
"Harusnya kamu libur hari ini. Tidak masalah, papa dan Billy bisa sarapan di luar."
"Tidak, Pa. Hari ini aku akan membuatkan bubur ayam untuk Papa dan Billy."
"Bubur ayam?" tanya om Jacky antusias, "Papa jadi lapar."
Aku dan om Jacky tertawa. Ini adalah kesempatanku bicara mumpung mood om Jacky lagi bagus. Dan tentu saja karena tidak ada Billy. Kalau ada pria itu sudah pasti semuanya akan kacau.
"Pa?"
Om Jacky menatapku. Pandangannya penuh kasih sayang, membuat hatiku senang tiada duanya.
"Aku ingin minta sesuatu dari Papa."
Tepat di saat itu aku selesai membuat bumbu yang membuat masakanku enak. Tinggal menunggu bubur masak kemudian mencampurkannya ke dalam bubur.
"Tentu saja, Sayang. Apa yang kamu inginkan, papa pasti akan memberikannya."
"Ini tidak menyangkut uang atau barang, Pa," kulihat alis om Jacky berkerut.
"Apa?"
Aku menatap serius ke wajah tampan om Jacky. "Kalau Papa bertemu mamaku, aku ingin Papa jangan membahas soal hubunganku dengan Billy terlebih dahulu."
"Kenapa, Sayang? Apa mamamu melarangmu berpacaran?"
Aku menggeleng kepala. "Bukan begitu, Pa. Mama justru senang jika beliau tahu aku punya pacar. Tapi ...," aku merasa bersalah, "Ini salahku, Pa. Sebelum menjalin hubungan dengan Billy aku sudah membicarakan Papa kepada mama. Aku bilang hubungan rumah tangga Papa sedang tidak baik. Aku minta maaf, Pa."
Kulihat ekspresi om Jacky menahan tawa. "Papa tidak marah. Itu memang benar, kan?"
"Iya, Pa. Tapi bukan itu masalahnya."
"Kalau begitu apa?" om Jacky melipat kedua tangan di depan tubuhnya.
Selain urusan bisnis, mama ke sini untuk bertemu Papa. Aku tidak ingin mengecewakan mama. Jadi, aku harap Papa bisa bekerja sama denganku agar mama tidak kecewa."
Om Jacky tertawa. "Jadi kamu ingin menjodohkan papa dengan mama?"
Aku mengangguk.
Om Jacky mendekatiku. Tangannya yang besar memeluk leher layaknya seorang ayah memeluk anaknya. Aku balas memeluk om Jacky. Pelukan itu terasa hangat. Aku merasa om Jacky seperti papaku. Bukan karena beliau adalah papa dari pacarku. Terlepas dari itu, perasaanku mengatakan pelukan om Jacky sama seperti papa kandungku.
Om Jacky melepaskan pelukan, menatap kemudian mencium dahiku. Om Jacky tersenyum. "Kamu ingin papa melakukan apa, hah? Katakan, papa akan menurutinya."
Betapa bahagianya aku mendengar itu. Kata-kata yang tidak pernah kudengar dari papa kandungku. "Aku hanya ingin Papa bertemu mama layaknya teman. Aku ingin Papa menganggap mamaku seperti teman bukan calon besan."
"Baiklah. Tapi, papa boleh bertanya?"
__ADS_1
Aku mengangguk.
"Seandainya papa bertemu mamamu dan menyukainya, bagaimana?"
Aku tersenyum lebar. "Tidak masalah. Aku justru suka Papa menjadi papa sambungku."
Om Jacky tertawa.
Setelah om Jacky tertawa aku berkata, "Mama sudah lama membutuhkan lelaki di sampingnya. Sudah saatnya mama bahagia. Kalau memang bertemu Papa membuat mama ingin membangun kebahagiaannya, aku akan mengalah demi kebahagiaan mama, Pa."
Ekspresi om Jacky berubah. Beliau kembali mendekat dan memelukku.
"Sudah lama aku ingin punya papa. Sudah lama aku ingin merasakan kasih sayang dari papa. Bertemu Papa, aku merasa telah mendapatkan apa yang kuinginkan. Aku ingin Papa menjadi papaku."
Aku menangis. Om Jacky melepaskan pelukan, meraup kedua pipiku kemudian mengusap airmataku.
