My Devilish Daddy

My Devilish Daddy
Kegiatan di Dapur.


__ADS_3

#Sudut pandang Zuri.


Akhirnya aku merasa tenang. Om Jacky dan Billy tidak menuntut penjelasan lebih soal insiden pagi ini. Tante Debora baik. Walaupun sikapnya jahat, hati dan tujuan melakukan ini semua demi anak dan suaminya.


Aku merasa kasihan tante Debora dimanfaatkan oleh tante Stella dan om Gilbert. Demi kepentingan pribadi kedua orang itu menguras tante Debora. Bagaimana caranya ya biar aku bisa membantu tante Debora keluar dari masalah ini. Kalau terus menerus bersama tante Stella dan om Gilbert, perempuan yang ternyata ibunya Aaron dan Billy itu akan terus berbuat jahat. Sebelum perbuatan tante Debora semakin fatal, aku akan melakukan cara agar wanita itu terbebas dari ancaman temannya.


Sambil berpikir aku sambil mengaduk menu sarapan untuk Billy. Aku membuatkan sup talas kesukaan Billy. Mengingat pacarku ini bukan anak kandung om Jacky membuatku sedih. Suatu saat rahasia ini pasti akan terbongkar. Om Jacky akan murna dan marah kepada Billy dan mamanya. Om Jacky pasti akan mengusir Billy. Om Jacky menyayangiku karena Billy. Keluarga Daniel menerimaku karena Billy. Jadi suatu saat Billy akan diusir, sudah pasti aku juga akan di usir. Keluarga Daniel akan membenci Billy begitu juga aku.


Entah apa yang harus kulakukan agar aku bisa terus bersama om Jacky. Aku tidak ingin jauh dari om Jacky. Aku sangat menyayangi om Jacky, beliau sudah seperti papa kandungku sendiri. Seandainya rahasia itu terbongkar dan om Jacky mengetahui semuanya. Itu artinya bukan hanya Billy yang akan kehilangan om Jacky, tapi aku juga.


Membayangkan rahasia terbongkar itu membuat hatiku sakit. Rasanya aku tak akan sanggup berjauhan dengan om Jacky. Baru sesaat merasakan seperti punya papa, sekarang mau tidak mau aku harus merelakan dan siap jika suatu saat harus kehilangan om Jacky. Ya Tuhan, aku harus bagaimana? Aku ingin membantu tante Debora, tapi aku juga takut kehilangan om Jacky.


Kekhawatiran dan kesedihan itu seketika buyar ketika tangan besar Billy melingkar di perutku. "Sayang, kamu mengagetkan aku saja."


Billy berbisik sambil menempelkan bibirnya ke leherku. "Maaf."


Napas dan sentuhan bibir Billy membuatku geli dan enak. Sambil mengaduk aku sangat menikmati setiap kecupan lembut yang diciptakan oleh bibirnya. "Sebentar lagi sarapanmu selesai."


Tangan Billy berpindah ke dadaku. Telapaknya yang besar kini melakukan pijatan dan membuatku melayang. "Aku ingin menu sarapannya kamu."


Aku menahan gairah sambil terkekeh. Ciuman dan pijatan Billy membuatku gagal berkonsentrasi. Sebelah tanganku reflek memegang tengkuk Billy dan memberikan leherku dengan bebas. Billy menjelajahnya dan aku mulai basah.


"Billy sayang," kataku dengan nada mendesah, "Ada bibi. Nanti kalau bibi lihat, bagaimana?"


Billy menjilat leherku. "Bibi tidak ada. Bibi ada di apartemenmu sekarang."


Aku terkejut. Perasaan ini belum waktunya bibi membersihakan apartemenku. Kenapa ... Pikiranku buyar saat Billy menghentikan ciuman dan pijatannya. Saat ini Billy sudah mengangkat dres dan menyerang bokongku dengan bibirnya.


"Billy," suaraku pelan nyaris tak terdengar.


Billy tak merespon. Billy terus menyerang bagian bokongku dengan tangan dan bibirnya.


"Billy, sup kamu sudah selesai. Ayo, kita sarapan."


Aku sengaja meledek Billy agar pria itu menghentikan perlakukannya. Perlakuan yang sudah membuat kewanitaanku basah.


"Aku belum lapar."

__ADS_1


Billy melepaskan pantiesku. Aku tidak marah dan mematikan kompor. "Bukankah kamu sudah lapar?"


"Hmmm, sebentar lagi."


Aku menggigit bibir saat Billy mengusap bagianku yang berdenyut-denyut.


"Sayang, kamu sangat basah."


Aku berbalik menatap Billy. Billy mendongak kemudian tersenyum.


