My Devilish Daddy

My Devilish Daddy
Stella dan Gilbert.


__ADS_3

Jacky dan Abigail terkejut. Mereka tidak mengucapkan apa-apa, namun tampak bersalah.


Billy juga terkejut. "Mama."


Debora menatap Abigail dan Jacky. "Sekarang waktunya untuk membuka rahasia ini. Jika kalian terus menyembunyikannya, maka Billy tidak akan pernah menikahi Zuri."


Billy bingung. Meski penasaran, ia tetap diam dan menunggu penjelasan mereka.


Debora berdiri di dekat Billy. Dengan wajah tenang dan berlinang air mata, ia menceritakan semuanya, termasuk pernikahannya dengan Jacky dan fakta bahwa Billy adalah hasil dari hubungannya dengan Gilbert.


"Mohon maafkan mama, Nak. Mama melakukan ini demi kebaikanmu dan kakakmu."


Billy terkejut lagi. Jika dia memiliki riwayat penyakit jantung, mungkin dia sudah pingsan saat ini.


Sementara itu, Abigail dan Jacky masih diam tanpa berkata apa-apa. Meski status Debora sekarang sudah menjadi mantan istri, Jacky tidak bisa mencegah wanita itu untuk membongkar rahasia yang seharusnya diketahui. Rasa khawatir Jacky tentang rahasia yang belum diungkapkan kepada Zuri jauh lebih besar daripada situasi saat ini.


Jacky mendekati Billy, "Tindakan mama adalah kesalahan besar dan tidak semua orang bisa memaafkannya. Namun, jika Mama tidak bertemu dengan kakek buyut, mungkin aku bahkan tidak akan tahu kalau Zuri adalah anakku."


Billy masih diam. Dia sendiri tidak tahu apa yang harus dirasakan saat ini. Marah, benci, bahagia. Dia merasa marah kepada Debora karena telah membohonginya dan menjadi benci karena ayah kandungnya adalah Gilbert. Namun, dia merasa bahagia karena Jacky tidak membenci dan masih mau menikahkan Zuri dengannya. Padahal dia adalah anak haram dari hubungan gelap antara Debora dan seseorang seperti Gilbert.


"Tuhan mempertemukan kita melalui cara ini. Jika kamu tidak mencintai Zuri, papa tidak akan pernah bertemu lagi dengan Tante Abigail. Saya tidak akan tahu bahwa Zuri adalah anakku."


Billy menatap mereka. "Apakah Zuri sudah tahu rahasia ini?"


Debora menjawab, "Dia adalah orang pertama yang saya ceritakan. Dia tahu bahwa kamu bukan anaknya Jacky."


"Jadi itulah sebabnya dia ingin menikahimu," kata Abigail, "Dia ingin menikah sebelum rahasia ini terbongkar. Rahasia bahwa kamu bukan anak kandung Jacky bukanlah satu-satunya rahasia. Dia juga harus tahu bahwa dia adalah anak kandung Jacky."


"Jadi Zuri belum tahu kalau ayah kandungnya adalah Jacky?"


Mereka semua mengangguk.


"Sebenarnya inilah yang menjadi ketakutan Jacky dan saya sekarang," kata Jacky, "Jika dia mengetahui bahwa saya adalah ayah kandungnya, mungkin dia tidak mau lagi menikahimu, Billy."


"Mengapa?"


"Tante telah menanamkan banyak kebencian dalam dirinya. Dia bilang bahwa Jacky meninggalkan kami demi wanita lain."


"Kami bisa menjelaskan semuanya padanya, Abigail," kata Debora, "Aku yakin dia akan mengerti jika kita menceritakan semuanya tentang diriku dan keluarga Jacky."


"Saya juga merasakan hal yang sama seperti Billy sekarang," kata Abigail, "Awalnya saya sangat marah ketika Mama masuk dan bilang bahwa Billy bukan anak kandung Jacky. Namun, setelah saya mendengar penjelasannya, saya tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Saya rasa Zuri akan merasakan hal yang sama."


Jacky mendekati Abigail. Dia memeluknya dan berkata, "Billy dan Debora benar. Kita semua harus menjelaskan ini kepada Zuri."


 

__ADS_1


Zuri tidak ingin menghabiskan waktu terlalu lama di apartemennya. Dia segera mandi dan pergi kembali ke rumah sakit. Perasaannya terhadap Billy semakin kuat dari hari ke hari. Begitu tidak bersamanya, dia merasa sangat gila.


Setelah setengah jam, Zuri akhirnya tiba di rumah sakit. Dia mencari tempat parkir kosong untuk mobilnya dan berputar mencari-cari hingga menemukan tempat paling ujung di sudut rumah sakit.


Drrtt... Drrtt...


Namun sebelum dia keluar dari mobil, panggilan telepon masuk. Dia menjawab panggilan dari ibunya.


"Aku sudah sampai, Ma."


"Kalau begitu cepat masuk, kami semua menunggumu di sini."


Jantung Zuri berdetak. "Ada apa, Ma? Billy baik-baik saja?"


"Billy baik-baik saja. Ayo, cepatlah ke sini."


Setelah memutuskan panggilan, Zuri segera keluar dari mobil. Namun, ketika dia berbalik, dia melihat seseorang yang paling dibencinya muncul di hadapannya.


"Angie, kamu ada di sini untuk apa?"


"Seharusnya aku yang bertanya padamu. Kamu datang ke sini untuk apa?"


"Karena Billy, calon suamiku, sedang dirawat di sini," jawab Zuri dengan merasa kesal.