"Maaf Pa, bukannya aku tidak ingin memperjuangkan hubunganku dengan Billy. Aku hanya takut kehilangan Papa. Hubunganku dengan Billy kapan saja bisa putus jika Tuhan tidak mengijinkan. Aku tidak mau karena itu Papa menjauh dariku. Sebab itu aku ingin Papa dekat dengan mama."
"Papa mengerti, Sayang. Sudah, jangan menangis lagi ya. Papa janji akan bertemu mamamu. Papa akan neluangkan waktu untuk berkencan dengan mamamu."
"Benarkah?"
"Iya."
Aku memeluk erat om Jacky. "Terima kasih banyak, Pa. Terima kasih banyak."
***
Aku tertawa membayangkan itu. Maafkan aku Billy sayang. Ini satu-satunya cara agar kita bisa bersama. Aku juga minta maaf karena saat ini aku belum bisa jujur padamu.
Setelah memakan waktu hampir tiga puluh menit aku akhirnya tiba di bandara. Mama pasti sudah menunggu. Pesawat mama sudah landing sejak satu jam yang lalu.
Aku memarkirkan mobil. Masuk ke dalam, mencari mama. Untung saja aku menemukan wanita cantik itu. "Halo, Ma."
Mama segera memelukku. "Sayang, mama merindukanmu."
"Aku juga. Ayo, kita pergi."
Aku dan mama berjalan menuju parkiran.
"Kamu bersama siapa, Sayang?"
"Sendiri, Ma."
Tepat di saat itu aku dan mama tiba di parkiran. Mama terkejut-kejut melihat mobilku. "Ini mobil pemberian atasanmu?"
"Iya. Keren, kan?"
__ADS_1
Mama duduk di sampingku. Setelah memasang sabuk mama menjawab, "Mama tidak percaya kalau hubungan kalian hanya sebatas atasan dan bawahan. Tidak ada atasan akan memberikan mobil sekeren ini, jika kau tidak memberinya pelayanan lebih."
Aku tertawa sambil menjalankan mobil. "Mama ini ada-ada saja. Oh iya, nanti kalau ada waktu atasanku ingin bertemu mama malam ini," waktu di dapur om Jacky dan aku sudah mengatur rencana yang pasti akan membuat mama terkejut.
"Malam ini, apa itu tidak terlalu cepat?"
"Bukankah lebih cepat lebih baik?"
Mama memukul lenganku. "Kamu ini ada-ada saja. Mama akan tinggal berapa hari di sini. Jadi kamu tenang saja, mama pasti akan bertemu dengan atasanmu itu."
"Baiklah."
"Ngomong-ngomong siapa nama atasanmu? Biar pas bertemu dengannya, mama bisa menyapa dan sudah tahu namanya."
"Rahasia, Ma. Mama sebaiknya berkenalan langsung biar Mama tahu siapa namanya."
Ekspresi mama terkejut. "Oh, jadi sekarang anak mama membela orang lain ya?"
"Bukan begitu, Ma," aku tertawa, "Ada baiknya seperti itu, mama berkenalan langsung dan cari tahu semuanya tentang bosku itu. Aku yakin setelah bertemu dengannya Mama akan langsung menyukainya."
"Sok tahu kamu."
Kami berdua tertawa.
"Oh iya, Mama ingin menginap di rumah kakek atau di apartemenku?"
"Mama merindukan kakekmu. Selama di sini mama ingin bersamanya. Tapi kalau ada kesempatan mama ingin ke apartemenmu. Mama penasaran, seperti apa apartemen yang diberikan atasanmu itu."
Mobil saja sudah membuat mama terkejut apalagi apartemen. Bisa-bisa mama akan iri padaku karena om Jacky memberikan fasilitas mewah yang tidak pernah mama dapatkan dari suami brengseknya itu.
***
Aku dan mama akhirnya tiba di rumah kakek.
"Sayang, bos kamu tidak akan marah kamu bersama mama?" tanya mama ketika aku keluar dari mobil dan mengambil koper mama, "Kamu kan harus kembali kerja. Ini sudah jam makan siang. Apa kamu tidak akan membuat makan siang untuk mereka?"
"Mama tenang saja. Bos sudah memberiku ijin padaku."
Ting!
Bunyi notifikasi di ponsel membuatku segera memeriksanya. Aku tersenyum lebar. "Ma?"
"Iya, Sayang."
"Nanti malam bosku ingin mengundang Mama makan malam bersama. Apa Mama bisa?"
Bersambung____
__ADS_1