
"Tidak punya kontaknya ... Bagaimana bisa kamu janjian dengannya tanpa ada kontak?"
Kulihat Abigail membuang napas panjang. Mimik wajahnya berubah. Rasanya aku ingin tertawa melihat ekspresi Abigail. Rencana ingin membohongiku akhirnya ketahuan juga.
"Sebenarnya orang itu bukan klienku," kata Abigail penuh penyesalan, "dia bos anakku."
Aku berpura-pura bingung "Anakmu?"
Lagi-lagi ekspresi penyesalan muncul di wajah Abigail. Sejak dulu Abigail tidak bisa berbohong. Jadi, bila ada sesuatu yang tidak benar, hal itu akan terlihat dari ekspresinya walaupun Abigail berusaha menyembunyikannya.
"Anakku ada di kota ini. Dia bekerja di sini dan bosnya ingin bertemu denganku."
"Untuk apa?"
"Aku juga tidak tahu, Jack. Begitu tiba di sini tadi siang, Zuri bilang bahwa bosnya mengundangku makan malam di restoran ini. Itu sebabnya aku ke sini, karena bosnya sudah memesan tempat ini atas namaku."
Aku mengangguk. "Apa bos anakmu tahu statusmu sekarang?"
"Mungkin."
Aku membuang napas panjang. "Kalau begitu lebih baik aku pergi saja."
"Jangan, Jack."
"Kenapa?"
Kulihat ekspresi Abigail terlihat sedih.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin kamu menemaniku di sini."
"Kalau aku di sini, lalu bagaimana jika lelaki itu datang dan melihatku? Apa itu tidak akan mempengaruhi hubungan kalian?"
"Aku tidak punya hubungan dengannya, Jack. Kata putriku bosnya ingin makan malam saja."
Aku diam ta menjawab.
"Aku bersumpah, Jack. Kamu tahu kan aku bukan orang sembarangan. Walaupun sudah menjanda selama puluhan tahun aku tidak akan pernah mengencani laki-laki sembarangan. Jika bukan karena permintaan Zuri aku tidak mungkin berada di sini dan bertemu denganmu."
Aku menatap dingin. "Menjanda puluhan tahun?"
Lagi-lagi Abigail membuang napas panjang. "Ceritanya panjang, Jack."
Aku sudah tahu cerita ini dari Zuri. Tapi aku ingin mendengar langsung dari Abigail kenapa suaminya meninggalkan mereka.
"Berapa lama kamu di sini?"
"Satu-dua hari aku akan kembali. Kenapa?"
Aku tersenyum samar. "Jika kamu tidak keberatan aku akan setia menjadi pendengarmu. Banyak hal juga yang ingin kuceritakan padamu soal istri dan anakku."
Abigail terdiam. Ekspresinya penasaran saat menatapku. "Kenapa istri dan anakmu?"
"Ceritanya panjang. Jika kamu siap menjadi pendengarku katakan saja kapan kamu bisa. Aku akan menyesuaikan waktunya."
__ADS_1
"Aku akan bicara dengan putriku dulu."
Aku senang Abigail membahas soal putrinya. "Ngomong-ngomong sejak kapan anakmu di sini? Lalu kerja di mana dia?"
Abigail terkekeh.
"Kenapa?" tanyaku lembut.
"Apa kamu percaya jika aku tidak tahu di mana anakku bekerja?"
Kedua alisku terangkat. Ekspresiku terkejut.
Abigail tertawa. "Kamu tahu, Jack. Anakku di sini sudah berapa bulan, tapi sampai sekarang aku tidak tahu anakku bekerja di mana dan perusahan apa."
"Bohong."
"Sumpah, Jack. Kamu tahu kan aku tidak pernah berbohong. Saking sibuknya aku tidak pernah bertanya kepada putriku soal itu."
Aku tertawa. "Kamu ibu yang lucu."
Suasana berubah menjadi hangat. Sikap Abigail yang tadinya canggung kini menjadi akrab. Berarti tidak ada dendam ataupun amarah dalam diri Abigail terhadap diriku. Aku jadi tak sabar ingin tahu kenapa Abigail menghilang begitu lama dan tidak memberi kabar padaku dua puluh dua tahun lalu.
Aku melirik jam tangan sudah menunjukkan pukul delapan. Itu artinya sudah hampir satu jam aku dan Abigail bersama.
"Bagaimana dengan bos putrimu? Apa kalian jadi bertemu?"
"Aku akan menghubungi putriku dulu. Kalau memang dia tidak bisa datang aku akan pulang saja."
"Halo, Zuri?" sapa Abigail kepada sosok di balik telepon.
Pelayan pria mendekatiku. "Permisi, Pak. Ada yang bisa di bantu?"
"Aku pesan air mineral dingin."
"Hanya itu saja, Pak?"
Tepat di saat itu Abigail selesai bicara. "Putriku akan menghubunginya."
