My Devilish Daddy

My Devilish Daddy
Sosok Yang Tidak Asing.


__ADS_3

Suara tente Ellena membuarku menoleh. "Baru saja, Tante," kulepaskan pelukan dari tubuh Emelly kemudian memeluk wanita itu, "Apa kabar, Tante?"


"Kabarku baik, Sayang. Ayo, kita masuk."


Aku dan Emelly bergandengan tangan mengikuti langkah tante Ellena.


"Nenek masih di restoran. Kakek dan kakek buyut ada di kantor. Jadi hanya aku dan para pelayan yang ada di rumah ini kalau Emelly masih di sekolah."


Tante Ellena membawaku ke ruang tamu. Emelly mengambil posisi di sofa panjang, di mana sudah berderet banyak boneka bermacam-macam jenis.


"Zuri, kamu tunggu di sini dulu, ya. Tante mau ambilkan minuman untuk kalian."


"Tidak usah repot-repot, Tante."


"Tidak apa-apa. Tunggu sebentar, ya."


Tante Ellena sangat baik. Sama seperti bibi yang tak lain adalah ibu kandungnya. Secara fisik wajah tante Ellena mirip dengan nyonya Lisa. Mungkin karena masih bayi tante Ellena sudah diadopsi oleh mereka.


Sambil menunggu tante Ellena kembali aku berdiri mendekati nakas di mana banyak foto yang terpajang di sana. Emelly sibuk dengan bonekanya. Mungkin karena tidak ada yang menemani, anak ini bosan bermain sendiri.


Kulihat foto keluarga di mana ada kakek buyut sedang duduk di sofa panjang. Serta di sampingnya ada sosok wanita cantik yang usianya hampir sama. 'Apa ini istrinya kakek buyut?' tanyaku dalam hati. Foto dalam bingkai itu terlihat sudah lama. Mungkin gambar ini di ambil saat istri kakek buyut masih hidup.


Mataku kemudian menatap beberapa orang yang berdiri di belakang kakek buyut dan istrinya. Di belakang kakek buyut ada kakek Theo bersama nyonya Lisa sedang berdiri. Mereka terlihat masih sangat muda. 'Nenek sangat cantik waktu muda dulu,' pujiku dalam hati. Mataku kemudian berpindah ke sosok cantik yang berdiri di belakang nenek buyut.


Aku terkejut. Alisku mengerut. 'Tunggu, ini kan ....'


"Zuri, ini minumannya."


Suara tante Ellena mengejutkanku. Kutatap tante Ellena dengan ekspresi penasaran. "Tante, maaf."


"Kenapa, Sayang?"

__ADS_1


Aku menunjukkan foto wanita yang berdiri di samping kanan kakek Theo. "Bisa aku tahu ini siapa?"


Tante Ellena mendekatiku. Dengan lembut tante Ellena mengambil bingkai itu kemudian menatap foto wanita yang kutunjukkan tadi. "Oh, ini mama Elis. Adiknya papa Theo."


Zet!


Elis? ulangku dalam hati. Wajah dan nama wanita ini kan sama dengan wanita di foto yang ada di ruangan kakek.


"Nama lengkapnya Elisabeth. Beliau meninggal karena kecelakaan."


Apa? Elisabeth? Kecelakaan? Apa karena wanita ini sampai kakek Robbie tidak mau menikah?


Tante Ellena duduk sambil menatap foto itu. "Tante tidak sempat bertemu mama Elis. Kata papa mama Elis meninggal saat mama Lisa mengandung Jacky. Itu artinya tante belum bergabung bersama mereka, tapi mama Elis sudah tiada."


Aku duduk di samping tante Ellena. "Aku turut berduka."


"Terima kasih, Sayang. Bagaimana, cantikkan orangnya?"


"Tante tidak tahu pasti ceritanya seperti apa. Yang tante dengar dari papa, kalau mama Elis kecelakaan karena bertengkar dengan pacarnya. Mama Elis belum menikah waktu kecelakaan itu. Dan kata papa, dua bulan setelah kejadian itu mereka sudah merencakan untuk menikah."


Aku tersentak. Kakek Robbie dan nenek Elis akan menikah? Apa mereka tahu kakek Robbie adalah pacarnya nenek Elis?


"Lalu di mana pacar nenek Elis? Beliau pasti sangat terpukul saat mengetahui calon istrinya meninggal dunia."


Tante Ellena menatapku. "Mama dan papa tidak tahu siapa pacar mama Elis. Selama berpacaran mama Elis merahasiakan pasangannya dari mereka. Yang tahu pacar mama Elis hanya kakek buyut. Papa tahu cerita ini dari kakek buyut dan papa menceritakannya kepada kami. Kata papa sebelum kecelakaan itu terjadi mama Elis sempat berbincang-bincang dengan kakek buyut soal pacarnya itu. Jadi siapa dan di mana pacar mama Elis hanya kakek buyut lah yang tahu. Kakek buyut menyalahkan pria itu atas kematian mama Elis. Kata kakek buyut juga sejak kecelakaan mama Elis, pria itu sudah pergi entah ke mana untuk mengasingkan diri."


