
Siang ini aku sudah bersiap-siap. Kemeja hitam polos serta celana jins hitam pekat menjadi busana favoritku. Aku menyukai warna hitam. Sama seperti Jacky. Kesukaan kami berdua turun ke Zuri. Tidak heran. Mama dan papanya adalah pecinta hitam.
"Ma, hari ini Mama akan bertemu om Jacky?" tanya Zuri saat anakku itu masuk ke ruang tamu.
Saat ini di rumah hanya ada aku dan Zuri. Paman Robbie sudah pergi ke rumah sakit bersama Aaron. Karena tak terima telah mengerjaiku, aku melarang Zuri untuk bekerja hari ini. Aku melarang Zuri kembali ke apartemen agar tidak bertemu Jacky. Walaupun sudah mendapat restu dari paman aku tetap bersikap cuek agar Zuri tahu aku tidak begitu menginginkan Jacky.
Sebelum mengetahui Jacky adalah orang yang ingin dijodohkan denganku, aku masih memiliki keraguan dalam diri sekalipun lelaki itu ingin bercerai. Mengingat cerita paman tempo hari membuat keinginanku memiliki Jacky hilang. Namun, mendengar pengakuan yang sebenarnya dari paman Robbie tadi pagi membuat keinginanku itu kembali. Apalagi saat ini statusnya sudah menduda. Walaupun pikiranku berkata tidak tapi perasaanku sejak dulu tetap sama kepada Jacky.
"Iya. Kenapa?"
"Mama akan bicara apa dengan om Jacky? Kalau om Jacky menginginkan Mama menjadi istrinya, apa Mama akan setuju?"
Aku menatap Zuri dengan heran. "Kamu ini bicara apa, hah? Tidak segampang itu, Zuri. Walaupun mama dan om Jacky mau, belum tentu keluarga om Jacky setuju."
"Kalau semua keluarga setuju, bagaimana? Apa Mama mau menikah dengan om Jacky?"
Aku tak tahu harus bicara apa. Ekspresi yang terpancar di wajah Zuri benar-benar bahagia. Begitu besarkah keinginan Zuri untuk menjadikan Jacky sebagai ayahnya? Bagaimana kalau seandainya Zuri tahu Jacky adalah ayah kandungnya, apa Zuri masih mau Jacky akan menikahiku?
Aku mendekati Zuri. Aku memeluknya erat-erat kemudian menyerang wajahnya dengan kecupan.
"Mama, wajahku penuh lipstik."
Aku tertawa. "Siapa suruh kamu meledek mama. Seharusnya mama tidak akan memaafkanmu. Karena kamu putri kesayangan mama, rasanya mama tidak bisa melakukan itu padamu. Mama sangat mencintaimu, Zuri. Apapun demi kamu akan mama lakukan. Jika dengan om Jacky membuatmu bahagia, mama akan melakukannya. Namun semuanya terserah Tuhan, sebagai manusia kita hanya bisa berencana."
Zuri balas memelukku. "Aku mencintaimu, Mama. Aku minta maaf jika aku memaksa Mama. Mama tidak perlu melakukan itu demi aku. Kebahagiaan Mama adalah kebahagiaanku juga."
"Tidak Sayang, kamu tidak memaksa. Pilihanmu itu sudah tepat. Sekarang kita serahkan saja semuanya kepada Tuhan, ya. Kita berusaha saja, selebihnya biar Tuhan yang mengatur.
Drtt... Drtt...
Getaran ponsel mengalihkan pembicaraan aku dan Zuri.
"Ponsel siapa itu?" tanyaku sambil mencari-cari.
"Mungkin ponsel Mama, ponselku ada di kamar."
__ADS_1
Drtt... Drtt...
Aku dan Zuri terus mencari sumber getaran.
"Ini, Ma," kata Zuri setelah menemukan benda itu di balik bantal sofa. Aku sendiri heran kenapa benda itu bisa terselip di sana. Perasaan tadi aku meletakkan benda pipih itu di atas pahaku, "Om Jacky menelepon."
Entah kenapa hatiku semakin bahagia mendengar nama itu. Segera kuraih ponsel itu dan menyambungkan panggilan. "Halo, Jack?"
"Kamu sudah siap, Sayang? Aku sudah di depan."
Wajahku seketika merah padam. Aku menatap Zuri yang kini terkikik geli sambil menatapku. Mungkin Zuri merasa lucu melihat wajahku memerah. "Sudah. Aku akan segera keluar."
"Zuri mana? Aku ingin bicara dengannya. Aku menghubunginya, tapi tidak di respon."
Tanpa berkata apa-apa lagi aku segera memberikan ponselku kepada Zuri. "Om Jacky ingin bicara."
"Halo?" sapa Zuri dengan senyum begitu lebar.
