
"Menyakiti bagaimana maksud, Mama?"
"Kau akan mengetahuinya. Ayo, kita harus pergi dari sini, mama tidak ingin Debora melihat kita."
"Rencana kita, bagaimana?"
"Kita bicara nanti. Ayo, sebelum mereka melihat kita. Kamu lihat, di sana banyak pengawal mereka."
"Mereka bukan pengawal, mereka hanya supir."
Stella bergegas diikuti Anggie dari belakang. "Sama saja. Mama tidak ingin mereka tahu kedatangan kita."
"Kan kita bisa beralasan menjenguk Billy."
"Kamu lupa?! Kamu itu pernah bermasalah dengan mereka. Kedatangan kamu justru akan membuat mereka curiga."
"Itu sih menurut Mama saja. Kalau aku berpura-pura baik, mereka pasti akan percaya."
Langkah Stella terhenti tepat di tangga depan rumah sakit. "Mama punya ide."
"Ide apa?"
"Ikut mama."
Stella mengajak Anggie menuju parkiran mobil. Begitu mereka masuk ke dalam mobil, Stella membuka penyamarannya. Kaca mata hitam dan kerudung yang ia pakai pun dilepas. Anggie juga demikian. Ia membuka kaca mata serta masker yang dipakainya.
Posisi saat ini Stella duduk di bangku penumpang, sedangkan Anggie duduk di bangku kemudi.
"Karena mereka tidak mengenal mama, nanti malam mama akan kembali dan menjenguk Billy di ruangannya."
"Mama akan datang sendirian?"
"Kamu tunggu di mobil, mama akan masuk seolah-olah mama tidak tahu apa-apa."
"Mereka tidak akan mengijinkan orang asing masuk, Mama."
"Kamu diam saja dan tak usah banyak protes, mama sudah memikirkan itu jauh sebelum kau mengatakannya."
Anggie diam.
"Sekarang kita kembali ke rumah, mama akan menyuruh orang untuk memantau mereka."
***
Di ruangan VIP, Billy sedang terbaring dengan kondisi yang cukup memperihatinkan. Meksi tidak terlalu parah, kaki dan tangannya di perban akibat goresan dan benturan saat mengalami kecelakaan.
Selain Billy, di ruangan itu ada Abigail, Jacky, sedang berdiri di samping ranjang sambil menatap Billy. Mereka baru saja tiba.
Tak hanya mereka, Lisa dan Theo ada di ruangan itu. Mereka duduk di sofa panjang, menghadap brankar pasien di mana cucu laki-laki mereka terlihat sedih.
__ADS_1
"Zuri, sekarang sudah jam tujuh malam. Sebaiknya kamu pulang mandi dulu dan makan. Mama dan om Jacky akan menjaga Billy," kata Abigail.
"Ma, Pa," kata Jacky sambil menatap Lisa dan Theo, "Mama dan Papa sebaiknya pulang saja dan istirahat."
Sejak tadi pagi Zuri-lah yang sudah menjaga dan merawat Billy. Lisa dan Theo datang waktu siang, membawakan makan siang untuk mereka berdua.
"Benar, Sayang," tambah Lisa, "Sebaiknya kita pulang sekarang. Kalau kamu ingin menjaga Billy, kamu bisa kembali nanti."
Zuri menatap Billy. Ekspresi sedihnya membuat pria itu tersenyum.
"Benar kata mereka, kamu harus mandi dan istirahat. Aku akan baik-baik saja."
Sejak mendapat kabar mengenai kecelakaan itu, Zuri sama sekali tidak ingin meninggalkan Billy sedetikpun. Ia takut pria itu akan berbuat hal bodoh, yang mungkin akan membuat Zuri kehilangannya.
Namun, rasa gerah, mengantuk dan lelah menyelimuti dirinya. Berendam dengan air panas dan aroma therapi mungkin solusi terbaik untuk menghilangkan itu semua.
"Baiklah, tapi aku akan kembali lagi ke sini nanti malam, aku yang akan menjaga Billy sampai dia keluar dari sini."
Semua orang tersenyum.
Lisa mendekatinya. "Tentu saja, Sayang. Ayo, semakin cepat kita pulang, semakin cepat kamu akan ke sini."
Billy mengulurkan sebelah tangannya kepada Zuri.
Zuri mendekati kemudian menggenggamnya.
"Aku akan kembali."
Semua orang menatap haru.
Setelah berpamitan, mereka pun akhirnya pergi, meninggalkan Jack, Abigail dan Billy.
Abigail-lah yang pertama kali mendekati Billy. Ia duduk di atas brankar sambil memegang sebelah tangan Billy.