Kenapa aku merasa alasan itu tidak masuk akal, ya? Aku membalas tatapan tante Ellena. "Apa kakek buyut pernah bilang siapa nama pria itu? Eh, maksudku pacar nenek Elis."


"Tidak, Sayang. Sampai sekarang kami semua tidak tahu siapa dan nama pacar mama Elis. Aku, mama, papa dan Jacky berencana untuk menemuinya jika kami tahu dia berada. Kami akan memberinya semangat dan perhatian, karena pasti beliau sangat sedih begitu kehilangan mama Elis. Kami juga ingin mencaritahu apa sebenarnya yang terjadi sampai mereka bertengkar hingga menyebabkan kecelakaan itu."


"Memangnya kakek buyut tidak tahu apa yang menyebabkan mereka bertengkar? Bukankah tadi kata Tante sebelum kecelakaan nenek Elis sempat bicara kepada kakek buyut soal pacarnya dan pertengkaran itu?"

__ADS_1


"Itu dia masalahnya, Zuri. Kakek buyut tidak pernah menceritakannya kepada kami soal itu. Kami merasa ada sesuatu yang disembunyikan kepada kami. Itu sebabnya kami ingin mencaritahu sendiri di mana dan siapa pria itu, agar kami semua tahu apa sebenarnya yang menyebabkan mama Elis meninggal."


Tante Ellena meraih sebelah tanganku.


"Sebenarnya sampai sekarang kami semua penasaran dengan kematian mama Elis. Kematiannya sangat misterius. Bahkan setiap kali membahas itu kepada kakek buyut, beliau selalu mengalihkan pembicaraan. Kakek hanya selalu berkata kepada kami, bahwa orang yang telah meninggal sudah tidak akan bisa kembali lagi. Jadi biarkan saja."


"Memangnya kenapa, Tante?" seketika jantungku langsung berdetak cepat. Ada apa ini? Apa ini semua ada kaitannya dengan kakek Robbie?


"Berjanjilah kamu tidak akan menceritakan ini kepada siapapun? Yang tahu ini hanya tante, mama dan papa. Jacky saja tidak tahu soal ini."


Aku membalas genggaman tante Ellena. "Terima kasih Tante sudah mau percaya padaku."


Tante Ellena tersenyum sesaat kemudian berkata, "Sehari sbelum pemakaman papa Theo memaksakan diri untuk membuka peti mati mama Elis. Padahal sebelumnya peti itu sudah ditutup dan dilarang oleh kakek buyut bagi siapapun untuk melihatnya. Alasan kakek buyut karena jenaza mama Elis sudah hancur akibat kecelakaan itu. Jadi daripada akan menimbulkan ketraumaaan, lebih jangan jangan melihatnya. Begitu kata kakek kepada papa. Karena tidak percaya, papa Theo diam-diam membuka peti itu setelah kakek tertidur. Dan begitu membukanya, ternyata tubuh mama Elis tidak apa-apa. Tidak ada luka maupun bekas goresan akibat kecelakaan seperti yang dikatakan kakek. Namun papa melihat di bagian dahi mama Elis terdapat luka tembak dan di bagian dagu."


Aku terkejut. "Luka tembak?"


"Iya. Di situlah membuat papa tahu kenapa kakek buyut tidak ingin mereka membuka peti itu."


"Jadi beliau meninggal bukan karena kecelakaan?"


"Itu dia yang masih menjadi misteri sampai sekarang, Zuri."


"Apa masalah itu tidak dilaporkan kepada polisi?"


Tante Ellena mengendus. "Hal itu juga yang membuat papa tidak habis pikir. Waktu kejadian itu kakek buyut bahkan melarang papa untuk melaporkan pacar mama Elis kepada polisi. Maksud papa, kalau memang kematian itu ada kaitannya dengan pacar mama Elis, biar polisi yang akan menangani dan mencaritahu semuanya. Tapi bukannya setuju, kakek buyut malah melarang papa untuk melaporkan hal itu ke pihak yang berwajib. Dengan alasan biarkan saja pria itu bebas karena percuma, sekalipun dihukum mama Elis tidak akan pernah hidup kembali."


"Tapi setidaknya kan bisa mendapat keadilan dari pihak korban."


Tante Ellena menggeleng. "Kakek buyut tidak setuju dan tidak akan pernah setuju."


Aneh, kenapa kakek buyut menyenbunyikan luka tembak itu dari mereka, ya? Apa kakek Robbie tahu kalau mantan pacarnya meninggal dengan kondisi seperti itu?

__ADS_1


Bersambung___


__ADS_2