My Devilish Daddy

My Devilish Daddy
Status Baru.


__ADS_3

Bibir aku dan Billy saling menempel. Perlahan bibir Billy bergerak begitu lembut membuatku memejamkan mata. Kuikuti gerarakan bibir tipis yang awalnya pelan kini berubah panas. Aku tidak tahu bagaimana cara berciuman. Aku tidak berpengalaman karena memang sebelumnya aku tidak pernah berpacaran. Ini merupakan pengalaman pertamaku. Entah harus sedih atau senang karena Billy merebut ciuman pertamaku, yang jelas aku merasa bahagia dan menikmatinya.


Billy melepaskan bibirnya dariku. Sambil mengelus sebelah pipiku pria yang sekarang berstatus pacarku berkata, "Sebaiknya aku pergi dari sini sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan." Selesai berkata begitu Billy segera berdiri.


Aku hanya tersenyum. Walaupun sedikit kecewa karena sebenarnya aku tidak ingin ciuman itu berakhir, perkataan Billy ada benarnya. Sebagai pria normal berarti Billy menghargaiku. Sebelum keadaan semakin memanas ada baiknya untuk mencegah.


"Aku akan mengantarkanmu ke depan."


Billy setuju kemudian menggenggam sebelah tanganku. Begitu tiba di dekat pintu Billy berhenti, berbalik menatapku. "Boleh aku berkata sesuatu?"


"Tentu saja."


"Aku tidak ingin kamu menjadi sekertaris."


Aku tersenyum. "Kenapa?"


Sebelah tangan Billy meraup pipi kananku. "Pekerjaan kantor akan membuatmu lelah. Aku tidak ingin calon istriku kelelahan. Sebaiknya kamu di rumah saja menyiapkan makanan untuk calon suami dan mertuamu. Anggap saja kamu latihan sebelum kita menikah."


"Kamu ini ada-ada saja."


"Serius, Sayang. Kamu tidak percaya kalau aku akan menikahimu?"


"Bukannya tidak percaya. Tapi ini terlalu cepat."


"Aku tidak main-main, Zuri. Kamu masih ingatkan soal kata-kata, bahwa aku akan menyuruh papa bertemu orang tua wanita itu untuk melamarnya? Dalam waktu dekat ini aku akan melakukannya. Aku akan meminta papa menemui mamamu untuk segera melamarmu."


"Kamu yakin akan menikah dengan wanita sepertiku? Kamu yakin tidak akan menyesal?"


"Apa kamu menyesal?"


Pertanyaan Billy membuatku terkejut. "Sama sekali tidak."


"Sama kalau begitu. Pokoknya kamu lihat saja, dalam waktu dekat ini papa pasti akan berhasil membujuk mamamu untuk memberikan restu kepada kita berdua."


Lagi-lagi aku tertawa. Begitu tawaku terhenti tiba-tiba bibir Billy kembali menempel ke bibirku. Aku pun tak bisa menolak. Kedua tanganku spontan mengalung di leher Billy kemudian membalas ciumanya yang manis. Saking lembut dan menghanyutkan aku sampai memejamkan mata dengan bibir yang terus bergerak di bibir manisnya Billy.


Billy-lah yang pertama kali melepaskannya. Tatapan sayu kami berdua saling beradu. "Maafkan aku. Seandainya bisa mengontrol diri aku pasti sudah menghabisi bibirmu sekarang juga."

__ADS_1


Aku hanya tersenyum. "Tidurlah. Bukankah besok kamu harus bangun pagi-pagi sekali? Kamu harus olahraga sebelum ke kantor, kan?"


"Mulai sekarang setelah olahraga aku akan membantumu menyiapkan sarapan."


"Itu tidak perlu, Billy. Aku____"


Belum sempat melanjutkan kata-kata Billy langsung menempelkan bibirnya ke bibirku secara intens. Aku tak bisa marah, karena aku juga menyukainya.


Setelah bibir kami terpisah Billy merapatkan tubuh untuk memelukku. "Itu regulasi baru. Jadi mulai besok kamu tidak akan sendiri membuat sarapan."


Aku tak bisa membantah. Entah kenapa setiap kali bersama Billy aku seperti anak kecik yang penurut. Setiap perintah yang dikatakannya aku pasti akan setuju. Aku merasa seperti bukan diriku sendiri. Sikap keras yang selalu menjadi ciri khas seorang Zuri Oliver kini hilang bagaikan ditiup angin. Kenapa?


Sebelum bertemu keluarga Daniel aku pasti tidak akan pernah setuju setiap kali ada pendapat yang teman atau mamaku katakan. Sekarang ... Apa karena keluarga ini adalah atasanku? Entah kenapa aku merasa sangat dekat dengan mereka? Bersama kakek Robbie justru terasa sedikit jauh walaupun beliau adalah dekatku. Apa mungkin karena sejak kecil aku dan kakek tidak dekat? Tapi kenapa keluarga Daniel yang baru sebulan kutemui membuatku merasa sangat dekat dengan mereka.