Zuri tidak peduli. Dia ingin segera pergi, namun tiba-tiba Angie menahannya.


"Tidakkah kamu tahu bahwa Billy bukan anak kandung Jacky orangtuanya? Lebih baik kamu meninggalkan mimpimu untuk menjadi nyonya besar di keluarga Daniel. Tak lama lagi Jacky akan mengusir kalian semua jika Billy tidak bisa membuktikan bahwa dia anak kandung Jacky."


Zuri mendesis kesal. "Sayangnya, kabar itu sudah kami ketahui jauh sebelum kau berdiri di sini."


Angie terkejut.


Zuri semakin mengejek. "Tidak heran tante Debora membatalkan perjodohanmu dengan Billy. Kau adalah wanita jahat dan tak kenal malu. Kau suka Billy hanya karena harta. Kau pikir aku tidak tahu tentang keterkaitan ibumu dan Gilbert. Kau pikir aku tidak tahu bahwa Mamaku adalah ibu Aaron. Jika saja Aaron tahu bahwa Mamamu adalah yang menyuruh tante Debora untuk meninggalkan papanya, apa yang menurutmu akan dia lakukan terhadapmu?"


"Jangan bersikap sok tahu, anak haram!"


Tiba-tiba suara datang dari gelap. Zuri mencari-cari, dan akhirnya sosok Stella muncul dan berdiri di samping Angie.


Angie senang. Ibu nya datang tepat pada waktunya. Bagi Angie, ini akan menjadi pertunjukan yang sangat menghibur.


"Kamu pikir kami tidak tahu bahwa kamu dilahirkan tanpa seorang ayah?" Stella memberikan komentar, setelah melihat ke arah Angie.


Sebagai profesor bahasa Indonesia yang berpengalaman, saya melakukan revisi terhadap teks di atas:


" Ini bukan urusan kalian. Meski tanpa ayah, ibuku berhasil membesarkanku sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Berbeda dengan kalian yang ingin hidup enak dan menggunakan orang lain sebagai senjata kalian. Sayangnya, kebusukan kalian sudah terbongkar oleh Tante Debora. Untungnya perjodohan itu dibatalkan, jika tidak, Tante Debora pasti akan menyesal seumur hidup."

__ADS_1


Stella kesal. "Kau sangat tidak sopan. Apakah ibumu tidak mengajarmu bagaimana berbicara dengan orang dewasa?"


"Orang dewasa seperti kalian tidak pantas dihargai. Maaf, aku harus masuk. Calon suamiku sudah menunggu."


Saat Zuri hendak berbalik, Stella meneriakinya. "Mungkin kau belum tahu, kalau sebenarnya ibumu memiliki hubungan spesial dengan Jacky."


Zuri menoleh dan tersenyum. "Aku sudah tahu dan sebentar lagi mereka akan menikah."


"Menikah?" Stella terbahak, "Apa kamu ingin ibumu menikah dengan lelaki yang telah melecehkannya? Kau pasti tidak tahu, kalau sebenarnya kau adalah hasil dari hubungan gelap antara ibumu dan Jacky."


Zuri terkekeh. "Mengapa kalian tidak menjadi artis saja? Peran kalian berdua sangat cocok sebagai antagonis dalam sebuah sinetron."


"Ibumu tidak bercanda, Zuri. Kamu adalah anak kandung Om Jacky. Ibumu menjalin hubungan dengannya saat masih kuliah. Sayangnya, Jacky harus meninggalkan ibumu demi Debora."


Zuri tertawa lagi. "Apakah kalian berdua sudah selesai?"


Suara berat lelaki yang tiba-tiba muncul membuat mereka terkejut. "Gilbert?" kata Stella. Ia tersenyum saat lelaki itu muncul, "Kamu datang pada waktu yang tepat. Gadis muda ini sepertinya tidak percaya kalau dia anak kandungmu Jacky. Coba jelaskan padanya, biar dia mengerti."


Gilbert mendekati Zuri. "Nak, masuklah. Tak perlu menggubris orang seperti mereka."


Stella dan Anggie terkejut. "Billy menunggu kamu. Masuklah."


Zuri tersenyum. "Terima kasih, Papa. Segera aku masuk dulu."


Gilbert terkejut. "Kamu memanggilku papa?"


"Tentu saja, kamu sebentar lagi menjadi papa mertuaku, kan?"


Gilbert terharu. Namun, keberadaan Stella dan Anggie membuatnya gelisah. Ia merasa tidak aman dengan kehadiran mereka berdua. "Masuklah, Nak."


Zuri menuruti, sedangkan Gilbert berdiri di depan mereka dengan wajah penuh emosi. "Sebaiknya kalian jangan mengganggunya lagi."


"Rupanya sekarang ada pengkhianatan," kata Stella, "Kau lupa kondisimu dulu, hah?"


"Semua sudah berakhir, Stella. Kalian sudah mendapatkan apa yang kalian inginkan. Sekarang, biarkan aku mendapatkan apa yang aku inginkan."


"Tidak semudah itu, Gilbert," Stella mengambil pistol dari sakunya. Ia menempelkan benda itu tepat di depan wajah Gilbert. "Sampai kapan pun aku tidak rela kamu bersama Debora."


"Jauhkan benda itu dari aku, Stella."


Anggie berusaha melarikan diri.


"Tidak akan. Kamu tahu aku mencintaimu, Gilbert. Jadi, jika aku tidak bisa memilikimu, maka Debora pun tidak boleh."


-Tamat-

__ADS_1


__ADS_2