoff aku buatkan Billy dan om Jacky sarapan. Setelah itu mandi kemudian menjemput mama. Untung saja semua bahan sudah ada. Jadi aku tidak perlu ke luar lagi untuk belanja.


"Baiklah, kalau begitu aku siap-siapa dulu. Aku harus membuatkan bosku sarapan dulu baru menjemput mama. Kemungkinan aku akan sedikit terlambat, Ma."


"Tidak masalah, Sayang. Oh iya, mama ingin tanya sesuatu padamu."


"Soal apa, Ma?"


"Kalau mama ingin bertemu bosmu, apa kamu akan mengijinkan mama?"


Mama ingin bertemu om Jacky. Apa itu artinya ..., "Mama serius?"


"Serius, Sayang. Bukankah kamu ingin mempertemukan mama dengan beliau?"


"Tentu saja, Ma. Kalau begitu aku bersiap dulu. Waktuku tidak banyak. Nanti kita bicarakan lagi soal itu. Mama tenang saja, aku pasti akan mempertemukan Mama dengan beliau."

__ADS_1


"Mama ingin menjalin pertemanan dulu dengan beliau. Lagi pula beliau masih punya istri, kan? Mama tidak ingin jadi penyebab atas konflik yang dialami mereka."


"Aku mengerti, Ma. Mama tenang saja."


"Ya sudah, lanjutkan saja pekerjaanmu. Mama mau mencari kopi dulu. Mama sangat mengantuk."


"Oke. Sampai nanti, Ma."


"Bye, Sayang."


"Bye, Ma."


Setelah panggilan putus aku langsung bersorak. Ya, Tuhan. Akhirnya mama mau membuka diri. Ini kesempatanku untuk menyatukan mama dengan om Jacky.


Ekspresiku berubah. Maafkan aku tante Debora. Aku rasa ini jalan terbaik bagimu agar rahasiamu tidak terbongkar. Setelah perceraian om Jacky pasti akan sibuk dengan status barunya. Beliau tidak akan peduli lagi dengan kehidupan tante maupun lingkungan sekitaran tante.


Sekalipun tante Stella datang dan memprovokasi om Jacky soal siapa ayah Billy sebenarnya, beliau pasti tidak akan percaya karena hubungan kalian sudah bukan suami-istri lagi. Om Jacky pasti akan berpikir bahwa itu hanya alasan tante Stella untuk memanfaatkan om Jacky.


Bukannya aku ingin menyumpahi tante Debora dan om Jacky cepat bercerai. Tapi dengan mendekatkan mama dan om Jacky adalah cara terbaik agar om Jacky tidak mengasingkan Billy jika seandainya beliau tahu Billy bukan anak kandungnya. Billy dan aku berpacaran. Hubungan kami semakin dekat. Dan kalau pun om Jacky marah karena tahu Billy bukan anak kandungnya, aku dan Billy bisa menikah walaupun aku akan menjadi anak sambungnya om Jacky.


"Ya Tuhan, semoga saja mama dan om Jacky saling suka. Tapi aku harus bicara dengan om Jacky soal ini. Aku ingin om Jacky bekerja sama biar aku tidak mengecewakan mama."


Tak mau waktu terbuang begitu saja aku segera mengeringkan badan dengan handuk lalu ke apartemen sebelah. Aku akan memasak menu spesial untuk dua orang yang aku sayangi. Pagi ini aku akan membuuatkan bubur ayam lagi. Sudah cukup lama om Jacky dan Billy tidak pernah menikmati bubur ayam buatanku. Mereka tidak pernah protes sekalipun aku membuatkan menu yang lain. Om Jacky tidak pernah marah dan selalu lahap walaupun resep yang kubuat mengikuti moodku setiap hari.


Saat ini aku berada di dapur. Sambil menunggu buburnya masak aku membuatkan bumbunya. Aku terlalu fokus sampai akhirnya terkejut ketika suara berat om Jacky menyapaku.


"Selamat pagi, Zuri."


"Pagi, Pa."


Kulihat om Jacky mengenakan celana pendek. Sepertinya om Jacky sudah selesai olahraga. Tubuhnya segar. Aroma mint dari sabunnya meruap.


"Pagi sekali kamu memasak," kata om Jacky sambil mengambil jus orange dari dalam kulas.


"Satu jam lagi mama takeoff. Perjalanan dari sana ke sini hanya empat puluh lima menit. Belum lagi jarak bandara dengan apartemen lumayan jauh."


Om Jacky berdiri di depanku. Setelah menenggak isi gelasnya sampai habis beliau menatapku dengan senyum sangat lebar. Ekspresi om Jacky kali ini sangat berbeda dari sebelumnya. Pagi ini om Jacky terlihat sangat bahagia. Apa mungkin masalahnya dengan tante Debora sudah selesai?

__ADS_1


Bersambung____


__ADS_2