***


Hari ini aku sudah menjadwalkan diri berkunjung ke rumah kakek. Pagi tadi saat sarapan om Jacky mengatakan bahwa siang nanti beliau dan Billy akan makan siang di luar bersama klien. Malam nanti nyonya Lisa menyuruhku ke rumah keluarga besar Daniel untuk makan malam bersama. Kata om Jacky mereka ingin mencoba masakanku. Jadi pagi ini setelah mandi dan tubuh wangi aku memutuskan untuk menemui kakek. Aku akan menghabiskan waktu bersama kakek sampai waktunya tiba aku ke rumah keluarga Daniel.


"Selamat pagi, Non," suara pelayan menyapaku dengan ramah.


"Ada, Non. Mungkin sebentar lagi tuan akan turun. Apa Nona ingin minum sesuatu?"


"Tidak, terima kasih."


Sosok Aaron tiba-tiba muncul. "Selamat pagi, Nona."


"Pagi, Aaron. Kebetulan, ada yang ingin kutanyakan padamu."


Seketika aku langsung teringat pada tante Debora. Saat ini aku dan Aaron berada di ruang tengah. Ruangan ini adalah ruangan bersantai yang sering digunakan kakek kalau beliau ingin menonton televisi. Aku duduk menghadap pintu. Aaron berdiri di dekatku dengan balutan jas hitam rapi yang selalu dia gunakan setiap hari.


"Duduklah, Aaron."


"Tidak apa-apa, Non. Aku berdiri saja. Sebentar lagi tuan akan ke sini menemui Anda."


Sebelum datang aku memang sudah memberitahu kakek soal kedatanganku. Biasanya kakek sudah ke rumah sakit di jam seperti ini. Karena aku memberitahu akan datang, kakek menunda jam kerjanya demi aku.


"Ini soal kejadian di parkiran waktu itu. Mungkin ini akan sedikit membuatmu tersinggung, Aaron."

__ADS_1


"Tidak masalah, Nona."


Aku melirik ke arah pintu untuk melihat apakah kakek muncul atau tidak. Karena belum ada tanda-tanda kehadiran kakek, aku segera melontarkan pertanyaan kepada Aaron yang sudah lama membuatku penasaran.


"Apa kau punya hubungan spesial dengan istrinya om Jacky?"


"Maaf, Nona. Walaupun aku mengenalnya, tapi aku tidak punya hubungan spesial dengan beliau."


"Lalu kenapa waktu itu kau menghindar. Beliau mengejarmu sampai menangis, Aaron."


"Aku____"


"Selamat pagi, Sayang."


Suara kakek Robbie menginterupsi pembicaraanku dengan Aaron. "Pagi, Kakek," aku segera berdiri dan memeluk erat tubuh kakek, "Apa kabarmu, Kakek? Maafkan aku karena baru sempat berkunjung."


"Tidak masalah, Sayang. Kabar kakek baik. Kamu pasti sangat sibuk, ya? Apa pekerjaan di sana sangat melelahkan?"


Kulihat Aaron segera menjauh. Pria itu berdiri di luar pintu untuk berjaga-jaga. Meskipun sudah lama menjadi orang kepercayaan kakek, tapi Aaron selalu bersikap profesional. Pria itu tidak mau mendengar pembicaraanku dan kakek. Dia selalu membarikan aku dan kakek ruang untuk berbicara sesuka hati, walaupun sebenarnya kakek yang memintanya untuk tetap di tempat.


"Tidak, Kakek. Justru pekerjaanku sangatlah ringan. Bisa dibilang pekerjaanku tidak sesuai dengan gajiku."


Alis kakek berkerut. "Tidak sesuai? Apa bosmu itu memberimu gaji sedikit?"


"Bukan itu maksudku, Kakek. Gajiku lebih banyak dari pekerjaanku. Itu sebabnya aku bilang gajiku tidak sesuai dengan pekerjaanku."


"Kakek pikir bosmu itu menggajimu sedikit. Kalau tahu begitu kakek akan membuat perhitungan dengannya."


Aku tersenyum. "Mereka sangat baik padaku, Kek. Mereka bahkan menganggapku seperti keluarga. Kakek tahu, om Jacky malah menyuruhku untuk memanggilnya dengan sebutan papa."


Kakek terkejut. "Jacky menyuruhmu memanggilnya papa?"


"Iya."


Kulihat ekspresi kakek berubah drastis. Dari bahagia sejak pertama kali melihatku, kini berubah suram saat mendengar perkataanku soal om Jacky.


Bersambung____

__ADS_1


__ADS_2