"Kenapa kamu tidak minta saja kepada putrimu kontak teleponnya?"
Abigail tersenyum. "Zuri ingin aku sendiri yang meminta kontak atasannya itu secara langsung. Kedengarannya aneh, tapi begitulah aturannya. Yang membuatku heran kenapa sampai sekarang bosnya itu tidak menghubungiku? Kalau memang lelaki itu ingin bertemu, seharusnya dia minta kontakku kepada Zuri, kan? Nyatanya sampai sekarang dia memesan restoran yang paling tidak kusukai."
Aku hanya tersenyum.
Drtt... Drtt...
Getaran ponsel Abigail membuatku refleks menatapnya. Kecantikan di wajah Abigail sama sekali tidak berubah. Sekarang ini justru kecantikan Abigail lebih terpancar di banding yang kulihat puluhan tahun lalu. Setelah menjadi ibu ternyata Abigail semakin cantik dan seksi.
Kubiarkan Abigail terus berbicara dengan anaknya. Sambil duduk diam aku terus menatap wajah cantik Abigail yang tak pernah membuatku bosan.
"Baiklah. Setidaknya bukan mama yang membuat atasanmu kecewa, atasanmu itu yang membuat nama kecewa."
Aku terbahak dalam hati. Maafkan aku Abigail, aku terpaksa mengerjaimu."
__ADS_1
Yang Bosnya ada halangan, Jack. Sepertinya dia tidak bisa datang ke sini. Kata Zuri dia minta maaf, tidak bisa menepati janji."
"Lalu bagaimana makanannya?"
Abigail menatap pelayan pria itu. "Apa menu yang dipesankan atas nama Abigail Oliver sudah dibayar?"
"Sebentar ya Nyonya, saya akan mengeceknya dulu."
Kulihat Abigail mengangguk lelu menatapku. "Setidaknya aku sudah tahu kalau atasan Zuri tidak menepati janji. Besok-besok kalau dia memintaku bertemu lagi, jangan harap aku mau menerima ajakannya. Apalagi pilihan restorannya seperti ini."
Aku terkekeh. "Seandainya tidak bertemu denganku, apa kamu akan menunggunya?"
"Tidak akan. Kalau saja tidak bertemu denganmu, mungkin sejak tadi aku sudah pulang."
Aku tersenyum. "Apa alasan lelaki itu tidak bisa datang?" tanyaku pelan. Aku jadi penasaran apa yang dikatakan Zuri kepada Abigail.
"Awalnya anakku terkejut. Dia pikir aku sudah bersama atasannya saat ini sejak tadi. Dia ingin menjemputku. Kubilang saat ini aku sedang bersama teman kampus. Jadi, dia sedikit tenang."
Zuri pasti sedang tertawa sekarang. Aku dan Zuri telah berhasil mengerjai Abigail. "Boleh aku bertanya?"
"Tentu."
Tepat di saat itu pelayan pria itu kembali. "Permisi, Tuan, Nyonya."
Aku dan Abigail menatapnya.
"Semua menunya sudah dibayar lunas."
"Kalau begitu sajikan saja sekarang," kata Abigail kemudian menatapku.
Aku hanya tersenyum sambil mengangguk.
"Baik, Nyonya. Terima kasih."
Begitu pelayan pria itu pergi aku bertanya, "Seandainya kita sedang makan tiba-tiba bos anakmu datang, bagaimana? Apa kamu akan mengusirku dari sini?"
Abigail tertawa. "Aku tidak setega itu, Jack. Lagi pula salahnya sendiri. Tapi kamu tenang saja, kata Zuri dia tidak akan datang. Oh iya, tadi kamu ingin menanyakan apa?"
"Apa kamu pernah menceritakan soal diriku kepada putrimu?"
Abigail terdiam cukup lama. Aku juga diam dan terus menatapnya.
"Maafkan aku, Jack. Bukannya aku tidak ingin dia tahu soal dirimu, ada baiknya dia tidak mengetahui masalaluku bersamu."
"Kenapa?"
"Sejak lahir dia pernah melihat papanya. Dia sangat membenci papanya. Aku takut setelah bertemu denganmu rasa benci kepada laki-laki akan hilang dan memintaku menikah lagi."
"Kamu takut dia memintamu menikah denganku atau apa?"
Abigail membuang napas kasar. "Sebenarnya dia ingin aku menikah dengan bosnya. Aku penasaran seperti apa wujud bos anakku itu sampai-sampai dia mampu mematahkan kunci dalam diri anakku. Memang aku ingin bertemu dengannya karena permintaan anakku. Tapi selain tidak ingin mengecewakan anakku, aku mau bertemu dengannya karena ingin berterima kasih. Aku ingin berterima kasih kepada lekaki itu karena sudah membuat anakku keluar dari rasa bencinya, Jack."
Bersambung____
__ADS_1