"Kan kamu yang membuatku basah."


Billy tak menjawab. Billy mengangkat sebelah kakiku kemudian meletakkannya di bahu. "Siap?"


Dengan malu-malu aku mengangguk. Ini adalah adegan yang paling nikat yang kurasa. Aku menatap Billy yang perlahan mendekatkan wajahnya di bagian itu. "Oh, Billy," desahanku lolos saat rasa dingin dan geli menyerang bagian itu, "Billy sayang, enak sekali. Enak sekali, Billy."


Billy memainkan lindahnya dengan lembut. Aku semakin tak tahan, berteriak dan membuka kaki semakin lebar.


"Oh, Sayang."


Billy mempercepat gerakan lidahnya.


Aku seperti orang mabuk. Kepalaku tak menentu sambil memejamkan mata. Aku meremas dadaku sendiri. Billy tiba-tiba menghentikan gerakan lidanya. Aku terkejut kemudian melihat pria itu sedang menatapku dengan pandangan sayu.


"Kenapa berhenti?"


Bukannya menjawab Billy malah bangkit kemudian mengangkatku.


"Mau ke mana?"


"Aku ingin menyantapmu."


Wajahku terasa merah. Aku diam saja dan menurut apa yang dikatakan Billy. Ternyata Billy membawaku ke meja dapur. Billy meletakkan tubuhku hingga terlentang. Kakiku di kangkang.


"Aku ingin mendengar suara indahmu itu, Zuri."


Baru saja ingin membalas perkataannya Billy kembali meletakkan wajahnya di sana.

__ADS_1


"Oh, Billy."


Billy terus menyerang bagian itu dengan lidahnya. Sapuan yang awalnya lembut kini berubah kasar. Aku semakin basah. Semakin menggeliat di bawah kendali pacarku.


"Sayang, aku tak tahan lagi. Aku ingin buang air kecil, Billy. Aku ingin pipis."


Billy tak memberi ampun. Gerakan lidah dan bibirnya semakin ganas. Aku membuka kaki semakin lebar. Meremas kepala Billy sampai akhirnya tubuhku gemetar. Aku mencapai puncak kenikmatan untuk kedua kalinya setelah malam itu.


"Billy, hentikan," aku tertawa saat lidah Billy menyentuh bagian daging kecil yang membuatku terasa geli, "Sayang, hentikan. Kalau tidak aku bisa buang air kecil sungguhan di sini."


Bukannya berhenti Billy malah kembali menggerakkan lidahnya membuat aku kembali bergairah.


"Sayang, aku ingin keluar lagi. Aku keluar."


"Keluarkan, Sayang. Keluarkan."


Aku menggeliat. Memejamkan mata sampai puncak kenikmatan ke dua pun akhirnya selesai. Tubuhku gemetar hebat.


Billy mengehentikan aksinya, bangkit kemudian mencium bibirku. Sejenak aku dan Billy saling menikmati bibir. Tanganku mengalung di lehernya, sedangkan tangan Billy masuk ke dalam pakaianku untuk memijat bagian suburku yang besar dan mulus.


"Ah," aku mendesah saat Billy menyerang pucuk dadaku, "Sayang, aku jadi ingin lagi."


Kali ini Billy langsung menurut. Pacarku ini langsung melepaskan bibirnya kemudian membuatku terduduk. Kami saling bertatapan dengan pandangan penuh gairah.


"Kamu suka?" tanya Billy padaku. Tangan sebelahnya melingkar di pinggangku, sedangkan tangan yang lain menyentuh dan mengusap pipiku.


"Sangat suka. Kamu sangat pintar membuatku tergila-gila."


Spontan Billy ******* bibirku. Kami saling ******* sesaat sampai akhirnya bibir kami terpisah.


"Aku tak sabar lagi ingin menikahimu."


"Aku juga."


Billy mencium dahiku. "Kalau mamamu datang, aku akan menyuruh papa agar segera melamarmu. Aku ingin kita segera menikah, agar kita berdua bisa menikmati momen ini di dalam kamar setiap hari. Aku akan membuatmu lebih nikmat dari ini, Zuri."


Jujur aku juga sangat ingin. Tapi mengingat siapa ayah Billy sebenarnya membuatku ragu. Aku takut suatu saat om Jacky akan marah dan mengusir Billy jika tahu pria ini bukan anaknya. Aku tidak mau berpisah dengan om Jacky.

__ADS_1


Aku harus bicara dengan om Jacky sebelum rahasia itu terbongkar. Aku harus bisa menjodohkan mama dengan om Jacky sebelum lelaki itu tahu, bahwa calon suamiku bukan anaknya.


Bersambung___


__ADS_2