"Bagaimana keadaanmu, Sayang?"
Seandainya Billy belum mengetahui yang sebenarnya, sampai detik itu pun pria itu tidak akan mau bicara dengan Abigail maupun Jacky.
"Sudah membaik."
Jacky melihat ekspresi Billy. Terlihat pria itu malu-malu menatap mereka. Jacky pun mendekat dan duduk di sebalahnya.
"Papa sudah mendengar apa yang terjadi. Mungkin sudah saatnya kamu tahu semuanya, Billy."
Billy hanya diam. Ia menunduk dan memikirkan apa yang dilontarkan Debora waktu itu. Ia masih tak percaya kalau Zuri anak kandung dari papanya sendiri.
"Sebelum bertemu ibumu, papa dan mamanya Zuri berpacaran. Kami berpacaran semenjak kuliah."
Saat itulah Billy menatap mereka berdua secara bergantian.
__ADS_1
Tak hanya Billy, Abigail juga menatapnya dengan senyum haru.
"Saat papa sudah lulus kuliah, papa didesak oleh kakek untuk segera menikah. Kakek ingin papa cepat menikah, agar memberikan cucu sebagai pewaris perusahan."
Billy memperhatikan.
"Karena tante Abigail belum lulus kuliah waktu itu, papa menunggu sampai dia lulus kuliah. Sehari setelah pengumuman kelulusan papa mengajak dia ke rumah, untuk memperkenalkan pada kakek dan kedua orang tua papa."
Jacky terdiam.
Billy penasaran.
Abigail lah yang melanjutkan. "Dalam perjalanan itu sesuatu terjadi pada kami, mobil kami dihadang oleh beberapa orang yang tidak dikenal. Mereka bertopeng. Awalnya kami pikir mereka perampok, ternyata bukan. Mereka tidak hanya menyuruh papamu turun, mereka memukulnya hampir mati dan membawaku pergi entah ke mana. Sejak malam itu sampai beberapa hari kemarin aku tidak pernah lagi bertemu Jacky."
Billy terkejut. "Siapa mereka? Kenapa tidak melaporkan mereka ke polisi?"
Jacky masih diam.
Abigail membuang napas panjang. "Itu semua perbuatan pamanku."
"Paman, maksud Tante dokter Robbie?"
"Ya. Beliau dendam pada kakek buyutmu. Jadi, beliau sengaja memisahkan aku dan Jacky, sama seperti waktu kakek buyutmu memisahkan pamanku dengan kekasihnya, tante Elis."
"Tante Elis menjalin hubungan dengan dokter Robbie?"
Saat itulah Jacky bersuara, "Iya, Billy. Cintaku dan Abigail sama seperti cinta dokter Robbie kepada nenek Elis. Kami berpisah bukan keinginan kami sendiri."
"Apa Zuri tahu soal ini?"
Abigail menggeleng. "Saat paman mengirimku ke luar kota, aku sendiri tidak tahu kalau aku sedang hamil. Pamanku sendiri yang menyuruh dokter memeriksaku saat diriku sakit. Begitu tahu aku hamil, bersyukur dia tidak menyuruhku menggugurkannya. Aku melahirkan Zuri dan merawatnya sampai saat ini. Itu sebabnya aku tidak ingin dia ke kota ini, aku tidak ingin dia bertemu Jacky. Tapi ternyata pertemuan mereka membongkar rahasia yang tidak pernah kami ketahui."
"Lalu, apa alasan Tante kepada Zuri, apa dia tidak pernah bertanya soal papa kandungnya?"
"Ada, tapi aku telah menanamkan kebencian yang dalam pada dirinya terhadap papanya. Dia tahu papanya meninggalkan kami demi wanita lain," Abigail menatap Jacky, "Aku tak bisa bayangkan apa yang terjadi, jika dia tahu Jacky adalah papanya."
"Tapi dia kan tidak tahu yang sebenarnya. Aku rasa kalau kalian menjelaskannya dengan jujur, dia pasti akan mengerti."
"Aku dan papamu berencana tidak akan memberitahukan hal ini padanya. Itu sebabnya kami ingin kau dan dia menikah, agar dia dan Jacky tidak terpisah lagi."
Billy menggeleng. "Apa kalian sudah gila, menikahkan aku dengan saudaraku sendiri? Aku memang mencintainya, tapi tidak mungkin aku menikahi wanita yang sedarah denganku."
"Kalian tidak sedarah, Billy."
Sosok yang baru masuk mengejutkan mereka semua.
"Kau dan Zuri bukan saudara. Kau bisa menikahinya, karena kau bukan anaknya Jacky."
Bersambung____
__ADS_1