
Kulihat Aaron menyudahi makannya. Dengan ekspresi yang sudah menjadi ciri khas pria itu menatapku lalu menjawab, "Maafkan saya, Nona. Tapi sungguh, saya tidak tahu apa maksud beliau melarang Anda tinggal di sana. Mungkin maksud beliau adalah yang terbaik untuk Anda."
"Terbaik, bagaimana maksudmu? Bukankah kau sendiri yang bilang, tidak semua orang bisa mendapatkan posisi di Daniel Corporation. Aku ... Aku bahkan mendapatkan posisi yang sangat-sangat istimewa di perusahan itu. Apa menurutmu itu bukan yang terbaik? Aku menjadi asisten pribadi pimpinan Daniel Corporation, Aaron. Posisi itu pasti sangat diinginkan semua orang."
"Itu dia masalahnya, Nona. Anda adalah seorang gadis muda, cantik dan pintar. Walaupun Anda hanyalah asisten, tapi apakah orang di luar sana akan percaya bahwa Anda hanya sebatas asisten? Terlebih hubungan rumah tangga beliau dan istrinya sedang tidak baik."
Aku terkejut. "Jadi kau juga tahu soal itu?"
"Masalah itu sudah menjadi rahasia umum bagi kalangan pembisnis seperti kita di kota ini. Untuk apa tuan Daniel tinggal di apartemen sendirian jika bukan karena pisah ranjang dengan istrinya? Terlebih istrinya sering pamer kemesraan di depan umum dengan laki-laki lain. Sudah jelas itulah yang menyebabkan tuan Daniel mengasingkan diri di apartemennya. Dan jika Anda tinggal bersama beliau, apa Anda tidak takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan?"
"Tuan Daniel tidak sendirian, Aaron. Beliau tinggal bersama putranya dan aku tinggal terpisah dengan mereka."
"Baguslah kalau begitu. Dan ingat, Anda harus pintar menjaga diri, Nona."
"Apa maksudmu? Kau pikir aku akan menyerahkan diriku pada tuan Daniel segampang itu, hah?"
"Tidak sedikit bukan bawahan-bawahan yang jatuh dalam pesona atasannya."
Aku marah. "Tidak semua wanita seperti itu, Aaron. Aku bisa membuktikan kepadamu dan kakek, bahwa aku tidak seperti itu."
"Baiklah, jika sudah selesai saya akan menjenguk tuan Robbie dulu."
Aku tak menjawab, membiarkan Aaron pergi meninggalkanku di ruang makan. "Jika perselingkuhan istri om Jacky sudah diketahui oleh umum, kenapa buyutnya Billy tidak tahu? Seharusnya beliau tahu jika publik saja sudah tahu."
Tak ingin memikirkan masalah mereka, aku segera menyudahi makan malam kemudian kembali ke kamar. Kuambil ponsel yang tadi ditinggal di atas nakas. "Mama!" Aku senang melihat beberapa panggilan tak terjawab dari mama. Itu artinya mama sudah bangun dan aku akan memberikannya kejutan. Kutekan radial sambil duduk di atas ranjang.
"Halo, Sayang? Dari mana saja kamu? Kenapa panggilan mama di abaikan, hah?"
Aku tersenyum mendengar nada kekhawatiran dari suara lembut mama. "Aku tadi makan malam di bawah, Ma. Maaf, ponseku ditinggal di dalam kamar."
__ADS_1
"Oh, mama pikir kenapa. Ngomong-ngomong bagaimana harimu seharian ini? Apa kamu sudah menemukan tempat kerja yang cocok?"
Aku tersenyum lebar. "Itu dia yang ingin kusampaikan pada Mama sejak tadi, tapi kontak Mama tidak aktif."
"Maaf, Sayang. Kamu tahu kan mama kalau pulang kantor sedang apa?"
"Aku mengerti, Ma. Tidak masalah."
"Lalu, apa yang ingin kamu sampaikan? Kedengarannya penting sekali."
"Tentu saja sangat penting. Mama tahu? Aku sudah diterima di sebuah perusahan terkenal di kota ini. Kata Aaron banyak orang yang melamar di perusahan itu gagal karena kualifikasinya tidak cocok. Sementara aku, aku bahkan tidak mengajukan permohonan apa-apa, Ma. Pemiliknya sendiri yang langsung mengajakku untuk bekerja di perusahan mereka. Dan yang paling membahagiakan lagi, posisiku sangat tinggi dari pegawai yang lain, Ma. Belum bekerja saja aku sudah mendapatkan fasilitas mobil dan apartemen. Bukankah ini kabar baik, Ma?"
