My Devilish Daddy

My Devilish Daddy
Mama akan Datang.


__ADS_3

Billy marah. "Kenapa kamu mau diajak Anggie? Wanita itu jahat, seharusnya kamu jangan percaya padanya. Kalau tidak bertemu mama terus dia melukaimu, bagaimana?"


Aku diam tak membantah. Perkataan Billy benar. Seandainya tidak membawaku kepada tante Debora, pasti Anggie sudah membunuh dan membuang jasadku ke laut.


"Jangan emosi, Billy. Kamu juga jangan menyalahkan Zuri. Zuri sayang," panggil om Jacky dengan suara pelan. Aku menatapnya. Om Jacky memang paling mengerti aku. Beliau tidak akan marah sekalipun tindakanku salah. Aku menatap om Jacky, "Ceritakan saja kenapa Debora sampai membebaskanmu? Sampai sekarang papa masih penasaran kenapa wanita itu membelamu bukan Anggie, padahal dia yang menyuruh Anggie mengajakmu ke sana."


Waduh, bagaimana ini? Aku takut berbohong, tapi juga takut berkata jujur. Kalau aku mengatakan hal yang sebenarnya om Jacky akan tahu bahwa selama ini kakek buyut membohonginya.


"Zuri?"


Suara Billy mengejutkanku. Aku menatap mimik wajah Billy yang tampak datar. Aku tidak tahu apa yang menyebabkan Billy marah. Di posisi ini seharusnya Billy tidak wajar memarahiku. Apa mungkin Billy marah karena aku melanggar janji. Memang sih, kalau di pikir-pikir wajar Billy marah karena aku lebih memilih ikut bersama Anggie daripada menemuinya. Apalagi aku sampai tidak jujur padanya.


Aku menatap Billy, tapi suara om Jacky mengalihkan pandanganku. Aku kembali menatap om Jacky dengan pikiran bingung, entah apa yang harus kujawab.


"Kamu belum menjawab pertanyaan papa, Zuri."


Lebih baik aku diamuk Billy. Seandainya hanya berdua, aku pasti sudah telanjang di depan Billy agar pria itu tidak menuntut penjelasan.


Tak mau mereka curiga aku akhirnya menjawab, "Aku juga tidak tahu, Pa. Waktu tiba di rumah itu kami disambut oleh pengawal. Mereka mengambil Dave dan Deva, sedangkan yang lain langsung membawaku ke ruangan di mana ada tante Debora. Anggie dilarang masuk. Jadi wanita gila itu sama sekali tidak mendengar apa yang aku dan tante Debora bicarakan."


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya om Jacky cepat.. Wajahnya biasa saja, tapi nada suaranya sangat berat dan menakutkan. Aku menjadi gugup dan takut salah menjawab.


"Tante Debora hanya menanyakan siapa aku dan tugasku di sini. Tahu aku juru masak Papa, tante Debora mencari cara agar diriku bisa bebas tanpa sepengetahuan Anggie. Tante Debora mengikat tangan dan mulutku. Kepalaku di tutup dengan kain. Alasan tante Debora kepada Anggie aku akan dikurung di suatu tempat agar aku tidak akan pernah bisa bertemu Billy."


Kutatap om Jacky dan Billy. Mereka saling bertatapan dengan ekspresi masing-masing. Aku berkata jujur soal itu. Sambil menatap mereka secara bergantian aku berdoa dalam hati. Semoga saja mereka percaya agar tidak mengajukan pertanyaan lagi.


"Mungkin karena itu mama ingin kita menjaga Zuri," kata Billy sambil menatapku dan om Jacky, "Menurut Papa bagaimana, apa perlu kita menyediakan supir dan ajudan untuk Zuri?"


Om Jacky menatapku. "Menurut kamu bagaimana, Sayang?"


"Tidak perlu, Pa. Aku bisa menjaga diri. Lagi pula hanya berbelanja saja masa harus memakai ajudan dan supir."


"Itu penting, Sayang," protes Billy, "Aku tidak mau kamu ke mana-mana sendirian. Jika mama sudah mengusulkan begitu, berarti mama tahu rencana Anggie. Aku tidak mau wanita itu mengganggu apalagi menyakitimu."

__ADS_1


"Billy benar, Sayang. Papa juga tidak ingin terjadi sesuatu padamu."


Aku terharu melihat kedua orang yang ada di hadarapanku. Dulu aku sangat membenci kaun laki-laki karena papaku. Aku bahkan tidak ingin punya papa lagi karena sikap papaku yang tidak bertanggung jawab. Aku tidak ingin menerima pria dalam hidupku karena takut salah memilih.


