My Devilish Daddy

My Devilish Daddy
Kabar Duka.


__ADS_3

#Sudut Pandang Penulis.


Pukul sembilan pagi di rumah besar keluarga Oliver, Zuri terlihat gelisah. Ia mondar-mandir di dalam kamar. Ponselnya tidak lepas dari telinga dan mata.


"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah___"


Zuri memutuskan panggilan. Sudah puluhan kali ia memanggil kontak bernama Billy tapi jawabannya sama.


Gelisah tak ada kabar sejak berapa jam yang lalu, Zuri akhirnya keluar kamar dan turun ke lantai bawah.


Tepat di saat itu Abigail muncul dengan tubuh terbalut pakaian yang rapi. "Ada apa, Nak?"


Zuri tampak gelisah. "Boleh aku minta bantua Mama?"


"Tentu, Sayang."


Zuri dan Abigail duduk di ruang tamu. Zuri duduk di sofa panjang berhadapan dengan Abigail.


"Sejak pagi ponsel Billy tidak aktif. Aku menghubunginya, tapi tidak ada jawaban."


"Mungkin ponselnya mati, Sayang," alis Abigail berkerut, "Apa dia menceritakan masalah semalam?"


"Iya dan aku berhasil menenangkannya. Dia menginap di rumah mamanya. Pagi ini dia janji akan menjemputku, mengambil gaun di apartemen, lalu kita akan ke rumah utama bersama. Nyatanya sudah tiga jam dia belum juga datang."


"Kamu ingin mama melakukan apa, hah?"


"Tadinya aku ingin Mama menghubungi om Jacky untuk menyuruhnya mencaritahu di mana Billy," Zuri mengendus, "Mungkin ini hanya pikiranku saja. Mama benar, kita tunggu saja sampai dia datang."


"Boleh mama bertanya?"


"Ya."


"Apa yang diceritakan Billy semalam padamu soal ...."


Zuri tersenyum paksa. Rasa gelisah dalam diri menyelimuti dan membuat moodnya hilang seketika.


"Sama persis dengan apa yang Mama ceritakan padaku semalam. Dia hanya takut, aku akan membatalkan pernikahan ini dan merestui hubungan mama dan om Jacky."


"Lalu apa jawabanmu?"


"Apa pun yang terjadi, aku akan tetap menikah dengannya. Aku bilang hubungan mama dan om Jacky belum tentu dapat restu dari semua orang, sedangkan hubungan kami sudah mendapat restu dari semua orang. Dia tidak perlu tahu alasan aku menerimanya, yang terpenting dia dan om Jacky tak akan terpisah."


Ekspresi Abigail berubah. 'Ya, Tuhan, seandainya Zuri tahu Jacky papa kandungnya, apa dia mau menerima Billy meskipun pria itu bukan anak kandung Jacky?'


Drtt... Drtt...


Getaran ponsel Abigail membuatnya terkejut. Ia melirik ke arah benda tersebut, melihat nama Jacky sebagai pemanggil.


Zuri yang penasaran pun langsung melontarkan pertanyaan pada ibunya, "Siapa, Ma?"


"Om Jacky."


"Pasti om Jacky ingin menanyakan Billy."


Ekspresi Zuri terlihat sedih. Ia kesal Billy sudah membuatnya menunggu.


"Halo?" sapa Abigail sambil menatap Zuri, "Aku dan Zuri sedang menunggunya."


Mendengar namanya disebut membuat Zuri menatap mamanya.


"Bisa kau menjauh sedikit darinya, ada sesuatu yang ingin kusampaikan dan dia tidak boleh mendengarnya."

__ADS_1


Perkataan Jacky dituruti oleh Abigail. Ia bangkit dari sofa kemudian berdiri di samping jendela yang jaraknya lumayan jauh dari Zuri.


"Hmmm, aku sudah menjauh."


"Debora baru saja menghubungiku, Billy sudah mengetahui kalau Zuri anak kandungku."


Abigail terkejut. Tak ingin Zuri mengetahui gerak geriknya, ia berbalik badan dan menatap putri semata wayangnya yang juga sedang menatapnya dengan wajah penasaran.


"Bagaimana bisa? Kenapa itu bisa terjadi, Jack?"


"Billy tidak sengaja mendengar obrolanku dan Debora tadi pagi. Debora mengaku salah, dia tidak mengunci pintu saat Billy kembali ke ruangannya untuk mengambil ponsel. Billy mendengar hal itu dan dia berniat akan memberitahukan hal ini pada Zuri."


"Dia sampai sekarang belum tiba, Jack. Sejak tadi Zuri menghubungi ponselnya, tapi tidak aktif."


"Kami tidak tahu apa yang dia rencanakan, yang jelas kata Debora dia akan membatalkan pernikahan mereka, Billy akan memberitahu Zuri kalau mereka berdua bersaudara."


Abigail menatap Zuri. "Sayang, bisa kau buatkan teh melati untuk mama, sudah lama sekali mama tidak menikmati teh buatanmu."


Dengan Ekspresi muram Zuri berdiri, "Iya, Ma."


"Kau menyuruhnya pergi?"


"Aku tidak ingin dia curiga soal pembicaraan ini. Jack, hal ini benar-benar membuatku pusing. Aku tidak ingin Zuri tahu kalau kau adalah papanya. Aku juga tidak yakin Billy masih mau menikah jika tahu kau bukan papa kandungnya. Setidaknya kita harus mempertahankan rahasia ini sampai pernikahan mereka selesai."


"Itu tidak mungkin, Abigail. Kata Debora Billy sangat marah dan dia ingin memberitahu hal ini pada Zuri."