Anakku ini terlihat sangat bahagia ketika bicara dengan Jacky melalui telepon. Aku jadi penasaran, seperti apa konversasi mereka berdua jika sedang bertatap muka? Membayangkan hal itu membuatku sedih. Zuri pasti sudah menanamkan kebencian kepada papa kandungnya karena telah meninggalkan kami. Aku tidak yakin Zuri akan sebahagia ini jika tahu Jacky sebenarnya papa kandungnya. Apa sebaiknya aku katakan saja yang sebenarnya? Apa sebaiknya aku jujur kepada Zuri bahwa pamanlah yang memisahkan kami?
Kepalaku rasanya berputar-putar memikirkannya. Aku tidak ingin Zuri membenci Jacky jika dia tahu Jacky-lah ayah kandungnya. Tapi juga tidak ingin Zuri membenci paman jika dia tahu alasan yang sebenarnya. Ya Tuhan, aku harus bagaimana? Apa yang harus kulakukan?
Aku terkejut. "Eh, ya?"
"Mama kenapa? Apa yang Mama pikirkan?"
Aku tersenyum tipis. "Mama sedang memikirkan perusahan kita saja. Oh iya, apa kata om Jacky?"
Aku sengaja mengalihkan pembicaraan agar Zuri tak bertanya lagi. Gadis yang selalu kuanggap anak kecil ini selalu mengkhawatirkan jika aku ada masalah. Aku tidak mau Zuri khawatir dan aku tidak ingin Zuri mengetahui apa yang kupikirkan.
Senyum di wajah Zuri kembali. "Om Jacky minta izin padaku untuk mengajak Mama."
"Baiklah. Mama pergi dulu, ya? Mama sayang kamu, Nak."
Aku mencium pipi Zuri dan memeluknya.
__ADS_1
"Ma, aku boleh bertemu Billy? Aku kesepian di sini sendirian. Aku ingin bicara dengannya. Makan bersamanya dan nonton film bersama."
Ya ampun, sedekat itukah Billy dengan Zuri? "Apa Billy dan kamu sangat dekat?"
"Iya. Kami berdua sangat cocok dalam segala hal, Mama."
Entah ingin sedih atau bahagia, jelas aku tak menyangka ini bisa terjadi. Apakah ini kebetulan saja karena Billy adalah anaknya Jacky? Anakku sayang, apakah kamu masih akan berteman dengan Billy jika tahu pria itu adikmu? Ingin sekali pertanyaan itu kukatakan kepada Zuri.
Kepalaku ingin pecah. Dengan cepat aku berdiri dan pamit. "Boleh, Sayang. Kalau ada apa-apa kabari mama, ya?"
"Siap. Terima kasih, Ma. Sampai jumpa dan semoga menyenangkan."
"Sama-sama, Sayang. Mama pergi dulu. Bye."
Dengan langkah cepat aku keluar dari rumah menemui Jacky yang sudah menunggu sejak tadi. Kulihat lelaki itu sedang berdiri di dekat pintu mobil dengan setelan jas gelap dan kaca mata hitam. Jacky tersenyum padaku. Aku pun balas tersenyum kepadanya, walaupun hati ini gelisah memikirkan semua rahasia yang belum terbongkar.
"Maaf membuatmu menunggu."
"Tidak masalah. Ayo."
Jacky membukakan pintu penumpang di bagian depan kemudian berlari ke bangku kemudi. "Kamu menyetir sendiri?" tanyaku begitu Jacky masuk dan memasan sabuk pengaman. Jacky juga memasangkan sabuk pengaman itu untukku, "Terima kasih."
"Aku tidak ingin ada yang mengganggu kita berdua. Aku ingin menikmati siang sampai malam ini bersamamu, Abigail."
Wajahku lagi-lagi merah merona. "Tapi kan kamu harus bekerja."
"Ada Mike di sana. Oh, iya. Siang ini Billy akan menjemput Zuri dan nonton bersama. Katanya film yang mereka tunggu sudah tayang di bioskop. Kamu tidak keberatan kan kalau mereka pergi berdua?"
Aku senang Jacky membahas soal putranya. Sambil menatap Jacky mengemudikan mobilnya aku bertanya, "Apa Billy dan Zuri sangat dekat?"
"Iya, bahkan lebih dekat dari yang kupikirkan."
"Apa maksudmu?"
Jacky tersenyum. "Zuri gadis satu-satunya yang berhasil mendekati Billy. Seumur hidup aku tidak pernah melihat Billy begitu dekat dengan teman lawan jenisnya kecuali Zuri. Anakmu itu sangat luar biasa, Sayang. Sama sepertimu. Sejak awal bertemu Billy mereka sudah sangat akrab. Bukankah itu hal yang luar biasa?"
__ADS_1
Oh Jack, seandainya Billy tahu Zuri anakmu, apakah putramu itu masih mau berteman dengan Zuri putriku? Jika Billy tahu Zuri adalah kakaknya, apakah putramu itu bisa menerimanya?
Bersambung___