
Mama dan papaku saling bertatapan dengan senyum melebar.
"Apa kamu sudah bicara dengan mamanya Zuri, Jack?"
"Bagaimana respon mamanya, apa dia setuju Zuri menjadi menantu kita?"
Pertanyaan mama dan papa membuatku merasa bersalah.
"Ada apa ini?"
Suara kakek menggema di ruangan. Emosi dalam diri seketika menggebu, mengingat apa yang diceritakan Abigail.
"Pa, mamanya Zuri ada di sini," kata mamaku, "Kata Jacky dia sudah bertemu dengan mamanya Zuri."
"Benar begitu, Jack?"
Aku tidak menatap wajah kakek. Aku hanya mengangkat kepala saja tanpa bersuara. Tepat di saat itu Ellena muncul, membawakan beberapa cangkir teh untuk semua orang.
"Apa kau sudah biara soal lamaran keluarga Daniel kepada putrinya?"
Pertanyaan kakek membuatku menatapnya. "Sudah."
Ingin rasanya aku meluapkan kekesalanku, tapi kata-kata Abigail membuatku bisa mengontrol darah yang mendidih dalam diriku.
"Lalu apa jawabannya?"
"Iya, Jack. Apa mamanya setuju?"
Papaku berdeham. "Kita ijinkan Jacky bicara dulu. Bukankah tadi dia bilang ingin membahas soal Zuri dan Billy."
"Maafkan mama, Nak. Mama terlalu bersemangat."
Kakek mengambil posisi duduk di sofa sebalah kananku. "Cepat katakan, Jack. Apa respon mamanya Zuri saat tahu anaknya menjalin kasih dengan putramu?"
Aku menarik napas kemudian menatap wajah-wajah yang sekarang menatapku penuh gembira. Ellena yang juga duduk di sebelah mama tampak penasaran menunggu jawabanku.
"Mamanya Zuri menolak putrinya menikah dengan Billy."
Zet!
Ekspresi wajah semua orang berubah muram.
"Kenapa, Jack?" desak Ellena.
Mamaku tak mau kalah. "Kamu tidak bohong kan, Jack?"
"Papa tahu, mungkin beliau mau kita sekeluarga yang harus bicara padanya."
Kakek berdeham. "Apa yang kau katakan ini benar, Jack?"
"Apa wajahku terlihat bercanda?"
Semua orang terdiam seperti patung.
"Mamanya Zuri menolak Billy untuk menjadi menantunya. Itu artinya rencana kalian untuk menikahkan mereka gagal."
Mamaku berdiri. "Mama rasa papamu benar, kita semua harus mengunjungi keluarga Zuri dan melamarnya secara langsung."
"Tidak Ma, itu tidak akan mengubah keputusannya."
"Apa wanita itu tidak tahu siapa keluarga terkaya di kota ini?" seru kakek, "Atau memang dia tidak tahu siapa keluarga Daniel?"
Nada tinggi kakek membuatku nyaris emosi. "Mereka bukan keluarga seperti itu, Kakek. Tanpa diberitahu pun dia tahu siapa keluarga Daniel. Lagi pula aku sama sekali tidak membahas soal kekayaan. Mereka tidak gila harta, Kakek."
__ADS_1
Mamaku duduk di sebelahku. Tahu aku sudah marah, mama mendekat untuk menenangkanku. "Kalau begitu apa alasan mamanya Zuri menolak Billy?"
"Alasannya karena Billy dan Zuri ...," rasanya aku tak sanggup mengungkapkan rahasia ini. Kalau aku mengatakan yang sebenarnya, sudah pasti kakek harus disalahkan.
"Billy dan Zuri kenapa, Jack?" desak Ellena, "Jangan buat kami penasaran."
"Benar, Sayang. Katakan, ada apa antar Billy dan Zuri sampai mamanya tidak menyetujui hubungan mereka?"
Aku menatap mama. "Billy dan Zuri kakek beradik, Ma."
Zet!
Kata-kata itu bagaikan petir yang menyambar. Suasana cerah di ruangan itu kini lenyap berganti gelap.
"Zuri putriku. Dia darah dagingku bersama Abigail."
"Abigail?" Ellena mengulang, "Abigail mantan pacarmu, Jack?"
"Iya."
"Kamu mengenalnya, Sayang?" tanya mamaku kepada Ellena.
"Iya, Ma. Abigail wanita baik dan cantik. Abigail adalah wanita yang tempo hari ingin di lamar Jacky, tapi tiba-tiba menghilang entah kemana."
"Jadi wanita yang dulu kamu cari itu adalah mamanya Zuri?"
"Iya, Ma."
Papa berdeham. "Kamu yakin wanita itu tidak bohong?"