"Benarkah? Ya ampun, Sayang. Mama ikut bahagia mendengarnya."
"Apalagi aku, Ma. Mobil yang diberikan untukku adalah mobil impianku, Mama. Aku bahagia sekali."
Aku pun menceritakan secara detail kejadian di mall waktu itu kepada mama. "Sambil berbincang-bincang beliau menanyakan tujuanku ke sini. Karena tujuanku untuk bekerja, beliau tanpa berpikir panjang langsung menawarkanku pekerjaan. Dan kebetulan kualifikasinya cocok dengan yang beliau inginkan."
"Kamu sangat beruntung, Sayang."
"Tidak hanya itu, Ma. Pekerjaanku tidak sesulit yang Mama bayangkan. Tugasku hanya menyiapkan sarapan, makan siang dan makan malam untuk beliau dan putranya. Jadi status sebagai asisten pribadi bukan untuk membantu beliau di kantor, tapi hanya mengurus asupan beliau setiap hari."
"Apa beliau tidak punya istri?"
"Ada, Ma. Tapi beliau dan istrinya sedang ada masalah. Itu sebabnya beliau mencari asisten pribadi agar ada yang mengingatkannya untuk makan. Kesibukan kantor membuat beliau lupa makan. Jadi tugasku hanya mengingat dan membuatkan makanan untuk beliau."
"Zuri, bukannya mama ingin melarang. Kamu harus hati-hati dengan laki-laki seperti itu. Mama tidak mau dia memanfaatkanmu saja, Sayang."
"Memanfaatkan bagaimana maksud Mama?"
__ADS_1
"Siapa tahu fasilitas yang dia berikan padamu karena ada sesuatu yang dia inginkan darimu. Mama tidak ingin itu terjadi, Nak."
"Aku mengerti. Tapi Mama tenang saja, lagi pula aku tinggal terpisah dengan beliau dan anaknya. Jadi di apartemen itu ada dua pent house. Satu untukku, satu lagi untuk beliau dan anaknya."
"Anaknya? Berarti anaknya ikut beliau?"
"Iya, Ma. Anaknya lebih muda setahun dariku. Dan aku pikir hanya aku saja yang mengalami kehidupan buruk di dunia ini, ternyata dia juga. Malah kehidupannya lebih parah dariku, Ma. Dia harus melihat interaksi antara mamanya dengan laki-laki lain. Kasihan sekali dia, Ma. Walaupun orangtuanya masih lengkap, tapi dia tidak mendapatkan kasih sayang dari mamanya."
"Itulah hidup, Sayang. Tidak semua orang kaya itu bahagia. Tidak sepenuhnya orang miskin menderita. Jika di suruh pilih, mama akan memilih hidup sederhana, di mana semua keluarga lengkap dan saling menyayangi daripada harus hidup kaya tapi tidak bahagia."
"Semoga saja dengan kehadiran aku mereka tertawa agar luka di hati mereka bisa sembuh."
"Baiklah, Sayang. Kamu jaga diri baik-baik, ya. Mama percaya padamu. Jika perlu sesuatu yang sungkan untuk bilang ke mama, ya?"
"Siap, Ma."
"Ya, sudah. Mama keluar sebentar mau cari makan, mama sudah lapar."
"Oke. Hati-hati ya, Ma."
"Terima kasih, Sayang."
Begitu panggilan terputus hatiku rasanya bahagia sekali. Mendapat kepercayaan dari mama adalah sesuatu yang berharga. Aku harus membuktikan kepada mama bahwa apa yang dikhawatirkannya tidak akan pernah terjadi. Begitu juga kepada kakek dan Aaron. Aku harus membuktikan kepada mereka bahwa aku tidak akan terjerat cinta lokasi seperti cerita fiksi yang tercantum dalam novel-novel digital jaman sekarang.
***
Keesokan pagi aku bangun lebih awal dari alarm. Karena ini hari pertama bekerja, aku harus memaksimalkan waktu, mengatur barang di apartemen kemudian membuat sarapan untuk atasanku yang baik hati itu. Kemarin aku ingin menemui beliau untuk mengucapkan terima kasih karena sudah memberikan mobil yang sama persis dengan keinginanku. Namun kondisi dan waktu tidak bisa, karena beliau sedang sibuk. Jadi hari ini aku berniat memasak menu kesukaan beliau sebagai tanda terima kasihku kepadanya.
Bersambung___
__ADS_1