Sekarang setelah bertemu om Jacky rasa ingin memiliki ayah pun sangat besar. Bertemu Billy membuat pembatas dalam hatiku retak. Om Jacky dan Billy adalah laki-laki yang memberiku pelajaran. Berkat papa dan anak ini kesimpulanku terhadap semua laki-laki pun dibantahkan.


Sambil menatap Billy dan om Jacky aku berkata, "Aku terserah Papa dan Billy saja. Keputusan kalian adalah yang terbaik buatku."


"Mulai sekarang aku akan menemanimu ke manapun kamu pergi," jawab Billy, "Kapan saja kamu ingin pergi katakankan saja, aku siap mengantar dan menemanimu di manapun itu."


Aku tersenyum manis. "Iya."


Om Jacky berdiri kemudian mengatur jasnya. W"Ya sudah, kalau begitu masalah selesai. Papa ke kantor dulu."


"Papa sudah sarapan? Biar aku buatkan sarapan dulu buat Papa."


"Tidak usah, Sayang. Papa ada janji dengan klien. Kami akan sarapan bersama."


Aku merasa bersalah. "Maafkan aku, Pa. Karena aku Papa harus sarapan di luar."


Drtt... Drtt...


Getaran ponsel dari kantong saku celana membuatku terkejut. Om Jacky melepaskan tangan dari pipi kemudian berdiri di depanku.


"Tunggu sebentar, Pa."


"Papa ke kantor dulu, ya. Hari ini Billy akan menemanimu. Kalau ada apa-apa hubungi saja papa."


"Iya, Pa. Terima kasih, ya. Papa hati-hati di jalan."


"Iya, Sayang. Billy, papa pergi dulu. Jaga Zuri, ya."


"Pasti, Pa."

__ADS_1


Karena ponsel dalam saku celana terus bergetar aku langsung mengambil kemudian melihat layar. Ternyata mama. Dengan cepat aku menekan radial lalu menyapanya, " Halo, Ma?"


Om Jacky yang baru saja melangkah langsung berhenti kemudian menatapku. Billy juga yang masih tetap di posisinya sejak tadi menatapku dengan ekspresi penasaran. Mungkin pria itu ingin tahu apa yang akan kubahas dengan mama. Dalam hati aku tertawa. Mungkin Billy takut mama akan menyuruhku pulang dan tak akan kembali lagi.


"Kamu di mana, Zuri?"


Aku terkejut mendengar nada suara mama. "Di apartemen, Ma. Mama kenapa?"


Ekspresi om Jacky ikut berubah. Walaupun telinga dan pikiran fokus di telepon, tapi mataku terus menatap om Jacky.


"Mama besok akan ke sana. Kalau tidak sibuk besok kamu jemput mama, ya."


Aku terkejut. "Mama mau ke sini ... Kenapa begitu mendadak, Ma?"


"Memangnya kenapa?"


Aku menelan ludah. Kenapa mama tiba-tiba ingin datang, ya? Apa jangan-jangan om Jacky telah memberitahu hubunganku dengan Billy kepada mama? Kulihat om Jacky kembali duduk. Alisnya berkerut-kerut menatapku.


"Tidak masalah. Heran saja, bukankah Mama selalu sibuk dan tidak punya waktu."


"Mama ada urusan di sana. Jadi, sekalian saja mama bertemu kamu dan kakek. Mama hanya berapa hari di sana. Begitu urusan selesai mama akan kembali."


Syukurlah. Itu artinya ini tidak ada sangkut paut dengan hubunganku bersama Billy. Aku juga tidak yakin om Jacky akan membahas soal itu. Karena om Jacky sendiri yang memintaku untuk merahasiakan kedekatan aku dan om Jacky dari mama. Mungkin itu juga yang membuat om Jacky belum berangkat kerja dan menungguku selesai bicara.


"Baiklah. Nanti kabari aku saja, aku pasti akan menjemput Mama. Mama ingin tidur bersamaku di apartemen atau di rumah kakek?"


"Nanti kita bicarakan itu di sana. Yang penting besok kamu bisa menjemput mama. Mama belum memberitahu hal ini kepada kakek. Mama harap kamu jangan memberitahukannya, mama ingin memberi kejutan untuk kakek."


Aku tersenyum lebar. "Siap, Bu bos. Kalau begitu sampai jumpa besok."


Mama memutuskan panggilan. Aku menatap om Jacky. "Papa tidak jadi berangkat?"


"Sebentar lagi. Ngomong-ngomong apa kata mamamu?"

__ADS_1


"Mama akan datang besok. Kalau aku punya waktu, mama memintaku untuk menjemputnya."


Bersambung___


__ADS_2