"Tidak, Pa. Justru awalnya Abigail ingin merahasiakan identitas Zuri dariku. Tapi begitu aku menyampaikan soal hubungan Zuri dan Billy, di situlah Abigail mengungkapkan siapa Zuri sebenarnya."
"Kenapa dia baru mengungkapkannya sekarang?" tanya Ellena.
Semua orang terkejut. Semua orang menatap bingung.
"Kakek?"
"Apa hubungannya dengan kakekmu, Jack?"
"Iya, kenapa kamu menyalahkan kakekmu?"
"Itu karena kakek telah melukai perasaan seseorang, dan orang itu membalaskan dendamnya dengan memisahkan aku dari calon istri dan anakku."
Kakek emosi. "Apa maksudmu, Jack? Kamu sadar sedang bicara dengan siapa?"
"Aku sadar, Kakek. Kakek lah yang tidak sadar!"
"Jack! Jangan kurang ajar."
"Aku tidak kurang ajar, Papa. Kakek lah yang kurang ajar!"
"Apa maksudmu? Wanita itu yang meninggalkanmu, kenapa yang kamu salahkan adalah kakek?"
Mama dan Ellena terdiam.
"Apa kakek lupa laki-laki bernama Robbie Oliver? Atau kakek tidak tahu Robbie Oliver itu siapa?"
Kakek terkejut menatapku. "Robbie Oliver?"
"Benar, Robbie Oliver. Kakek mengingatnya?"
Kakek terdiam.
__ADS_1
"Siapa Robbie Oliver, Jack?"
"Papa tanyakan sendiri siapa pada kakek siapa Robbie Oliver itu."
Kakek terus diam. Untung saja kakek tidak punya riwayat penyakit kristis. Itu sebabnya aku berani beradu mulut karena aku tahu kakek akan baik-baik saja.
"Robbie Oliver bukannya dokter sekaligus founder di Bebbi Hospital?"
"Benar, Ma."
"Lalu apa hubungannya dengan kakekmu?"
Aku menatap kakek dengan marah. "Papa ingin tahu apa hubungannya Robbie Oliver dengan kakek? Apa Papa ingin tahu kenapa aku menyalahkan kakek atas masalah ini?"
Kakek terus diam.
"Aku akan memberi kesempatan kepada kakek untuk bicara."
Kakek terus diam. Sedangkan semua orang menatap ke arah kakek dengan wajah penuh penasaran.
"Pa, apa benar yang dikatakan Jacky?" tanya papaku, "Apa benar semua ini adalah kesalahannya Papa?"
Kakek terus diam.
"Baik. Kalau kakek tidak ingin bicara, biar aku saja yang bicara."
Tepat di saat itu kakek mengeluarkan suaranya. "Kakek memang mengenal Robbie Oliver. Tapi soal Zuri ... Kakek berani sumpah, kakek tidak pernah tahu kalau Zuri itu adalah putrimu."
"Aku tidak mengatakan Kakek tahu soal Zuri. Tapi perbuatan Kakek lah yang membuat aku terpisah dengan Abigail. Abigail adalah keponakannya Robbie Oliver, Kakek."
Wajah kakek berubah pucat. "Ponakannya Robbie? Itu artinya Zuri adalah cucunya?"
"Benar sekali."
"Sebenarnya ada apa ini? Jangan membuat kami di sini bingung," papaku menginterupsi.
Aku menatap kakek. "Apa Kakek ingin mengatakan hal yang sebenarnya kepada papa?"
Kakek terdiam.
"Pa, ada fakta apa antara Papa dengan kakeknya Zuri?"
Kakekku terus diam. Melihat ekspresi di wajahnya membuat hatiku tidak bergerak sama sekali. Kakek sudah membuatku menyembunyikan fakta di balik kematian bibi. Kakek juga telah menyebabkan Zuri membenciku. Kakek sudah membuat satu keluarga yang seharusnya bersama malah terpisah karena keegoisannya.
"Jawab aku, Pa. Ada apa antara Papa dengan Robbie Oliver?"
Kulihat papaku sudah emosi. Wajahnya yang putih sudah memerah. Berbeda dengan kakek, wajah kakek justru begitu pucat dan tak mau menatap papa. Aku yakin, kakek pasti tidak ingin papaku tahu kalau paman Robbie adalah mantan kekasihnya bibi Elis.
"Jawab aku, Pa."
Mama menenangkan papa.
Kakek terus diam. Mungkin kakek merasa bersalah dan tak menyangka masalah ini akan terbongkar.
"Jawab aku, Papa."
Aku berdeham. "Jawab papa, Kakek."
Kakek hanya diam.
"Apa Kakek ingin aku yang menjelaskan kepada papa soal keterikatan Robbie dan Kakek?"
Bersambung____
__ADS_1