"Sebenarnya di mana dia sekarang, Jack? Aku tidak ingin dia tiba-tiba ke sini dan memberitahukan sebenarnya pada Zuri. Kalau Zuri yang membatalkan pernikahan mereka, bagaimana? Kamu tahu kan dia sangat membenci papanya."


"Dia memang membenci papanya, tapi dia tidak membenciku, Abigail."


Abigail terdiam.


"Jack, aku semakin pusing."


"Begini saja, kalau memang Billy akan mengatakan yang sebenarnya, kita berdua harus bertanggung jawab dalam hal ini. Kamu harus menjelaskan pada Zuri yang sebenarnya soal masa lalu kita. Apa yang membuatmu pindah ke luar kota dan soal sangkut paut pamanmu dan tanteku. Hanya itu satu-satunya cara agar mereka mau menikah."


"Bagaimana dengan Billy, dia pasti tidak mau menikahi gadis yang dianggapnya saudara sedarah?"


Terdengar Jack mengendus. "Mau tidak mau kita harus membongkar rahasia ini, Abigail. Kita harus menceritakan yang sejujurnya pada mereka. Mereka saling mencintai, Abigail. Aku yakin, sekalipun ini menyakitkan bagi mereka, cinta akan membawa mereka ke dalam pernikahan. Terlebih keluarga dua belah pihak setuju, Zuri dan Billy pasti tidak punya pilihan selain melanjutkan pernikahan itu."


Tepat di saat itu Zuri muncul dengan nampan berisi secangkir teh melati dan roti lapis.


Abigail menarik napas. "Kau saja yang mengaturnya, Jack. Kamu benar, itu yang terbaik untuk kita semua."


"Kalau dia sudah tiba segera hubungi aku, aku akan ke sana bersama keluargaky dan menjelaskan semuanya pada mereka."


"Ya, aku akan mengabarimu. Sampai nanti."


"Sampai nanti."


Abigail memutuskan panggilan. Dengan senyum muram ia menatap Zuri. "Maaf merepotkanmu, Sayang."


"Tidak apa-apa, Ma. Apa yang om Jacky katakan, kenapa wajah Mama begitu muram?"


Abigail menunduk, menatap teh untuk mengalihkan pandangan. "Om Jack menanyakan soal masalah semalam. Mama bilang semuanya sudah membaik."


"Apa om Jack tidak bilang Billy ada di mana?"


"Kita tunggu saja, dia pasti akan datang," Abigail menyeruput teh kesukaannya, "Mungkin Billy sengaja membuatku kesal di hari-hari terkahir sebelum kalian menikah."


"Entalah, Ma. Perasaanku tidak enak."

__ADS_1


"Minumlah teh ini, mama yakin pikiranmu pasti akan membaik setelah menikmati teh ini."


Drttt... Drttt...


Zuri menurut sambil melirik ponsel Abigail yang kembali bergetar.


"Halo, Paman? Di rumah bersamaku. Ada apa, Paman? Apa?! Baik, aku dan Zuri segera ke sana."


"Ada apa, Ma?"


"Billy ... Billy kecelakaan."


Di sisi lain.


Dengan kondisi yang masih sama, Debora menangis di dalam ruang kerjanya.


Gilbert yang sejak tadi sudah berada di sana merasa terabaikan pun segera mendekat dan bertanya, "Apa yang terjadi? Sejak tadi kau tidak mau bicara. Ada masalah apa, berbagilah denganku."


Ekspresi Gilbert terlihat serius.


"Billy ... Billy akan membatalkan pernikahannya dengannya Zuri."


Sebelumnya Debora sudah menceritakan tentang pernikahan itu pada Gilbert. Sebagai orang yang hanya memikirkan harta, apa pun keputusan yang dikatakan Debora Gilbert selalu setuju, selama itu menghasilkan uang. Karena Debora sudah menceritakan soal status Jacky dan Zuri adalah papa dan anak, Gilbert memberikan restu pada mereka selama Billy tidak mengetahui dan mau pernikahan itu terjadi. Debora mungkin sebentar lagi akan jatuh miskin. Jadi membiarkan putranya, Billy, menikah dengan Zuri adalah keputusan yang bernilai tinggi.


"Apa Billy sudah gila, kenapa tiba-tiba dia ingin membatalkan pernikahan itu?"


"Ini semua salahku, Gilbert. Ini semua salahku. Billy mendengar pembicaraanku tadi. Dia mendengar kalau Zuri anak kandungnya Jacky."


"Pantasan saja tadi Billy pergi dengan sangat marah. Kenapa kamu bisa seceroboh ini, Debora?"


Drttt... Drttt...


Getaran ponsel dari meja membuat Gilbert menoleh. Ia mendekati meja dan melihat ponsel Debora bergetar.


"Ada panggilan dari nomor tak di kenal."


Gilbert memberikan benda itu padanya.


Debora yang sedang duduk segera meraih benda itu. Alisnya berkerut melihat deretan angka yang tidak dikenalinya.


"Aku tidak mengenal nomor ini," jawabnya pelan.


"Angkat saja, siapa tahu penting."


Debora menurut. "Halo?"


"Halo, Debora?"


"Ya, saya sendiri."


"Ini aku Abigail."


Tubuh Debora lemas. Dari nada bicara Abigail ia bisa menebak apa yang terjadi. "Apa Billy sudah bertemu Zuri, apa dia sudah mengatakannya pada Zuri, Abigail?"


"Tidak, Debora. Sebaiknya sekarang kau datang ke Oliver Hospital, putramu kecelakaan. Kami semua sudah tiba di sini."


"Apa, Billy kecelakaan?! Bagaimana keadaannya, Abigail?"


"Billy tidak parah, tapi yang parah adalah Aaron."


Bersambung____

__ADS_1


__ADS_2